Lelaki Bayaran Amelia

Lelaki Bayaran Amelia
S2 - EPISODE 137


__ADS_3

Andrew sampai dirumah yang sama seperti yang ada dalam ingatannya. Andrew turun dari mobilnya dan berlari masuk kedalam rumah. Andrew terdiam saat melihat seseorang terikat dikursi denga keadaan mata dan mulut yang tertutup dan juga tubuh yang bermandikan darah.


Andrew berlari membuka penutup mulut dan penutup mata dari seseorang yang dilihatnya. Matanya melebar, yang dilihatnya adalah papanya. Andrew melepas ikatan tangan papanya, Andrew membaringkan papanya di lantai memeriksa detak hantung dan nafas Abed, suhu tubuh Abed sudah dingin. Tubuh Abed terbujur kaku.


"Papa.." Andrew memanggil.


"Papa.." berteriak kencang.


Andrew dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Brian. Brian terkejut, dan meminta Andrew memanggil Ambulance dan polisi.


"Papa.."suara Andrew lirih.


Andrew menghubungi Ambulance dan polisi meminta bantuan. Andrew terus menggoyang tubuh Abed. Andrew melihat bekas luka tembakan di kepala Abed, Andrew mere**s rambutnya dan menangis keras. Andrew merasa kesal pada dirinya sendiri dan memukul-mukul kepalanya sendiri dengan kedua tangannya.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Kata Andrew berulang ulang.


Andrew terus menatap papanya, Andrew menangis memeluk Papanya. Air matanya jatuh berlinang karena harus kehilangan papanya.


10 menit kemudian..


Brian datang bersamaman dengan Ambulance dan polisi. Brian berlari masuk kedalam, Brian terkjut melihat Abed tergelatak tidak bernyawa disampingnya ada Andrew yang terlihat berantakan. Brian merasa sedih, Brian memalingkan wajah. Matanya langsung pedih dan meneteskan air mata. Brian merasa kehilangan Abed, Brian merasa sedih mengingat kata-kata Abed saat mereka bertemu.


Brian mendekati Andrew, membantu Andrew berdiri. Andrew langsung memeluk Brian. Andrew tak berhenti manangis. Petugas medis langsung membawa Abed ke rumah sakit, petugas polisi datang menyusuri seluruh rumah. Seorang petugas mendekati Brian dan Andrew. Brian menjelaskan jika seseorang yang terluka tembak yang sedang dibawa kerumah sakit adalah saudara iparnya. Dan yang ada dalam pelukannya adalah keponakannya. Putra seseorang yang terluka tembak.


Brian mengatakan kepada petugas polisi, jika butuh pejelasan sebaiknya menunggu sampai keponakannya tenang. Karena kondisinya sedang kacau untuk saat ini. Petugas mengerti maksud Brian. Dan mempersilahkan Brian juga Andrew ikut bersama kerumah sakit.


♡♡♡♡♡


Dirumah sakit Andrew hanya duduk diam di ruang tunggu. Brian sudah menghubungi Amelia dan Kim Ha Na untuk datang ke rumah sakit. Brian sedih dengan kejadian yang menimpa Abed. Sesekali Brian melirik kearah Andrew. Brian melihat Andrew begitu terpukul dengan kepergian Abed.

__ADS_1


Brian duduk di samping Andrew, mengusap punggung Andrew. Berusaha menenamgkan Andrew.


"Paman turut berduka atas kepergian papamu Andrew. Tetaplah kuat! " Dengan suara gemertar Brian memberi semangat kepada Andrew.


Andrew tetap diam, pikirannya kacau. Andrew merasa bersalah tidak dapat menghentikan papanya. Air mata Andrew kembali jatuh. Andrew menunduk dan terisak.


Amelia dan Kim Ha Na sampai di rumah sakit. Mata Amelia dan Kim Ha Na sudah berkaca kaca. Kim Ha Na mendekati Andrew, Andrew menatap Kim Ha Na dan langsung berdiri memeluk Kim Ha Na.


"Ma, papa ma.. papa.." Andrew menjerit lirih.


Kim Ha Na diam dan hanya menangis. Michael dan Mattew mendekat, memeluk Kim Ha Na dan juga Andrew. Michael dan Mattew juga menangis.


Brian berdiri dan memeluk Amelia. Amelia menangis mendengar kabar jika Abed tiada karena tertembak. Lovely dan Alex juga merasa sedih dan kehilangan. Tidak menyangka jika paman mereka Abed akan pergi secepat ini dengan cara yang tragis.


Kesedihan menyelimuti seluruh ruangan. Semua merasa terpukul dan masih tidak mempercayai kabar berita yang terdengar. Dokter keluar dan menyampaikan jika Abed memang sudah meninggal. Kim Ha Na berusaha tegar, air mata Kim Ha Na jatuh berderai. Andrew mengepalkan tangannya pergi mencari petugas polisi yang sedang ada di halaman rumah sakit.


Kepada petugas polisi Andrew menceritakan semuanya. Andrew meminta polisi menyelidiki kasus kematian papanya sampai tuntas. Andrew tidak mau orang yang membunuh papanya berkeliaran begitu saja. Selesai berbincang dengan petugas kepolisian Andrew membalikan badan dan melangkah. Andrew melihat mamanya keluar dari gedung rumah sakit menuju taman dekat rumah sakit. Andrew mengikuti mamanya.


Andrew mendengar kata-kata Kim Ha Na dan merasa sedih. Andrew menutup matanya menahan kekesalan dan masih mengepalkan tangannya. Andrew sangat marah dan membenci orang yang sudah membunuh papanya. "Maafkan Andrew mama, aku anak yang tidak berguna. Aku tidak bisa selamatkan papa, akulah yang bersalah. Hatiku sakit melihat mama menangis seperti ini. Maafkan Andrew mama, maafkan Andrew. Andrew menyesal tidak bisa membantu papa." Batin Andrew sesak.


Andrew melepas jasnya dan mendekati Kim Ha Na. Andrew memakaikan jasnya untuk Kim Ha Na dan berlutut di depan Kim Ha Na untuk minta maaf, Andrew menunduk. "Ma, maafkan Andrew. Andrew terlambat datang menolong papa. Andrew sangat bodoh tidak bisa memahami sejak awal. Maafkan Andrew ma.." Andrew menangis.


Kim Ha Na terlejut, tidak tega melihat Andrew yang terlihat kacau dan berantakan. Kim Ha Na memeluk Andrew, mengusap lembut rambut Andrew. "Jangan salahkan dirimu nak, ini bukan salahmu. Jangan seperti ini, mama tidak akan menyalahkanmu. Mama baik-baik saja. Oke.." Kim Ha Na melepas pelukan, meraba wajah Andrew. Mata Andrew madih terus meneteskan air mata. Kim Ha Na mengusap air mata Andrew. Begitu juga Andrew yang menyeka air mata Kim Ha Na. Andrew dan Kim Ha Na saling menorehkan senyuman palsu, hati mereka benar-benar hancur dan sudah remuk sebenarnya.


♡♡♡♡♡


Julian menampar orang kepercayaannya. Julian sangat kesal dan marah. Memaki dan membentak semua orang yang ada di ruangannya. Puas meluapkan emosi dan murkanya, Julian mengusir semua orang dari ruang kerjanya. Semua orang sudah pergi, tinggal Julian seorang diri.


Kleeekk..

__ADS_1


(Suara pintu)


Julian melihat kearah pintu. Julian melihat papanya datang dan mendekat. "Hai pa, papa belum tidur?" Tanya Julian pada papanya dengan suara lembut.


"Bagaimana bisa tidur, kamu berteriak kencang. Ada apa nak?" Tanya Marco Roobs pada anaknya.


"Tidak ada apa-apa pa, hanya masalah pekerjaan saja. Mereka ceroboh dan membuatku kesal. Ada apa papa mencariku?" Julian Roobs beralasan dan mengubah topik pembicaraan.


"Papa hanya ingin ingatkan besok kita akan pulang pagi. Kita akan pulang dengan penerbangan pertama, kemas barang-barangmu yang ingin kamu bawa pulang ke Inggris. Papa sudah harus rapat siang harinya, kamu juga harus mendampingi papa Julian. Karena kamu adalah calon penerus perusahaan." Ucap Marco Roobs.


"Sudah selesai aku kemas pa, apa yang aku butuhkan sudah aku masukan dalam koper. Papa tidak perlu cemas, besok kita akan pulang tepat waktu." Jawab Julian Roobs dengan tersenyum lebar, seperti biasanya Julian memasang senyuman palsunya.


"Baiklah jika seperti itu. Cepatlah pergi tidur, papa akan kembali ke kamar papa. Selamat malam nak, selamat tidur." Marco Roobs pergi meninggalkan Julian di ruang kerja Julian.


Julian kembali ke wajah kesalnya. Julian sangat kesal kenapa bisa orang orangnya salah menculik dan membunuh orang. Julian menggeleng dan mengatur nafasnya, Julian pergi meninggalkan ruang kerjanya dan pergi ke kamarnya untuk tidur. Karena keesokan harinya harus kembali ke Inggris bersama papanya.


@@@@@..... @@@@@.....


Hallo.. hiks hiks.. hiks..


Hmmm kok nyesek ya saat nulis Abed harus gak ada.. Sekali lagi maaf telah membuat kalian kecewa dan sedih..


Jangan lupa like,, komen dan Vote ya..


Terimakasih..


Sampai jumpa di next episode..


Bye bye..

__ADS_1


♡Dea Anggie😉♡


__ADS_2