
Pandangan mata Shafa juga langsung mengarah ke arah pintu dengan cepat. Pintunya terbuka, berani sekali pak tua itu memberikan bunga mawar bagaimana kalau ada yang melihat mereka dalam keadaan seperti itu.
"Ambillah!" seru Joseph dengan wajah datar dan suara yang begitu cuek.
Shafa yang awalnya terpana karena terkejut Joseph menjadi romantis. Langsung menaikkan kedua alisnya keatas.
"Hah...!" ucapnya spontan.
"Ambil ini!" ucap Joseph lagi.
Shafa pun berdecak kesal, bahkan menepuk dahinya sendiri.
'Aku salah mengira kalau balok es kutub Utara ini bisa berubah jadi pria yang romantis!' gumamnya kesal dalam hati.
Masih dengan posisi yang sama, Shafa menatap Joseph dari pantulan cermin yang ada di depannya.
"Heh pak tua, tidak bisa kah anda yang sudah tua itu romantis sedikit, apa tidak pernah nonton filmnya Robert Pattinson atau Leonardo di Caprio?" tanya Shafa dan Joseph mulai sedikit berpikir.
"Ck... mana ada pria yang memberi bunga kepada seorang wanita dan berkata 'Ambilah' kata-kata nya bahkan tidak lembut sama sekali, itu justru seperti mengajak orang berkelahi. Bagaimana sih?" tanya Shafa memprotes apa yang dikatakan Joseph tadi.
Joseph pun meletakkan bunga itu dia atas meja rias. Shafa bahkan langsung membelalakkan matanya melihat ke arah bunga yang malah di letakkan di atas meja.
'Ini orang benar-benar ya, apa dia gak paham sama apa yang aku jelaskan tadi?' batin Shafa penuh dengan tanda tanya.
"Baiklah, aku akan lihat film kedua orang itu dulu. Besok aku akan memberikan mu bunga seperti cara dua orang itu!" ungkap Joseph lalu bergegas meninggalkan kamar Shafa.
Shafa mengepalkan kedua tangannya dan mensejajarkan kedua kepalan tangannya itu di depan wajahnya.
"Ekhhhhh... pak tua. Menyebalkan. Bisa-bisanya dia begitu... aghkkk... ini sih sama saja dengan PHP!" keluh Shafa kesal.
Shafa menghembuskan nafas kesal, sudah kesal karena Joseph. Di tambah kesal, karena saat dia melihat ke arah cermin, ukiran alisnya tidak sama.
Sementara itu di ruang makan, Rizal, Davina dan Randy sedang sarapan bersama.
Davina membuka percakapan kalau semalam Dave menghubunginya dan mengatakan kalau ada yang memberikan teror pada Karina.
Tatapan mata Davina pun berubah menjadi sangat tajam pada Randy.
__ADS_1
"Sekarang katakan pada ibu! wanita mana yang sudah kamu PHP sampai dia begitu sakit hati dan tidak terima kamu akan menikah dengan Karina?" tanya Davina seperti seorang petugas interogasi di depan Randy.
"Randy, sebaiknya selesaikan urusan mu dengan para wanita yang pernah berhubungan denganmu. Kamu tahu Karina kan, dia sudah sangat baik padamu sampai mau menerima mu yang mantannya seperti jamur di musim hujan...!"
"Ayah...!" sela Randy dengan suara lirih.
Plakk
Davina yang memang berada cukup dekat dengan Randy lantas memukul lengan anaknya itu lumayan keras.
"Kenapa menyela ayah mu, apa yang dikatakan ayah mu itu benar. Sangking banyaknya mantan, kamu pasti tidak tahu kan. Mana wanita yang kira-kira menyimpan dendam padamu?" tanya Davina.
Mendengar pertanyaan dari Davina, Randy pun mengangguk perlahan. Membuat tangan Davina rasanya gemas sekali ingin mencubit ginj4l Randy kalau bisa.
"Heh, yang benar saja Randy. Berapa banyak mantan mu sampai tidak tahu yang mana yang kira-kira bucin dan cinta mati padamu sampai tidak rela membiarkan mu menikah?" pekik Davina merasa kesal.
Rizal yang duduk di dekat Davina segera mengusap punggung istrinya itu perlahan beberapa kali sambil berkata.
"Sabar Bu, sabar!" ucap Rizal pelan.
"Habisnya anak ini bikin emosi saja sih yah, sudah tahu susah payah sekali mendapatkan hati Karina dan membuatnya setuju menikah. Sekarang muncul masalah baru lagi, mereka bahkan akan menikah sebentar lagi. Muncul teror seperti ini, mana lagi itu Joseph. Kenapa jam segini belum datang, apa dia belum bangun?"
Dan bersamaan dengan Omelan Davina itu Joseph masuk ke ruang makan dan menyapa keluarga itu.
"Selamat pagi tuan, nyonya, tuan muda!" sapa Joseph.
Davina langsung menoleh ke arah Joseph.
"Nah panjang umurnya dia!" celetuk Davina.
"Pagi Jo, duduklah. Sarapan bersama kami!" sahut Rizal dengan nada suara penuh wibawa.
Joseph pun langsung duduk, seorang pelayan yang melihat Joseph datang langsung membawakan piring dan gelas yang baru. Juga menyiapkan sarapan untuk Joseph.
"Bagaimana penyelidikannya, apa kamu sudah temukan Jo? siapa yang yang meneror Karina?" tanya Davina ketika Joseph baru saja menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.
"Bu, biarkan Joseph makan dulu!" ucap Rizal.
__ADS_1
Setelah Joseph mengunyah dan menelan makanannya dia langsung bicara.
"Tiga orang preman dari pemukiman kumuh. Mereka sudah babak belur tapi mereka mengatakan kalau yang meminta mereka melakukan hal itu sama sekali tidak pernah bertemu dengan mereka. Rekening bank juga baru saja di buat untuk mengirimkan uang pada mereka, identitas yang di pakai bahkan identitas seorang wanita paruh baya penjual sayuran di pasar tradisional. Subuh tadi kami ke sana bertanya pada wanita itu, tapi dia bilang yang pinjam KTP nya seorang pria memakai masker dan topi hitam!" jelas Joseph panjang lebar.
Davina langsung tertegun sejenak.
"Randy!" panggil Davina pada Randy dengan suara keras.
Randy pun langsung menoleh ke arah ibunya.
"Jangan bilang pada ibu, kalau mantan mu juga ada yang pria ya?" tanya Davina dengan mata melotot.
"Uhukk uhukk uhukk!"
Bukan hanya Randy, Rizal dan Joseph juga tersedak karena mendengar apa yang baru saja Davina katakan.
Mereka begitu terkejut dengan pemikiran Davina, sampai-sampai mereka tersedak berjamaah.
Setelah meminum air, Rizal lantas menatap tegas pada Davina.
"Bu, jangan bicara seperti itu. Kenapa ibu bisa berpikir hal mengerikan seperti itu?" tanya Rizal yang sangat tidak mau ada hal seperti itu dalam keluarganya.
"Ayah benar ibu, ibu ini apa-apaan sih?" protes Randy.
"Habisnya, ibu kesal sekali sampai otak ibu ini panas sekali rasanya. Ibu gak mau tahu ya, kalian berdua harus bisa menemukan siapa pelaku teror itu, ibu tidak mau pernikahannya sampai di undur lagi ya!" seru Davina.
"Jo, dengar tidak?" kata Randy.
"Heh, kenapa malah kamu mengandalkan Joseph. Memang kamu sibuk apa? kamu juga harus cari siapa kira-kira orangnya. Kadang ibu berpikir lebih baik menjadikan Joseph anak ibu saja, dua lebih bisa di andalkan. Saat kamu bahkan enak-enak tidur, dia bekerja mencari tahu siapa yang sudah mengusik keluarga kita!" ucap Davina.
"Ibu benar!" sambung Rizal.
"Bagaimana Jo? kamu mau tidak jadi anak kami? biar Randy yang menggantikan tugasmu!" tanya Davina membuat Randy melotot tajam ke arah Joseph.
'Bilang iya, tamatlah riwayat mu Jo!' gertak Randy lewat pandangan matanya pada Joseph.
***
__ADS_1
Bersambung...