
Amerika..
Kim Ha Na bermimpi buruk mengenai Andrew. Kim Ha Na melihat Andrew melompat dari sebuah gedung tinggi. Kim Ha Na mere**s selimutnya dan berusaha menangkan diri. Kim Ha Na mengambil gelas berisi air minum dimeja dengan tangan gemetar dan menghabiskan air minum dalam gelas dengan sekali teguk. Kim Ha Na kembali meletakan gelas di meja di sisi ranjang. Kim Ha Ha meraih ponsel disamping gelas dan langsung menghubungi Andrew. Panggilan tersambung namun tidak diangkat oleh Andrew, Kim Ha Na mengulang panggilan sampai beberapa kali. Dipanggilam terakhir Ponsel Andrew tidak bisa dihubungi, semakin membuat Kim Ha Na khawatir.
"Bagaimana ini? Kenapa ponsel Andrew tidak bisa di hubungi. Ahh iya, Lovely.. aku akan hubungi Lovely, memastikan keadaan Andrew saat ini, apakah Andrew baik-baik saja atau tidak." Kim Ha Na mencari nomor ponsel Lovely dalam daftar kontaknya.
Kim Ha Na menghubungi nomor Lovely, panggilan tersambung namun tidak ada jawaban. Kim Ha Na mencoba menghubungi lagi dan lagi sampai beberapa kali namun tetap saja tidak di jawab oleh Lovely. Kim Ha Na melempar ponselnye ke ranjang dan menangis menutupi wajahnya. Hatinya kacau, takut jika terjadi apa-apa pada Andrew.
Hiks..
Hiks..
Hiks..
(Suara tangisan)
"Andrew, ada apa denganmu nak. Jangan membuat mama khawatir disini, tidak ada kabar sama sekali. Pesan mama pun kamu balas, semoaga saja kamu baik-baik saja. Mama tidak bisa melihatmu terluka Andrew, bagaimanapun kamu adalah putra mama." Batin Kim Ha Na.
♡♡♡♡♡
Brian sedang duduk bersandar bantal menatap foto Lovely. Tanganya meraba wajah Lovely yang ada difoto, Brian tersenyum manis.
"Papa sangat rindu padamu sayang, sedang apa kamu sekarang? Apakah kamu baik-baik saja? Papa harap kamu baik-baik saja, jangan sampai jatuh sakit dan terluka." Batin Brian.
Amelia keluar dari kamar mandi dan berjalan perlahan menuju ranjang. Amelia naik keatas ranjang dan duduk bersandar di samping Brian. Amelia melihat Brian terus melihat foto putri kesayangannya, Amelia merangkul lengan Brian dan menyandarkan kepalanya ke bahu Brian.
"Jika rindu hubungi putrimu, apa lagi yang kamu tunggu." Kata Amelia dengan suara lembut.
"Hmm.. kamu selalu tau apa yang aku pikirkan sayang. Aku memang sangat merindukan putri kita, karena aku selalu melihatnya setiap saat dan dia selalu menggangguku. Sekarang hanya ada Alex dan kamu tau bagaimana Alex kan, dia jarang ada di rumah sibuk dengan kegiatannya seperti biasanya." Jawab Brian.
"Ya ya ya, aku tau. Cepat hubungi putri kita. Aku juga rindu suaranya." Perintah Amelia.
Brian meletakan bingkai foto Lovely dimeja dan mengambil ponselnya, Brian menghubungi Lovely. Panggilan tersambung, namun tidak diangkat oleh Lovely. Brian mengerutkan dahinya merasa kecewa panggilannya diabaikan. Brian mencoba beberapa kali dan masih tetap tidak dijawab oleh Lovely. Brian akhirnya menyerah dan mengirim pesan kepada Lovely.
(Isi pesan Brian kepada Lovely)
"Hai peri kesayangan papa. Bagaimana kabarmu? Bagaimana hari pertama di kantor? Semua baik-baik saja? Jangan berbohong kepada papa, papa tau semuanya bahkan hal sekecil apapun yang kamu sembunyikan papa tau. Ingat, jika terjadi apa-apa hubungi papa. Jangan pernah menyimpan bebanmu sendiri. Papa akan selalu ada untukmu nak. Mama mu merindukanmu, papa juga rindu.. sangat rindu.. hubungi papa jika kamu sudah melihat dan mmebaca pesan papa ini. Papa mencintaimu dan menyayangimu, selalu jaga hati, perkataan dan pikiranmu. Jangan pernah lakukan hal-hal yang tidak menguntungkan."
Brian mengehela nafas panjang dan meletakan ponselnya di atas meja, Brian menata bantal dan berbaring, Brian memeluk Amelia dan mengusap lembut rambut Amelia.
"Tidurlah, besok aku akan hubungi lagi. Mungkin saja putrimu sudah tidur. Ayo kita tidur, besok pagi akan berkunjung ke rumah David." Kata Brian dengan suara lembut.
"Hmm.. selamat tidur sayang." Ucap Amelia.
"Cup.." Brian mengecup lembut kening Amelia. "Selamat tidur istriku, mimpi indah." Brian mengeratkan pelukan, menutup matanya menempelkan kepalanya ke kepala Amelia. Amelia tersenyum manis, menutup matanya dan terlelap.
♡♡♡♡♡
__ADS_1
INGGRIS
Andrew terbangun, membuka mata perlahan. Andrew melihat Lovely tertidur dengan memegang tangannya, Andrew menarik tangannya perlahan, Andrew melihat tangannya di perban dan mengusap lembut kepala Lovely.
Andrew bangun perlahan, melihat kakinya juga diperban. Andrew turun dari ranjang dan menggendong Lovely memindahkan Lovely di ranjang. Andrew menyelimuti Lovely dan mengecup kilas kening Lovely.
"Maaf Love, sepertinya aku bukan orang yabg tepat untukmu. Aku pasti sudah banyak menyusahkanmu, maafkan aku Love. Maafkan aku.." ucap Andrew yang langsung pergi meninggalkan Lovely yang sedang tertidur.
Andrew berjalan keluar dari kamar Lovely menuju kamarnya. Andrew melihat kamarnya sudah rapi dan bersih. Andrew membuka pakaiannya dan berjalan menuju lemari pakaian untuk berganti pakaian. Andrew dengan cepat berganti pakaian dan bersiap, Andrew pergi meninggalkan kamarnya hendak keluar dari rumah. Andrew melihat ponselnya diatas meja makan, Andrew melihat ponselnya dalam keadaan mati karena kehabisan baterai.
Andrew mencharger ponselnya dan langsung pergi keluar rumah. Andrew ingin pergi mencari udara segar dan menenagkan pikirannya. Andrew berjalan keluar rumah menyusuri jalan melihat sekeliling. Andrew menarik nafas dalam dan menghembuskan nafas perlahan. Merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Andrew berjalan dan terus berjalan, Andrew melihat sebuah cafe coffee. Andrew masuk kedalam dan mencari tempat duduk. Seorang pelayan datang menghampiri dan memberikan buku menu.
Andrew menerima dan melihat buku menu. " satu Cappucino panas" ucap Andrew.
Saat Andrew memberikan buku menu pada pelayan, pandangan Andrew menjadi gelap. Andrew melihat pelayan yang memberikan buku menu padanya dalam bahaya. Pelayan tersebut tersengat aliran listrik dari kabel yang mengelupas di lantai dua cafe saat pelayan tersebut sedang bersih-bersih.
Andrew tersadar, seketika berdiri dari duduknya. Pelayan tersebut terkejut dan terus manatap ke arah Andrew.
"Tuan ada apa? Anda mengejutkan saya." Kata pelayan tersebut.
"Maaf, boleh saya bertanya?" Tanya Andrew.
"Ya, silahkan. Ada apa tuan?" Tanya pelayan kepada Andrew.
"Apakah anda bertugas membersihkan lantai dua cafe ini?" Tanya Andrew lagi.
"Bisakah anda tidak naik keatas. Anda akan dalam bahaya jika naik ke lantai dua, panggil tukang listrik dan benahi kabel yang mengelupas dilantai dua. Jika tidak anda akan tersengat." Ucap Andrew menyampaikan apa yang di lihatnya.
Pelayan tersebut semakin bingung, melihat penampilan Andrew yang berantakan. Bekas luka di bibir, dan luka di tangan terlebih kata-kata yang menurutnya tidak masuk akal.
"Biacara apa pemuda ini. Sangat aneh! Kabel yang mengelupas? Beberapa hari lalu aku juga bersihkan lantai dua tetapi tidak ada apa-apa. Apa pemuda ini sudah gila? Pemuda aneh." Batin pelayan.
"Aah baiklah-baiklah, silahkan duduk tuan, saya akan segera hidangkan pesanan anda. Terimakasih untuk pemberitahuannya." Kata pelayan tersebut dan pergi meninggalkan Andrew.
Andrew duduk dan terus menatap ke arah pelayan tersebut yang akhirnya tidak terlihat karena masuk kedalam dapur. "Apakah dia akan percaya? Bagaimana jika tidak percaya? Apakah dia akan meninggal, apa aku akan gagal menyelamatkan nyawa seseorang?" Batin Andrew.
Beberapa saat kemudian pelayan lain menghidangkan pesanan Andrew, Andrew terus melihat arah dapur berharap bisa bertemu pelayan yang pertama kali menyambutnya. Andrew merasa resah dan akhirnya bertanya kepada pelayan yang mengantar pesanannya.
"Maaf, boleh saya tau dimana pelayan yang melayani say a tadi? Perempuan setengah tua memakai kacamata." Andrew berusaha menjelaskan ciri-ciri pelayan yang menyambutnya.
"Ah, bibi itu. Bibir itu bertugas di lantai dua." Jawab pelayan tersebut.
"Apa? Aku sudah melarangnya naik kelantai dua. Dia dalam bahaya. (Berdiri dari duduknya) aku harus menolong bibi itu." Andrew segera berlari.
"Eh.. tuan, anda tidak boleh sembarangan masuk. Keamanan tolong hentikan tuan muda itu." Teriak pelayan yang mengejar Andrew.
__ADS_1
Dua orang petugas keamanan menghadang Andrew dan melarang Andrew masuk. Andrew memaksakan dirinya namun terus di tahan.
"Astaga tuan, anda tidak boleh masuk begitu saja tanpa ijin dari manager cafe atau pemilik cafe. Astaga.." kata pelayan yang mengejar Andrew.
"Tolong lah, biarakan aku masuk. Nyawa bibi itu dalam bahaya." Andrew merasa kesal karena kata-katanya tidak dihiraukan.
"Maaf tuan, selain karyawan dan staf tidak diperbolehkan masuk. Silahkan anda kembali duduk atau saya akan mengusir anda keluar dari cafe." Kata seorang petugas keamanan.
"Sial!" Umpat Andrew.
Andrew merasakan sesuatu, sesuatu yang terjadi. Andrew kembali menyerobot kedua petugas keamanan namun kedua petugas keamanan tersebut berhasil mengamankan Andrew.
"Lepaskan aku, aku harus selamatkan bibi itu. Dia dalam bahaya sekarang." Andrew berteriak keras dan terus memberontak.
"Tolong.. tolong.. tolong.." suara teriakan minta tolong dari dalam dapur.
Pelayan yang menyajikan minuman Andrew masuk kedalam dan menemui pelayan yang berteriak minta tolong.
"Ada apa?" Kata pelayan yang masuk kedalam dapur dengan rasa penasaran dan panik.
"Itu bibi, dia tersengat aliaran listrik. Cepat panggil bantuan." Kata pelayan yang meminta bantuan.
Andrew terkejut, mendengar bibi tersebut tersengat aliran listrik. Petugas keamanan memeriksa dan memanggil bantuan. Suasana cafe menjadi tegang dan gaduh. Andrew merasa kecewa. Andrew berdiri dan bersandar dinding di dekat dapur.
10 menit kemudian..
Petugas medis dan polisi datang. Andrew melihat petugas medis membawa mayat bibi itu keluar dari dapur. Andrew merasa sedih melihat mayat bibi yang menyambutnya sat masuk dalam cafe. Andrew pergi membayar tagihan dan pergi keluar dari cafe.
Andrew berjalan dengan langkah lemas pergi meninggalkan cafe tersebut. Andrew berhenti dan bersandar di pohon yang besar di pinggir jalan. Andrew menangis merasa kacau, Andrew memukul-mukul kepalanya.
"Bodoh, bodoh, bodoh.. kenapa seperti ini. Aku hanya ingin membantu kenapa tidak ada yang percaya? Aku gagal lagi untuk ke dua kalinya aku gagal menyelamatkan nyawa seseorang. Andrew kamu pembawa sial! Lebih baik aku tidak melihat semua itu, aaaarrrrgggghhhhh. (Andrew membenturkan kepalanya ke batang pohon yang besar yang ada di belakangnya hingga kepalanya berdarah) untuk apa ini semua? Kelebihan ini tidak ada gunanaya, pergi.. pergi.. aku tidak butuh melihat apa-apa. Jika seperti ini aku tidak akan permah mau membantu lagi. Aku tidak akan mau membantu siapapun." Andrew menutup matanya kilas dan terus menangis.
Andrew berjalan dengan kepala yang terluka, darah mengalir dari kepala membasahi wajahnya. Pandangan Andrew mulai kabur dan gelap, sampai akhirnya..
BRUUUUUKKK..
Andrew jatuh tersungkur, Andrew memukul jalan dan merasa kesal. Seseorang membantu Andrew berdiri, Andrew menolak dan mendorong orang tersebut pergi menjauhinya. Orang tersebut pergi meninggalkan Andrew. Dengan susah payah Andrew berdiri, Andrew kembali berjalan dengan langkah sempoyongan menyusuri jalan untuk kembali pulang.
@@@@@..... @@@@@.....
Halloooooooo..
Jangan lupa like,, komen dan vote ya..
Terimakasih banyak..
Sampai jumpa di episode selanjutnya..
__ADS_1
Bye bye..
♡Dea Anggie😉♡