
Keesokan harinya, Andrew sudah berpakaian rapih dan keluar dari kamarnya. Andrew menuruni anak tangga dengan langkah cepat berjalan menuju meja makan. Andrew menarik kursi dan langsung duduk.
"Pagi sayang." Sapa Kim Ha Na.
"Pagi mama." Jawab Andrew singkat.
Michael dan Mattew sudah terlebih dulu menyantap sarapan. Andrew minum susu dan mengambil selembar roti tawar. Saat ingin mengoles roti, ponselnya berdering. Andrew meletakan roti dipiring dan mengeluarkan ponselnya dalam saku jas. Andrew menerima panggilan, panggilan dari sekertarisnya. Andrew mengiyakan dan segera memutus panggilan.
Andrew memasukan kembali ponselnya dan mengambil kembali roti tawarnya di piring. "Ma, aku pergi ke kantor. Ada pertemuan penting. Jaga diri mama. Bye.." kata Andrew yang sedang terburu- buru berangkat ingin ke kantor.
"Habiskan susumu Andrew." Seru Kim Ha Na.
Andrew tersenyum, menghabiskan susunya. "Bye mama, Mic, Matt.." Andrew bergegas pergi meninggalkan meja makan.
Kim Ha Na terpaku melihat Andrew, Kim Ha Na merasakan sesuatu yang berbeda dari Andrew. "Semoga hanya perasaanku saja." Batin Kim Ha Na.
♡♡♡♡♡
Di ruang rapat, suasana menjadi tegang karena ini pertama kalinya Andrew memimpin rapat besar. Andrew duduk di kursi yang biasa dipakai papanya duduk. Andrew fokus mendengarkan presentasi dari seseorang yang berdiri agak jauh darinya.
Beberapa saat kemudia presentasi selesai, Andrew meletakkan dokumen yang ada ditangannya diatas meja.
"Apa ini kemampuan kerja kalian? Hanya ada kata mungkin dan mungkin! Tidak ada kata mungkin mulai dari detik ini. Saya ingin kepastian, coret semua klien yang tidak menguntungkan. Cabut investasi yang tidak akan menghasilkan apa-apa. Rapat selesai!" Andrew berdiri dan pergi meninggalkan ruang rapat.
Semua bergosip, tidak ada yang mengira jika Andrew mempunyai sisi yang kejam. Beberapa mengatakan ini adalah dampak dari kehilangan sosok ayah.
Alvin berdiri di samping Andrew. Andrew sibuk menandatangani berkas dokumen yang berikan Alvin. Beberapa saat kemudian Andrew selesai, Alvin meringkas berkas dokumen. "Tuan, apa keputusan anda tidak berlebihan? Mereka yang akan dicoret dari daftar adalah rekan bisnis kita sejak dahulu." Alvin memberanikan diri bicara.
"Sudah aku putuskan, lakukan saja sesuai perintahku!"jawaban dingin Andrew.
"Tapi tuan.. jika tuan Abed tau pasti beliau akan kecewa dengan sikap anda." Alvin menambahkan.
Andrew memukul meja di hadapannya, mengejutkan Alvin. Andrew menatap Alvin dengan tatapan mata yang tajam. "Jangan ungkit nama papaku paman! Paman pergi dari ruanganku, aku tidak mau dengar siapapun membicarakan nama papaku mulai dari sekarang." Kata Andrew penuh penekanan.
"Baiklah, saya permisi tuan. Maaf telah menyinggung anda." Alvin langsung pergi setelah meminta maaf.
"Paman Alvin maaf! (Kata Andrew dengan tiba-tiba. Menghentikan langkah Alvin.) Tolong mengerti, aku hanya ingin perusahaan kita lebih baik. Sebelum aku ke Inggris aku harus tangani beberapa kendala perusahaan. Dan aku ingin apa yang aku petintahkan terlaksana. Maafkan aku paman, ini sudah menjadi keputusanku." Ucap Andrew.
__ADS_1
Alvin berbalik dan tersenyum pada Andrew. "Tidak masalah, semoga keputusan anda bisa menjadikan perusahaan ini menjadi lebih baik lagi tuan muda. Saya permisi." Jawab Alvin yang langsung berbalik dan pergi.
Andrew terdiam, Andrew kembali memukul mejanya.
Braaakk..
(Suara meja dipukul)
"Sial! Kenapa aku ini. Begitu emosi mendengar nama papaku sendiri. Arrrgghhh Andrew apa kamu sudah gila? Hanya karena tak ingin mendengar nama papamu kamu bisa meledak seperti ini." Andrew duduk di kursinya melonggarkan dasinya dan membuka kancing kemejanya paling atas. Nafasnya terasa sesak.
Diluar ruangan Andrew, Alvin berdiri di depan pintu. Sebenarnya Alvin tidak keberatan atas apa yang akan dilakukan pada perusahaan. Hanya saja Alvin merasa cemas, Andrew menunjukan sikap yang berbeda dan terlihat tertekan. Alvin hanya bisa mengehela nafas panjang, berharap semua akan baik baik saja.
♡♡♡♡♡
Inggris..
Felix, Mely dan Flip sudah sampai di rumah. Mely mendekati Flip dan melepas masker yang dikenakan Flip untuk menutupi wajahnya. Mely sangat penasaran karena Flip tidak pernah memakai masker. Flip terkejut, maskernya terlepas dari wajahnya, Mely kaget melihat pipi kiri Flip merah.
"Astaga, apa ini?" Ucap Mely memegang wajah Flip.
Felix mendekati Mely dan melihat, Felix tertawa melihat bekas merah dipipi Flip. "Ahaha.. apa itu? Siapa yang melakukan itu Flip? Siapa gadis itu?" Felix menggoda Flip.
"Ah nyamuk.." kata Mely menatap Felix dan tersenyum.
"Nyamuk itu pasti nyamuk betina yang menyukai putraku yang tampan." Felix kembali menggoda Flip.
"Papa dan mama aneh. Sudahlah, aku ingin mandi dan tidur. Bye papa mama." Flip berjalan cepat menuju kamarnya.
Mely dan Felix saling menatap. Felix merangkul Mely dan tersenyum tampan. "Hei, kamu pikir anak kita sudah memiliki kekasih?" Tanya Felix.
"Entah, benarkah dia seperti itu? Alex bukan anak nakal sepertimu tuan Collyn, begitu juga anakku. Tidak mungkin bermain dengan gadis-gadis liar." Jawab Mely.
"Ya baiklah, apa katamu saja sayang. Aku tidak ingin kita berdebat, ayo kita mandi dan istirahat." Ajakan Felix. Mely dan Felix berjalan bersama masuk ke dalam kamar mereka.
Flip membuka pintu dan keluar dari kamar mandi. Felix terkejut melihat Naomi berdiri dihadapannya, Naomi menatap Felix dan terkejut melihat Flip yang hanya mengenakan celana pendek tanpa mengenakan pakaian.
"Kamu.." kata Flip.
__ADS_1
"Hai.." sapa Naomi.
"Mau apa lagi? Kamu bahkan mengikutiku sampai aku kembali pulang ke rumahku. Aku akan benar-benar memusnahkanmu hantu jelek." Ucap Flip, Flip berjalan melewati Naomi, mendekati lemari pakaiannya.
"Kakakku akan datang." Suara Naomi lembut.
"Lalu? (Membuka lemari, mengeluarkan pakaian dan mengenakannya) jangan ganggu aku, pergilah." Flip naik ke ranjang dan bersandar bantal, membaca bukunya.
"Tolong kakak ku." Ucap Naomi.
"Hmm.. nanti aku pikirkan, kembalilah ke asal mu." Flip tetap menatap bukunya.
"Tolong kakak ku Flip." Suara lembut Naomi di telinga Flip membuat Flip terkejut sampai-sampai Flip lompat turun dari ranjang.
Naomi sudah ada diatas ranjangnya, Flip merasa kesal pada Naomi karena terus menerus di ganggu. Flip membuka laci lemari di sisi ranjangnya, hendak mengeluarkan sesuatu, namun niatannya diurungkan karena melihat tatapan Naomi yang terlihat begitu sedih.
"Ahhh kenapa aku tidak bisa mengusirnya. Kenapa aku jadi lemah seperti ini? Menyebalkan! Hantu ini sangat menyebalkan." Batin Flip kesal.
Flip menatap Naomi, Naomi memasang ekspresi wajah yang sedih. Hati Flip terenyuh melihat Naomi. Flip naik kembali ke atas ranjangnya dan bersandar, memeluk bantal.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak akan berjanji untuk membantu kakakmu. Aku akan ingatkan saja, selebihnya itu urusan kakakmu. Jadi berhenti mengikutiku. Oke." Jelas Flip.
Naomi tersenyum, Naomi terlihat senang dan langsung memeluk Flip. Flip terkejut, seketika tubuhnya dingin. Flip tidak bisa bicara karena terkejut, seakan mulutnya terkunci.
"Terimakasih tuan tampan baik hati. Aku tau kamu pasti mau membantuku. Aku senang sekali." Mengeratkan pelukan.
Flip merasa sesak, Flip menutup matanya merasa kesal sekaligus tidak tega. Kesal karena Naomi langsung memeluknya tidak tega karena sebenarnya Naomi adalah hantu yang baik.
@@@@@..... @@@@@......
Hallo hallo..
Jangan lupa like,, komen,, dan vote ya..
Terimakasih..
Sampai jumpa di episode selanjutnya..
Bye bye..
__ADS_1
♡Dea Anggie😉♡