
Sementara itu setelah mengantarkan keberangkatan Marlina dan keluarga Karina yang lain yang akan kembali ke desa. Semua orang berkumpul di ruang keluarga.
Rizal juga sudah melihat kondisi Joseph pagi tadi. Jadi dia minta agar seseorang memanggil Joseph agar bisa ikut mereka berkumpul untuk membicarakan hal penting. Jadi Shafa pun segera berdiri dan bergegas menuju kamar tamu dimana Joseph berada.
"Shafa, kenapa dia jadi bucin begitu?" tanya Randy yang tak senang melihat Shafa begitu bucin pada Joseph.
Begitu mendengar sang ayah minta Joseph di panggil, tanpa pikir dua kali Shafa malah menawarkan dirinya.
"Namanya juga cinta, apalagi mereka pasangan baru. Seperti kamu tidak saja, kak?" sambung Dave.
"Itu sih kamu Dave, tidak lihat Sila sehari saja sudah kalang kabut...!"
"Jadi kalau kak Randy tidak lihat Karina satu hari tidak perduli?" tanya Sila menyela ucapan Randy sambil melirik ke arah Karina.
Randy langsung terkesiap, dia lupa kalau dirinya bahkan tak sanggup kalau tak melihat Karina satu jam saja darinya.
"Sayang, maksudku bukan begitu. Aku mana bisa satu detik saja tak melihatmu!" ungkap Randy langsung menggenggam tangan Karina dengan erat yang membuat Sila dan yang lain terkekeh geli mendengarnya.
Davina dan Rizal hanya tersenyum karena keluarganya itu benar-benar begitu sempurna sekarang. Tinggal memikirkan pernikahan Shafa saja, maka Rizal dan Davina sudah akan sangat tenang karena ketiga anaknya sudah mendapatkan pasangan yang sangat mencintai mereka dengan begitu tulus.
Saat Shafa ke kamar Joseph, pria itu sedang berusaha memakai kemejanya. Namun sepertinya dia sedikit kesulitan untuk melakukan hal itu karena bahu dan punggung nya masih terasa ngilu akibat beberapa pukulan dari Dave padanya kemarin malam.
Shafa pun perlahan mendekati Joseph dan langsung membantunya memakai kemeja itu.
Joseph sempat terkejut, tapi kemudian dia diam dan menurut begitu tahu Shafa yang membantunya.
__ADS_1
"Kamu di panggil ayah di ruang keluarga! ada yang ingin ayah katakan padamu!" ucap Shafa pelan.
Setelah Shafa selesai mengancingkan kemeja Joseph, wanita muda itu langsung memeluk Joseph dan memejamkan matanya merasakan debaran jantung pria yang juga tersenyum lalu mengangkat tangannya dan membelai lembut kepala Shafa.
"Akhirnya, setelah sekian lama. Aku sangat bahagia, ini benar-benar seperti mimpi!" ucap Shafa sambil memejamkan matanya.
Joseph juga berpikir hal yang sama, mendapatkan restu dari semua anggota keluarga Hendrawan. Benar-benar seperti mimpi juga baginya.
Bayangan ketika Joseph pertama kali masuk ke rumah ini pun terlintas kembali di pikirannya. Ketika seorang gadis kecil berusia 7 tahun yang bersembunyi di belakang ibunya karena takut melihat wajah garang Joseph. Namun ketika gadis kecil itu tumbuh menjadi seorang gadis remaja, di usianya ke 17 tahun. Gadis itu datang dengan gaun, gaun itu adalah gaun pertama yang dia pakai. Pertama kalinya gadis remaja itu memakai gaun, sebelum dia menghadiri perayaan pesta ulang tahunnya dan menipu lilin ke tujuh belas tahunnya. Gadis itu datang ke tempat parkir, dimana Joseph masih berjaga di sana. Dengan diam-diam gadis itu memberikan kepada Joseph sebuah surat dengan amplop berwarna merah. Isi surat itu adalah kata-kata yang tak pernah Joseph duga sebelumnya. Gadis remaja itu menyatakan cintanya pada Joseph.
Saat itu, Joseph hanya terkekeh menanggapi nya. Dan mengatakan ucapan selamat ulang tahun serta dia yang terbaik untuk gadis remaja itu. Dia juga mengatakan agar gadis remaja itu segera menghadiri acara pesta ulang tahunnya dan segera meninggalkan tempat itu karena semua orang pasti sudah menunggunya.
Joseph tidak membuang surat itu, namun dia sudah lupa meletakkan surat itu dimana. Setelah lulus kuliah, gadis itu datang lagi padanya. Dan kembali mengatakan kalau dia mencintai Joseph, tapi lagi-lagi Joseph mengira itu hanya candaan. Karena Shafa mengatakan pernyataan cinta itu pada tanggal satu April.
Lalu ketika seorang pria melamar Shafa. Shafa pun kembali datang pada Joseph. Dan untuk ketiga kalinya cintanya di tolak. Joseph bahkan mengatakan agar Shafa menikah saja dengan Vincent. Karena dia dan Vincent berasal dari kasta yang sama. Juga sangat serasi.
Setelah lama memeluk Joseph, Shafa membuka matanya dan mendongak ke arah wajah Joseph.
"Aku mendengar debaran jantungmu. Apa kamu gugup?" tanya Shafa yang mendengarkan debaran jantung Joseph yang begitu cepat.
Joseph pun mengakuinya, dia menganggukkan kepalanya perlahan.
"Iya, aku baru saja mengingat pertama kali kamu mencium ku di mobil saat itu. Kamu tahu tidak, sejak saat itu setiap malam kamu bahkan selalu hadir dalam mimpiku!" ucap Joseph mengakui hal yang selama ini dia pendam sendiri.
Shafa terkejut tapi dia tersipu, dia merasa senang sekaligus malu mendengar pernyataan Joseph barusan.
__ADS_1
"Benarkah? tahu seperti itu. Seharusnya sejak usiaku 17 tahun aku mencium mu ya?" tanya Shafa yang tiba-tiba punya pikiran nyeleneh.
Joseph gemas dan langsung mencubit hidung kekasihnya itu pelan.
"Gadis nakal, kalau saat itu tuan Dave melihatnya dia tidak hanya akan memukulku. Aku yakin dia akan membunuh ku!" terang Joseph.
Shafa pun kembali ingat pada peristiwa malam itu, dimana Dave memukul Joseph karena mencium Shafa.
"Apa kau marah pada kak Dave, karena dia telah memukul mu?" tanya shafa dengan raut wajah sedih.
Joseph malah tersenyum.
"Tentu saja tidak, kenapa aku harus marah. Semua itu sudah aku dan nyonya muda duga sebelumnya...!"
"Maksudnya bagaimana?" tanya Shafa menyela ucapan Joseph.
"Nyonya muda yang mana, kak Sila atau kak Karina?" tanya Shafa penasaran. Siapa yang punya ide konyol seperti itu.
"Nyonya Sila, saat itu dia mengatakan kalau dia mendengar nyonya besar punya rencana untuk mengumumkan tentang perjodohan mu dengan si Jimmy itu. Nyonya Sila bilang dia tidak punya ide lain, aku juga sama. Mendengar kamu akan di jodohkan dengan orang lain, aku sama sekali tidak bisa berpikir. Hingga aku mengikuti saja semua rencana nyonya Sila!" terang Joseph.
Wajah Shafa langsung terlihat excited mendengar Sila punya ide seperti itu.
"Wah wah wah, kak Sila hebat sekali. Aku tidak menyangka dia akan punya ide se-ekstrim itu, aku harus banyak belajar darinya ha.. ha.. !" ucap Shafa.
Joseph hanya geleng-geleng kepala, dia awalnya juga tidak percaya Sila yang merupakan wanita yang biasanya berpikir matang, sangat sabar, dan tidak mau ambil resiko malah bisa punya ide konyol dan ekstrim seperti itu.
__ADS_1
***
Bersambung...