
Alex dirumah ditemani oleh Flip. Alex dan Flip bermain catur bersama. Alex kesal karena Flip selalu tau pergerakannya. Alex melempar bantal pada Flip.
"Flip jangan bermain curang." Kata Alex kesal.
"Haha.. aku tidak curang Alex. Hanya saja aku tau apa yang kamu pikirkan." Jawab Flip dengan santai.
"Kita akhiri saja ini, aku tidak mau bermain lagi. Aku lapar, ayo pesan makanan." Ucap Alex.
"Baiklah, maafkan aku sudah membaca isi pikiranmu Alex. Tidak perlu pesan aku akan memasak untukmu." Jawab Flip yang langsung berdiri dan berjalan menuju dapur.
Alex berdiri dan mengikuti Flip yang berjalan ke arah dapur. Alex berdiri bersandar lemari pendingin, Flip menggulung kemejanya dan memakai apron.
"Memangnya kamu bisa memasak? Aku tidak yakin kamu bisa, apa jangan-jangan hanya bisa merebus air. Hahaha.." Alex menggoda Flip.
Flip melirik kearah Alex, mendekati Alex dan membuat Alex terkejut. "Hai, sabar.. aku hanya berguau saudaraku." Ucap Alex.
"Memangnya aku mau apa Lex. Aku ingin ambil sayur, ayo menyingkirlah dari lemari pendingin." Kata Flip membuka paska lemari pendingin dan membuat Alex berpindah tempat.
"Oh aku kira kamu akan langsung menghajarku. Aku sudah salah menduga, maaf." Alex mengusap rambutnya sendiri.
"Kenapa harus memakai kekerasan jika masih bisa bicara baik-baik. Selagi mulut masih bisa meminta maaf dan memaafkan tidak perlu beradu fisik bukan? Apa hasil yang kamu dapat dari berkelahi? Yang ada hanya luka fisik yang menanamkan kebencian." Jawab Flip.
"Wow Flip, kamu seperti papaku saja. Kata-katamu sungguh luar biasa. Aku ragu, anak papaku aku atau kamu sebenarnya." Alex melipat tangan di dada duduk di meja dapur.
"Haha.. apa kamu pikir kita anak yang tertukar? Jangan gila Lex, lihatlah wajahku yang tidak jauh berbeda dari papaku. Bahkan bisa dikatakan aku sangat mirip dengan papaku. Tidak mungkin kita tertukar, jangan berfikir jauh. Aku bicara ini karena aku banyak belajar dari papamu. Paman Brian selalu menasihatiku agar aku bisa menjadi anak yang baik dan beguna bagi sesama. Terlepas dari masa lalu papaku yang suram." Ucap Flip dengan suara rendah dia akhir kata yang hampir tidak terdengar.
Alex menghela nafas, turun dan berjalan mendekati Flip. Alex mengambil sayuran dari tangan Flip dan mencuci sayuran. "Lupakan itu, ayo ceritakan padaku mengenai kelebihanmu itu. Itu.. bagaimana bisa kamu membaca pikiranku?" Tanya Alex penasaran.
Flip menyalakan pematik kompor dan merebus air. "Entahlah, pertama kali aku bisa membaca pikiran saat aku ada di rumah sakit. Aku langsung bisa mengatakan apa yang ingin dokter katakan padaku. Dokter itu memeriksa kepalaku mengira jika aku memiliki masalah dikepalaku. Aku juga tidak tau bagaimana bisa itu aku lakukan, namun satu hal yang pasti. Jika aku ingin membaca pikiran seseorang, maka aku hanya akan fokus pada orang tersebut. Maksudku orang yang ingin aku baca pikirannya, kamu tau tidak hanya itu. Aku bahkan bisa mendengar suara yang sangat jauh, bisa mempengaruhi pemikiran orang sesuai kehendakku." Flip menjelaskan detail mengenai kelebihannya kepada Andrew.
"Keren sekali, kamu bisa memepengaruhi pemikiran orang lain? Itu sangat hebat Flip. Jika kamu orang jahat pasti sudah kamu manfaatkan kelebihanmu untuk hal-hal buruk. Untunglah kamu orang baik." Jawab Alex.
__ADS_1
"Maka dari itu aku terus berusaha menjadi orang baik. Menjadi orang baik lebih susah dari pada menjadi orang jahat. Tidak semudah kita bicara." Sahut Flip.
Flip memotong sayur, Alex mematikan pematik kompor karena air sudah mendidih.
"Flip, boleh aku bertanya?" Tanya Alex.
"Hmm.. ada apa? Jangan ragu untuk bertanya." Jawab Flip.
"Apa maksud perkataanmu saat di pemakaman tadi? Apakah kak Andrew akan berubah? Berubah seperti apa?" Alex penasaran ingin tahu.
Flip meletakan pisau dan menatap Alex. "Jika aku katakan apa kamu akan percaya?" Tanya Flip.
Alex mengerutkan keningnya, hatinya sangat penasaran namun ada rasa takut. Jika Flip mengatakan hal gila dan mengetikan. Rasa penasaran Alex tidak bisa dibendung lagi. "Ya, katakan saja. Bagaimana bisa aku percaya atau tidak. Jika kamu tidak bicara." Jawab Alex.
"Andrew akan menjadi seorang monster. Seorang yang kejam dan jahat." Flip memalingkan wajah kembali memasak.
"Apa? (Terkejut) bagaimana bisa seperti itu? Aku harus beritahu kakakku Flip. Itu mengerikan." Jawab Alex.
Alex terdiam, kali ini tidak bisa berkata apa-apa karena dirinya sendiri tidak tau apa yang Andrew pikirkan saat ada di pemakaman. Setelah Flip menjelaskan persoalan mengenai Andew, Alex dan Flip lebih banyak diam, mereka sibuk memasak dan sesekali bicara tanpa membahas masalah Andrew.
Flip merasakan sesuatu, Flip merasa tidak nyaman. Merasa diawasi oleh seseorang. Flip sudah merasakan hal aneh saat dirinya bermain catur bersama Alex. Perasaan Flip semakin tidak enak, Flip berbalik dan menatap sekitar dapur.
"Keluar! Jangan bersembunyi dariku! Siapa kamu?" Kata Flip yang terus melihat sekeliling.
Alex terkejut, Alex berbalik dan mendekati Flip. Alex melihat sekeliling tidak melihat apa-apa. "Flip.." panggil Alex lirih.
"Jika tidak keluar aku kan mengirimmu ke tempat asalmu. Aku bertanya untuk yang terakhir, keluar atau aku musnahkan." Suara Flip lantang.
Sosok banyangan perlahan muncul dari balik lemari. Bayangan itu berada jauh dari Flip. Flip terkejut, wajah sosok itu tidak asing baginya. Wajah sosok yang mengikuti Andrew. Flip menatap tajam dan bertanya dengan suara hatinya kepada sosok tersebut.
(Percakapan batin)
__ADS_1
"Siapa kamu? Dan apa maumu mengikutiku?"
"Hai, aku Naomi. Adik dari Andrew. Aku hanya ingin minta tolong padamu Flip."
"Omong kosong, jangan panggil namaku! Arwah penasaran sepertimu tidak aku ijinkan memanggil namaku." Flip kesal.
"TOLONG KAKAK KU." Sedih.
"Bukan urusanku. Pergilah! Aku tidak ingin melihatmu lagi. Jangan paksa aku, datanglah pada kakak mu dan katakan untuk tidak menjadi orang jahat."
"Aku mohon tuan, tolong kakak ku. Hanya tuan yang bisa membantu ku." Memohon.
"Pergi!" Flip mengusir Naomi.
"Baiklah, aku tau hatimu begitu baik dan lembut. Kamu pasti akan menjadi penolong untuk kakakku." Perlahan banyangan memudar dan menghilang.
Flip mengedipkan mata dan mengatur nafasnya. Flip berbalik dan melihat Alex sudah tidak lagi di dapur. Alex pergi meninggalkan Flip karena merasa takut. Alex duduk di sofa ruang tengah, Alex memeluk bantal sofa. Menyalakan televisi dengan volume suara yang kencang.
"Yang benar saja. Flip berdiri dan hanya diam saat aku panggil. Astaga, siapa yang dia panggil? Mengerikan sekali. Kenapa aku harus terlibat hal-hal yang menyeramkan seperti ini. Ahh aku akan gila jika terus memikirkannya. Alex tenang.. tarik nafas (Alex menarik nafas) hembuskan perlahan (Alex menghembuskan perlahan)." Alex merasa aneh melihat Flip diam seperti patung saat di dapur, dan memilih pergi meninggalkan Flip seorang diri.
@@@@@..... @@@@@.....
Hallo..
Jangan lupa like,, komen dan vote ya..
Terimakasih..
Sampai jumpa di episode selanjutnya..
Bye bye..
__ADS_1
♡Dea Anggie😉♡