
Davina mengangguk dengan cepat.
"Tentu saja! siapapun boleh! asal dia wanita dari keluarga baik-baik!" tambah Davina lagi.
Joseph pun mulai berpikir, kalau mungkin sekarang lah saatnya dia mengatakan pada Davina tentang hubungannya dengan Shafa.
"Nyonya, sebenarnya...!"
*Suara ponsel berdering
Davina langsung meraih ponselnya dari tasnya lalu mengangkat tangannya ke arah Joseph. Meminta agar Joseph berhenti bicara dulu.
"Halo, iya ayah ada apa?" tanya Davina.
"Bu, ini kenapa tagihan vendor di kirim ke kantor, harusnya ke rumah?" tanya Rizal.
"Ya ampun, ini pasti kerjaan Shafa. Dia bilang mau mengurus semuanya. Tapi malah begini. Ya sudah, ibu ke kantor sekarang!" ucap Davina yang kemudian mematikan ponselnya dan kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas.
Davina lalu kembali melihat ke arah Joseph.
"Jo, kita bahas lain kali saja ya, Shafa memuat masalah lagi. Rapikan tempat ini, ck... kamu ini benar-benar ya!" kesal Davina yang langsung keluar begitu saja dari apartemen Joseph.
Joseph hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Dia melihat ke arah kekacauan yang dia buat sendiri.
"Ck... benar kata orang, cinta membuat orang menjadi tidak waras. Lihat kekacauan yang aku buat. Aku harus membereskan semua ini!" gumam Joseph.
***
Resa yang pulang ke rumahnya, langsung mencari ibunya.
"Bu, ibu..!" panggil Resa pada sang ibu.
Walida yang baru saja bangun dari tidur siang cantiknya langsung menghampiri Resa yang wajahnya terlihat sangat kesal padanya.
"Ada apa sayang? bagaimana? apa sudah bertemu dengan pria bernama Joseph itu?" tanya Walida yang begitu penasaran.
__ADS_1
Resa duduk di sofa yang ada dekat kamar ibunya. Dengan wajah cemberut dan tangan yang dia lipat di depan dadanya.
"Aku tanya pada ibu? apa ibu sudah pernah melihat dia?" tanya Resa.
Walida pun mengangguk.
"Sudah, ibu sering melihat dia mengantar mas Rizal dan Davina. Dia gagah kan?" tanya Walida sambil tersenyum pada Resa.
"Ibu, ibu tahu tidak. Dia itu tidak sekeren yang ibu ceritakan. Wajahnya sih oke, badannya juga gagah tapi dia itu super super jorok ibu, aku dan Tante Davina menjenguknya di apartemennya, dan apa ibu tahu? daripada apartemen, rumahnya itu lebih mirip seperti gudang rumah tua di belakang rumah kita itu. Seperti kapal pecah, sangat kotor, sangat berantakan. Dan pria itu, dia itu tidak waras Bu, ekspresi wajahnya seperti, seperti... !" Resa bingung mendeskripsikan apa yang dia lihat tentang ekspresi wajah Joseph.
"Pokoknya aku tidak mau menikah dengannya Bu. Dia itu seperti... ah pokoknya aku illfeel sekali padanya!" ungkap Resa begitu menggebu-gebu karena sangat sebal dengan Joseph.
Walida pun mengernyitkan keningnya.
"Masak sih nak? dua kali ibu bicara dengannya loh. Kelihatannya memang dingin, tapi sopan dan baik...!"
"Dingin apanya Bu, dia itu ya ampun... aku bingung bagaimana mengatakannya pada ibu. Dia itu seperti orang yang IQ-nya kurang Bu!" jelas Resa lagi.
Walida masih berpikir, dia sudah dua kali bicara dengan Joseph. Dan menurutnya cara bicara Joseph menunjukkan kalau dia berpendidikan dan pintar. Bagaimana mungkin seperti yang dikatakan Resa, kalau benar seperti itu mana mungkin Joseph jadi asisten pribadi Dave Hendrawan.
"Sudah Bu, aku mau tidur. Kepala ku sakit memikirkan pria itu. Ya ampun, yang benar saja... aku jauh-jauh sekolah di Paris jarus menikahi pria seperti itu...!"
Resa terus menggerutu, mengomel sepanjang dia berjalan ke arah kamarnya. Walida pun menghela nafasnya panjang. Dia juga tidak menyangka kalau semua bisa tidak sejalan dengan harapannya. Padahal dia sudah yakin kalau Joseph itu adalah pria yang tepat untuk Resa. Tapi pikiran Walida yang terbuka membuatnya hanya bisa menghela nafas saja.
"Ck... mau bagaimana lagi. Mungkin mereka memang tidak berjodoh! ya sudahlah!" gumamnya santai.
***
Keesokan harinya...
Davina dan Rizal sudah menunggu Shafa keluar dari kamarnya dengan banyak tagihan dari beberapa vendor di tangan Davina.
Ceklek
Begitu Shafa membuka pintu kamarnya, dia terkejut dengan pandangan mata Davina dan Rizal padanya.
__ADS_1
"Selamat pagi ayah, ibu... ada apa ini?" tanya Shafa sambil nyengir.
"Kemana kamu sebenarnya saat kami sedang berada di rumah ibunya Karina?" tanya Rizal dengan tenang.
"Oh, tentu saja aku mengurus beberapa vendor...!"
"Masih mau bohong?" tanya Davina menyela Shafa dengan suara yang nadanya sedikit meninggi.
"Pagi-pagi jangan buat ibu darah tinggi ya Shafa! ini semua tagihan vendor kenapa ke perusahaan? katamu kamu akan selesaikan semuanya? seharian bi Warsih bilang kamu tidak ada di rumah. Walaupun mbok Darmi bilang kamu di salon, tapi Resa bilang kamu tidak ke sana. Sebenarnya kamu ini kemana Shafa? apa yang kamu lakukan dari pagi-pagi buta sampai malam kemarin lusa?" tanya Davina yang sudah sangat kesal pada Shafa.
Shafa hanya menunduk, dia merasa sangat bersalah sudah membuat kedua orang tuanya marah.
"Ibu, ayah! aku minta maaf...!"
"Kami tidak butuh maaf, kami butuh kamu berkata jujur!" sela Davina.
Rizal langsung mengusap punggung Davina beberapa kali. Sebenarnya Davina dan Rizal tidak khawatir pada vendor atau tagihannya. Yang Davina dan Rizal khawatirkan itu justru Shafa. Anak perempuan mereka dari pagi sampai larut malam di luar rumah, dan tidak jelas kemana dia. Rizal dan Davina mencemaskan hal itu. Mereka takut Shafa terpengaruh hal tidak baik, dan membawa dirinya ke arah yang tidak baik pula.
Shafa mulai menangis. Sempat terpikir di kepalanya untuk mengatakan saja yang sebenarnya. Tapi dia masih sangat takut, dia takut kalau ayah dan ibunya terkejut dan hal yang sama yang di alami teman ayahnya itu terjadi. Ayah dan ibunya tidak bisa menerima putri satu-satunya mereka mencintai seorang pengawal dan akhirnya syock dan terkena serangan jantung. Semua pasti kacau, apalagi besok adalah hari pernikahan Randy.
"Shafa!" pekik Davina.
"Nyonya besar, maaf! pak Sudin sudah mau berangkat. Katanya bawa berapa mobil?" tanya bi Warsih pada Davina.
Davina pun menatap ke arah Shafa yang masih diam.
"Ck... awas kamu ulangi perbuatan mu ini lagi Shafa!" ketus Davina lalu keluar bersama Rizal dan Warsih untuk mengurus penjemputan keluarga Karina dari desa.
Shafa masih diam di tempatnya, dia menyeka air matanya dan melihat ke arah pintu utama, dimana ayah dan ibunya baru saja keluar.
"Ayah, ibu maaf. Tapi apa jika aku katakan aku bersama Joseph kalian akan mengerti dan tidak akan marah?" tanya Shafa bergumam pelan.
Dia benar-benar masih sangat ragu untuk jujur pada ayah dan ibunya tentang hubungannya dengan Joseph.
***
__ADS_1
Bersambung...