
Julian dan Seira sampai di rumah sakit, Julian mengetuk pintu dan membuka pintu. Seira masuk dengan membawa sekeranjang buah, Julian mengikuti Seira masuk kedalam ruangan dan menutup pintu.
Seira dan Julian berjalan bersama, Seira dan Julian tersenyum.
"Hai paman, bibi, Lovely, Alex, hai teman.. apa kabarmu?" Sapa Julian merangkul Andrew.
Andrew menepuk bahu Julian, "kabarku baik, kamu baik? Hai Seira.. (Andrew menatap Seira) kalian sudah makan?" Tanya Andrew.
"Aku baik-baik saja Andrew, aku dan Julian hanya sempat membawa buah, paman, bibi, Alex dan Lovely silahkan menikamati buah yang kami bawa." Kata Seira dengan tersenyum.
Klekkk..
(Suara pintu)
"Andrew, dokter bilang.. (Kim Ha Na berhenti bicara, menatap Julian serta Seira) ahh ada tamu, maaf" kata Kim Ha Na.
"Ma, kemarilah. Ini Julian, yang tadi di ceritakan paman Brian. Dan Julian, (Andrew menatap Julian) dia mamaku.." Andrew mengenalkan Julian pada Kim Ha Na.
"Hai bibi," sapa Julian dengan senyum canggung, Julian masih merasa takut.
"Hai Julian, kenapa gugup? Apakah bibi terlihat menakutkan?" Tanya Kim Ha Na.
"O.. tidak bi, tidak.. aku.. aku.. aku minta maaf bibi, karenaku.." belum sampai Julian selesai berbicara, ponselnya berdering.
Julian menatap Kim Ha Na, Kim Ha Na tersenyum, "terimalah nak," kata Kim Ha Na.
Julian mundur beberapa langkah, menerima panggilan dari papanya.
(Percakapan di telepon)
"Hallo pa?" Julian menjawab panggilan.
"Kamu dimana? Tidak ada di rumah dan kantor." Tanya Marco.
"Aku.. aku di rumah sakit pa, aku..." kata-kata Julian terputus oleh Marco.
"Rumah sakit mana? Ruang berapa? Apa yang terjadi? Jawab.." tanya Marco kembali, suaranya terdengar meninggi.
"Rumah sakit dekat pusat perbelanjaan pa, ruang 112, papa dima..." Marco memutus panggilan, Julian menatap ponselnya dan mengerutkan dahinya.
"Ada apa Julian?" Suara Andrew.
"Ahh tidak ada Andrew, hanya saja papaku sepertinya akan datang." Ucap Julian lirih
"Tidak apa-apa Julian, jangan merasa bersalah. Bibi sudah dengar semua nya dari Andrew dan juga pamannya, kamu memerintah orangmu dan orangmu salah menagkap, lupakan saja semuanya. Anggap saja tidak berjodoh, (Kim Ha Na tersenyum manatap Julian) semuanya sudah berlalu, bibi berharap kamu bisa hidup lebih baik dari sekarang." Kata Kim Ha Na.
"Terima kasih bi, bibi sangat baik." Jawab Julian.
Kim Ha Na mengusap rambut Julian lembut, "pandai berkata manis ternyata," Kim Ha Na tersenyum.
Julian tertegun, selain mamanya tidak ada yang mau mengusap atau mengelus rambutnya. Julian menatap Kim Ha Na, seolah mamanya ada di hadapannya, senyumam Kim Ha Na sangat hangat.
"Ah, siapa wanita di sampingmu? (Kim Ha Na menatap Seira) hai cantik, siapa namamu?" Tanya Kim Ha Na pada Seira.
"Hai bibi, aku Seira. Senang bertemu bibi yang cantik dan baik hati." Seira memuji Kim Ha Na.
"Astaga, kalian sangat cocok. Keduanya bermulut manis." Kim Ha Na asal bicara.
Julian dan Seira terlihat malu-malu. Brian menyapa Julian dan Seira, "ayo duduk Julian, Seira. Makanlah roti isi ini." Ajak Brian.
Julian dan Seira saling manatap, Julian dan Seira berjalan perlahan mendekat ke sofa, Julian dan Seira duduk dihadapan Brian dan Amelia.
"Makanlah nak, ini masih hangat." Amelia meletakan roti di hadapan Julian dan Seira.
"Terima kasih paman, bibi. Sebenarnya kami sudah sarapan tadi," jawab Julian.
"Hmm.. begitu," jawab Brian.
Suasana ramai, Kim Ha Na sibuk merawat dsn menyeka Andrew, Kim Ha Na memanjakan Andrew. Julian dan Seira berbincang dengan Brian, Amelia, Alex dan lovely. Banyak hal yang di perbincangkan.
Tok..
Tok..
__ADS_1
Tok..
(Suara pintu diketuk)
kleeekk..
Terdengar pintu terbuka, seseorang masuk dengan langkah terburu-buru.
"JULIAN.." suara seorang pria.
Semua mata menatap, Julian kaget, papanya sungguh datang.
"Papa.." sapa Julian.
Kim Ha Na selesai mengancing baju Andrew, menatap arah suara. Kim Ha Na mengerutkan dahi menatap se seorang tidak jauh darinya.
"Marco Roobs?" Suara Kim Ha Na lirih merasa ragu.
Marco menatap Kim Ha Na dan kaget, " Ha Na? Kamu disini?" Tanya Marco.
"Kamu sungguh Marco Roobs? \(Kim Ha Na mendekati Marco\) sekian lama tidak bertemu, senang bertemu denganmu teman." Kim Ha Na tersenyum manis.
"Aku juga Ha Na, senang sekali bertemu wanita populer di universitas. (Marco tersenyum) bagaimana bisa kamu ada di inggris?" Tanya Marco pada Kim Ha Na.
"Anakku terluka, (menatap Andrew, lalu kembali menatap Marco) kamu sendiri disini mencari Julian, dia..?" Kim Ha Na terdiam.
"Julian adalah putraku, ahh.. aku hampor saja lupa. Julian.. (menatap Julian) kemarilah ada yang ingin papa tanyakan." Marco Roobs menatap Julian tajam.
Julian berdiri dan berjalan perlahan mendekati Marco, Julian menunduk, dugaan Julian papanya sudah mengetahui persoalannya dari pelayan atau kamera pengawas rumahnya.
"Apa yang sudah terjadi nak? Kenapa kamu berbohong pada papa?" Marco langsung menegur Julian.
"Maaf pa, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tahu perbuatanku salah, aku mengakui kesalahanku papa. Aku bersalah." Julian menunduk diam.
"Papa mendapat telepon dari kantor polisi, kamu memerintah orang untuk menculik seseorang bernama Simon Jack, papa juga sudah bicara pada orang kepercayaanmu itu, dia salah menangkap orang bahkan sudah membunuhnya. Bisa kamu jelaskan apa semua ini?" Marco terlihat kesal.
Kim Ha Na langsung memahami pokok permasalahan. Kim Ha Na menarik tangan Marco, "Marco, ayo ikut denganku. Biar aku yang jelaskan, Julian.. (Kim Ha Na menatap Julian) tetap lah disini sampai kami kembali. Brian, Amelia (Kim Ha Na menatap Brian dan Amelia) bisa aku menitipkan putraku pada kalian? Ada yang ingin aku bicarakan pada Marco." Kim Ha Na berharap Brian dan Amelia mau mengerti.
"Pergilah, jangan khawatirkan kami." Kata Amelia.
"Thanks.." jawab Kim Ha Na.
Kim Ha Na menarik tangan Marco, Marco diam dan mengikuti Kim Ha Na. Kim Ha Na dan Marco keluar dari ruangan Andrew, Kim Ha Na terus berjalan menjauh dari ruangan Andrew.
"Ha Na, kita akan kemana?" Tanya Marco.
"Minum kopi," jawab Kim Ha Na.
Marco mengerutkan dahinya, merasa penasaran. Sepertinya tidak hanya minum kopi biasa.
♡♡♡♡♡
Di sebuah Coffee shop, Kim Ha Na dan Marco duduk bersama dan memesan kopi favorit masing-masing.
"Katakan, ada apa? Aku belum selesai dengan anakku Ha Na." Marco terlihat kesal.
"Itulah sebabnya aku membawamu kesini, ayo kita bicara Marco." Jawab Kim Ha Na.
"Maksudmu?" Marco penasaran.
"Aku tidak akan berbelit, kita langsung pada intinya saja. Korban salah sasaran itu adalah suamiku, Abed Williams. Putraku mengatakan saat itu jas yang di kenakan sama seperti jas yang dikenakan Simon Jack, orang-orang Julian menangkap suamiku dan menembaknya, (Kim Ha Na memegang kepalanya karena merasakan kepalanya sakit) jangan salahkam Julian Marco, orang-orangnya yang yang salah menangkap bukan Julian. Terlebih Julian menagkap Simon Jack hanya untuk mendapat pengakuan jika Simon Jack lah yang sudah melecehkan mamanya, dan membuat mamanya dalam keadaan yang kacau. Ahh.. maaf Marco, aku bukan bermaksud memgungkit itu. Tetapi inilah alasan Julian melakuka segala cara menagakap Simon Jack, putramu sangat putus asa Marco. Apa kamu tidak sadar?" Kim Ha Na menjelaskan.
Marco menunduk, "semua salahku, seharusnya aku lebih perhatian lagi padanya. Aku hanya sibuk bekerja, bahkan setelah kematian istriku aku semakin gila kerja." Marco merasa sedih.
Kim Ha Na memegang tangan Marco, "kita berada diposisi yang sama Marco, kamu tau putraku yang terluka itu. Dia hampir mencelakai putri sepupuku karena dia menggila mencari pelaku pembunuh papanya. Dia bahkan beberapa kali melukai tubuhnya sendiri, aku juga sangat sedih melihat putraku seperti itu." Mata Kim Ha Na berkaca\-kaca.
Kim Ha Na menangis, tidak bisa menahan air matanya. Marco mencoba menenangkan Kim Ha Na.
"Maafkan kesalahan putraku Ha Na, aku papanya merasa bersalah padamu, meski bukan putraku yang salah menangkap namun semua atas perintah dari putraku." Kata Marco.
Kim Ha Na tersenyum menatap Marco, Marco menyeka air mata Kim Ha Na, "jangan menangis Ha Na." Ucap Marco.
"Aku tidak menangis, aku hanya bersedih. Ternyata dunia ini begitu sempit, kita semua saling terbuhung satu dengan yang lain. Sudah sangat lama terakhir kita bertemu saat hari pemakaman teman kita Alice." Kata Kim Ha Na.
"Ya, itu sudah sangat lama Ha Na. Aku juga tidak menyangka bisa bsrtemu denganmu lagi. Aku turut berduka atas kepergian suamimu." Kata Marco.
__ADS_1
"Aku juga, meski terlambat aku juga mengucapkan turut berduka untuk istrimu. Apakah istrimu orang asli Inggris?" Tanya Kim Ha Na.
"Ya, istrimu orang Inggris, suamimu? Dan kamu sudah mempunyai berapa anak Ha Na? Tanya Marco.
"3 dan itu semua laki-laki. Suamiku orang Amerika, pria dan wanita yabg duduk di sofa tadi adalah sepupuku dan iparku. Nanti aku kenalkan kamu pada mereka, meraka orang baik." Kata Kim Ha Na.
Marco mengangguk, Kim Ha Na kembali bercerita. Marco mendengarkan Kim Ha Na bercerita.
@@@@@... @@@@@...
Hallo semua..
Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Pelukan Hangat Paman Tampan
(End, jika tidak ada kendala akan saya lanjutkan sekuel dari UMEKO SAKURA LEWI yang akan menjadi season ke tiga dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Pangeran Es Jatuh Cinta
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Suami Pengganti
•Pangeran Vampir
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2)
•Vampir "Sang Abadi"
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
•Cinta Lama Yang Datang Kembali
•Mommy And Daddy (CLYDK 2)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3
•Perfect Father
•Kamu Dan Aku
•Banyak ya.. (hehehe.. maafkan authornya lagi menggila bikin novel kala itu.. jangan khawatir pasti di tamatin semua kok..)
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
Salam hangat,
"Dea Anggie"
__ADS_1