
♡Amelia♡
Aku gelisah. Brian kenapa belum juga pulang? Lovely dan Andrew sudah kembali. Aku mencoba menghubungi ponsel Brian.
(Panggilan tersambung)
Amelia: sayang kamu dimana? Kenapa belum kembali?
"Hallo, ini dengan keluarga tuan Candra?"
Deg!
Suara orang asing. Dimana Brian?
"Hallo"
Amelia: i.. iya, saya istrinya. (Suara bergetar karena takut)
" tuan Candra ada di rumah sakit A. Tuan Candra tertembak"
Duaaarrr!!
Bagai disambar petir, aku langsung menjatuhkan ponselku. Air mataku menetes. Brian.. dia terluka lagi?
Abed menahanku saat aku akan jatuh.
Abed: tenangkan dirimu Amelia.
Amelia: aku harus ke rumah sakit.
Aku berlari masuk dalam kamar. Mama Amanda menatapku, aku berlari memeluknya.
Amanda: ada apa sayang?
Amelia: Brian terluka ma, dia rumah sakit sekarang. Aku akan pergi kerumah sakit. Mama tolong jaga Lovely ya, aku akan segera kembali.
Amanda: (terkejut) baiklah sayang. Mama akan menjaga Lovely. Pergilah, semoga suamimu baik baik saja.
Amelia: aku pergi ma..
Aku mencium kilas kening anakku. Lalu keluar kamar. Aku pergi kerumah sakit bersama Abed. Sepanjang perjalanan aku terus gelisah dan cemas. Pikiranku sudah memikirkan hal hal aneh. Aku takut Brian seperti Daniel. Aku harus bagaimana jika hidup tanpa Brian?
Abed: tenangkan dirimu Amelia. Brian pasti baik baik saja.
Amelia: aku sangat cemas, aku khawatir.
Aku menggit ujung ibu jari tangan kananku. Berusaha tenang dan mengatur nafasku. Mobil berhenti, aku segera turun dan masuk dalam rumah sakit. Aku menuju bagian resepsionis.
Amelia: maaf, ada pasien yang teluka tembak atas nama Brian antonius Candra?
"Tuan Candra di ruang operasi nyonya"
Amelia: terimakasih.
Aku berlari, Abed menyusulku berlari. Aku akhirnya sampai di ruang operasi. Aku menunggu di ruang tunggu. Aku duduk dan menunduk. Air mataku terus menetes.
Abed merangkulku, mengusap lembut punggungku. Abed berusaha menghiburku.
(Dalam hati Abed)
Ayo Brian.. kamu harus bertahan! Aku yakin kamu masih ingin bersama istri dan anakmu kan? Ayo Brian.. ayo.. jangan sampai ada apa apa denganmu. Kamu harus selamat! Harus! Aku tidak akan biarkan sesuatu hal buruk terjadi padamu.
Dua orang polisi menghampiri kami. Mereka menatap kami, aku pun menyeka air mata dan berdiri. Abed mengikuti berdiri.
"Maaf, dengan nyonya Candra?"
Amelia: ya, ada masalah? (Panik)
"Saya ingin mengembalikan ponsel dan dompet tuan candra" (memberikan)
Amelia: (menerima dengan tangan gemetar) bagaimana bisa suamiku terluka? Bagaimana dengan Owen?
"Kami menembak owen. Dan Owen meninggal dilokasi kejadian. Sayangnya sebelum Owen meninggal dia sempat melesatkan tembakan kearah tuan Candra. Sehingga melukai tuan Candra"
Amelia: (menangis) Brian..
Abed: terimaksih. Mohon bantuan anda mengurus pria bernama Adit. Mereka berkomplot.
"Ya tuan, saya akan tangani. Saya akan pastikan Adit mendapatkan hukuman berat. Karena dia malarikan diri dari penjara dan melakukan kejahatan lagi"
Abed: baiklah, saya menunggu kabar baik dari anda.
"Nyonya kami ikut bersedih atas kejadian hari ini. Mohon maafkan kami yang kurang waspada."
Amelia: ya, tidak apa apa. Terimakasih sudah membantu suami saya.
"Sama sama. Kami permisi, nyonya, tuan"
Dua polisi itu pergi. Aku memeluk Abed dan menangis keras. Air mataku tak berhenti mengalir. Abed memelukku erat.
Amelia: aku takut kak, aku takut!
Abed: sayang, tenanglah. Jangan menangis. Brian pasti baik baik saja. Lebih baik kita berdoa saja.
Amelia: (melepas pelukan dan menyeka air mata) aku takut kehilangan Brian kak, aku takut hal yang sama terjadi lagi.
Abed: maaf Amelia. Aku tidak bisa membantu Brian. Aku menyesal tidak bersamanya (merasa sedih)
Amelia: tidak apa kak, kamu menolong Andrew saja aku senang. Kamu sungguh luar biasa. Meski Andrew bukan anak kandungmu, kamu begitu perhatian pada Andrew.
Abed: ya, aku menyayanginya. Seperti anakku sendiri.
Dokter keluar dari ruang operasi dan menghampiri kami. Perasaanku sudah campur aduk sekarang. Tanganku gemetar air mataku sudah diujung berkumpul pelupuk mata. Aku msngatur nafasku, menahan diri agar tidak menangis dan tenang.
"Apa kalian keluarga tuan Candra?"
Amelia: ya dok, saya istrinya.
Abed: saya saudaranya (cemas)
"operasinya berjalan lancar. Masih perlu waktu untuk pemulihan karena peluru yang bersarang cukup dalam. Dan juga pasien kehilangan banyak darah."
Amelia: jadi maksud anda? Apakah suami saya akan baik baik saja?
"Saat ini kondisi tuan masih kritis nyonya, tuan akan kami pindah ke ruang ICU"
Amelia: kritis? (Lemas tidak berdaya)
Abed: terimakasih dokter untuk informasinya.
"Saya permisi"
Dokter pergi meningglakan kami. Aku sangat sedih. Bagaimana ini, suamiku kritis. Aku hanya bisa berdoa dalam hati dan terus menunggu keajaiban Tuhan datang. Abed terus menenangkanku dan memberiku semangat.
Brian, bertahanlah demi kami. Cepatlah pulih sayang. Aku dan Lovely menunggumu. Kami mencintaimu...
__ADS_1
Hiks..
Hiks..
Hiks..
♡Amelia♡
Seminggu sudah berlalu. Meski kondisi Brian sudah stabil dan di pindah ke ruang perawatan, namun Brian masih belum sadarkan diri. Aku sedih melihatnya terkapar tidak berdaya seperti ini. Aku mendekat dan mencium kening Brian
Amelia: cepat sembuh sayang.
Mataku berat karena terlalu sering menangis. Aku menarik kursi maju, membenamkan wajahku di ranjang samping Brian. Perlahan lahan mataku tertutup dan terlelap tidur. Aku berharap saat aku bangun Brian juga bangun. Brian bangunlah, aku mohon buka matamu. Aku sangat merindukanmu.
○○○
♡Brian♡
Ouchh!!.. perutku nyeri sekali. Aku mencium aroma yang tidak asing. Ini pasti rumah sakit. Aku perlahan membuka mata, ahh.. ini sakit sekali. Aku melihat sekeliling, mataku tertuju pada sesuatu. Aku menggerakan tanganku,mengusap kepala seseorang yang tenggelam di sampingku.
Bossku, selalu seperti ini. Pasti menangis hingga mata bengkak. Dan tertidur karena lelah menangis. Aku membuka selimut perlahan. Menyingkap bajuku, aku meraba perutku aku merasa ada sesuatu yang menempel di perutku. Luka ini pasti dalam hingga terasa sangat sakit.
Aku mengatur nafasku, sial! Bernafas pun terasa nyeri. Aku berusaha bangun dan duduk. Oooohhh.. ayo Brian, tahan. Hanya luka seperti ini kamu tidak boleh menjadi lelaki lemah. Haaahhh aku sampai tersengal, akhirnya bisa duduk juga. Perlahan aku menarik selimut dan menyelimuti Amelia.
Aku membelai lembut rambut Amelia. Aku mendengar pintu terbuka. Seorang perawat datang. Aku memberi isyarat agar tidak bersuara. Perawat mengangguk dan mendekatiku. Perawat berdiri di sisi yang lain, dia memeriksa infusku.
Brian: tidak bisakah aku pulang?
"Belum bisa tuan, kami masih harus melakukan pemeriksaan ulang"
Brian: apa istriku selalu disini?
"oh iya, nyoya kadang lalu kembali. Saya sering melihat nyonya menangis"
Brian: aku lukaku dalam?
"Ya menurut catatan medis anda peluru bersarang sedikit dalam. Perlu waktu lebih lama untuk pulih. Apa anda menginginkan sesuatu? Apa perut anda sakit?"
Brian: ya sakit sekali.
"Efek biusnya menghilang, tidak salah jika sakit. Saya akan panggil dokter datang. Anda hanya perlu beristirahat tuan.
Brian: ya, aku mengerti. Terimakasih.
Perawat itu berjalan meninggalkan ruangan. Kepala Amelia bergerak. Dia mengangkat kepalanya dengan mata yang masih tertutup. Merentangkan tangannya ke atas. Lucu sekali, senyumku mengembang. Perlahan tangannya mengusap matanya. Amelia membuka matanya perlahan.
Dia terkejut melihatku, beberapa kali mengusap matanya. Seolah dia merasa ini adalah mimpi.
Amelia: Brian..
Brian: ya sayang. Ini aku, Brian. Apa kamu senang melihatku?
Amelia bangun dan memelukku perlahan. Dia terisak, aku menepuk punggungnya pelan.
Brian: jangan menangis sayang. Aku baik baik saja.
Amelia: (menangis) kamu membuatku cemas Brian. Membuat hatiku gelisah, dan tidak tenang seminggu ini.
Brian: maaf sayang. Maaf..
Amelia: (melepas pelukan) apa lukamu sakit?
Brian: hmm.. (mengangguk) sakit sekali.
Amelia: (meraba wajah Brian dan mencium kening Brian) aku akan panggil dokter jika kamu merasa tidak nyaman.
Brian: tadi perawat datang memeriksa. Aku sudah mengeluh dia akan bawa dokter kesini. Bagaimana Lovely kita?
Amelia: dia baik, mama yang menjaga. Kenapa kamu ceroboh? Sampai terluka.
Brian: ya aku tidak sempat menghidar. Owen, apakah dia??
Amelia: ya, dia meninggal. Sudah dipulangkan ke Inggris.
Brian: Abed bagaimana? Apa dia baik baik saja? berhasil membawa Andrew pulang? Aku tidak sempat bicara dengan Abed saat itu.
Amelia: ya, mereka baik. Adit sudah di tangkap. Kali ini dia akan di beri hukuman berat.
Brian: syukurlah mereka baik baik saja. Aku senang mendengarnya. Soal Adit tidak perlu dibahas lagi. Aku sudah beberapa kali berbaik hati. Dia tidak juga mengerti. Biarlah hukum yang bertindak.
Amelia: (mengusap kepala Brian) sudah, jangan dipikirkan lagi. Kamu pikirkan saja kesehatanmu.
Brian: iya bossku, terimaksih sudah menjagaku. Aku mencintaimu.
Amelia: aku juga mencintaimu.
Amelia mencium keningku lembut. Mencium kedua pipiku. Amelia tersenyum cantik. Senyumnya membuat hatiku tenang. Mengurangi rasa sakit yang melanda. Amelia, ada kamu disisiku adalah sebuah keberuntungan besar. Terimakasih isriku.
(Dalam hati Amelia)
Senang melihatmu bangun Brian. Aku akan manjaga dan merawatmu. Cepat sembuh sayang. Love you..
○○○○○
Amelia merawat Brian dengan penuh perhatian. Amelia selalu setia mendampingi Brian. Siaga menjaga Brian.
Brian: kapan aku boleh pulang?
Amelia: masih sakit ingin pulang?
Brian: aku rindu pada Lovely.
Amelia: aku akan bawa Lovely kemari. Kamu makan dulu, buburmu hampir dingin.
Brian: terimkasih sayang, kamu pasti lelah. Aku makan sendiri saja.
Amelia: diam dan duduklah, aku akan suapi.
Brian duduk bersandar bantal, Amelia menyuap bubur kemulut Brian. Brian terus menatap Amelia, Amelia menatap Brian dan tersenyum cantik.
Amelia: ada apa?
Brian: kamu cantik (tersenyum)
Amelia: jangan menggodaku sayang, makan dulu buburnya.
Brian: setelah makan, boleh aku menggodamu?
Amelia: tidak boleh, sembuhkan dulu lukamu. (Mencium kilas kening Brian) aku sudah menyuruh Boby mengurus kantor. Ada beberapa email masuk, aku sudah periksa. Jika kamu ada waktu periksa laporan yang dibawa Boby kemarin. Dokumen itu butuh tanda tanganmu sebagai direktur.
Brian: iya sayang, (membelai wajah Amelia) terimakasih sudah membantu pekerjaanku.
Amelia: sama sama, cepatlah sembuh. Oke?? (Meraih tangan Brian lalu menciumnya)
Brian menghabiskan bunurnya, Amelia menyiapka obat dan air minum. Brian meminum obatnya, Amelia mengusap lembut bibir Brian, menghilangkan sisa sisa bubur yang menempel di sudut bibir.
__ADS_1
Brian: bawa kemari laporannya, aku akan periksa.
Amelia: oke, tunggu (mengambil tasnya, mengeluarkan beberapa dokumen dari dalam tas. Ini, periksalah (memberikan pada Brian)
Brian: (menerima, dan mengerser posisinya) kemarilah dan duduk disampingku. Kamu bisa istirahat (tersenyum)
Amelia: baiklah (naik keranjang dan duduk di samping Brian, merebahkan kepala ke bahu Brian) fokusalah pada laporan itu. Jika terjadi kesalahan, aku akan potong gajimu. Bulan ini kamu banyak libur.
Brian: siap boss, aku akan fokus dan giat bekerja.
Amelia: hmmmmm.. (tertidur)
Brian sibuk memeriksa laporan. Amelia yang kelelahan tertidur. Brian mengintip Amelia dan tersenyum. Brian dengan perlahan meletakan kepala Amelia ke bantal. Brian mencium kilas bibir Amelia.
Brian: Perawat cantikku terlalu lelah menjagaku, sehingga tertidur. Selamat tidur sayangku. Aku mencintaimu.
Brian kembali fokus pada laporannya. Brian memeriksa detail setiap halaman. Matanya dengan teliti melihat angka angka yang tertera pada dokumen. Brian mulai menandatangani dokumen ditangannya. Setelah selesai Brian meletakan dokumennya di meja, disamping ranjangnya. Brian meraih ponselnya dan menghubungi Boby.
(Panggilan terhubung)
Boby: iya tuan..
Brian: ambilah dokumennya jika kamu ada waktu, aku sudah tanda tangan.
Boby: baik tuan, sepulang dari kantor saya akan datang ke rumah sakit.
Brian: iya, bagaimana kantor? Semua baik?
Boby: sangat baik, setiap pagi nyonya selalu datang. Beberapa rapat penting juga di hadiri nyonya. Kondisi kantor sangat baik tuan.
Brian: terimkasih boby, semua karena mu juga.
Boby: anda terlalu sungkan tuan. Apakah kabar anda baik baik saja?
Brian: ya aku sudah lebih baik.. oh iya, belikan aku bunga mawar merah.
Boby: ah, baiklah. Apa ada lain?
Brian: bungkus ice cream di kedai ice jalan XX. Rasa strawberry tanpa saus dan krim, pisahkan potongan buahnya. Jangan lupa bunganya boby, pilihkan bunga yang segar. Jangan membuatku malu di depan istriku (berbisik)
Boby: (menaham tawa) baiklah tuan. Saya mengerti. Saya akan pilih mawar terbaik, tercantik untuk nyonya. Spesial..
Brian: oke, hati hati Bob, thankyou. (memutus panggilan)
Brian meletakan ponselnya di atas dokumen. Dia berbaring di samping Amelia. Brian mencium kening Amelia, menciumi pipi Amelia.
Cup..
Cup..
Cup..
(Dalam hati Brian)
Kamu sungguh cantik sayang, membuatku selalu terpesona. Membuat jantungku selalu berdebar. Manisku.. terimakasih untuk semuanya, kamu setia menjaga dan merawatku. I love you..
Brian membelai lembut rambut Amelia, Memegang erat tangan Amelia, perlahan menutup mata. Brian terlelap tidur.
○○○
Boby sampai di ruangan Brian dan Amelia. Boby terkejut melihat kedua bosnya tertidur lelap dengan posisi berpegangan tangan. Boby tersenyum dan mengambil foto Brian dan Amelia. Boby meletakan bunga dan ice cream di meja samping Brian.
(Dalam hati Boby)
Maafkan aku tuan dan nyonya, aku diam diam mengambil foto kalian. Kalian adalah pasangan serasi yang aku banggakan. Selalu harmonis dan romantis.
Boby membangunkan Brian, Brian terbangun, Brian melihat Boby. Brian mengusap matanya beberapa kali.
Brian: kamu sudah datang?
Boby: baru datang tuan. Saya langsung bangunkan. Saya akan ambil dokumen dan langsung pergi.
Brian: (mengambil dokumen dan memberikan pada Boby) ambilah..
Boby: (menerima) baik tuan. Saya sudah letakan bunga dan ice cream nyonya dimeja. Saya permisi pulang. Semoga lekas sembuh.
Brian: terimakasih Bob.. hati hati..
Boby berjalan keluar ruangan. Brian membelai lembut wajah Amelia, Amelia membuka mata dan bangun. Amelia mengusap matanya. Amelia tersenyum pada Brian.
Amelia: hai..
Brian: hallo manis.. (mengambil bunga di meja dan memberikam untuk Amelia) ini untukmu sayang.
Amelia: (menerima dan mencium aroma wangi bunga) terimaksih sayang. Ada acara apa kamu memberiku bunga sebanyak ini?
Brian: ini adalah ungkapan terimkasihku padamu istriku. Kamu sudah menjaga dan merawatku. Selalu mendukungku, selalu mencintai dan menyayangiku.
Amelia: aaaa manisnya.. (tersenyum) kamu sangat manis sayangku.
Amelia memeluk Brian. Brian mengeratkan pelukan. Amelia dengan cepat melepas peluakan, dia teringat akan luka Brian.
Amelia: maaf, aku terlalu bersemangat Brian. (Cemas)
Brian: (terseyum) tidak perlu minta maaf. Oh iy, masih ada lagi (mengambil ice cream di meja) makanlah, sebelum mencair.
Amelia: wow sayang kamu memang yang terbaik. (Membuka box kotak ice cream)
Amelia makan dengan lahap, Brian hanya tersenyum melihat Amelia yang makan sampai belepotan. Tidak butuh waktu lama, ice pun habis.
Amelia: (tersenyum) hmmmm... enak
Ameli meletakan box kosong di meja, Amelia menatap Brian.
Amelia: sayang, terimakasih.
Brian tersenyum, mendekatkan wajahnya ke wajah Amelia. Brian mencium bibir Amelia. Menyapu bersih sisa sisa ice cream yang menepel di bibir Amelia.
(Dalam hati Brian)
Hmmm.. manisnya, aku suka..
Amelia meraba wajah Brian dan membalas ciuman Brian. Memberikan ciuman penuh cinta. Puas berciuman mereka pun saling memeluk.
Amelia: (melepas pelukan dan mentap Brian) i love you..
Brian: i love you too
Brian mendekatkan dahinya ke dahi Amelia, hidung mereka saling bertemu. Meraka saling memandang dan terseyum.
•Jangan lupa like dan isi kolom komentar•
•Terimakasih•
•Beri ☆ juga yaa•
__ADS_1