Lelaki Bayaran Amelia

Lelaki Bayaran Amelia
S2 - EPISODE 191


__ADS_3

Brian berbicara dengan Kim Ha Na melalui telepon genggam. Brian duduk dan bersandar, Brian hanya diam mendenagrkan sepupunya berbicara.


(Percakapan dalam telepon)


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi? Benarkah Andrew melakukan itu pada Lovely hanya karena Lovely terlalu perhatian padanya? Brian, aku butuh penjelasan. Please.." ucap Kim Ha Na memelas.


Brian menghela nafas panjang, "Ha Na dengar, kejadian ini sejujurnya hanya pelampiasan saja. Keduanya tidak bisa dikatakan salah sepenuhnya, hanya karena Andrew tidak bisa menguasai diri yang membuatnya seperti ini. Apa yang Andrew katakan adalah kebenaran, aku juga baru dapat pengakuan pagi tadi darinya. Dan aku juga sudah dapat pengakuan dari putriku juga." Kata Brian dengan pandangan jauh ke depan.


"Maafkan sikap anakku Brian, sungguh ini adalah kesalahanku yang kurang perhatian semenjak kejadian itu." Jawab Kim Ha Na.


"Hei, jangan menyalahkan diri sendiri. Semua sudah terkendali, mereka sudah saling mengaku dan selanjutnya biarkan mereka saling memaafkan dan memulai lembaran baru. Hanya saja.. besok Amelia akan datang, aku khawatir Amelia tidak akan bisa menerima keputusanku. Aku belum bicara padanya, aku ingin bicara secara langsung agar dia tidak cemas dan panik." Brian mulai memikirkan Amelia.


"Amelia pasti akan sangat kecewa pada Andrew, karena Amelia sangat menyayangi Andrew seperti putranya sendiri. Aku akan datang menyusul kesana Brian, tolong jaga putraku sampai aku datang. Aku sebagai mama harus menyapaikan permohonan maafku baik kepadamu dan kepada Amelia secara langsung." Kata Kim Ha Na.


"Baiklah jika itu keputusanmu, aku juga tidak bisa melarangmu. Apa Michael dan Mattew baik-baik saja kamu meninggalkan mereka?" Tanya Brian khawatir pada Michael dan Mattew.


"Michael sudah mulai memahami pekerjaannya meski dia harus membagi waktu dengan sekolahnya. Mattew juga sudah bisa mandiri, ada Ivan yang membantu dan mengawasi mereka. Aku harus melihat keadaan Andrew, jujur saja aku selalu gelisah dan tidak tenang. Aku selalu memikirkannya, setiap aku hubungi Andrew selalu mengabaikanku dan hanya mengirim pesan jika dalam keadaan baik-baik saja. Aku bisa apa Brian? Aku hanya bisa mengiyakan dan berusaha percaya kepada putraku." Kim Ha Na merasa sedih.


"Jangan bersedih Ha Na, apa yang sudah terjadi tidak perlu di sesali. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana kita memberikan dukungan kepada anak-anak kita, karena disaat-saat seperti ini mereka sangat membutuhkan dukungan kita dan juga tempat untuk bersandar. Oke, berhati-hatilah. Jangan terlalu banyak berfikir, sampai jumpa besok saudariku." Brian mencoba menenangkan Kim Ha Na yang sedih.


Walau pun tidak melihat keadaan Kim Ha Na secara langsung, namun Brian bisa merasakan, Brian juga tahu orang tua mana yang tidak sedih anaknya dalam kondisi dan keadaan yang seperti ini. Oleh karena itu Brian berusaha tenang dalam berbicara dengan Kim Ha Na.


Brian mengakhiri panggilannya, Brian membuka galery foto di ponselnya dan melihat foto dirinya, Amelia, Lovely dan Alex.


"Aku ingin kalian semua bahagia, aku ingin membahagiakan istriku, putriku dan juga putraku. Kalianlah semangat hidupku, tanpa kalian aku tidak akan bisa bertahan sampai di titik ini." Batin Brian mengusap layar dengan tersenyum lebar.


"Papa.." tiba-tiba Brian mendengar suara.


Brian memasukan kembali ponselnya dalam saku celananya. Brian menatap arah suara, Brian melihat putrinya Lovely tersenyum cantik padanya. Lovely berdiri di hadapannya,


"Hai sayang, sudah datang." Sapa Brian tersenyum.


"Papa sedang apa? Kenapa di luar?" Lovely duduk di samping Brian.


"Papa bosan di dalam, Love.. papa lelah dan ingin istirahat. Malam ini kamu temani Andrew ya, kamu tidak keberatan kan? Papa ingin ke rumah Andrew dan tidur nyenyak, tidur disini leher papa nyeri." Brian mencoba menyakinkan Lovely, mencari alasan agar Lovely dan Andrew bisa bicara baik-baik.


Lovely mengerutkan dahi, masih ada easa takut di hatinya. Meskipun kejadian itu sudah berlalu dan Lovely sudah mau memaafkan Andrew, namun rasa takut masih terus membayangi. Lovely terdiam, merangkul lengan Brian dan menyandarkan kepalanya ke bahu Brian.


"Ada apa? Kamu tidak ingin menjaga Andrew?" Tanya Brian dengan suara lembut.


"Lovely idak bilang seperti itu, Lovely hanya ingin bermanja pada papa. Putrimu ini lelah seharian bekerja pa, biarakan aku seperti ini, sebentar saja." Rengek Lovely.


Brian merangkul Lovely, mendekap Lovely dalam pelukan. Brian mengusap-usap kepala Lovely lembut. "Putriku sayang.." ucap Brian lirih.


Setelah puas bermanja Lovely akhirnya melepaskan pelukan. "Papa pulanglah naik mobil, maaf aku tidak membawa makanan dan menyiapkan makan malam untuk papa." Ucap Lovely.


"Tidak masalah, papa akan makan dulu sebelum pulang. Masuklah, jika Andrew bangun sampaikan padanya papa pergi kerumahnya." Kata Brian berdiri dari duduknya.


"Ya pa, papa hati-hati di jalan." Lovely berdiri, menatap papanya.


Brian mencium kening Lovely, "bye sayang.. sampai besok." Ucap Brian yang langsung pergi meninggalkan Lovely.


Lovely terdiam, menatap kepergian papanya. Lovely menghela nafas panjang berjalan mendekati pintu kamar ruangan Andrew. Lovely membuka pintu dan masuk, Lovely kembali menutup pintu.


Lovely berjalan perlahan, Lovely mencengkram tangannya sendiri melawan rasa takut. Langkahnya semakin dekat dengan Andrew, Lovely melihat Andrew tertidur. Lovely berdiri di dekat Andrew, mamasukan tangan Andrew dalam selimut dan menarik selimut naik sampai leher. Tangan Lovely perlahan menyentuh rambut Andrew.


"Cepat lah sembuh Andrew, aku sedih melihatmu seperti ini. Maafkan aku baru bisa datang, aku sibuk di kantormu seharian ini. Aku menangani semua pekerjaanmu. Ya.. semua tidak mudah, tapi aku bisa menjalankan pekerjaan dengan baik hari ini sungguh sangat puas. Cepatlah bangun dan kembali sehat!" Kata Lovely dengan suara lembut.


Lovely mengusap-usap rambut Andrew, tangannya turun membelai wajah Andrew. Tiba-tiba Andrew membuka mata dan tangannya menggenggam erat tangan Lovely yang menyentuh wajahnya.


"Thanks Love," suara Andrew serak.


Lovely terkejut, menatap ke arah Andrew. "Kamu.. kamu sudah sadar? Sejak kapan? Jadi kamu tadi hanya sedang tidur?"

__ADS_1


Lovely tidak menyangka jika Andrew sudah sadar dan tertidur. Lovely mengira Andrew masih belum sadar karena Brian tidak bicara apa-apa, begitu juga Flip.


"Kamu tidak senang aku bangun? Baiklah aku akan tidur." Andrew menutup matanya perlahan.


"Andrew bukan seperti itu. Aku senang kamu sudah sadar, cepatlah sehat dan kembalilah bekerja. Aku lelah.. setelah kamu sembuh aku akan ambil libur sepuasku." Keluh Lovely.


Andrew tersenyum, membuka matanya. "Hmm.. liburlah sepuasmu, aku tidak akan melarang. Dan Love.. maafkan aku untuk semuanya, aku menyakitimu, bicara kasar bahkan membentakmu. Maafkan aku, aku menyesali perbuatanku." Andrew terlihat sedih.


Lovely terdiam menatap Andrew dengan wajah datar, Andrew terus menatap Lovely. "Sepertinya akan sulit untuk Lovely memaafkanku. Ahh.. bodoh sekali aku, aku menyakiti orang yang sangat mencintai dan menyayangiku." Batin Andrew.


"Lupakan itu, jauh sebelum kamu meminta maaf aku sudah lebih dulu memaafkanmu. Maafkan aku juga yang sudah membuatmu kesal dan jengkel, mungkin ada kata-kataku yang secara tidak sengaja menyinggungmu dan membuatmu murka." Lovely tersenyum cantik pada Andrew.


Mata Andrew melebar, sungguh tidak menyangka jika Lovely akan bicara seperti itu. Bahkan Lovely juga sampai minta maaf padanya.


"Paman Brian telah berhasil mendidik putrinya dengan baik. Aku sungguh sangat malu sekarang, aku yang melakukan kesalahan bagaimana bisa Lovely yang meminta maaf." Batin Andrew.


"Kamu tidak marah dan kesal padaku?" Tanya Andrew.


"Jujur saja aku kesal, aku juga marah. Namun kasihku padamu jauh lebih besar menutupi rasa kesalku dan amarahku. Aku hanya takut, karena kejadian itu." Lovely menunduk, tangannya gemetar kala mengingat kejadian dimana Andrew mencekiknya.


Andrew terkejut, tangan Lovely yang di pegangnya terasa dingin. Andrew memaksakan untuk bangun dan bersandar pada bantal, rasa sakit dan nyeri melanda. Andrew mendesis seperti ular dikala menahan rasa sakitnya.


"Sssssssshh.." suara Andrew saat mengatur posisinya.


Lovely langsung mengangkat kepala saat mendengar suara Andrew. Lovely dengan cepat membantu Andrew mengatur posisi duduknya.


"Kenapa duduk, lukamu akan terbuka nanti." Kata Lovely.


"Tidak apa-apa aku juga bosan hanya berbaring. Kamu duduklah di sampingku Love, jangan takut.. aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku berjanji padamu!" Ucap Andrew.


Lovely diam dan mengikuti kata-kata Andrew. Loveky duduk di samping Andrew dengan posisi satu kakinya di tekuk dan satu kakinya masih menyentuh lantai, Posisi Andrew dan Lovely saling berhadapan.


Suasana hening, tiba-tiba Andrew dan Lovely saling diam. Sampai dimana mereme membuka suara secara bersamaman memanggil satu sama lain.


"Andrew.." panggil Lovely.


Andrew dan Lovely Memanggil bersamaan dan saling menatap.


"Bicaralah dulu, ada apa?" Kata Lovely.


"Mmm kamu saja, aku rasa kata-kataku tidak lah penting." Jawab Andrew.


"Oh.." ) Lovely hanya ber oh ria.


Andrew dan Lovely kembali diam, mereka saling membuang muka. Suasana menjadi canggung.


"Andrew bodoh! Langsung saja katakan aku merindukanmu. Kenapa kamu sekarang jadi bodoh hanya berdiam diri, Andrew bodoh, bodoh, sangat bodoh!" Andrew mengumpat dirinya sendiri.


"Haihh Love, jujur saja kamu merindukan pria dihadapanmu ini. Kenapa hanya diam, dengan diam Andrew bisa mengerti kamu merindukannya? Dasar Lovely bodoh!" Lovely juga mengumpat dirinya sendiri.


Suasana hening tiba-tiaba menjadi riuh, disaat Lovely dan Andrew kembali angkat suara. Lovely dan Andrew bersuara secara bersamaan dan mengatakan hal yang sama.


"AKU MERINDUKANMU.." ucap Andrew dan Lovely bersama.


Andrew dan Lovely terkejut, masing-masing melebarkan mata dan memalingkan wajah saling berhadapan. Lovely tersenyum manis, Andrew tidak mau kalah menorahkan senyuman manisnya pada Lovely.


"Boleh aku memelukmu Love?" Tanya Andrew dengan suara lembut.


Lovely mengangguk perlahan dan memeluk Andrew, Lovely tiba-tiba meneteskan air mata.


"Aku sangat merindukanmu Andrew, aku merindukanmu." Suara Lovely gemetar, Lovely mencengkam baju Andrew.


"Aku juga merindukanmu.. maafkan aku Love, aku bersalah. Maaf.." ucap Andrew lirih.

__ADS_1


Mata Andrew berkaca-kaca. Ingin sekali rasanya menangis, Andrew mengusap-usap punggung Lovely.


@@@@@... @@@@@...


Hallo semua..


Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..


Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..


Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..


Jangan lupa berikan vote juga ya..


Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,


•Pelukan Hangat Paman Tampan (End, jika tidak ada kendala akan saya lanjutkan sekuel dari UMEKO SAKURA LEWI yang akan menjadi season ke tiga dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Pangeran Es Jatuh Cinta


(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Suami Pengganti


•Pangeran Vampir


•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2)


•Vampir "Sang Abadi"


•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar


•Cinta Lama Yang Datang Kembali


•Mommy And Daddy (CLYDK2)


•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3


•Perfect Father


•Dan masih banyak lainnya (hehehe.. maafkan authornya lagi menggila bikin novel kala itu.. jangan khawatir pasti di tamatin semua kok..)


Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..


Terimakasih..


Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..


Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


Bye bye..


Salam hangat,

__ADS_1


"Dea Anggie"


__ADS_2