Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 235


__ADS_3

Mendengar apa yang dikatakan Ema, Riyanti makin lemas tak berdaya. Masalahnya seingat Riyanti, Randy dan Karina itu dulunya seperti Silvester dan tweety. Karina bahkan sangat tidak menyukai Randy, dan Randy juga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat Karina menangis dan marah. Kenapa malah sekarang mereka akan menikah. Kenapa Randy mengatakan kalau dia mencintai wanita itu, yang adalah Karina. Dan bagaimana mungkin juga Randy mengatakan kalau Karuna juga mencintai nya, sementara selama ini yang di lihat Riyanti di mata Karina hanya ada kebencian pada Randy.


"Ema, ini tidak mungkin. Apa kurangnya aku di bandingkan Karina?" tanya Riyanti yang hatinya benar-benar sangat terluka.


Dia merasa kalau itu Karina sangat tidak mungkin, dari fisik mereka saja, bisa diibaratkan Riyanti itu gitar spanyol, sementara Karina, dia seperti gitar akustik biasa. Meski cantik tapi sangat sederhana. Tak ada yang istimewa sama sekali menurut Riyanti.


Sementara dari lipstik yang mereka pakai saja, satu buah lipstik Riyanti bisa membeli 150 lipstik Karina. Tapi kenapa? kenapa Randy malah suka dengan wanita yang seperti itu.


Riyanti memeluk Ema dengan erat, dia merasa dadanya mulai sesak, kepalanya berdenyut dan pandangannya mulai berkunang-kunang.


Ema juga merasakan tangan Riyanti mulai terasa dingin.


Brukkk


Riyanti pun pingsan.


"Ri... Ri... Riyanti! ya Tuhan Riyanti. Bibi.... pak satpam!!" teriak Ema panik tak karuan.


Riyanti tak sadarkan diri pada malam itu, karena memang sudah dua hari ini dia tidak makan dan minum dengan benar. Di tambah kenyataan pahit kalau orang yang akan di nikahi adalah mantan anak buahnya, yang sama sekali tidak dia duga akan merebut Randy dan cinta Randy darinya. Riyanti syock bukan main.


Ema pun segera membawanya ke rumah sakit di temani satu orang satpam dan asisten rumah tangga Riyanti.


Sementara itu Randy masih terus memikirkan tentang siapa yang kira-kira mengirimkan teror itu pada Karina selain Riyanti. Pikirannya tidak bisa mengingat dengan baik, mungkin karena terlalu banyak wanita yang dia kencani selama kurang lebih lima tahun terakhir ini.


***

__ADS_1


Keesokan harinya...


Hari ini adalah hari dimana berkas kasus Hadi Tama sudah lengkap. Berkasnya sudah di limpahkan ke pengadilan. Seorang petugas polisi yang selama ini sering mengobrol dengan Hadi, dan cukup dekat dengannya karena semenjak di tangkap dan di masukkan ke rumah tahanan Hadi cukup kooperatif. Juga petugas itu pernah kesulitan mengirimkan uang ke anak dan istrinya yang ada di luar kota, Hadi Tama membantu petugas paruh baya itu mengupdate ponsel android yang memang baru di beli petugas itu beberapa hari yang lalu.


Tutur sapa Hadi juga sopan, Hadi bahkan juga menceritakan semua kesalahannya secara gambl4ng pada petugas paruh baya itu. Bahkan tentang kedua orang tua Hadi, yang dia sangat menyesal sekali dengan perbuatannya yang telah membuat malu dan sedih kedua orang tuanya itu.


Petugas paruh baya itu datang dan menghampiri Hadi yang sedang shalat duha di ruang tahanan. Petugas itu menunggu hingga Hadi selesai melaksanakan shalat nya. Selama berada di tahanan, jadi memang lebih alim, dia lebih mendekatkan diri pada sang penciptanya. Dia benar-benar menyesal.


Karena mang sebenarnya Hadi itu orang yang baik, hanya saja godaan Susan membuatnya terjerumus untuk sesaat. Tapi dalam waktu sesaat itu sudah mampu menghancurkan segalanya dan membuat semua usaha dan perjuangan nya hancur begitu saja.


"Nak Hadi!" panggil Pak Tanjung, petugas paruh baya yang selama ini cukup dekat dengan Hadi.


Mendengar panggilan pak Tanjung, Hadi langsung berdiri dan merapikan sajadahnya. Bahkan sarung, peci dan sajadah yang Hadi gunakan itu adalah pemberian dari pak Tanjung.


"Pak Tanjung!" sahut Hadi lalu mencium punggung tangan orang tua yang sangat baik padanya itu.


Mata Hadi memang menunjukkan pribadinya yang sudah kembali ke Hadi yang lima tahun lalu bertemu Sila. Hadi yang jujur dan baik.


"Berkas mu sudah di limpahkan ke pengadilan. Bapak harap kamu bisa sabar dan ikhlas menerima semua keputusan pengadilan nanti ya nak. Percayalah, jika kita bersungguh-sungguh bertaubat, taubatan nasuha, berjanji pada sang pemilik diri dan diri kita sendiri kalau kita tidak akan pernah mengulang perbuatan tercela yang pernah kita lakukan. Sang maha pencipta juga akan memberikan kemudahan nak Hadi!" terang pak Tanjung menasehati Hadi.


Hadi hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.


"Iya pak, terimakasih bapak selama ini telah banyak menasehati dan membantu saya. Saya akan terus mengingat kebaikan bapak!" ucap Hadi pelan.


Pak Tanjung kemudian menepuk bahu kanan Hadi.

__ADS_1


"Sama-sama nak. Bapak yakin kamu sebenarnya orang baik, jangan terjerumus lagu ya nak!" nasehat pak Tanjung untuk Hadi yang membuat mata Hadi Tama berkaca-kaca.


***


Lalu di tempat yang berbeda, di waktu yang sama.


Shafa sedang bersiap karena sang ayah sudah memperingatkan dirinya dengan keras agar segera kembali bekerja. Lagipula masa skorsing nya juga sudah berakhir.


Tapi saat Shafa sedang bersiap, ada yang mengetuk pintu kamarnya. Karena Shafa sedang mengukir alis matanya, dia tidak menoleh ke arah pintu dan hanya berseru agar siapapun yang mengetuk pintu itu masuk ke dalam kamarnya.


Karena pasti hanya anggota keluarga dan asisten rumah tangga saja kan. Tidak mungkin tukang bubur ayam yang suka keliling di sekitar komplek yang mengetuk pintu kan.


"Masuk!" seru Shafa benar-benar tidak melihat ke arah pintu dan masih sibuk mengukir alisnya agar tampak cantik dan yang pastinya kanan dan kirinya sama dan seimbang.


Shafa memang mendengar pintu terbuka, dan mendengar suara langkah. Tapi dia belum mendengar suara orang yang telah masuk ke dalam kamarnya. Sampai matanya tiba-tiba menyatu di tengah kedua alisnya karena sekuntum bunga mawar berwarna merah sudah ada di depan matanya itu.


Merasa matanya jul1ng, karena mengikuti tangkai bunga itu. Shafa buru-buru mengedipkan matanya berulang kali lalu melihat dari pantulan kaca siapa dalang di balik bunga mawar yang mengganggu konsentrasi nya itu.


Mulut Shafa terbuka lebar ketika melihat siapa orang yang mengejutkannya di pagi yang cerah itu.


"Pak tua!" pekik Shafa tidak percaya.


Shafa bahkan langsung menutup rapat mulutnya lalu menelan salivanya dengan susah payah.


'Mimpi apa pak tua ini tadi malam? aku tidak percaya dia memberikan aku bunga mawar? apa kepalanya habis terbentur?' tanya Shafa bingung. Karena setahunya Joseph sama sekali bukan orang yang romantis.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2