Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 258


__ADS_3

Mata semua orang terbelalak dan menoleh ke arah tembakan itu berasal, semua orang bisa melihat Edgar Retz lah pelakunya. Di tangannya masih memegang senjata api dengan asap tipis mengepul dari ujung senjata api tersebut.


Brukk


Mata Dave langsung terbelalak lebar dan dia juga langsung berteriak.


"Joseph!" pekik Dave yang melihat Joseph terjatuh dengan tumpuan kedua lututnya di lantai.


Joseph menghadang peluru itu dengan dadanya, hingga peluru itu tak sampai melukai Dave.


Bersamaan dengan itu semua anak buah Dave yang datang bersama Roy langsung melumpuhkan semua anak buah Edgar Retz. Merasa terdesak dan sudah kepalang tanggung, Edgar Retz yang masih belum puas karena peluru itu tidak mengenai Dave mencoba untuk sekali lagi mengarahkan tembakan nya ke arah Dave.


Namun Roy yang melihat itu langsung melemparkan sebuah guci kecil yang ada di atas meja ke arah tangan Edgar Retz. Hingga saat dia menarik pelatuk senjata apinya. Peluru itu melenceng dan tidak mengenai Dave, malah mengenai anak buahnya sendiri yang langsung tewas seketika karena peluru itu tepat mengenai kepala anak buah Edgar Retz.


"Angkat dia, angkat Joseph. Bawa ke rumah sakit?" teriak Dave yang sudah tidak perduli dengan semua yang ada di dalam ruangan itu.


Yang Dave perdulikan hanyalah Joseph saja. Randy pun segera mengatakan pada Roy untuk membawa Joseph ke rumah sakit. Dia yang akan mengurus Edgar Retz.


Randy pun segera menghampiri Edgar, dan menghajarnya habis habisan. Jangan tanya bagaimana amukan Randy saat itu. Seperti di ketahui kalau Randy memang sangat mahir bela diri bahkan melebihi Dave dan juga Joseph.


Roy lantas menggendong Joseph di belakang punggungnya dan bergegas berlari keluar dari apartemen menuju ke mobilnya di basemen.


Dave juga berlari menyusul Joseph yang di bawa oleh Roy. Dave yang menyetir dan segera menuju ke rumah sakit terdekat.


'Jika terjadi sesuatu padamu Jo, aku tidak akan melepaskan Edgar Retz itu!' gumam Dave dalam hatinya sambil terus fokus memacu kendaraan yang dia kemudikan menuju rumah sakit terdekat.


Bugh Bagh Bugh


Randy masih terus memukul Edgar Retz yang hanya tinggal sendirian. Karena semua anak buahnya sudah di lumpuhkan oleh anak buah Dave.


"Kau salah mencari masalah dengan keluarga Hendrawan. Kau ingin menembak Dave, hah...?"


Bugh bugh


"Kau terlalu di butakan oleh kasih sayangmu pada adikmu. Jelas-jelas itu cinta sepihak, kenapa kau salahkan Dave atas kebodohan adikmu sendiri. Seharusnya kau kembali ke negara mu. Dan banyak-banyak beramal atas nama adikmu, bukan menimbulkan kekacauan di sini. Bodoh!"


Bugh


"Stop pak Randy, hentikan. Biar kami yang tangani selanjutnya!" ujar Nandes yang langsung menghentikan Randy.


"Dia sudah menembak Joseph, dia bahkan ingin menembak Dave tapi meleset karena Roy melemparkan Guci ke arahnya. Urus dia pak polisi, atau deportasi saja manusia bodoh itu!" kesal Randy yang masih menatap kesal ke arah Edgar Retz meski dia sudah tak berdaya.

__ADS_1


Semua anak buah Edgar Retz juga Edgar Retz sendiri akhirnya di bawa oleh polisi ke kantor polisi.


"Hanya seperti itu saja, apanya yang pengusaha hitam. Cih...!" kesal Randy.


Tapi dalam keadaan yang sudah tidak berdaya bahkan harus di papah oleh dua petugas polisi. Edgar Retz masih menyisakan senyuman licik di bibirnya.


'Ini belum selesai!' batin Edgar Retz sambil berlalu .


Sementara itu di rumah sakit. Joseph segera di gendong lagi di belakang punggung Roy. Dave memanggil beberapa perawat dan langsung menelepon Jimmy agar datang ke rumah sakit itu.


Joseph lalu dibawa ke ruang UGD dan segera mendapatkan penanganan karena Dave juga langsung mengurus semua administrasi nya. Tak berapa lama berselang Jimmy datang.


"Dave, ada apa?" tanya Jimmy panik karena Dave memintanya harus sampai dalam waktu lima belas menit.


"Joseph tertembak. Bantu mereka Jimmy, bantu para dokter itu!" seru Dave.


Jimmy hanya melihat Dave yang sedang sangat khawatir pada keadaan Joseph dengan sedih.


"Dave, mereka juga dokter...!"


"Aku tidak percaya pada mereka Jimmy, masuk dan bantu mereka!" tegas Dave menyela apa yang ingin Jimmy jelaskan.


"Baiklah baiklah!" ucap Jimmy yang langsung masuk ke ruang UGD itu.


"Aku dokter, aku akan menantu kalian!" ujar Jimmy.


Jimmy lalu mendekat ke arah perawat itu, membuat perawat itu sedikit mundur ke belakang.


"Sebaiknya biarkan aku masuk, atau pria di luar itu bisa menutup rumah sakit ini kapan saja!" bisik Jimmy pelan pada perawat itu.


Perawat itu menunjukkan wajah takut dan langsung memberi jalan untuk Jimmy masuk ke dalam.


Setelah beberapa lama kemudian, Randy pun menyusul ke rumah sakit. Dia bertanya tentang kondisi Joseph.


"Sudah satu jam, perawat sudah bolak balik dengan kantung darah. Tapi Jimmy juga belum keluar!" jelas Dave panik.


"Jimmy?" tanya Randy mengernyitkan keningnya.


'Hoh, tentu saja. Mana ada yang bisa Dave percayai selain dokter melambai itu!' batin Randy.


"Lalu bagaimana dengan Edgar Retz itu, apa dia sudah di pastikan akan dapat hukuman berat?" tanya Dave.

__ADS_1


"Itu sedikit sulit. Saat kami sampai di kantor polisi bahkan semua pengacara hebat sudah ada di sana. Juga ada orang-orang dari kedutaan. Mungkin dia hanya akan di deportasi saja Dave!" jelas Randy.


Dave mendengus kesal.


"Harusnya aku memukulnya sampai mati sebelum polisi datang!"


"Dave, sudahlah. Aku dan pengacaranya juga sudah membuat kesepakatan. Agar Edgar Retz tidak lagi bisa datang ke negara ini...!"


"Tapi dia sudah melukai Joseph!" sela Dave yang masih sangat kesal.


"Aku tahu, tapi ini adalah jalan terbaik. Setidaknya kita tidak berurusan lagi dengannya. Kita doakan saja semoga Joseph juga baik-baik saja!" ucap Randy menasehati Dave.


Karena sebenarnya memang inilah kesepakatan yang terbaik. Jika Edgar Retz di deportasi dan tidak di perbolehkan masuk ke negara ini lagi. Maka dia tidak akan bisa membuat masalah di kemudian hari.


Sementara itu, Oman yang mendapatkan kabar dari Roy langsung menyampaikan berita ini pada Sila.


"Nyonya Sila, tuan Dave di rumah sakit...!"


Prang


Baru mendengar kalau Dave ada di rumah sakit, Sila langsung menjatuhkan gelas yang dia pegang karena gemetar.


"Mas Dave, kenapa dengan mas Dave?" tanya Sila panik.


Karina dan Shafa yang juga ada di sana langsung mendekati Sila dan mengusap lengannya perlahan.


"Ada dengan kak Dave?" tanya Shafa yang ikut cemas.


"Bukan tuan Dave yang terluka nyonya!" jawab Oman yang membuat Sila menghela nafas lega.


"Lalu kenapa mas Dave di rumah sakit?" tanya Sila penasaran.


"Joseph tertembak, dia sedang di rumah UGD...!"


"Rumah sakit mana?" tanya Shafa dengan cepat menyela ucapan Oman.


"Medical Kirana...!"


Belum selesai Oman bicara, Shafa langsung meraih tas dan kunci mobilnya lalu keluar dari apartemen Dave. Membuat Karina dan Sila saling pandang dengan banyak pertanyaan di benak mereka.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2