
Setelah Shafa mendapatkan penanganan dari dokter Jimmy, Joseph pun memutuskan untuk keluar dari ruangan itu untuk melaporkan semuanya pada Dave. Tapi saat Shafa melihat Joseph berjalan ke Tah pintu, Shafa yang sedang di periksa memanggil Joseph.
"Joseph...!" panggil Shafa seolah tak ingin di tinggalkan oleh Shafa.
Jimmy yang sedang menyiapkan alat pemeriksa detak jantung yang melihat hal itu menoleh ke arah Shafa dan kemudian ke arah Joseph.
"Hanya sebentar, ada Jimmy di sini. Kamu akan aman!" ucap Joseph.
Meski dengan tatapan mata tak setuju, tapi Shafa hanya bisa diam dan membiarkan Joseph keluar dari ruangan itu.
Setelah berada di luar, Joseph langsung menghubungi Dave. Saat itu sudah hampir tengah malam, tapi Joseph merasa perlu mengabarkan kondisi Shafa pada Dave.
Di apartemen Dave, sekitar pukul 23.00 malam. Dave dan Sila sedang tidur di kamar mereka, sambil berpelukan. Ponsel Dave untuk umum memang selalu dimatikan saat dia tertidur, tapi ponsel satu lagi untuk kalangan terbatas seperti Sila, keluarganya juga Joseph dan Oman akan selalu aktif dan di setel berdering meskipun dia meeting atau sedang tidur.
Setelah ponsel itu berdering beberapa kali, akhirnya mata Dave terbuka. Sila juga sedikit menggeli4t di atas dada Dave karena suara ponsel itu. Karena letaknya tak jauh dari jangkauan tangan Dave. Dia pun tak perlu meminta Sila untuk bangun.
Begitu melihat Joseph yang menghubunginya, Dave langsung menggeser icon telepon berwarna hijau ke atas.
"Iya Jo!" ucap Dave dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur. Dave juga tidak bicara dengan suara keras karena dia tidak mau mengganggu Sila yang masih tertidur sambil memeluknya.
"Tuan, nona Shafa... nona Shafa dia ada di rumah sakit..!"
"Shafa kenapa Jo?" tanya Dave dengan suara keras.
Dave begitu terkejut mendengar Shafa berada di rumah sakit. Dan karena panik dia sudah membuat Sila terbangun.
"Ada apa mas?" tanya Sila sambil mengusap wajahnya.
Dave lalu mengusap lembut kepala Sila.
"Maaf sayang aku membangunkan mu, Jo bilang Shafa ada di rumah sakit!" jawab Dave.
Sila juga langsung terkejut. Sila langsung turun dari tempat tidurnya.
"Aku akan ganti baju sekarang mas!" ucap Sila langsung masuk ke kamar mandi setelah meraih beberapa pakaian dari dalam lemari.
"Jo, apa yang terjadi?" tanya Dave setelah menghela nafas.
"Tuan, nona Shafa di beri obat perangs4ng oleh tuan Vincent..!"
__ADS_1
"Apa?" pekik Dave.
'Mereka sudah menikah bukan, lalu untuk apa Vincent memberi obat itu pada Shafa?' tanya Dave dalam hati.
Dave yang merasa pasti ada masalah yang lebih besar di balik itu semua dan merasa harus tahu apa yang terjadi pada adiknya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Untung Sila sangat pengertian, dia bahkan sudah berpikir seperti itu terlebih dulu.
Setelah Sila dan Dave berganti pakaian, mereka pun segera pergi ke rumah sakit. Dave bahkan memutuskan untuk menyetir mobilnya sendiri.
Sementara itu di rumah sakit, Jimmy sudah keluar dari ruang periksa nya.
"Bagaimana dia?" tanya Joseph cemas.
"Bisa kita bicara di ruangan ku?" tanya Jimmy pada Joseph.
Tapi pertanyaan itu hanya basa-basi saja, sebab sebelum Joseph menjawab pertanyaan tersebut, Jimmy sudah berjalan lebih dulu ke arah ruangannya. Joseph pun menyusul Jimmy. Setelah berada di ruangan Jimmy, Joseph pun duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Jimmy.
"Kamu tidak akan lapor pada Dave tentang saran ku untuk menjebol...!"
"Sudah ku laporkan!" ucap Joseph menyela ucapan Jimmy.
Jimmy langsung menepuk keningnya sendiri mendengar apa yang dikatakan Joseph.
Joseph dengan wajah datarnya mendengus melihat tingkah konyol Jimmy itu.
"Huh, tapi untung tidak kamu lakukan. Kalau kamu lakukan itu, kita berdua akan langsung di lempar ke kandang singa oleh tuan muda Dave yang pemarah itu!" lanjut keluh Jimmy.
"Tapi nona Shafa tidak apa-apa kan?" tanya Joseph yang ingin menyudahi drama Jimmy di hadapannya.
"Mana ada wanita yang tidak apa-apa setelah diperlakukan seperti itu, Shafa mengalami trauma. Saat aku minta perawat mengganti pakaian nya yang basah, dia bahkan melemparkan nampan aluminium yang berisi peralatan dan obat ke lantai. Saat dia melihat wajahku dan mendengar suaraku saat menenangkannya dan mengatakan kalau mereka orang baik dan hanya akan membantunya berganti pakaian dia baru tenang!" jelas Jimmy.
Penjelasan Jimmy itu membuat kedua tangan Joseph yang ada di pangkuannya mengepal dengan kuat.
"Siapa yang melakukan semua ini padanya?" tanya Jimmy.
"Suaminya!" jawab Joseph dengan nada kesal.
Mata Jimmy melotot mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Joseph.
"Suaminya? untuk apa suaminya melakukan semua itu pada Shafa? kalau mau minta jatah tinggal di rayu atau di belikan tas branded saja kan...!" Jimmy menghentikan ucapannya ketika mendapatkan tatapan tajam dari Joseph.
__ADS_1
"Apa sekarang dia sudah tidur?" tanya Joseph.
"Dia sudah di pindahkan ke ruang rawat. Aku rasa setelah ini dia akan sangat sulit tidur. Seperti yang ku katakan tadi, dia trauma. Mungkin kalau bukan orang yang bisa dia percaya, dia tidak akan mau di ajak bicara atau di dekati." terang Jimmy.
"Apa dia bisa kembali seperti dulu, maksud ku, apa ada obat yang bisa membuatnya sembuh dari trauma ini?" tanya Joseph.
"Dukungan keluarga dan orang-orang yang dia kasihi dan mengasihinya akan sangat membantu. Buat Shafa selalu merasa aman, itu akan sangat membantu!" jawab Jimmy.
"Aku bertanya tentang obat dokter?" tanya Joseph lagi.
"Jo, ini bukan sakit mag atau migrain yang bisa di obati dengan obat. Ini trauma, tekanan dalam pikiran dan hati Shafa!" terang Jimmy lagi.
Joseph terdiam, dia sangat sedih mendengarnya. Shafa sampai trauma seperti itu sangking ketakutan dan merasa sangat tertekan juga tidak aman karena apa yang sudah dilakukan Vincent padanya.
Karena khawatir pada keadaan Shafa, Joseph berpikir kalau dia harus segera menemuinya.
"Baik dokter, terimakasih! dan aku berbohong padamu. Aku tidak mengatakan tentang saran mu itu pada tuan!" ucap Joseph yang langsung keluar dari ruangan Dokter Jimmy.
Dokter Jimmy langsung mengelus dadanya, dia lega karena akan terhindar dari amukan Dave.
"Hah... !" Jimmy menghela nafasnya.
"Aku rasa, suami Shafa itu akan berada dalam masalah besar. Apa dia tidak tahu, Shafa itu punya dua singa penjaga yang sangat menakutkan!" gumam dokter Jimmy.
Joseph pun menemui Shafa di ruang rawatnya. Joseph berjalan pelan ke dekat ranjang pasien Shafa yang sedang menatap nanar ke arah jendela kamarnya.
"Nona!" ucap Joseph memanggil Shafa.
Shafa menoleh perlahan, matanya berkaca-kaca membuat Joseph mengingat bagaimana keadaan Shafa saat dia menemukannya di villa milik Vincent.
Tangan Joseph tanpa sadar terangkat begitu saja hendak menyentuh wajah Shafa. Tapi...
Ceklek
"Shafa!" panggil Dave yang langsung bergegas menghampiri Shafa. Membuat Joseph menjauh dari mereka berdua.
***
Bersambung...
__ADS_1