
Meski terus mengelak namun bukti dan saksi pun sudah sangat kuat dan mampu menjerat Aline dengan hukuman yang pastinya tidak main-main.
Dave dan Randy bahkan sudah bersama dengan pengacara mereka, Wira. Di kantor polisi, mereka berdua memastikan kalau Aline akan membayar semua yang dia perbuat dengan setimpal.
Randy juga memastikan tentang siapa yang memerintahkan tiga orang itu meneror Karina. Tapi sudah payah Randy dan pihak kepolisian menginterogasi. Hasilnya tetap sama, mereka memang tidak pernah bertemu dengan orang yang membayar mereka. CCtv pasar, dan jalan juga tidak menunjukkan apapun yang mencurigakan. Benar-benar seperti orang yang mengerti betul tentang bagaimana menghindari CCtv dan juga penyelidikan polisi melalui rekening bank dan hal kecil lainnya.
Tapi polisi masih terus berusaha mencari dalang di balik teror Karina atas laporan dari Randy dan Dave selaku calon suami dan calon adik ipar Karina.
"Aku pergi dulu, ada hal penting yang harus aku selesaikan, urusan pekerjaan! usahakan saat kau bicara padanya. Jangan menggunakan tangan mu untuk melukainya, dia itu bukan wanita tua, tapi rubah yang sangat licik!" ujar Dave pada Randy yang di berikan kesempatan oleh pihak kepolisian untuk bertemu dengan Aline.
Randy mengangguk paham atas semua yang di sampaikan Dave.
"Iya aku mengerti. Terimakasih juga atas bantuan mu dan Joseph!" ujar Randy.
"Kita keluarga kak, Joseph juga. Untuk apa berterima kasih. Aku pergi dulu!" ucap Dave yang langsung mengajak Joseph meninggalkan kantor polisi.
Dave masih ada pekerjaan, dan beberapa menit lagi harus meeting dengan klien di luar perusahaan.
Setelah Dave pergi, Wira juga menghampiri Randy. Wira tahu Randy sangat marah dan sangat emosi pada Aline. Karena itu, Wira ingin menemaninya agar Randy jangan sampai berbuat yang bisa merugikan dirinya sendiri. Tapi Randy menolak, dia ingin Wira mengurus semuanya agar Aline cepat menjalani sidang dan segera mendapatkan hukumannya. Dan Wira pun mengikuti apa kata Randy.
Saat Randy akan di arahkan ke rumah besuk tahanan, ternyata Aline menolak menemui Randy. Dia bahkan berteriak sangat histeris membuat suasana kantor polisi menjadi bising. Randy pun menanyakan pada petugas, apakah bisa dirinya bertemu dengan Aline di ruang tahanan nya. Atas jaminan dari Wira, Randy pun bisa menemui Aline di ruang tahanannya.
Melihat Randy datang, Aline langsung berteriak histeris.
"Dasar laki-laki bren9sek! kenapa kau masukkan aku ke penjara. Apa kamu lupa apa yang kamu lakukan pada Luna, dasar pria bren9sek!" pekik Aline kesal pada Randy.
Aline merasa Randy adalah pria paling bren9sek di dunia ini. Kalau bukan dirinya yang terus menolak Luna, maka dia tidak akan pernah melakukan tindakan keji itu pada Alisha. Saat Alisha sudah tidak ada di dunia ini, Randy bahkan hanya memanfaatkan Luna saja. Aline merasa seperti itu, padahal seharusnya dia sadar, kalau dia sendirilah yang telah menjerumuskan anaknya itu ke jurang penuh kenista4n.
Tapi betul kata pepatah, semut di seberang lautan tampak, sementara gajah di pelupuk mata tidak tampak. Aline masih tidak mau mengakui kesalahannya dan malah menyalahkan orang lain atas apa yang dia lakukan.
Randy memegang kuat jeruj1 besi yang ada di depannya. Sebenarnya kalau dia tidak ingat apa kata Dave dan Wira. Ingin rasanya dia mencekik wanita tua yang sebaya dengan ibunya itu yang ada di depannya itu.
__ADS_1
"Kau masih terus menyalahkan orang atas semua perbuatan buruk mu. Aku tidak akan pernah memaafkan perbuatan mu pada Alisha, karena kau Alisha pergi dari hidupku. Tahukah kau, rasanya kehilangan orang yang sangat kau cintai?"
Randy menjeda ucapannya sejenak.
"Kau tidak tahu bukan, maka mulai detik ini rasakan lah, bagaimana rasanya hidup dalam kesepian dan penyesalan, tidak ada siapapun di sisimu!"
"Diam!" pekik Aline menutup telinganya.
"Membusuk lah di sini selamanya!" pekik Randy yang langsung meninggalkan ruang tahanan.
Randy benar-benar sudah habis kesabaran pada wanita yang adalah sahabat ibunya itu. Rasanya tangannya sudah sangat geram dan ingin menampar wanita tua itu sampai segala amarahnya sirna.
Saat Randy keluar, Adi Praja dan seorang pria yang mungkin adalah seorang pengacara juga masuk ke dalam kantor polisi.
Melihat mata Randy yang merah dan wajahnya yang suram. Adi Praja tahu kalau pria di depannya itu pasti sangat emosi. Memangnya siapa yang tidak akan emosi mengetahui siapa pelaku yang telah melenyapkan istrinya.
"Randy!" panggil Adi Praja.
"Om minta maaf!"
Randy pun mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Adi Praja.
"Om, telah lalai mengawasi istri Om hingga dia bisa melakukan perbuatan yang begitu keji seperti itu. Om benar-benar minta maaf, mewakili keluarga Praja...!"
"Jika om ingin hubungan keluarga kita baik-baik saja, maka jangan coba-coba untuk membuat hukuman wanita rubah itu menjadi ringan!" sela Randy dengan wajah yang sangat tegas.
Adi Praja mengangguk paham.
"Om tahu Randy. Aline memang harus membayar semua yang telah dia lakukan. Om tidak akan ikut campur dalam proses hukum yang berlaku. Ada urusan lain kenapa om membawa pengacara kemari. Kau tenang saja, bukan untuk membela kesalahan besar yang Aline lakukan!" jawab Adi Praja.
"Baguslah kalau begitu!" ucap Randy acuh dan meninggalkan Adi Praja begitu saja.
__ADS_1
Adi Praja hanya bisa menghela nafasnya berat. Semua ini karena perbuatan istrinya, hingga rasa hormat Randy benar-benar hilang padanya.
Setelah itu Adi Praja meminta pengacaranya mengurus semuanya agar dirinya bisa bertemu dengan Aline. Dan beberapa saat kemudian, Adi Praja pun diantarkan ke ruang besuk tahanan.
Melihat suaminya dan seorang yang dia kenal sebagai pengacara keluarga Praja. Mata Aline berbinar. Dia kira Adi Praja datang untuk mengeluarkan nya dari penjara.
Buru-buru Aline duduk di kursi yang ada di depan Adi Praja.
"Mas, akhirnya kamu datang. Kamu pasti akan membebaskan aku kan. Aku tidak mau di penjara mas!" ucapnya penuh harap.
"Kenapa kamu lakukan semua ini Aline? kenapa kamu ingin sekali Luna menjadi menantu keluarga Hendrawan, apa harta keluarga Praja tak cukup untukmu?" tanya Adi Praja dengan wajah yang sangat serius.
"Sudahlah, jangan banyak bicara. Aku hanya ingin Luna dapat kedudukan dan kehormatan yang pantas untuknya...!"
"Dengan menghabisi nyawa orang lain?" tanya Adi Praja mereka Aline.
"Mas...!"
"Cukup Aline, semua sudah cukup. Asal kau tahu, aku juga kesini bukan untuk membelamu. Yang bersalah memang harus tetap di hukum Aline, siapapun itu!" tegas Adi Praja.
"Lalu untuk apa kau kesini?" tanya Aline kesal.
Adi Praja lantas mengeluarkan sebuah surat yang dan sebuah pulpen.
"Aku ingin kita bercerai!"
Jegerrr
***
Bersambung...
__ADS_1