
Anita menutup rapat mulutnya ketika mendengar jawaban Oman. Matanya terbuka lebar seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Tapi kemudian Anita tersadar dari pemikiran kosongnya dan kembali mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Anita pun tersenyum sinis pada Oman sambil berkata.
"Menggelikan!" ucap Anita ketus.
Anita langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela. Membuat Oman menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Aku serius Anita, mungkin sekarang memang sudah terlambat. Tapi aku rasa aku juga menyukai ku sekarang...!"
"Diam, dan fokus saja mengemudi. Kau pikir aku gadis remaja yang masih akan percaya dengan ucapan mu yang pagi menjelang sore saja bisa berubah. Tidak akan lagi Oman!" ketus Anita.
Oman tertunduk lesu. Dia sadar kalau semua ini tak lepas dari salahnya juga. Sejak dulu, sejak bekerja dengan Dave, Oman memang adalah asisten pribadi Dave yang selalu bertugas di lapangan. Dia jarang sekali ke kantor. Suatu malam, ada sebuah perayaannya ulang tahun Dave, dan semua asisten, sekertaris dan pegawai pribadi Dave berkumpul untuk merayakannya. Malam itu juga ada sebuah permainan konyol, dimana Oman, Roy, Joseph dan yang lain membuat permainan tantangan yang cukup konyol.
Dan saat tiba pada giliran Oman, dia mendapatkan tantangan menyatakan cinta pada seorang wanita yang ada di ruangan itu. Kala itu dia memilih Anita, Oman langsung menyatakan cinta pada Anita. Bahkan mencium Anita dengan paksa karena Oman sudah setengah mabuk karena itu.
Anita yang baru pertama kali di cium oleh seorang pria, dan baru pertama kali mendapatkan pernyataan cinta dari Oman pun seperti patung saat itu disana. Tapi Oman langsung mengajaknya pergi dari tempat itu dan mengantarkan Anita pulang.
Sejak saat itu Anita diam-diam selalu memperhatikan Oman. Tapi sayang saat Anita mulai suka pada Oman. Justru saat itu Anita menemukan Oman sedang berbicara pada anak buahnya yang lain kalau semua itu hanya sandiwara saja untuk menang dalam permainan konyol itu.
Akhirnya Anita pun jadi sakit hati pada Oman. Namun karena ingin profesional bekerja. Anita tidak mau ambil pusing lagi, dan setiap bertemu atau melihat Oman. Anita lebih suka pura-pura tak melihatnya dan tak mau menegurnya.
Tapi begitulah seorang pria, saat dia di beri perhatian dia malah acuh. Tapi saat di jauhi dia malah jadi jatuh hati. Begitu juga dengan perasaan Oman sekarang. Saat dia mencium Anita untuk pertama kalinya, saat itu selalu menghantui dalam beberapa mimpinya. Membuat Oman tidak bisa lagi memungkiri kalau dia menyukai Anita.
"Aku salah Anita, saat itu aku mengaku aku memang sangat salah. Tapi sekarang aku yakin kalau aku benar-benar menyukai...!"
Brakk
Belum selesai Oman mengatakan apa yang mau dia katakan. Anita sudah keluar dari dalam mobil dan membanting pintu mobil itu dengan kencang.
__ADS_1
Anita kemudian berjalan menjauh dari mobil yang di kemudikan oleh Oman. Tapi baru akan menyusul Anita, ponsel Oman berdering.
Sambil berdecak kesal, Oman meraih ponsel yang ada di dalam saku jasnya. Saat melihat ke layar ponselnya, Oman tersenyum ketika melihat nama pemanggilnya adalah Joni. Anak buahnya yang tadi dia kirimi pesan untuk mengikuti Anwar, pacar Anita.
"Bos..!"
"Ada apa? apa pria itu kecelakaan dan mobilnya terlindas truk 4 gandeng?" tanya Oman.
"Astaga bos, kata-kata mu kejam sekali. Tapi aku rasa ini lebih ekstrim dari berita itu!" sahut Joni.
"Apa yang lebih ekstrim dari itu, mobilnya tertabrak kereta, terus ringsek dan terbawa sampai puluhan meter?" tanya Oman yang lagi-lagi mengatakan hal tidak baik untuk Anwar.
"Bos, sebenarnya ada dendam apa, kau dengan Anwar Sungkono itu?" tanya Joni yang akhirnya penasaran karena bosnya selalu mengatakan hal buruk tentang Anwar.
"Tidak ada, katakan saja apa yang terjadi?" tanya Oman yang tak ingin buang-buang waktu lebih lama lagi karena Anita sudah berjalan semakin jauh dari mobil Oman.
"Bos, dia masuk hotel dengan seorang wanita. Wanita yang kita lihat di klub malam itu. Apa aku perlu ke sana sebagai room servis lalu meletakkan perekam di kamar itu?" tanya Joni yang sudah biasa melakukan hal seperti itu saat sedang mengawasi seseorang.
"Rose hotel bos, mereka sudah masuk ke dalam lift. Sudah dulu ya bos, aku masih harus ganti kostum!" ucap Joni yang langsung memutuskan panggilan telepon dengan Oman.
Oman sedikit mendengus kesal.
"Anak buah macam apa dia? harusnya kan aku yang memutuskan panggilan telepon nya!" keluh Oman.
Tapi kemudian, Oman lebih memilih menyimpan kembali ponselnya lalu kembali menyalakan mesin mobil. Setelah itu dia melajukan mobilnya dengan cepat mengejar Anita yang sudah lumayan jauh.
Din... Din...
__ADS_1
Oman membunyikan klakson mobilnya lalu membuka kaca mobil.
"Hei, naiklah! aku ada pertunjukan bagus yang mau aku tunjukkan padamu!" seru Oman.
Tapi Anita tidak mendengarkan Oman, bahkan tak menoleh ke arah Oman. Oman berdecak kesal lalu, menarik rem tangan mobil itu. Dia membuka sabuk pengamannya dan keluar dari dalam mobil dengan cepat.
Oman berjalan dengan langkah panjang dan cepat menghampiri Anita. Tanpa basa-basi, dia langsung menunduk sedikit di depan Anita dan langsung menggendong Anita seperti memanggul sebuah karung beras di atas bahunya.
Anita terkejut bukan main. Dia memukul mukul punggung kekar Oman dengan kedua tangannya. Namun Oman sama sekali tidak perduli, karena pukulan itu juga tidak seberapa sakit dia rasa. Oman dengan cepat langsung berjalan menuju ke arah mobilnya.
"Eh, lepaskan aku. Kau sangat menyebalkan!" pekik Anita.
"Kau juga menyebalkan!" balas Oman yang langsung membuka pintu mobil dan membanting Anita begitu saja.
Anita kembali memekik. Namun Oman langsung menutup pintu mobil dengan keras. Setelah itu, Oman berlari ke arah pintu pengemudi dan langsung masuk ke dalam mobil. Saat Anita sudah dalam posisi duduk, dia langsung berusaha membuka kembali pintu mobil. Namun sayang, dia terlambat. Karena Oman sudah mengunci pintu mobil secara otomatis.
"Duduk diam, dan lihat apa yang akan aku perlihatkan padamu!" seru Oman dan tanpa basa-basi lagi, Oman langsung melajukan mobilnya menuju Rose hotel.
Setibanya di depan Rose hotel, mata Anita langsung melotot tajam ke arah Oman.
"Hah, ini kan hotel. Hei... kenapa kamu membawaku ke hotel. Jangan macam-macam ya, aku akan mengadukan mu pada tuan Dave. Aku akan...!"
Oman yang langsung keluar dari dalam mobil membuat Anita menjeda kalimatnya. Apalagi setelah Oman membuka pintu dan menarik tangan Anita agar Anita keluar dari mobil.
"Heh, kamu mau apa sih?" kesal Anita.
"Ikut dan lihat saja, aku jamin kamu akan sport jantung melihat yang akan ku tunjukkan!"
__ADS_1
***
Bersambung...