
Malam harinya Andrew dan keluarganya makan malam bersama keluarga Lovely. Abed membicarakan rencana Andrew yang akan ke Inggris mengambil alih kendali perusahaan cabang. Brian merespon positif, dan mendukung keputusan Abed.
Brian: semangatlah Andrew, kamu pasti bisa. Love, ingin ke Inggris temani Andrew?
Lovely: bolehkah? Jika boleh tentu saja aku ingin. Bosan juga disini.
Brian: Abed, Ha Na, bolehkah Lovely ikut?
Kim Ha Na: tentu saja, tetapi semua keputusan ada di tangan Andrew. Karena yang pergi ke Inggris Andrew, bukan kami.
Brian: Andrew, bagaimana menurutmu? Lovely memiliki cukup bekal untuk berbisnis. Kemampuannya tidak diragukan lagi.
Andrew: jika paman dan bibi ijinkan tentu saja aku mau pergi bersama Lovely. Dengan adanya Lovely aku tidak akan kesepian dan merasa sendiri.
Brian: baiklah, paman menitipkan Lovely padamu.
Andrew: ya paman. Aku pasti akan menjaga Lovely.
Andrew dan Lovely saling menatap dan tersenyum. Makan malam berlangsung dengan tenang, sesekali terdengar perbincangan ringan.
Usai makan malam, Amelia dan Kim Ha Na sibuk membuat hidangan penutup. Sedangkan Abed dan Brian sedang ada di ruang kerja Brian. Membahas Andrew yang tiba tiba saja ingin pergi. Andrew dan Lovely ada di taman belakang. Berjalan jalan menikmati angin malam.
Andrew: kamu sungguh ingin pergi bersamaku?
Lovely: ya, kenapa tidak. Apa ada masalah? Kamu tidak ingin aku ikut?
Andrew: hmm.. bukan itu. Aku hanya memastikan saja. Kita akan jauh dari papa dan mama kita. Bukankah seharusnya kamu takut.
Lovely: (tersenyum menatap Andrew) ada kamu di sisiku apa yang aku takutkan? Kamu berjanji pada papaku akan menjagaku bukan?
Andrew: jika aku tidak bisa dan ingkar janji bagaimana?
Lovely: (memegang tangan Andrew) aku percaya kamu tidak akan tega kepadaku. Kita tumbuh bersama sejak bayi. Kita juga punya ikatan batin yang kuat Andrew.
Andrew: kamu benar. (Menghela nafas) masa percobaan kita hanya satu tahun. Setidaknya kita harus berhasil meningkatkan angka penjulan sampai 35%.
Lovely: tenang saja, aku akan membantumu. Ok..
__ADS_1
Andrew memegang erat tangan Lovely, berjalan mengelilingi taman belakang. Jauh di balik jendela Brian menatap Andrew dan Lovely. Abed juga menatap kedekatan Andrew dan Lovely.
Abed: mereka sudah tumbuh dewasa Brian. Kita pun semakin menua. Apa kamu meresakan sesuatu?
Brian: entahlah, semoga saja pemikiranku salah. Aku mengirim Lovely pergi bersama Andrew agar Lovely bisa menghibur Andrew. Karena aku tau Andrew hanya akan luluh kepada Lovely.
Abed: maksudmu? Hanya Lovely yang saat ini dipercaya Andrew?
Brian: ya, seperti itulah. Lovely dan Andrew tumbuh bersama. Mereka juga selalu merayakan ulang tahun bersama. Jika Andrew sakit, Lovely akan menyusul sakit, begitu juga sebaliknya. Keduanya memiliki ikatan yang kuat melebihi ikatan persaudaraan.
Abed: aku harapkan semua baik baik saja. Keluargaku, keluargamu. Kita semua baik. Baik saja. Tidak akan ada masalah.
Brian: aku juga mengharapkan hal yang sama Abed. Aku juga berharap Andrew semakin dewasa dan memiliki pemikiran yang luas. Tidak cepat mwnyerah dan putus asa.
Abed menepuk bahu Brian perlahan. Brian menatap Abed dan tersenyum tipis. Amelia mengetuk pintu, memanggil Brian serta Abed untuk mencoba hidangan penutup. Kim Ha Na memanggil Andrew dan Lovely masuk kedalam rumah untuk menikmati hidangan penutup bersama sama.
♡♡♡♡♡
Malam semakin larut. Setelah kembali ke rumah dan berganti pakaian, Abed pergi menemui Andrew dikamarnya. Abed mengetuk pintu kamar Andrew. Andrew membuka pintu dan terkejut melihat Abed datang ke kamarnya.
Abed: kamu sudah tidur?
Abed masuk kedalam kamar dan berjalan melihat sekeliling kamar Andrew. Andrew menutup pintu dan mengikuti Abed di belakang Abed.
Abed: papa mengerti alasanmu pergi Andrew. Maka dari itu papa tidak melarangmu pergi.
Andrew: maaf pa..
Abed: (berbalik dan menatap Andrew) papalah yang bersalah. Papa lah yang seharusnya minta maaf.
Abed berlutut di depan Andrew dan menundukan kepala. Abed menangis merasa besalah karena sudah menyakiti hati Andrew. Andrew terkejut, matanya melebar. Tidak percaya jika Abed akan berlutut dan meminta maaf atas kesalahan di masa lalunya.
Tangan Andrew gemetar. Kedua matanya sudah memanas. Matanya terpejam mengingat kebersamaannya dengan Abed dan Kim Ha Na, juga kedua adiknya. Mata Andrew perlahan terbuka, Andrew langsung menghampiri Abed dan membantu Abed berdiri. Andrew langsung memeluk Abed dengan erat. Tangisan Andrew pecah. Abed mendekat Andrew dengan penuh kasih sayang.
Abed: meski Andrew bukan anak kandung papa, papa selalu menyayangi Andrew. Andrew segalanya untuk papa, karena papa sangat menyayangi mama Andrew. (Suara serak) maafkan papa nak. Papa selalu dihantui rasa bersalah, dari dulu papa selalu bingung, bagaimana kelak menjelaskan mengenai orangtuamu.
Andrew: pa, Andrew sayang papa.. maafkan Andrew pa. Maafkan Andrew yang menyakiti hati papa.
__ADS_1
Abed melepas pelukan menyeka air mata Andrew. Abed membelai wajah Andrew lembut.
Abed: tatap mata papa Andrew.
Andrew menatap mata Abed, air mata Abed mengalir membasahi pipi Abed. Tangan Andrew seketika meraba wajah Abed. Menyeka air mata Abed. Abed memegang tangan Andrew erat dan terus menangis.
Andrew: papa jangan menangis pa. Maafkan Andrew. Andrew bersalah sudah marah kepada papa. Andrew minta maaf. Andrew sangat sayang kepada papa.
Abed: (mengangguk) papa tau Andrew sayang papa. Karena hanya Andrew satu satunya yang mama tinggalkan untuk papa. Hanya Andrew yang membuat papa bertahan hingga sekarang.
Abed kembali memeluk Andrew. Andrew dan Abed terkejut, merasakan sesuatu memeluk mereka. Abed perlahan melepaskan pelukan. Andrew melihat mamanya ada dan tersenyum manis. Begitu juga Abed yang terkejut.
"Senang sekali. Suami dan anakku bisa selalu saling menyayangi seperti ini"
Abed: sayang..
Andrew: mama..
Nikita memeluk Andrew, Abed memeluk Nikita dan Andrew. Abed bersyukur putranya Andrew mau mengerti dan memahaminya.
Puas melampiaskan kerinduan. Nikita dan Abed menemai Andrew tidur. Abed dan Nikita tidur di sisi Andrew. Andrew tersenyum bahagia, untuk pertama kalinya selama papa dan mamanya menemaninya. Nikita membelai rambut Andrew agar tertidur. Mata Andrew mulai terpejam, Nikita tersenyum menatap Abed. Abed meraih tangan Nikita dan mencium punggung tangan Nikita. Nikita dan Abed saling berpegangan tangan.
----------@@@@@----------
Hallo, sampai jumpa di episode selanjutnya ya..
Bye bye..
Jangan lupa berikan like, komentar..
Beri tip/vote juga boleh..
Yuk mari, mampir ke semua novel saya.
Hehehe..
Salam hangat
__ADS_1
"Dea Anggie"