Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 259


__ADS_3

Di tempat lain, Riyanti dan juga Ema pergi menemui Erick dan dua wanita yang sedang melepaskan kostum nenek nenek mereka. Setelah kostum itu terbuka, dua wanita itu ternyata masih muda. Dalam satu ruangan restoran itu pun Ema memberikan satu buah amplop berwarna coklat pada keduanya.


"Ini bayaran kalian. Kita hentikan saja sampai di sini. Tidak ada penculikan, tidak ada apapun lagi!" ujar Ema.


Riyanti sedikit menghela nafasnya lega.


"Benar, aku tidak ingin membuat masalah lagi. Sudah cukup, aku harus bangkit. Banyak yang masih harus aku lakukan untuk perusahaan!" ucap Riyanti pelan.


Erick, pacar Ema terlihat tersenyum.


"Pemikiran yang bagus Ri, kalian berdua ambil uang itu dan anggap tidak pernah rencana apapun yang harus kalian lakukan. Mengerti!" seru Erick.


Salah satu dari dua wanita itu meraih amplop coklat itu dan memasukkannya ke dalam tas.


"Baik, kami akan pergi sekarang!" ucapnya dan mereka berdua benar-benar pergi.


Awalnya dua wanita itu di bayar oleh Erick dan Ema untuk menculik Karina. Tapi sepertinya Riyanti benar-benar sudah ikhlas melepaskan Randy. Jadi rencana itu pun mereka batalkan. Juga semua rencana lainnya.


***


Oman segera mengikuti langkah Sila dan Karina. Tapi Oman tak lupa mengingatkan pada Sila agar dia berjalan dengan hati-hati.


"Nyonya, jangan terlalu cepat berjalan nya. Ingat anda sedang hamil!" ucap Oman dengan sopan memperingatkan Sila.


Sila pun mengangguk paham. Dan mengurangi kecepatan berjalannya. Sila sudah melihat mobil Shafa pergi dengan cepat ketika dirinya dan yang lain baru keluar dari lift yang ada di basemen.


"Shafa, bukankah seharusnya kita bisa pergi bersama?" tanya Sila yang khawatir sekaligus terkejut dengan tindakan Shafa yang terkesan tidak sabaran.


Saat Oman membukakan pintu untuk Sila, Sila pun masuk bersama Karina. Ketika Oman akan membuka pintu untuk dirinya, Karina yang memang sudah mengetahui sejak awal kalau Shafa sedang mengejar Joseph pun berkata pelan pada Sila.


"Sebenarnya ada yang ingin ku katakan padamu tentang Shafa dan Joseph. Tapi nanti saja, saat kita hanya berdua!" bisik Karina pelan.


Sila langsung menoleh ke arah Karina.


"Hoh, ada apa?" tanya Sila penasaran.


"Nanti saja!" jawab Karina yang melihat Oman sudah masuk ke dalam mobil.


Sila pun melihat ke arah pandangan Karina yang melihat ke Oman. Sila mengerti kalau sepertinya yang akan di sampaikan Karina itu masalah pribadi. Jadi dia mengangguk paham.

__ADS_1


Oman pun segera melajukan mobil yang dia kemudikan ke rumah sakit.


Sementara Shafa, jangan tanya seperti apa dia mengemudi. Moreno Soeprapto pasti akan minder karena cara Shafa mengemudi bahkan mengalahkan skill pembalap Ananda Mikola juga.


Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Shafa pun berusaha tetap fokus mengemudikan mobilnya.


'Pak tua, kau harus selamat. Kau tidak boleh mati sebelum menjadikan ku nyonya Joseph. Tidak boleh!' batin Shafa yang merasakan hatinya sangat resah.


Bayangan tentang beberapa kejadian yang terjadi antara Shafa dan Joseph pun melintas begitu saja di benak Shafa. Membuat air mata Shafa yang sebenarnya sejak tadi dia tahan karena tidak mau sampai mengganggu konsentrasinya mengemudi akhirnya jatuh juga.


"Kau tidak boleh kenapa-napa pak tua!" gumam Shafa mempercepat laju mobilnya.


Sementara itu di rumah sakit, sudah satu setengah jam berlalu. Jimmy akhirnya keluar dari dalam ruang UGD.


Dave dan Randy yang duduk di depan ruang UGD pun segera bangkit berdiri dan langsung menghampiri Jimmy dengan cepat.


"Bagaimana dia, bagaimana Joseph?" tanya Dave dengan cepat.


Jelas terlihat, siapapun bisa melihat betapa khawatirnya Dave pada kondisi Joseph.


"Syukurlah dia selamat!" ucap Jimmy yang membuat Dave dan Randy menghela nafas mereka lega.


"Peluru itu dua centimeter mendekati jantungnya. Untungnya tidak bersarang di sana, kalau sampai bersarang disana...!"


"Hei, tunggu dia di pindahkan dulu ke ruang rawat!" ujar Jimmy pada Dave.


***


Setengah jam kemudian, Shafa sudah tiba di rumah sakit. Dengan segera dia memarkirkan mobilnya di basemen rumah sakit dan langsung berjalan ke arah pusat informasi. Begitu tahu dimana Joseph di rawat dia dengan cepat menuju ke ruangan rawat Joseph.


Ceklek


Shafa langsung membuka pintu ruang rawat Joseph. Matanya masih berkaca-kaca meski dia sudah menyeka air mata yang mengalir di wajahnya. Namun siapapun masih bisa melihat wajah sembab Shafa yang habis menangis.


Mata Shafa langsung mengarah ke arah tempat tidur dimana Joseph terbaring. Namun saat dia berjalan menuju ke arah Joseph.


"Shafa!" Randy memanggil Shafa.


Shafa langsung berhenti, dia nyaris tidak bisa menahan dirinya untuk segera memeluk Joseph.

__ADS_1


Randy dan Dave langsung berdiri saat melihat Shafa terburu-buru mendekati tempat tidur Joseph.


"Kau datang sendiri? dimana Karina dan Sila?" tanya Randy.


"Iya, dimana mereka?" tanya Dave menyambung kalimat Randy.


Shafa menghela nafas dan mengubah ekspresi wajahnya yang terlihat khawatir sekali pada keadaan Joseph.


"Oh, itu aku... aku pergi dengan mobil ku sendiri. Kak Karina dan kak Sila pergi bersama Oman. Aku langsung mau pulang ke rumah dari sini, jadi aku... aku datang duluan!" jawab Shafa gugup.


Randy dan Dave langsung percaya pada ucapan Shafa. Karena memang alasan yang diberikan oleh Shafa itu masuk akal.


"Kak, bagaimana dengan pak tua?" tanya Shafa tanpa melihat ke arah Randy ataupun Dave.


Pandangan mata Shafa hanya tertuju pada Joseph yang belum sadarkan diri.


"Joseph sudah melewati masa kritis. Sekarang dia masih dalam pengaruh obat. Mungkin dua sampai tiga jam lagi dia baru akan sadar!" jelas Dave.


Shafa mengangguk paham lalu berjalan perlahan mendekati Joseph. Shafa melihat wajah Joseph yang begitu terlihat tenang saat tidur.


'Syukurlah kamu tidak apa-apa, kalau sampai terjadi sesuatu padamu, aku juga tidak mungkin bisa hidup!' lirih Shafa dalam hatinya.


Sementara itu setelah keluar lebih dari dalam mobil. Sila dan Karina yang sudah diberi pesan singkat oleh Randy dimana ruangan Joseph pun segera berjalan menuju ke ruangan Joseph. Di tengah perjalanan, Karina pun berkata.


"Shafa menyukai Joseph, Sila!" ucap Karina yang membuat langkah Sila berhenti.


"Kamu bilang apa Karina?" tanya Sila memastikan dia tidak salah dengar.


"Shafa menyukai Joseph, aku mengetahui ini dari caranya bersikap saat berdua dengan Joseph. Shafa bahkan pernah berkata sesuatu yang aneh padaku, awalnya aku tidak menyangka sama sekali. Tapi setelah Shafa terkesan sangat overprotektif pada Joseph dan tak membiarkan wanita manapun dekat dengan Joseph, dan dari caranya memandang Joseph aku yakin Shafa mencintai Joseph!" terang Karina yang membuat Sila terkejut bukan main.


Sila sempat termenung sesaat, tapi setelah dia berpikir tenang. Dia mulai berkata.


"Jo, apakah dia juga menyukai Shafa?" tanya Sila dan Karina mengangguk perlahan.


"Saat aku dan Shafa terlibat sebuah kecelakaan kecil di dermaga, tanpa berpikir Joseph bahkan menarik Shafa dan memanggil nama Shafa hanya dengan namanya, tanpa nona di depannya. Dari cara mereka melihat satu sama lain, aku yakin mereka berdua saling mencintai!" jelas Karina lagi.


Sila masih terdiam, kalau di pikir-pikir tidak ada yang salah dengan hal itu. Tapi, apakah Dave bisa menerima kabar ini, sedangkan dia sudah menganggap Joseph keluarga. Apakah Dave akan setuju dengan hal ini?


Bukan hanya itu yang membuat Sila terdiam, apakah Davina juga bisa menerima jika anaknya jatuh cinta pada pengawal setianya?

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2