
Dave yang merasa tidak tenang karena sang istri yang marah padanya karena tidak setuju dengan rencana pernikahan Randy dan Karina pun memikirkan banyak sekali cara untuk membujuk Sila.
Dave tentu saja tidak mau kalau sang istri marah terlalu lama padanya, selain tidak akan bisa tidur jika tidak memeluk Sila. Dave juga akan sangat tidak fokus saat bekerja karena akan selalu memikirkan Sila. Setelah Dave mengatakan kebenaran tentang dirinya pada Sila, dan menjalani pernikahan dengan penuh kejujuran dengan istrinya itu. Dampak Sila terhadap Dave mang begitu besar, seperti Dave tidak akan bisa tenang kalau Sila tidak memberinya kabar lebih dari lima atau enam jam, bahkan dia tidak akan bisa makan kalau belum memastikan sang istri sudah makan terlebih dahulu. Jika mereka sedang tidak bersama, tidak berada di suatu tempat yang sama.
Dan Dave tidak akan bisa bekerja dengan baik dan tidak akan tenang jika dia pergi ke kantor dengan melihat wajah Sila yang cemberut. Begitu besar dampak Sila bagi Dave. Padahal hal itu juga di rasakan Sila, hanya saja Sila masih bisa menutupi perasaannya itu.
Sambil terus menyiram kepalanya dengan air dari shower. Dave terus memikirkan hal hal yang akan membuatnya, atau hal hal yang bisa dia pakai untuk membujuk Sila. Setelah cukup lama berpikir Dave keluar dari dalam kamar mandi. Dan ternyata meskipun Sila ngambek pada Dave, pakaian kerja sudah Sila siapkan untuk suaminya itu di atas tempat tidur. Setelan jas lengkap berwarna hitam, dan dasi berwarna biru tua dengan motif ukiran gold sudah tertata rapi di atas tempat tidur.
Membuat pria 31 tahun itu tersenyum sambil melihat ke arah pintu kamarnya yang tertutup. Setelah berganti pakaian dan merapikan penampilan nya, di depan cermin tiba-tiba di kepala Dave muncul sebuah ide ketika dia melihat ke arah dasinya.
Dasi yang sudah rapi, oleh Dave dia bongkar lagi. Dan di pasang dengan tidak rapi. Harapannya adalah, Sila akan mendekatinya dan membenarkan dasinya itu, saat itu dia bisa mencuri kesempatan untuk mencium kening istrinya itu. Karena setelah tinggal bersama, bagi Dave mencium kening Sila sebelum berangkat bekerja adalah rutinitas wajib yang tidak akan dia lewatkan.
Setelah membuat sedikit berantakan dasinya, Dave pun meraih ponselnya dan meminta Joseph memesan dua tiket menonton film kartun terbaru di salah satu bioskop di mall dekat apartemen Dave. Setalah itu, Dave pun keluar dari kamar.
Saat keluar dari kamarnya, Dave mencari keberadaan Sila.
"Sila!" panggil Dave.
Tapi setelah beberapa saat tidak ada jawaban dari istri tersayangnya itu. Tidak mendapatkan jawaban atas panggilan nya, Dave pun memanggil istrinya lagi.
"Sila sayang!" panggil Dave lagi.
Tapi Sila tidak juga menyahut, malah hanya terdengar suara sendok beradu dengan piring dari arah ruang makan. Mendengar suara itu, yang Dave yakini adalah tanda dari Sila kalau dia ingin menunjukkan dirinya ada di ruang makan, Dave pun menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kemana perginya istriku yang penurut itu ya?" tanya Dave bergumam pelan.
Dave langsung bergegas menuju ruang makan. Ternyata saat Dave tiba di rumah makan, Sila sudah menyiapkan sarapan untuknya, makanan dan juga minumannya.
Dave menarik salah satu kursi dan duduk.
"Sayang kamu tidak makan?" tanya Dave.
"Sudah!" jawab Sila ketus.
'Oh ya ampun, baru mendengar rencana pernikahan Randy dengan sahabatnya saja istriku sudah mengamuk seperti ini, bagaimana kalau dia mendengar pernikahan itu terjadi?' tanya Dave dalam hatinya.
Saat ini Dave mulai merasa cemas, dia mulai serius benar-benar merasa cemas pada kemarahan Sila padanya.
Tanpa menjawab Sila langsung meraih botol saus yang sebenarnya sudah berada dekat dengan Dave. Sila langsung membukanya dan meletakkannya di dekat piring Dave.
"Oh ya, aku dengar di bioskop yang ada di mall dekat apartemen ada film kesukaan Mika akan di putar siang ini. Jam 2 siang, Aku sudah minta pada Joseph memesan tiketnya, kamu dan Mika bisa pergi menonton lalu kalian bisa makan bersama dan berbelanja...!"
Dave berusaha membujuk Sila, tapi sebelum Dave selesai bicara Sila memotong perkataan Dave.
"Beli tiketnya berapa?" tanya Sila.
"Dua..!"
__ADS_1
"Mas, kok dua sih. Mas sengaja ya pengen kelihatan aku tuh jahat di mata mbak Iyah, iya? aku sama Mika bisa nonton terus mbak Iyah di suruh di rumah aja?" tanya Sila yang wajahnya malah tampak sedih.
'Ya tuhan, salah lagi aku' batin Dave.
Dave pun langsung meraih kembali ponselnya dan menghubungi Joseph lagi. Lalu meminta Joseph membeli tiga tiket masuk ke bioskop.
Sila yang terduduk kesal di samping Dave, membuat Dave merasa sangat bersalah. Dave tahu sebenarnya Sila marah bukan karena masalah tiket nonton film. Tapi istrinya itu kecewa padanya karena dia tidak bisa membela Karina, sahabat baik istrinya.
Dave pun berdiri dari duduknya dan memegang lembut kedua bahu Sila.
"Sayang aku tahu kamu kecewa padaku karena aku tidak bisa mencegah rencana pernikahan itu, tapi semua keputusan tetap ada pada Karina. Tidak ada satu orang pun yang berhak memaksanya, ibu hanya mencoba membujuknya, tapi aku yakin ibu juga pasti memberinya waktu untuk berpikir dulu. Bicaralah pada Karina, jika dia memang tidak mau menikah dengan Randy, aku akan berada di pihak kalian berdua!" ucap Dave lembut membuat Sila menghela nafas berat.
Sila langsung berdiri karena sebenarnya sejak tadi dia melihat dasi Dave tidak terpasang dengan benar.
Sila langsung berdiri di hadapan Dave dan mulai membenarkan dan merapikan dasi suaminya itu. Sebenarnya dia juga merasa bersalah karena sejak mendengar rencana pernikahan Randy dan Karina, dia terkesan marah pada suaminya. Tapi dia benar-benar tidak ingin kalau sampai sahabatnya itu tersakiti nantinya. Sila tahu kita tidak boleh menjudge seseorang karena masa lalunya, tapi waktu sebulan itu terlalu singkat untuk mengenal satu sama lain. Dia kembali ingat pada pengalaman nya sendiri, tujuh tahun saja tidak membuatnya bisa mengenal dengan baik seseorang apalagi satu bulan.
"Aku minta maaf ya mas, tapi aku sungguh tidak bisa percaya begitu saja kalau Randy itu bisa berubah. Masalahnya Karina itu hatinya sangat lembut, kalau sampai dia di sakiti oleh Randy, bagaimana dengannya, bagaimana dengan ibu dan kedua adiknya, hanya Karina yang mereka punya!" ucap Sila yang sudah selesai merapikan dasi Dave.
Dev juga langsung mencium kening Sila dengan lembut.
"Aku tahu, aku akan coba bicara pada Randy juga, jangan marah lagi ya, tersenyumlah!" ucap Dave membuat Sila kembali menghela nafasnya lega lalu tersenyum pada suaminya itu.
***
__ADS_1
Bersambung...