Lelaki Bayaran Amelia

Lelaki Bayaran Amelia
S2 - EPISODE 215


__ADS_3

Malam harinya..


Lovely mengenakan gaun pemberian Andrew. Lovely bercermin, gaun itu terlihat bagus dan pas di kenakan Lovely. Lovely tersenyum, pilihan Andrew terlihat mengesankan.


Tok..


Tok..


Tok..


Pintu diketuk perlahan, tidak lama pintu di buka. Brian berdiri di depan pintu, memanggil Lovely.


"Sayang, papa boleh masuk?" Tanya Brian.


"Masuklah pa, aku sedang merapikan rambutku." Jawab Lovely sibuk menyisir rambut.


Brian berjalan masuk dan menutup pintu kamar Lovely, Brian melangkahkan kaki mendekati Lovely. Brian berdiri di belakang Lovely yang duduk di depan cermin. Brian mengambil sisir dari tangan Lovely dan menyisir rambut Lovely dengan sangat hati-hati.


Lovely menatap cermin dan tersenyum, Brian menatap cermin sesekali dan tersenyum manis pada putrinya.


"Cantik sekali putri kesayangan papa, bagaimana bisa semua laki-laki tidak terpesona oleh mu jika seperti ini." Kata Brian.


"Papa, jangan menggodaku. Papa datang ada hal penting apa?" Tanya Lovely.


"Papa ingin memberikanmu sesuatu," Brian menyelesaikan tugasnya menyisir rambut Lovely.


Brian meraba saku celananya dan mengeluarakan sebuah kalung cantik dengan liontin berbentuk love♡. Lovely terkejut, Lovely sangat senang sampai matanya panas dan ingin menangis.


"Papa.." suara Lovely serak.


Brian membantu mengenakan kalung ke leher Lovely, Brian mencium kening Lovely.


"Love you baby, kamu akan selalu menjadi putri kecil papa. Putri kecil kesayangan papa." Ucap Brian dengan suara lembut.


"Papa, i love you too. Lovely sangat sayang pada papa. Terima kasih untuk hadiah yang papa berikan." Lovely tersenyum menatap Brian.


Brian meraba wajah Lovely, "ingatlah apa yang papa katakan ini. Meski kelak kamu sudah menikah dan menjalani kehidupanmu, papa tetaplah papamu. Papa yang akan mendengar keluh kesahmu, kekesalanmu dan juga semua hal yang membutmu tertekan. Papa tetap ada untuk menjadi pembela mu dan pelindung mu. Bahu papa.. (Brian menepuk pelan bahunya) akan selalu menjadi sandaranmu. Jangan pernah ragu berbagi semuanya, semua hal yang membuat hati dan pikiranmu tidak nyaman." Brian tersenyum, Lovely begitu bahagia sekaligus merasa terharu.


Lovely memeluk Brian dan menangis, "papa, teruslah baik-baik saja. Love ingin papa dan mama selalu sehat dan bahagia." Jawab Lovely.


"Kebahagiaan orang tua ada pada anak - anak mereka. Jika anak - anak mereka hidup baik dan sesuai harapan tentu kami para orang tua akan berfikir hal - hal yang baik juga. Jika melihat anak - anaknya sedih dan terluka, kami akan merasakan sedih juga merasakan sakit yang kamu rasakan. Terima kasih selalu mendoakan papa, mama, juga Alex. Kamu juga akan selalu dan selamanya ada dalam doa kami, dimana pun dan kemana pun juga kapan pun.


Lovely melepas pelukan dan menyeka aor mata, Brian membantu Lovely menyeka aor mata Lovely.


"Jangan menangis lagi, jangan pernah membuat papa sedih karena tetesan air matamu sayang." Brian mengusap bahu Lovely dengan lembut.


Lovely mengangguk, Brian mengulurkan tangan ke arah Lovely. Lovely memahami maksud papanya, menyambut hangat uluran tangan papanya.


Lovely dan Brian bergandengan tangan, berjalan keluar dari kamar Lovely. Brian menggenggam erat tangan putri kesayangannya sekaan tidak ingin lepas. Langkah kaki mereka akhirnya sampai di depan ruang tamu, di ruang tamu Amelia sudah menunggu.


Amelia menatap Brian dan Lovely, menyambut keduanya dengan senyuman cantik.


"Kamu sudah siap sayang? Cantik sekali putri mama." Ucap Amelia membelai wajah Lovely lembut.


Amelia mencium kening Lovely dan memeluk Lovely. "Kamu sudah tumbuh dewasa sayang, teruslah tumbuh menjadi wanita yang bijak, yang selalu menjaga tutur kata dan sikapnya. Mama selalu mendukungmu, karena kamulah cahaya hidup mama." Ucap Amelia.


Amelia merasa terharu, air matanya menetes. Amelia memeluk erat putrinya Lovely.


Brian tersenyum, memeluk istri dan putrinya bersamaan. Brian meraskaan apa yang Amelia rasakan, Lovely bukan lagi gadis kecil mereka. Lovely sudah tumbuh dewasa bahkan sekarang sudah ingin menikah. Brian dan Amelia harus rela melepaskan putrinya untuk menjemput kebahagiaan.


"Ah.. ini sungguh menyedihkan. Harusnya papa tidak ikut menangis." Guman Brian.


Lovely tersenyum, melepas pelukan Amelia dan menatap Brian. Lovely menyeka air mata Brian.


"Menangislah karena bahagia papa, jangan pernah menangis karena kesedihan. Meski kelak Lovely menikah dan akan tinggal terpisah dari mama dan papa, Lovely akan tetap datang melihat dan menemui papa juga mama. Hanya papa dan mama yang selalu menjadi penyemangat Lovely, pendukung Lovely. Bagaimana bisa Lovely melupakan kalian? Itu tidak akan pernah dan tidak akan bisa Lovely lakukan." Jawab Lovely dengan tegas.


Brian dan Amelia merasa senang, bangga akan ketegasan putri mereka. Alex diam-diam merekam dengan ponselnya, peristiwa yang mengharukan itu. Alex merasa terharu, air matanya tumpah, Lovely menatap Alex dan memeluk Alex.


"Alex, terima kasih juga untukmu. Karena kamu selalu menjadi pelindung kakak." Ucap Lovely.


"Tentu kak, kakak adalah kakakku, tidak ada yang boleh menyakitimu. Jika ada yang menyakitimu katakan padaku, aku akan membelamu. Tidak peduli siapa pun, aku akan melawannya untukmu." Jawab Alex bersemangat.


Lovely melepas pelukan, "orang yang menyakitiku akan takut dan tahluk akan ketampananmu sayang." Lovely menarik pipi Alex.

__ADS_1


Alex memegang wajahnya, merasa sakit namun juga merasa senang. "Lebih baik, papa, mama dan kakak berangkat sekarang jika tidak ingin terlambat." Kata Alex.


"Kamu yakin tidak ikut?" Tanya Lovely.


Alex mengangguk, "yakin, aku akan pergi dengan teman - temanku kak, kakak bersenang - senanglah dengan kakak ipar." Jawab Alex.


"Hati -hati Alex, datang lah ke rumah Stela dan ajak Stela pergi. Agar hubungan kalian semakin baik. Jangan berdikap dingin pada Stela." Kata Brian.


"Soal itu nanti kita bahas pa, aku ingin nonton bersmaa teman - teman saat ini." Jawab Alex.


"Sudah - sudah, Alex jangan pulang larut malam. Dan jangan makan, makanan cepat saji. Juga jaga sikapmu, oke?" Kata Amelia.


"Oke, mama tidak perlu cepas. Alex tidak akan mengecewakan papa dan mama, juga tidak akan merusak nama baik kelaurga. Alex akan menjadi anak yang baik," Alex tersenyum tampan.


Brian, Amelia dan Lovely pergi kelaur rumah. Mereka berjalan mendekati mobil dan masuk kedalam mobil, Alex melambai kan tangan melepas kepergian papa, mama dan kakaknya.


Mobil Melesat jauh, keluar dari halaman rumah. Alex tersenyum, masuk kedalam rumah dan menutup pintu. Alex menemui pelayan rumahnya dan mengatakan jika tidak perlu memasak untuknya, karena Alex akan makan diluar bersama teman-teman nya. Pelayan mengiyakan ucapan Alex, Alex berjalan perlahan menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap.


♡♡♡♡♡


Kim Ha Na, Marco dan Andrew baru tiba di restoran, tempat diadakannya acara makan malam bersama keluarga Brian.


Pelayan menyambut kedatangan Marco sekeluarga, "Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang pelayan dengan sopan.


"Maaf nona, bisa tunjukan meja kami? Kami sudah memesan tempat atas nama Marco Roobs." Jawab Marco.


Pelayan mengangguk, "saya akan memanggil pelayan yang bertugas mengurus pemesanan tempat. Silahkan masuk dan menunggu." Ucap pelan, pelayan itu melihat sekeliling, memanggil pelayan yang lain dan berbisik.


Pelayan yang satu pergi dengan langkah terburu-buru dan tidak lama kembali membawa buku daftar pemesanan.


"Petugas sedang ada keperluan, ini buku daftar pemesanan meja." Kata seorang pelayan mendekati pelayan yang melayani keluarga Marco.


Pelayan itu membuka buku dan mencari pemesan atas nama Marco. Pelayan itu menutup kembali buku dan menunjukan menuju tempat khusus di ruang belakang.


"Maaf atas keterlambatan pelayanan kami tuan, saya secara pribadi akan mengantar dan melayani anda sekeluarga. Mari silahkan," ucap pelayan menunduk sebagai tanda permintaan maaf.


Pelayan berjalan menuju tempat yang di pesan Marco. Marco, Kim Ha Na dan Andrew berjalan mengikuti. Kim Ha Na merangkul lengan Marco, mengamati tempat sekitar reatorant.


Pelayan membuka pintu, terlihat sebuah ruangan kecil dengan dekorasi mewah. Kim Ha Na kagum melihat keindahan dekorasi ruangan itu.


"Nona, kami akan memesan makanan dan minuman nanti. Karena kami masih menunggu tamu. Silahakan nona melanjutkan pekerjaan nona kembali."kata Marco.


"Baik tuan, saya akan datang lagi nanti. Silahkan melihat-lihat menu restorant kami. Jika membutuhakan pelayanan, silahkan menekan bel di samping anda. Saya permisi." Jawab pelayan.


Pelayan pergi, kembali menutup pintu ruangan. Andrew duduk bersandar, sabar menunggu kekasih hatinya.


"Bagaimana menurutmu, tempat ini?" Marco bertanya pada Kim Ha Na.


"Bagus, aku suka dekorasinya." Jawab Kim Ha Na.


"Bagaimana menurutmu Andrew?" Tanya Marco menatap Andrew, Andrew melamun, terlihat sedang tersenyum.


Marco menatap Kim Ha Na, Kim Ha Na mengangkat bahu dan menggeleng menandakan tidak tahu-manahu apa yang terjadi pada Andrew.


Kim Ha Na memanggil Andrew, memegang tangan Andrew yang ada di atas meja. "Andrew.." suara lembut Kim Ha Na.


Andrew terkejut, tersadar dari lamunannya. "Ahh iya.." jawab Andrew.


"Apa yang kamu pikirkan? Papa bertanya padamu, kamu melamun?" Tanya Kim Ha Na.


"Papa bertanya apa? Maaf pa, aku memikirkan hal lain." Andrew menatap Marco.


Marco tersenyum, "sudah sayang tidak apa-apa, biarkan Andrew larut dalam kebahagiannya.


"Maaf mama, aku telalu senang memikirkan Lovely." Jawab Andrew.


Kim Ha Na tersenyum, "apa yang kamu pikirkan sampai tidak menghiraukan kami? Ada apa dengan Lovely?" Tanya Kim Ha Na.


"Hmm sebenarnya aku telah memberikan Lovely sebuah gaun. Aku baru saja membayangkan jika Lovely mengenakannya, pasti terlihat sangat cantik." Ucap Andrew.


"Ah, mama ingat. Gaun yang kamu minta mama lihat itu bukan?" Kim Ha Na kembali bertanya.


"Iya ma," jawab Andrew.

__ADS_1


"Putraku sungguh menggemaskan." Kim Ha Na menarik pelan pipi Andrew.


Menunggu kedatangan Brian, Marco, Kim Ha Na dan Andrew berbincang. Membahas mengenai rencana pernikahan Julian dan Seira.


Andrew mengusulkan jika Julian bersedia bisa melangsungkan pernikahan bersama. Marco mengatakan jik Julian dan Seira masih ingin mengenal satu sama lain dan memilih tanggal pernikahan mereka sendiri. Marco tidak invin memaksa dan akan mendukung apa pun keputusan Julian.


@@@@@... @@@@@...


Hallo semua..


Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..


Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..


Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..


Jangan lupa berikan vote juga ya..


Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,


•Pelukan Hangat Paman Tampan


(End, jika tidak ada kendala akan saya lanjutkan sekuel dari UMEKO SAKURA LEWI yang akan menjadi season ke tiga dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Pangeran Es Jatuh Cinta


(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Suami Pengganti


•Pangeran Vampir


•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2)


•Vampir "Sang Abadi"


•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar


•Cinta Lama Yang Datang Kembali


•Mommy And Daddy (CLYDK2)


•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3


•Perfect Father


•Kamu Dan Aku


•Banyak ya.. (hehehe.. maafkan authornya lagi menggila bikin novel kala itu.. jangan khawatir pasti di tamatin semua kok..)


Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..


Terimakasih..


Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..


Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


Bye bye..


Salam hangat,


"Dea Anggie"

__ADS_1


__ADS_2