
Dave yang baru selesai menghela nafas panjang karena sempat panik tadi langsung berjalan dengan cepat ke arah kolam renang. Masalahnya pasti akan sangat lama, jika menunggu Shafa bersiap-siap, apalagi saat ini dia masih berenang. Sedangkan hari mulai siang, dan dia harus segera ke kantor.
Setelah Dave tiba di dekat kolam renang dia melihat Shafa sedang berenang, ke sana kemari. Dan Shafa terlihat santai dengan aktivitas nya itu.
Dave pun hanya membiarkan Shafa, Dave tidak memanggilnya. Sampai kurang dari satu menit kemudian, Shafa menyadari ada orang lain di area kolam renang itu dan segera melihat ke arah Dave. Shafa pun berenang ke tepi kolam, dan menyapa kakak keduanya itu.
"Hei, tuan muda Hendrawan. Sedang apa? sedang lihat gadis cantik berenang ya?" tanya Shafa membuat Dave terkekeh.
Dave pun langsung berjongkok di dekat Shafa.
"Aku mau mengajakmu bekerja di kantorku, kakak ipar mu sangat mencemaskan keadaan mu. Aku juga, jadi bagaimana kalau daripada terus menjadi pengangguran, kamu bekerja saja di kantor ku?" tanya Dave.
Shafa pun mengangguk paham. Dia mengerti jika kakak dan kakak iparnya khawatir padanya. Lagipula dia juga merasa sangat bosan di rumah terus. Ingin bermain dengan Mika, keponakan nya itu sedang sibuk les menyanyi untuk lomba di hari sumpah pemuda.
"Baiklah, berapa gajiku?" tanya Shafa.
Mendengar apa yang di tanyakan Shafa pada Dave, kakak keduanya itu pun kembali terkekeh.
"Aku yakin kamu sudah sembuh dari trauma mu, mat4 duit4n!" seru Dave bercanda pada Shafa.
"Kakak, aku ini lulusan terbaik universitas unggulan di kota ini. Bakat ku sangat mahal!" lanjut Shafa.
"Baiklah, berapa pun kamu mau! cepat bersiap. Aku duluan ya, aku ada meeting satu jam lagi. Kamu berangkat bersama dengan Joseph!" ujar Dave yang langsung berdiri dan meninggalkan Shafa.
Shafa mendengus kesal.
"Ck... berangkat dengan pak tua es kutub itu, dia pasti mengabaikan ku. Menyebalkan!" keluh Shafa yang kemudian bergerak menuju ke tangga yang ada di kolam renang.
Shafa menaiki anak tangga satu persatu dan mengambil jubah mandinya lalu berjalan ke arah kamarnya untuk bersiap.
Sementara itu Dave pergi menemui Davina di kamarnya.
"Bu, aku mau culik putrimu ke perusahaan!" ucap Dave begitu membuka pintu kamar Davina.
__ADS_1
"Ya ampun anak ini, bicaralah dengan benar!" tegur Davina.
Dave malah terkekeh.
"Aku juga akan mengajaknya berlibur besok bersama Sila dan Karina. Mungkin akan sedikit membuatnya tenang!" ucap Dave yang masih berdiri di dekat pintu, sebab dia memang tidak akan lama di kamar ibunya.
"Yah kamu benar Dave, dia memang harus lebih banyak menyibukkan diri agar cepat kembali ceria seperti sediakala. Bawa Joseph juga bersama mu agar bisa menjaga Shafa, kamu dan Randy pasti akan sibuk dengan Sila dan Karina!" tambah Davina.
"Baiklah!" jawab Dave yang langsung keluar dari kamar ibunya.
Davina hanya bisa menghela nafas panjang sebab Dave sudah menghilang saat dia menoleh.
"Ya ampun anak ini, datang tiba-tiba pergi juga tiba-tiba, huh!" gumam Davina yang kembali melanjutkan pekerjaannya membereskan isi lemarinya yang sudah sangat penuh.
Setelah meminta ijin pada Davina, Dave lalu menemui Joseph yang menunggunya di ruang tamu.
"Jo, sini kunci mobilnya. Aku akan berangkat sendiri ke kantor. Kamu tunggu Shafa, dan selalu jaga dia!" seru Dave.
Setengah jam kemudian Shafa yang sudah keluar dari kamarnya melihat Joseph sedang duduk sendirian di ruang tamu. Tanpa menyapanya, Shafa lewat di depan Joseph begitu saja lalu keluar dari rumah.
Joseph kembali menghela nafas panjang atas sikap acuh Shafa itu.
Tapi kemudian Joseph berdiri dan mengikuti Shafa.
"Selamat pagi nona, nona mau pakai mobil yang mana?" tanya Joseph ketika sudah berhasil menyusul Shafa dan berdiri di belakangnya.
Shafa tidak menoleh sama sekali. Dia hanya melihat-lihat dua mobil miliknya yang memang sudah di siapkan di depan rumah.
"Yang hitam!" jawab Shafa lalu segera berjalan mendekati mobil sedan berwarna hitam miliknya.
Joseph dengan sigap berjalan lebih dulu dari Shafa dan membuka pintu belakang bagian penumpang untuk Shafa.
Tapi sayangnya Shafa malah berjalan ke arah pintu penumpang bagian depan, di sebelah kursi pengemudi.
__ADS_1
Setelah Shafa masuk ke dalam mobil, Joseph hanya bisa menutup pintu yang dia buka itu dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Joseph pun masuk ke dalam mobil, dan mengemudikan mobil Shafa meninggalkan kediaman Hendrawan.
Sepanjang perjalanan Shafa hanya diam, dia lebih memilih menoleh ke arah jendela mobil. Di pikiran nya akan sangat percuma bicara pada Joseph. Tapi sebenarnya Joseph malah cemas, karena Shafa yang biasanya tidak mau diam kalau bersama dengannya dan selalu bertanya ini dan itu, malah sangat tenang dan diam saja sejak tadi.
Selama hampir setengah jam perjalanan, suasana benar-benar hening. Hingga mereka tiba di perusahaan Hendrawan Grup.
Joseph selalu berusaha berjalan di belakang Shafa, dan itu membuat Shafa kesal.
"Heh, pak tua. Aku baru di kantor ini. Kalau kamu terus berjalan di belakang ku, bagaimana aku bisa tahu dimana ruangan ku?" tanya Shafa pada Joseph dengan nada ketus.
"Maaf nona!" sahut Joseph lalu berjalan di sebelah Shafa.
Ketika Joseph dan Shafa memasuki perusahaan, banyak karyawan yang menyapa mereka. Beberapa orang karyawan lama, pasti tahu kalau Shafa adalah putri bungsu dari Rizal Hendrawan. Tapi beberapa orang karyawan yang baru, mereka hanya menyapa Joseph karena tidak mengenal Shafa.
Saat mereka akan berjalan ke arah lift. Ponsel Joseph berdering. Dan itu panggilan dari Oman, Joseph meminta ijin pada Shafa untuk menerima telepon sebentar, tidak jauh dari Shafa.
Tapi saat Shafa menunggu Joseph, beberapa karyawati baru mulai bergosip.
"Eh, cepat juga ya tuan Joseph dapat pengganti Karina!" celetuk salah seorang karyawati yang bicara berbisik pada salah seorang teman di sebelahnya yang sama-sama sedang menunggu lift terbuka.
Tapi karena jarak mereka kurang dari satu meter dari Shafa, apa yang dikatakan karyawan itu dapat di dengar oleh Shafa. Shafa pun menjadi penasaran dengan obrolan mereka.
"Iya ya, padahal mereka itu serasi loh. Gak nyangka Karina milih orang yang lebih kaya, gak tanggung-tanggung anak sulung tuan Hendrawan lagi. Sukur deh, tuan Joseph cepat dapat gantinya, bahkan lebih cantik dan elegan dari Karina yang matre itu!" ucap karyawati itu lagi.
Shafa mendengus kesal mendengar calon kakak iparnya di bilang wanita matre. Shafa langsung mendekati karyawati itu dan mendorongnya.
"Heh, bicara apa kamu tentang Karina?" tanya Shafa ketus.
***
Bersambung...
__ADS_1