
Sila masih tidak mengerti kenapa Hadi justru terkesan menyalahkannya atas semua yang terjadi. Dia yang sudah menjebak Sila, tapi begitu Dave membantu Sila membersihkan namanya kenapa Hadi belum sadar juga atas akibat dari perbuatannya sendiri, malah menyalahkan Sila atas semua kejadian buruk dalam hidupnya.
Sila masih diam, meski dia diam tapi tak ada sedikitpun rasa takut di dalam hatinya. Itu juga terlihat jelas di mata wanita berusia 25 tahun itu. Dia tampak tegak berdiri sambil melihat Hadi yang terus berjalan mendekat ke arahnya.
Sementara Hadi sendiri saat ini sangat geram, dia hanya ingin menyalahkan seseorang atas yang terjadi padanya. Kehilangan hak asuh Mika merupakan sebuah pukulan yang berat bagi Hadi. Karena Hadi sangat menyayangi Mika.
Namun ketika Hadi sudah berada lumayan dekat dan akan kembali marah pada Sila, seseorang sudah berdiri di depannya. Dengan jarak sekitar satu meter dari depan Sila.
"Berhenti!" tegas Joseph yang langsung pasang badan melindungi Sila dari kemarahan Hadi.
Melihat Joseph berdiri melindungi Sila, Hadi mengepalkan tangannya.
"Minggir tuan Joseph. Aku tidak punya urusan dengan mu, urusan ku hanya dengan wanita itu!" kesal Hadi meminta agar Joseph mundur.
Susan yang sudah sampai di tempat Hadi pun menghentikan langkahnya dengan segera.
'Mas Hadi ngapain sih, malah bikin ribut di rumah sakit. Bikin ribut sama tuan Joseph segala, apa dia gak mikir kalau yang salah itu dia. Kenapa malah marah-marah sih!' batin Susan.
Susan tidak mengerti jalan pikiran Hadi sejak keluar dari dalam mobil tadi. Hadi memang tampak seperti orang bingung, bahkan kelihatan sangat frustasi.
Setelah menyelesaikan urusan administrasi untuk Haris, Hadi bahkan langsung mencari Sila dan meninggalkan Susan seperti Susan memang tidak pernah ada di samping nya. Dia melewati Susan begitu saja, tidak menganggap Susan ada sama sekali.
Meski Hadi berkata demikian, Joseph masih tidak bergerak satu inchi pun dari tempatnya berdiri.
"Aku bilang berhenti, jangan ganggu nyonya ku!" ucap Joseph membuat mata Susan langsung melotot tak percaya.
Hadi juga sama ekspresi nya seperti Susan, dia terkejut mendengar Joseph menyebut Sila sebagai nyonya nya. Susan bahkan mundur selangkah dan menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Sila pun hanya diam, dia sadar kalau Joseph sedang membelanya. Dan masalah pernikahan nya dengan Dave juga tidak perlu di sembunyikan lagi. Karena Sila sudah berhasil mendapatkan hak asuh mutlak atas putri kecilnya itu.
__ADS_1
Sementara Hadi langsung berusaha melirik ke arah Sila yang tertutup oleh tubuh tegap Joseph.
"Nyonya mu? apa maksudmu?" tanya Hadi yang mencoba memperjelas segalanya.
"Bukan urusan mu, sebaiknya pergi atau aku tidak akan sungkan!" gertak Joseph dengan mata yang begitu tajam, serta kata-kata yang begitu dingin.
Susan masih tak percaya dengan apa yang dia dengar. Pandangannya langsung beralih dari Hadi ke arah Sila.
'Wanita itu, tidak mungkin! tidak mungkin dia dan tuan Dave Hendrawan. Sial! kenapa wanita itu selalu beruntung. Menyebalkan!' keluh Susan dalam hatinya.
Susan merasa sangat kesal karena Sila begitu beruntung. Meski Susan sudah berhasil merayu Hadi dan mendapatkan cintanya, tapi Sila malah lebih beruntung darinya hingga bisa jadi calon nyonya Dave Hendrawan. Susan menghentakkan kakinya kesal lalu berjala. ke arah Hadi.
Susan menarik lengan Hadi dan berbisik pada Hadi.
"Mas, sudahlah... jangan membuat keributan di rumah sakit. Lagipula kalau benar Sila adalah calon istri tuan Dave Hendrawan kita bisa dalam masalah. Sudah ayo..!" bujuk Susan.
Susan masih mengira kalau sebutan nyonya itu masih di tujukan untuk calon istri Dave. Bukan istri Dave, karena mereka belum mendengar tentang pernikahan Dave. Tapi menurut Susan juga akan sangat berbahaya bagi bisnis Hadi kalau dia membuat masalah dengan Dave. Susan berpikir meskipun Hadi sudah terlihat belangnya oleh orang-orang di persidangan setidaknya bisnis dan karir nya tidak boleh ikut hancur sama seperti reputasi nya.
"Mas, ayo kita lihat kondisi ayah mu!" ucap Susan yang berusaha mengambil perhatian Hadi dengan menyebutkan ayahnya.
Hadi yang mendengar kata ayah dari Susan langsung mengalihkan pandangan nya dari Sila.
Sebenarnya setelah tahu kalau Sila ada hubungan istimewa dengan Dave Hendrawan, perasaan Hadi jadi campur aduk.
"Mas, ayo!" ajak Susan lagi kali ini menghentakkan sedikit tangan Hadi.
Hadi pun langsung meninggalkan Sila dan Joseph. Setelah Hadi dan Susan pergi. Joseph berbalik dan mendekat ke arah Sila. Tapi tetap pada jarak sekitar kurang dari satu meter.
"Nyonya, apa anda baik-baik saja?" tanya Joseph yang khawatir Sila kenapa-napa.
__ADS_1
Sila pun mengangguk.
"Tidak apa-apa Jo, kamu datang tepat waktu" jawab Sila.
"Maaf nyonya, tapi aku rasa tuan Hadi itu memang tidak tahu malu. Jika nyonya mengatakan ini pada tuan, dia pasti akan hancur nyonya!" ucap Joseph yang ingin kalau Sila mengatakan tentang kejadian ini pada Dave.
Karena kalau Sila sendiri yang bicara pada Dave, tuannya itu pasti tidak akan mengampuni Hadi Tama itu.
Sila langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak usah Jo, lagipula aku juga baik-baik saja. Kata ayah ku, kalau sedang hamil tidak boleh menyimpan dendam, dan suaminya juga tidak boleh berbuat buruk. Pama*Li!" jelas Sila pada Joseph.
Joseph pun mengangguk paham, dia sekarang mengerti kenapa nyonya nya itu tidak mau membalas semua perbuatan kejam Hadi Tama. Dia tidak mau anak dalam kandungan nya mengalami masalah di kehidupan nya kedepannya karena perbuatan tidak baik kedua orang tuanya. Menurut Joseph itu masuk akal.
Beberapa saat kemudian Dave pun kembali, Joseph juga sudah mendengar kabar kalau ayah Hadi sudah sadar dan sudah melewati masa kritisnya. Dave pun merasa urusan mereka di rumah sakit sudah beres. Dave pun mengajak Sila untuk segera menjemput Mika di rumah Hadi. Tapi begitu mereka bertiga akan meninggalkan rumah sakit. Tiba-tiba saja Murti berjalan dengan cepat ke arah Sila sambil memanggil Sila.
"Sila, tunggu!" panggil Murti pada Sila.
Dave, Sila dan Joseph lantas menoleh dan menghentikan langkah mereka.
"Ada apa Bu? bukankah kata dokter pak Haris sudah melewati masa kritisnya?" tanya Sila.
Dengan mata berkaca-kaca Murti langsung memeluk Sila.
Sila terkejut, padahal selama menjadi menantunya Murti, wanita paruh baya itu jarang sekali memeluknya. Hanya tiga kali, saat Sila menikah, saat mendengar Sila hamil, dan saat Sila melahirkan Mika. Selain itu sama sekali tidak pernah lagi.
"Maafkan ibu nak, ibu sudah memaki mu padahal anak ibu yang bersalah dan tidak tahu malu, maafkan ibu nak!" ucap Murti lirih menyesali segala makian dan hinaan yang pernah dia lontarkan pada Sila dulu.
***
__ADS_1
Bersambung...