Lelaki Bayaran Amelia

Lelaki Bayaran Amelia
S2 - EPISODE 121


__ADS_3

Lovely ada di meja makan, duduk di kursi dan menikmati puding mangga susu buatan mamanya. Alex duduk di samping Lovely, dan berbincang dengan Lovely.


Alex: kak, apa yang kamu lakukan di rumah paman Abed? Hmmm.. apa kamu dan kakak Andrew.. (kata kata terputus)


Lovely: tidak, aku dan Andrew tidak ada apa apa. Dan tidak akan pernah ada apa apa diantara kami. Jangan berfikir macam macam. Kamu tau, kita semua hanya akan bisa menjadi saudara bukan? Jika ada hubungan pun, belum tentu papa, mama, pamam Abed dan bibi Kim setuju. Berbeda denganmu dan dia.. (tersenyum menatap Andrew)


Alex: dia, dia siapa?


Lovely: siapa lagi Alex, tentu saja Stela.


Alex: aku tidak menyukainya. Biarkan dia memilih pria lain. Aku akan menemukam wanitaku sendiri kelak.


Lovely: hmmmm.. baiklah baiklah.. aku selalu kalah denganmu jika kita berdebat. Makanlah pudingmu, ini sangat lezat.


Alex: kenapa kakimu kak?


Lovely: saat aku berbalik kakiku salah posisi dan terkilir. Salahku karena tidak memperhatikan gerakanku. Jangan cemaskan aku, aku baik baik saja.


Alex: kakak tau kan, seperti apa aku jika kakak terluka. Kakak sudah dewasa, sudah seharusnya bisa menjaga diri kakak sendiri. Jangan merepotkan orang lain. Dan ya.. jangan membuat papa dan mama cemas.


Lovely: iya adikku yang paling tampan. Kakak akan mengingat pesanmu. Oke..


Alex: setelah ini kakak ke Inggris, aku tidak akan bisa melihatmu lagi.


Lovely: pergilah ke Inggris. Kita bisa betemu jika kamu rindu, kakak juga akan pulang sesekali. Pasti kakak akan merindukan papa dan mama.


Alex: baiklah, aku akan datang mengunjungi kakak. (Tersenyum) aku pasti kesepian jika tidak ada kakak. Biasanya aku selalu mengomelimu. Entah aku bisa tahan atau tidak jika hanya diam.


Lovely: hahahaha.. (tertawa kecil) knenapa kamu semakin lama semakin mirip dengan mama Lex. Sangat mirip, mmmmmhh.. pantas saja di sebut anak mama.


Alex: kamu selalu begitu, aku juga anak papa. Bukan hanya anak mama. (Kesal)


Lovely: asataga, hei.. jangan kesal seperti itu. Oke, kita anak papa dan mama. (Tersenyum)


Alex: setuju... (senang)


Alex melahap puding mangga susunya. Begitu juga Lovely.


 


Andrew duduk di sofa, Andrew melihat Brian dan Amelia yang sedang berbincang, bercanda tawa bersama yang lain. Andrew merasa iri, kenapa dirinya tidak bisa seperti itu. Berkumpul bersama keluarganya.


\(Dalam hati Andrew\)


Andai saja mama masih ada, pasti aku akan merasakan kebahagiaan seperti mereka. Jika dipikir lagi, aku hanyalah orang asing disini. Aku bukan anggota keluarga atau kerabat mereka. Aku hanya orang luar yang di besarkan oleh kerabat bibi Amelia. Hmmmm..


Brian melihat Andrew duduk seorang diri. Andrew hanya bermain ponsel di tangannya tanpa ekspresi. Brian berdiri dari duduknya dan membawa puding mangga susu di piring bersamanya. Brian berjalan mendekati Andrew, Brian menyodorkan piring berisi puding mangga susu ke hadapan Andrew. Andrew melihat puding di depannya lalu melihat ke arah Brian.


Andrew meletakan ponselnya di sofa dan langsung menerima piring berisi puding yang diberikan Brian.


Andrew: terimakasih paman..

__ADS_1


Brian: ya, makanlah. Ini enak.


Brian duduk di samping Andrew, di tangam Brian juga ada sepiring puding mangga susu. Brian makan puding dengan santai. Andrew masih diam, tak tahu ingin bicara apa. Dan belum bernafsu untuk makan puding.


Brian: ada apa? Jangan sering sering melamun Andrew. Itu tidak baik.


Andrew: ya paman. Maaf..


Brian: Jangan pikirkan hal hal yang tidak perlu dipikirkan. Pikirkan apa yang ada dan apa yang kamu jalani sekarang. Jangan berfikir terlalu keras, sekeras apapun usahamu untuk melakukan sesuatu jika Tuhan tidak kehendaki jadi makan semua akan sia sia. Jalani saja, dan nikmati semuanya dengan prosesnya. Percayalah, kesungguhan dan ketekunamu tidak akan sia sia.


Andrew: paman.. boleh aku bertanya?


Brian: ya, tanyakan. Apa yang ingin kamu tahu.


Andrew: hmmm.. maaf sebelumnya jika pertanyaanku menyinggung paman. Tapi aku hanya ingin tahu saja, tidak ada maksud lain.


Brian: ya ya ya.. aku mengerti. Hmm.. katakan, apa itu?


Andrew: apa di awal pertemuan paman dan bibi, paman sudah menyukai bibi atau bibi yang menyukai paman?


Brian: ahhh soal asmara ya.. \(tersenyum, menatap Andrew\) baiklah, aku akan ceritakan kisah cintaku dan Amelia padamu. Dengarkan baik baik nak..


\(Brian bercerita\)


Awalnya aku hanyalah seorang yang tidak memiliki apa apa, tentu kamu tahu itu. Sebelum nya aku juga sudah cerita kepadamu. Mungkin ini yang dinamakan takdir Tuhan.


Disaat aku kehilangan arah tujuan, aku bertemu Amelia. Dan disaat yang sama Amelia sedang butuh bantuan. Aku membantunya, dan dia membetiku upah. Tidak disangka, Amelia menawariku ikut dengannya ke Amerika. Dia mengatakan akan memberiku upah lebih dari besar.


Karena aku lelah dengan keadaanku dan sudah putus asa, maka aku iyakan ajakan Amelia. Kamu tau, jauh dalam benakku sebenarnya aku membenci Amelia. Aku berfikir Amelia adalah seorang wanita nakal yang hanya akan memanfaatkan kami orang orang miskin dengan uang dan kekuasaannya.


Aku terus berfikir negatif pada Amelia. Aku berfikir, apakah wanita di hadapanku yabg berbicara manis adalah wanita yabg baik? Atau justru sebaliknya, dia hanya berpura pura baik demi tujuannya.


Bahkan aku pernah berfikir, apakah aku akan dijual oleh Amelia? Rasa takut ada, rasa ingin hidup lebih baik ada. Semua rasa bercampur menjadi satu. Namun aku tidak mempunyai pilihan selain mengikuti Amelia dan bertahan.


Aku pasrah dengan keadaan. Diperjalanan aku hanya bisa berdoa dan terus menyakinkan diriku jika aku bisa. Aku pasti bisa! Setidaknya aku mendapatkan tempat tinggal, makan dan upah. Itu saja sudah cukup. Menjadi apapun akan aku lakukan, pekerjaan apapun akan aku jalani asalkan aku tidak membunuh orang atau melakukan perdagangan gelap.


Ketakutanku semakin memuncak saat aku tiba di rumah Amelia. Rumah yang besar dengan beberapa pelayan di dalamnya. Amelia langsung mengajakku naik ke lantai dua rumahnya, kami berhenti di sebuah kamar. Kamar yang bersih dan rapi. Amelia mengatakan jika kamar itu adalah kamarku. Dan akan menyiapkan segala kebutuhanku.


Diluar dugaanku, Amelia memberiku segalanya. Pakaian bagus, kamar yang nyaman, fasilitas yang mewah. Dan yang lebih mengejutkan Amelia juga memberikan sahamnya padaku. Di situ aku juga sempat berfikir untuk memanfaatkannya. Namun niatku itu sirna kala Amelia menceritakan kondisi dan keadaan keluarganya padaku.


Dibalik ketegaran dan ketangguhannya, tersimpan luka yang mendalam. Luka kehilangan orangtua bahkan kehilangan seseorang yang dicintainya. Aku mulai memahami situasinya, aku menjalankan pekerjaanku sebagai seorang "Lelaki Bayaran" lebih tepatnya "Lelaki Bayaran Amelia"


Awlanya hanya menjadi pion untuk menyingkirkan seorang pria yang mengejarnya. Juga seseorang yang jahat padanya, Amelia membentukku menjadi lelaki yang sempurna, Amelia menyakini jika aku mampu menyingkirkan mereka semua. Sandiwara demi sandiwara kami jalankan. Kami melakukan hal hal sesuai naskah sekenario.


Karena terbiasa bersama, melakukan apa apa bersama aku semakin takut jika harus kehilangan Amelia. Aku takut aku dibuang, aku dicampakakan dan dilupakan. Karena jauh didalam lubuk hatinya hanya ada seorang pria dan itu bukan aku. Baginya aku hanya sebatas rekan bisnis. Dia menciumku memelukku, dan tidur denganku semata mata hanya untuk kesenangan saja.


Waktu terua berjalan, aku semakin dekat dengan Amelia. Hubungan kami juga sudah seperti pasangan pasangan pada umumnya. Selama waktu itu pula aku akhirnya yakin akan perasaanku padanya. Aku sangat mencintainya, bukan karena dia orang yang kaya dan membantuku. Ada hal yang aku sukai darinya, dia selalu mmeberiku semangat dsn dukungan. Selalu meyankinkanku untuk berjuang bangkit.


Dia selalu terbuka kepadaku, menerimaku apa adanya. Tidak pernah menuntutku harus menjadi pria impiannya. Dia hanya ingin, aku berjalan bersamanya dsn melindunginya. Karena hanya aku yang dia miliki. Begitu juga diriku, saat itu hanya memiliki Amelia. Hanya Amelia.


Aku berusaha meyakinkan hatinya jika aku tulus mencintainya. Dan ingin melindunginya seumur hidupku. Amelia hanya tersenyum dan memintaku untuk bersabar. Aku tau, sulit baginya untuk membuka hati. Karena banyak kejadia yang membuatnya takut mengenal lelaki asing.

__ADS_1


Perjuangaku tidak berakhir begitu saja. Aku terus memberinya perhatian, cinta, dan kasih sayang. Aku melindunginya, aku bahkan rela jika mati untuknya. Karena aku memamg tidak ingin melihatnya bersedih dan terluka.


Aku terus mencoba menjelajahi hatinya. Sampai akhirnya aku melamarnya, sepulang kami dari indonesia. Aku langsung melamarnya di bandara. Aku tidak peduli akhirnya dia menerimaku atau tidak, yang terpenting saat itu aku benar benar ingin mengungkapkan isi hatimu kepada wanita yang aku cintai. Aku meminta bantuan orang orang bahkan staf karyawan di bandara. Pilot dan pramugari aku juga melibatkan supir taxi dan pelayan di rumah.


Hatiku berdebar, perasaanku kacau antara senang dan sedih. Senang karena aku bisa meluapkan cintaku yang sudah lama aku pendam. Sedih, saat aku ingat jika dihatinya hanya ada kekasihnya yang sudsh tiada. Dan aku sedih jika aku ditolak. Aku terus berdoa, aku sangat berharap Amelia mau menerimaku dan berusaha membuka hati untukku.


Keringat dingin keluar, jantungku sudah melompat entah kemana. Badanku terasa lemas, aku hanya bisa menunggu sebuah jawaban. Sampai aku mendengar kata "Ya" dari mulut Amelia. Jawaban yang tidak pernah aku bayangkan. Aku sangat bahagia saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri. Tidak akan pernah melukai hati dan perasaan Amelia. Akan menjaga Amelia sampai akhir usiaku. Aku berjanji tidak akan membuatnya menangis.


Aku memberikan seluruh hatiku dan jiwaku sepenuhnya disaat aku mengucap janji pernikahan. Perjalanku tidaklah semudah yang dipikirkan orang lain. Menikahi wanita kaya dan akan langsung hidup bahagai. Semua butuh perjuangan, butuh usaha. Aku harus berdiri sendiri meski Amelia menyokongku, aku tidak ingin berpangku tangan hanya menagandalkannya. Aku membangun perusahaanku sendiri perlahan lahan. Sampai akhirnya bisa berdiri sekuat sekarang.


Ya begitulah kira kira kisaha kami, sampai kami dikaruniai seorang bayi perempuan dan dikaruniai seorang bayi laki laki. Mereka adalah Lovely dan Alex, kini merelah yang menjadi semangat kami untuk tetap bertahan dan merekalah kebahagiaan kami. Lovely dan Alex segalanya untuk ku dan Amelia.


(Cerita berakhir)


Andrew: wow.. Aku terkesan! Begitu panjang berjalanan hidup paman sampai akhirnya paman mendapatkan kebahagiaan.


Brian: dengarkan baik baik nak. Kunci kebahagiaan hanya


"Bersyukur" ,


"sabar",


"iklas",


dan "rendah hati"..


Andrew: papa juga mengatakn itu. Apa papaku belajar dari paman?


Brian: paman bukan orang penting sampai papamu harus belajar dari paman. Paman sendiri masih banyak kekurangan.


Andrew: paman Brian terlalu merendah.


Brian: tentu saja, dihadapan orang yang meninggi. Kita harus merendah. Kita merendah bukan karena kita adalah orang orang rendahan, melainkan kita menghindari hal hal yang bisa merugikan diri sendiri. Lebih baik menghindari jika kita bisa hindari, selagi kita bisa lakukan maka lakukan. Jika kita tidak mampu lakukan makan berhenti dan beristirahatlah sejenak.


_____@@@@@_____


Heiloooo semua,, hai hai..


Hai.. hai..


Kita bertemu lagi,, hehe..


Terimakasih semua, kalian sudah mau terus setia membaca karya saya ini.


Jangan lupa beri dukungan kepada saya, dengan cara berikan like,, beri komen dan vote..


Sampai jumpa.. bye bye..


Salam kasih,,


-Dea Anggie-

__ADS_1


 


 


__ADS_2