
Ponsel Brian berdering, panggilan dari Arson. Arson memberitahu jika Arson sudah bertemu Thomas dan dan Billy. Saat ini mereka sedang mnegikuti Ben menuju suatu tempat. Brian menutup panggilan dan menatap Empat polisi di hadapannya.
Brian: ayo pergi..
Brian masuk dalam mobil dan melaju menuju tempat yang di informasikan oleh Arson. Dua mobil polisi mengikuti Brian.
♡♡♡♡♡
Ben berjalan masuk kedalam sebuah gedung apartemen. Ben melihat sekeliling, karena tak ingin ada yang tau jika dia datang menemui Max. Thomas, Arson dan Billy mengukiti. Mereka saling menatap satu sama lain, mereka saling menggeleng. Semakin penasaran dan curiga terhadap Ben.
Ponsel Arson bergetar panggilan dari Brian. Arson meminta Thomas dan Billy masuk lebih dulu, Arson akan tinggal untuk menerima panggilan. Thomas dan Billy masuk mengikuti Ben. Arson menerima panggilan.
(Panggilan terhubung)
Brian: apakah Ben masuk dalam gedung apaetemen?
Arson: ya tuan, sepertinya Ben ingin bertemu dengan seseorang.
Brian: jangan bertindak, tunggu aku datang. Aku akan segera sampai. Kalian mengerti?
Arson: kami mengerti tuan.
Brian memutus panggilan, Brian semakin penasaran siapa orang yang ingin di temui Ben. Brian terlihat cemas, khawatir jika terjadi apa apa pada Ben. Karena Ben adalah satu satunya orang yang bisa membantu Abed.
♡♡♡♡♡
Ben menekan Bel sebuah kamar apaetemen. Beberapa kali menekan bel, pintu berbuka. Seseorang dari dalam keluar dan terkejut melihat Ben ada didepan pintu tumah. Ben langsung masuk kedalam apartemen Max. Max menutup pintu dan berbalik, melihat Ben yang sudah berdiri di depan jendela menatap kearah luar.
Ben: apa kabar Max?
Max: kamu datang menamui ku? Sudah bosan hidup?
Ben: (tertawa kecil) haha.. aku memang ingin mengakhiri ini semua. Ayo kita akhiri ini, saat ini juga!
Max: maksudmu? (Duduk di sofa, menyilangkan kaki dan melipat tangan) apa yang membawaku kemari. Ingin berbalik arah?
Ben: tidak! Aku tak akan membantumu atau Bos lagi. Aku akan akhiri ini dengan caraku!
Max: apa?? Kamu masih ingin membela Abed? Dia membunuh Adit dengan brutal. Apa untungnya untukmu membantunya. Kamu juga pasti akan di hukum berat.
Ben: aku tahu, kamu terus mencariku. Aku sudah lelah berlari menghindar. Aku berdiri akan menerima semuanya, jika kau ingin membunuhku. Ayo lakukan, aku juga tidak ingin meninggalkan hutang budi padamu Max. Aku hargai bantuanmu, dan aku sudah cukup mematuhimu. Sekarang aku hanya ingin lepas dan membantu Abed, itu saja.
Max: kamu berharap hidup setelah menemuiku? Tidak mungkin, aku pasti akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.
Ben: silahkan.. (berbalik, menatap Max) membunuhku pun tidak berarti kamu bisa menutupi kenyataan jika kamu adalah orang dibelakang Aditya. (Tersenyum tipis)
Max: (mengerutkan dahi) Ben!!! (Berteriak)
Ben: bunuhlah, aku jika kamu ingin. Tapi kebenaran pasti akan terungkap. Kamu juga tidak akan bisa pergi, karena kamu adalah orang yang membebaskan Aditya dengan cara menyuap petinggi kepolisian dan pengadilan.
Max geram, berdiri dan menghampiri Ben. Max mencengkram krah baju Ben, Ben tersenyum tipis menatap Max.
__ADS_1
Max: sampah! Beraninya kamu mengaturku. Aku akan kembunuhnu Brengs*k... (mencekik leher Ben)
Ben merasa sesak nafasnya tersengal, dalam kesesakannya Ben masih bisa tersenyum pada Max. Max terkejut melihat Ben yanv berubah, Ben terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Seakan akan Max merasa orang yang dihadapannya bukan lagi Ben. Max melepaskan cekikan dan berbalik.
Max: pergilah, aku tidak akan mengincarmu lagi. Pergilah keluar negri, disini tidak aman, sebentar lagi bos akan kembali dari Jepang. Perintah untuk membunuhmu langsung darinya. Bukan kemauanku.
Ben: ikutlah denganku, kita bisa meminta bantuan tuan Brian.
(Dalam hati Max)
Bebalik arah? Haruskah? Brian?? Seperti apakah seorang Brian antonius Candra itu? Apakah dia benar benar bisa bisa diandalkan? Bagaimana ini, Felix Collyn pasti akan membunuhku jika aku melepaskan Ben. Tetapi aku tidak tega menyakiti Ben, dari awal bertemu hingga sekarang Ben tidak pernah melawanku, dia tidak pernah berkata tidak dengan perintahku.
Bel pintu berbunyi, Max berjalan membuka pintu. Beberapa orang masuk dan melapor pada Max. Mereka adalah orang orang dari Max. Seseorang melihat Ben dan terkejut, seseorang itu langsung mengeluarkan pistol dari balik jaketnya. Membidik ke arah Ben.
Max: hentikan! Masukan kembali pistolmu.
"Tapi tuan, ini perintah dr tuan Collyn"
Max: apa? (Melihat seseorang yang berbicara)
"Kami diperintahkan langsung, dan kami bukan bawahan anda sekarang"
Max: apa maksud kalian?
Braaaaaakkkkkkkk.....
(Suara pintu ditendang)
Beberpa orang masuk, dibelakang terlihat seorang pria memakai kaca mata hitam dan pakaian serba hitam datang dari luar.
(Membuka kacamata dsn menatap Max)
Max terkejut, ternyata orang yang dihadapannya adalah sepupunya sendiri (Jeff).
Max: Jeff.. kamu.. kamu sejak kapan bergabung dengan anggota Collyn?
Jeff: hmm.. belum lama saudaraku. Hari ini aku akan melaporkan hal baik pada tuanku.
Max: jangan terlibat lebih dalam Jeff.. Collyn hanya memanfaatkan kita.
Jeff: terlambat! (Menatap orang orangnya dan memberi isyarat)
Beberpaa orang menangkap Max dan mengikat Max. Begitu juga Ben..
Jeff: bunuh Ben sekarang.
"Baik tuan"
Max: jangan! Hentikan! Jeff, jangan gila.. Ben tidak bersalah, akulah yang membawanya!
Jeff: bukan urusanku, aku hanya menjalankan tugas. Cepat bunuh dia, tembak saja kepalanya.
__ADS_1
"Baik tuan"
Max berontak, orang orang mencoba menahan Max yang berontak, Jeff geram dan menembak bahu kiri Max. Dan langsung menembak kepala Ben dari jarak jauh tanpa ragu ragu.
Mendengar suara tembakan yang kedua membuat air mata Max menetes, Max tidak sanggup melihat Ben tertembak. Baju Max berlumuran darah. Jeff tertawa keras, Jeff membawa orang orangnya pergi meninggalkan apartemen, belum sampai keluar, Jeff dan orangnya sudah dihadang oleh Brian dan polisi.
Brian: melakukan kejahatan dan langsung pergi bergitu saja, tidak akan semudah itu.
Jeff: siapa kamu?
Polisi mendekat dan merampas pistol Max, menangkap Max dan beberapa orangnya. Brian dan seorang polisi masuk dan bergegas melihat keadaan Ben yang terkapar. Polisi memeriksa dan menggelengkan kepala menatap Brian. Ben sudah terbujur lemas tidak berdaya. Brian melihat Max yang masih merintih kesakitan segera meminta Thomas dan dan Arson mengantar ke rumah sakit. Sedangkan Billy berjaga dengan Brian. Polisi sudah menghubungi Ambulance untuk membawa Ben kerumah sakit.
Brian sedikit kecewa karena terlambat datang menyelamatkan Ben. Karena sedang ada perbaikan jalan, terpaksa harus berputar dan memakan waktu lebih lama untuk sampai di apartemen Max. Lagi lagi nyawa menjadi korbannya. Brian sangat menyayangkan kejadian hari ini, menyayangkan sikap Ben yang begitu ceroboh, dan tidak mau berterus terang padanya. Andaikan Ben berterus terang pasti kejadianya tidak akan berakhir seperti ini.
Hallo semua..
Terimkasih sudah mau berkunjung dan mmebaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Beri tip juga boleh..
😉😘
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)
•Pangeran Es Jatuh Cinta
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
__ADS_1
Salam hangat,
"Dea Anggie"