Lelaki Bayaran Amelia

Lelaki Bayaran Amelia
S2 - EPISODE 132


__ADS_3

"Hahaha.. kamu akan mati dan bertemu anak istrimu." Suara seorang pria yang sedang bahagia menyiksa seseorang di depannya.


"Minggir, bos mengatakan ini harus di akhiri!" Seseorang lain datang dan langsung mengeluarkan pistol dari saku jasnya.


Seseorang yang memegang pistol tersebut terlihat bangga. Menatap seseorang di depannya yang sudah kehabisan tenaga karena dipukuli. Dengan posisi yang menyedihkan, tangan dan mulut ditutup lalu diikat di kursi. Seseorang yang di ikat tersebut hanya diam dan tidak bergerak. Tanpa banyak berfikir lagi seseorang pria yang memegang pistol membidik ke arah kepala dan langsung menebak kepala seseorang yang di ikat di kursi.


Doooorrrr...


(Suara tembakan)


 


Mata Andrew terbuka, Andrew terjaga dari tidurnya. Andrew bangun dan memegang kepalanya yang terasa sakit. Satu tangan Andrew mere**s selimut.


"Aaaahhhh... sial! Kenapa terus bermimpi hal seperti itu. Tidak! Aku tidak mau melihat itu. Tidak! Pergi! Pergi!" Andrew histeris, Andrew berteriak juga menangis merasakan sakit dikepalanya, marah dan kesal karena mimpinya.


Tok..


Tok..


Tok..


(Suara pintu di ketuk)


Kleeekkk..


(Suara pintu)


Karena panik dan cemas mendengar jeritan Andrew, Abed masuk mengetuk pintu kamar Andrew dan masuk. Abed berjalan mendekati Andrew dan memberikan segelas air minum kepada Andrew. Andrew menerima gelas berisi air putih dan meneguk habis air dalam gelas. Tangan Andrew gemetar, Abed mengusap punggung Andrew berusaha menenangkan Andrew.


"Ada apa nak?" Tanya Abed dengan suara lembut.


"Mimpi itu pa, kenapa selalu menggangguku? Kenapa harus aku yang bermimpi buruk. Apa salahku pa, dan siapa yang ada dalam mimpiku? Jika aku tidak melihat wajahnya bagaimana bisa aku menolongnya? Ini sungguh menyiksa! Aku harus bagaimana?" Andrew mengeluh kepada Abed.

__ADS_1


Abed merasa sedih, lalu memeluk Andrew. "Tenangkan dirimu nak, tenang. Papa akan menemanimu, jangan cemas dan panik lagi." Abed melepas pelukan dan mengusap kepala Andrew.


"Papa tau ini sulit, maafkan papa nak papamu ini tidak bisa membantumu. Papa sendiri juga sedang dalam keadaan kacau saat ini." Abed menunduk merasa sedih.


"Ada apa pa? Papa kenapa? Ada masalah dinkantor? Atau papa sedang sakit?" Banyak pertanyaan yang Andrew berikan kepada Abed.


"Hei, ini bukan hal penting nak. Yang jelas tidak ada masalah dikantor atau masalah dnwgan kesehatan papa. Semua baik baik saja, hanya papa sedikit khawatir. Mamamu dan adikmu sering datang menemui papa dalam mimpi. Hanya tersenyum dan tidak bicara apa apa." Abed bercerita kepada Andrew.


"Mama Nikita? Dan adikku? Siapa adikku? Bukankah aku hanya mempunyai dua adik, Michael dan Mattew saja." Andrew penasaran.


"Ingat waktu papa bercerita jika mama Nikita meninggal dalam keadaan hamil? Anak dalam kandungan mama Nikita dia adalah anak perempuan. Dan dia adikmu, kamu belum pernah bertemu? Hmm.. bagaimana ya papa menggambarkan wajahnya, dia cantik dan berlesung pipi wajahnya mirip seperti papa" Abed menjawab pertanyaan Andrew.


Andrew berfikir dan kembali mengingat. Andrew teringat saat di rumah Brian, dia melihat sosok asing. Wanita cantik yang tersenyum padanya dan mempunyai lesung pipi. Andrew menatap papanya dan melebarkan mata.


"Aku pernah lihat pa, dirumah paman Brian. Dan tiba tiba hilang saat Flip mendat. Entah sepertinya takut kepada Flip Collyn." Jawab Andrew.


"Flip Collyn? Putra Felix Colly?" Abed mengerutkan dahi.


"Iya mungkin, kami baru bertemu kemarin dan ya dia memiliki kemapuan sama seepertiku pa. Dia bahkan mampu berbicara melalui suara hati." Andrew menjelaskan.


"Lupakan pa, dia aneh. Dia juga mengatakan hal hal aneh kepadaku dan Lovely." Andrew duduk bersandar bantal, memeluk bantal.


" apa salah nya mencoba berteman, jika tidak mengenalnya lebih dalam kamu tidak akan tau sifat dan karakternya nak. Papa besok akan pergi ke pesta lelang. Besok mama ada acara bazar amal, kamu antar mama ya." Abed naik ke atas ranjang dan duduk bersandar bandal, Abed duduk di samping Andrew.


"Pesta? Bisa papa tidak pergi?" Kata Andrew.


"Ada apa? Tidak biasanya kamu seperti ini. Papa sudah menerima dan mengatakan akan hadir nak, papa janji tidak akan lama\-lama disana. Setelah acara lelang selesai papa akan pulang. Sudah jangan dipikirkan, kembali lah tidur. Papa akan temani kamu tidur, ayo kita tidur." Abed masuk dalam selimut menata bantalnya dan berbaring tidur.


Andrew tersenyum dan berbaring di samping papanya. Andrew terus melihat kearah papanya, Andrew tiba tiba merasa sedih. Mata Andrew terasa panas dan ingin menangis. Andrew memejam kan mata berdoa dan berharap semua akan baik\-baik saja saat dia bangun dan membuka mata nanti.


 


Dalam mimpi Abed bertemu Nikita dan Naomi. Abed melihat Nikita dan Naomi berdiri jauh darinya, Abed mendekati Nikita dan Naomi. Nikita dan Naomi tersenyum kearah Abed, Abed memeluk Nikita dan Naom.

__ADS_1


Abed terjaga dan membuka matanya lebar, Abed duduk bersandar bantal. Abed menatap ke arah Andrew, Abed membelai lembut rambut Andrew. Matanya berkaca-kaca perasaanya menjadi sedih, dan tidak kacau tanpa sebab yang pasti. Abed tiba tiba saja menangis, air matanya jatuh menetes membasahi kedua pipinya.


"Apa ini, perasaanku begitu kacau sekarang. Aku tidak bisa berfikir lagi. Tiba-tiba merasa seakan aku akan kehilangan segalanya." Abed merasa kacau.


Abed mengusap kepala Andrew dan turun dari ranjang. Abed berjalan meninggalkan kamar Andrew. Abed menutup pintu kamar Andrew dan berjalan menuju dapur. Abed mengambil gelas dan botol berisi wine, Abed membuka botol wine dan menuang wine dalam gelas. Abed meletakan botol di meja, mengambil gelas berisi wine dan meneguk habis dalam sekali minum.


Abed terlihat tertekan, pikirannya kacau dan hatinya terus sedih tanpa sebab. Kim Ha Na melihat Abed yang sedang duduk diam di meja makan, Abed meletakan kepalanya di meja makan. Kim Ha Na mendekati Abed dan mengusap lembut kepala Abed, Abed mengangkat kepalanya menatap Kim Ha Na.


"Sayang, kamu tidak tidur?" Tanya Abed menyeka air matanya.


"Ada apa sayang, kamu tidak pernah seperti ini. Ada masalah apa sampai kamu minum banyak wine seperti ini?" Kim Ha Na merasa cemas melihat ke adaan Abed.


"Duduklah, temani aku minum." Abed menepuk kursi di sampingnya.


Kim Ha Na duduk di samping Abed, Kim Ha Na terus menatap Abed. Abed hanya diam dan tidak bicara apa-apa. Abed mengisi gelas dengan wine, meletakan botol wine. Di saat Abed ingin memegang gelas, gelas wine sudah lebih dulu di ambil Kim Ha Na dan Kim Ha Na langsung meneguk habis wine dalam gelas dengan sekali tegukan. Abed menatap Kim Ha Na, Kim Ha Na menatap Abed.


"Sayang, jangan ambil wineku." Suara Abed lembut.


"Kenapa tidak boleh, aku juga ingin minum." Jawan Kim Ha Na dengan santai.


Abed tersenyum, Kim Ha Na juga tersenyum. Mereka tertawa bersama, dan minum bersama sampai puas. Abed menceritakan keluh kesahnya kepada Kim Ha Na. Entah mengapa Kim Ha Na menjadi sedih mendengar keluahan Abed. Kim Ha Na berdiri dan pergi ke dapur untuk cuci tangan. Belum sampai mencuci tangannya Kim Ha Na sudah menagis, Kim Ha Na berdiri menyandarkan bahunya di dinding dapur.


@@@@@..... @@@@@.....


Hallo hallo..


Jangan lupa like,, komen dan vote ya..


Terimakasih banyak..


Sampai jumpa di next episode..


Bye bye..

__ADS_1


♡Dea Anggie😉♡


__ADS_2