
Sila tertegun mendengar pertanyaan yang baru saja di ajukan oleh Shafa padanya. Sila juga tidak tahu apa yang bisa dia katakan pada Shafa? bagian mana yang harus dia ceritakan. Apakah tentang betapa hancurnya perasaan dan hatinya saat itu, betapa sulitnya dia bertahan saat itu. Atau betapa sakitnya jiwa dan raganya ketika mengetahui pengkhianatan dari suaminya sendiri saat itu?
Tidak ada hal yang baik yang bisa dia ceritakan pada Shafa tentang dirinya kala itu. Lantas kalau dia bilang menjadi seorang janda adalah cobaan paling berat dalam hidupnya kala itu, bukankah Shafa akan menjadi lebih dan semakin sedih. Sementara seharusnya adik iparnya itu mendapatkan dukungan saat ini, agar dirinya bisa terbebas dari beban pikiran dan traumanya bukan kisah atau cerita sedih yang pernah Sila alami.
Sila menghela nafasnya panjang, dia menepuk punggung tangan Shafa yang ada di sebelah nya perlahan.
"Cerita kita berbeda Shafa, aku tidak bisa katakan padamu apa yang kurasakan saat itu. Karena aku pun tidak berharap ada yang merasakan hal itu, hal yang sama denganku kala itu. Tapi percayalah, menjadi seorang janda akan lebih baik daripada mempertahankan rumah tangga yang memang tidak sehat dari awal, tidak benar dari awalnya!" jelas Sila yang mulai melihat raut wajah sedih Shafa perlahan menghilang.
"Shafa, percayalah semua akan baik-baik saja!" ucap Sila lagi yang berusaha untuk membuat Shafa tetap berpikir positif.
Cerita Shafa dan Sila memang berbeda, pernikahan Shafa dan Vincent memang tidak dibangun atas dasar cinta sedangkan pernikahan Sila dulu, cinta lah yang menjadi landasannya. Tapi ternyata itu saja tidak cukup, dan Sila sama sekali tidak ingin mengingat hal itu lagi.
Bahkan saat dia resmi menjadi janda, seluruh keluarganya tidak ada di sisinya, hanya ada Karina. Saat seperti itu saja dia bisa kuat, dia yakin kalau Shafa akan lebih kuat daripada dirinya waktu itu, karena seluruh anggota keluarga Shafa ada bersama Shafa dan mendukung penuh Shafa.
"Apa menurut kak Sila aku ini konyol?" tanya Shafa sambil terkekeh tapi kekehannya itu terdengar menyedihkan.
"Shafa, kenapa bertanya seperti itu?" tanya Sila.
"Aku begitu mudah menerima pernikahan itu, aku pikir aku akan mengabulkan permintaan terakhir nenek Vincent yang katanya umurnya tak akan lama lagi. Aku tidak menyangka aku akan dengan mudah di tipu mentah-mentah seperti itu. Aku ini lulusan universitas ternama di kota ini, orang tuaku sangat disegani, kedua kakak ku pengusaha sukses yang begitu hebat, kenapa aku jadi pecundang begini?" ucap Shafa yang mulai kembali menangis.
Sila langsung kembali mengusap lengan Shafa dengan lembut. Sila tahu saat ini Shafa merasa sangat buruk dan begitu menyusahkan keluarganya. Tapi Sila berpikir semua ini bukan salahnya.
"Shafa jangan menangis, percayalah. Tidak ada yang berpikir kamu konyol atau berpikir kalau kamu adalah pecundang, setiap manusia itu pasti pernah salah Shafa saat mengambil keputusan. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kamu menata kehidupan ke depannya agar lebih baik, belajar dari kesalahan-kesalahan kemarin agar tidak banyak masalah yang timbul!" jelas Sila berusaha menasehati adik iparnya itu.
Shafa dan Sila pun lanjut mengobrol hingga setengah jam kemudian. Banyak hal yang Shafa keluhkan dan Sila sebagai kakak ipar yang baik berusaha untuk membuat Shafa tidak terlalu over thinking.
"Apa bertemu kak Dave menurut kak Sila adalah sebuah keberuntungan atau kesialan?" tanya Shafa setelah mendengar banyak cerita dari Sila.
Sila langsung tersenyum.
"Bertemu dengan kakak mu Dave adalah keberuntungan terbaik yang pernah aku miliki!" jawab Sila dengan yakin dan cepat.
__ADS_1
Shafa tersenyum senang mendengar jawaban Sila. Tapi saat tengah mengobrol, tiba-tiba ponsel Sila berdering. Saat dia melihatnya ternyata telepon dari Diah.
"Shafa, aku angkat telepon dari Diah sebentar!" ucap Sila dan Shafa pun mengangguk cepat.
Sila berjalan ke arah pintu kamar Shafa.
"Iya mbak Iyah, ada apa?" tanya Sila.
"Nyonya, begini. Nyonya bisa tidak datang ke sekolah nona Mika. Kata guru nona Mika, akan ada rapat untuk acara sumpah pemuda di sekolah!" jelas Diah.
"Oh, iya mbak Iyah. Aku akan ke sana sekarang!" ucap Sila.
Lalu Sila menyimpan kembali ponselnya. Sila pun mendekati Shafa.
"Shafa, aku harus pergi sekarang. Ada rapat di sekolah Mika. Ada Joseph di luar kamar yang menjagamu, jika perlu apa-apa kamu bisa panggil dia!" ucap Sila dan di balas anggukan serta senyuman dari Shafa.
"Kapan-kapan ajak Mika kesini ya kak!" ucap Shafa.
Setelah keluar dari kamar Shafa, di luar kamar sedang berjaga Joseph dan Oman.
"Jo, aku harus pergi ke sekolah Mika. Tolong jaga Shafa ya, kalau bisa temani dia ngobrol agar dia tidak melamun dan berpikir yang tidak-tidak!" seru Sila.
Joseph pun mengangguk paham.
"Baik nyonya!" jawab Joseph cepat.
Sila langsung berjalan ke arah pintu utama, sebelum mengikuti Sila, Oman menepuk bahu Joseph.
"Ingat Jo, buka dulu topeng seram mu sebelum mengajak nona Shafa ngobrol. Bisa-bisa dia malah ketakutan saat melihat mu, bukannya terhibur!" ejek Oman yang langsung bergegas menyusul Sila yang sudah keluar dari kediaman Hendrawan.
Joseph hanya bisa mendengus kesal, saat ini justru dia sangat bingung karena sebenarnya dia ingin minta maaf atas apa yang sudah dia lihat saat Shafa dalam keadaan tidak sepantasnya itu. Tapi dia malah takut Shafa akan semakin over thinking jika dia membahas masalah itu lagi.
__ADS_1
Saat seorang asisten rumah tangga mendekati pintu dan membawakan segelas jus jeruk untuk Shafa. Jo menahannya dan meminta agar jus jeruk itu di berikan padanya.
"Berikan padaku!" ucap Joseph dengan suara dan ekspresi wajah datar yang sudah menjadi ciri khasnya.
Sontak saja, asisten rumah tangga keluarga Hendrawan itu gemetaran di buatnya.
"Ma... maaf tuan, itu minuman untuk nona Shafa. Tanpa gula, kalau tu.. tuan mau saya akan buatkan yang manis dengan gula!" ucap asisten rumah tangga itu gugup.
Joseph langsung mengambil gelas yang ada di atas nampan yang di bawa asisten rumah tangga itu.
"Tidak usah, maksud ku. Aku yang akan berikan minuman ini pada nona Shafa!" jelas Joseph lalu masuk ke dalam kamar Shafa dan membuka lebar pintunya.
Si asisten rumah tangga itu mengelus dadanya.
"Oh ternyata mau kasih ke nona Shafa. Ya ampun, mukanya itu galak banget. Siapapun pasti salah paham!" gumam asisten rumah tangga itu lalu meninggalkan depan kamar Shafa dan kembali ke dapur.
Shafa yang melihat Joseph masuk dan berjalan mendekatinya dengan segelas jus di tangannya tersenyum pahit.
"Apa sudah kamu tambahkan racun dalam minuman itu?" tanya Shafa pada Joseph.
Mendengar pertanyaan konyol dari Shafa, Joseph yang sudah berdiri di samping Shafa sambil berkata.
"Sudah, jadi mari kita m4ti bersama!" jawab Joseph dengan ekspresi wajah datar.
Shafa terkesiap mendengar jawaban dari Joseph. Sedangkan Joseph malah meminum jus di tangannya itu setengah.
"Sudah ku minum, sekarang giliran mu! minumlah kalau kamu mau m4ti bersamaku!" ucap Joseph sambil mengulurkan kembali gelas itu ke arah Shafa.
***
Bersambung...
__ADS_1