Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 255


__ADS_3

Shafa langsung menuju ke apartemen Joseph, karena Joseph tidak jadi ke apartemen Dave. Dia pikir dia akan mengobati bekas luka di wajahnya dulu. Baru menemui Dave dan melaporkan semua yang terjadi.


Hari juga sudah menjelang petang, Ketika Shafa tiba di apartemen Joseph. Joseph juga baru tiba di depan unit apartemen nya.


"Pak tua!" panggil Shafa yang langsung berlari menghampiri Joseph.


"Ya ampun pak tua, ini kenapa? wajahmu yang galak jadi begini. Siapa yang melakukan semua ini padamu? katakan padaku? dia pasti wanita kan? biar aku yang lawan. Kalau pria kamu tidak mungkin kalah dan terluka begini?" tanya Shafa panjang lebar sambil sesekali menyentuh tapi tak jadi menyentuh ke arah luka Joseph.


"Seorang pria!" ucap Joseph lalu membuka password pintu apartemen nya dan masuk ke dalamnya.


Shafa terkejut bukan main, bagaimana calon pacarnya itu bisa kalah melawan pria lain. Setahunya selama ini dia tidak akan kalah melawan siapapun. Meski bingung, Shafa pun mengikuti langkah Joseph yang kemudian menuju ruang makan. Joseph mengambil kotak obat dari salah satu rak yang ada di dapur. Joseph lalu meletakkan kotak itu di meja dan membuka jasnya juga dasinya.


"Sini buat aku saja!" ujar Shafa yang duduk di samping Joseph.


Dengan hati-hati dan tangan yang terlihat gemetaran, Shafa mulai membersihkan beberapa serpihan kaca yang masih menancap di wajah Joseph. Hanya dua serpihan kecil. Dan di luka yang robekannya agak panjang Shafa langsung membersihkan nya dan mengoles salep.


Shafa cukup tenang karena saat di bersihkan dan di obati ekspresi wajah Joseph benar-benar datar. Entah memang tidak ada rasa sakit atau memang dia sedang menjaga image nya di depan Shafa.


"Sudah selesai, sekarang bisa kah ceritakan padaku. Apa yang terjadi? kenapa juga kamu tadi menutup telepon dariku begitu saja? bukankah kita ini sedang dalam tahap pendekatan. Bukankah seharusnya kita harus sering menghubungi dan bicara satu sama lain... empthh!"


Belum semua yang ingin Shafa katakan keluar dari mulutnya. Joseph sudah membungkamnya bibir Shafa yang cerewet itu dengan bibirnya.


Deg deg deg


Jangan di tanya bagaimana jantung Shafa saat ini. Rasanya benar-benar seperti naik roller coaster dan berada di puncak paling tinggi lalu meluncur dengan cepat ke bawah. Seluruh darah dalam tubuh Shafa berdesir dengan sangat kencang.


Ini adalah ciuman keduanya dengan Joseph. Saat pertama dia memang yang mengambil inisiatif, tapi kali ini berbeda. Joseph yang memulai nya. Shafa memejamkan matanya dan menikmati apa yang bisa dia nikmati saat ini. Melakukan hal itu dengan orang yang memang sangat di cintanya memang sangat membuat Shafa terhanyut dan terlena.


Entah sejak kapan, Shafa saat ini bahkan sudah ada di pangkuan Joseph. Dengan kedua tangan yang berada di belakang leher Joseph dan kedua tangan Joseph yang berada di belakang punggung Shafa.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Joseph melepaskan Shafa, nafas mereka berdua tersengal-sengal tapi terlihat jelas rona bahagia di mata dan wajah keduanya.


Selama beberapa saat keduanya terdiam mencoba menormalkan nafas dan debaran jantung masing-masing. Joseph hanya bisa tersenyum tipis melihat wajah Shafa yang merona malu. Dia juga tidak tahu kenapa setelah melihat bibir Shafa yang cerewet dan menanyakan hal yang bertubi-tubi padanya. Hal itu yang malah dia pikirkan, dan tanpa pikir panjang. Dia juga langsung melakukan nya.


Saat Shafa sadar dia ada di pangkuan Joseph, dia berniat akan segera turun. Tapi Joseph menahannya.


"Aku akan menceritakan nya!" seru Joseph yang langsung memeluk pinggang Shafa.


Shafa pun terdiam, posisinya ini benar-benar akan membuat dirinya tidak bisa tenang.


"Em pak tua, aku duduk di kursi itu saja ya!" ucap Shafa gugup.


Joseph pun mengangguk, meski enggan tapi karena melihat wajah Shafa yang tidak nyaman. Dia pun melepaskan rangkulannya dari pinggang Shafa.


Shafa berdiri perlahan dan akhirnya duduk di kursi sebelah Joseph. Shafa merasa bibirnya jadi tebal dan berat. Sambil menunggu Joseph bercerita, Shafa pun meraih kaca yang ada di dalam tasnya. Dan ternyata benar, setelah dia bercermin bibirnya ternyata bengkak.


Joseph hanya terkekeh pelan. Wanita memang makhluk yang ajaib, saat dia yang melakukan nya dan membuat bibir Joseph bengkak. Dia seolah tak berdosa. Tapi jika Joseph yang membuat bibirnya bengkak, dia protes.


"Kalau begitu kemarilah, akan ku ulangi yang tadi agar bibirmu tidak bengkak lagi!" ujar Joseph menggoda Shafa.


Shafa pun menaikkan kedua alisnya. Dan menggelengkan kepalanya.


'Pak tua ini, ternyata dia tidak sepolos itu!' batin Shafa sedikit menyesal menggoda Joseph.


"Sudah sudah, sekarang coba ceritakan kenapa bisa seperti itu?" tanya Shafa.


Mendengar pertanyaan itu, wajah Joseph kembali menjadi serius.


"Kamu tahu Catherine Retz kan?" tanya Joseph pada Shafa.

__ADS_1


Shafa pun mengangguk. Karena siapa yang tidak mengenal model cantik itu.


"Semalam dia bunuh diri...!"


Baru Joseph mengatakan hal itu, Shafa sudah menutup mulutnya tak percaya.


"Bu... bunuh diri. Ke... kenapa dia bunuh diri. Dia cantik, seorang model, kaya siapapun bisa dia dapatkan kenapa dia bunuh diri?" tanya Shafa yang benar-benar terkejut mendengar hal itu.


"Sebuah surat di temukan oleh managernya di samping tempatnya bunuh diri. Dan disana jelas kalau dia sudah putus asa untuk mendapatkan cinta seorang pria, dan inisial pria itu D!" lanjut Joseph.


"Kak Dave!" seru Shafa spontan.


Joseph terkejut ketika Shafa dengan spontan mengatakan hal itu.


"Shafa, kenapa yang kamu pikirkan nama Tuan Dave?" tanya Joseph penasaran.


"Pak tua, memang siapa lagi, selama ini berita di luaran sana selalu mengekspose kakak dan Chaterine, tentu saja itu sebelum kakak menikah dengan kak Sila. Lalu apa hubungannya luka mu dengan semua itu?" tanya Shafa bingung.


"Kakak nona Chaterine, Edgar Retz dia berpikiran sama sepertimu. Dia mengira tuan Dave penyebab nona Chaterine bunuh diri. Dia membanting vas di depan ku, dan seperti ini hasilnya. Aku sudah berusaha menjelaskan padanya kalau tidak ada hubungan apapun antara tuan Dave dan nona Chaterine. Tapi tuan Edgar Retz tidak percaya!" jelas Joseph.


Shafa pun tertunduk sedih.


"Apakah Edgar Retz itu pria yang sulit di hadapi?" tanya Shafa cemas dan Joseph hanya mengangkat bahunya sekilas membuat Shafa menjadi lebih cemas lagi.


'Semoga kak Dave bisa melewati masalah ini. Ck... ketampanan kedua kakak ku itu ternyata memang sebuah masalah!' batin Shafa.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2