Lelaki Bayaran Amelia

Lelaki Bayaran Amelia
Lelaki Bayaran Amelia 80


__ADS_3

Setelah selesai makan malam bersama, Max berpamitan untuk pulang. Brian dan Mely mengantar kepergian Max sampai di teras depan. Max naik kedalam mobilnya dan pergi. Mely menatap Brian, Brian menatap Mely.


Brian: ada apa?


Mely: ada waktu? Aku ingin bicara sebentar denganmu kak.


Brian: tentu saja, ayo kita bicara dan berjalan jalan di taman.


Brian berjalan, Mely mengikuti di belakang. Mereka berjalan perlahan menuju taman.


Mely: kak..


Brian: hmm..


Mely: kamu mengenal Felix Collyn?


Brian: (menghentikan langkah) ada apa? Max membahas sesuatu?


Mely: jawab dulu, kenal atau tidak. Tidak ada hubungannya dengan Max, kami hanya membahas soal Andrew tadi. Tidak ada membahas soal Felix.


Brian: ya, aku kenal. Kami tidak dekat.


Mely: Felix sahabat Abed bukan? Sahabat Owen juga. Kakak mengenal Owen?


Brian terkejut, berbalik dan melangkah mendekati Mely yang berdiri di belakangnya.


Brian: apa ini, kamu bertanya pertanyaan yang aneh Mely. Katakan padaku sejujurnya.


Mely menunduk, Brian menggandeng tangam Mely mengajak Mely duduk di bangku taman. Mely dan Brian duduk berdampingan. Mely pun mulai buka suara. Mely bercerita awal mula bertemu Felix, hingga niatnya mendekati Felix. Brian terkejut menatap Mely. Brian tak menyangka Mely akan melakukan hal berbahaya seperti itu.


Brian: kamu sadar akibat perbuatanmu Mely?


Mely: ya.. aku tau, hidupku pasti akan terancam. Mungkin Felix akan membunuhku.


Brian: apa saja yg sudah kau lakukan?


Mely: apa lagi, tentu aku merayunya. Jika tidak mana mungkin dia buka suara mengenai latar belakang dan masalah pribadinya. Tapi aku masih penasaran. Kenapa Felix membencimu.


Brian: karena aku sudah membuat saudaranya terbunuh. Owen tertembak oleh polisi saat ingin menghabisiku.


Mely: apa? Jadi..


Brian: ya karena itulah dia dendam padaku dan ingin menjatuhkanku. Dan juga dendam kepada Abed. Karena Abed lebih membelaku dibanding Felix. Begitulah kira kira.


Brian menceritakan kepada Mely kejadian dimana Andrew dan Lovely di culik. Kejadian dimana Owen mati tertembak oleh polisi, dan dirinya tertembak oleh Owen. Brian menceritakan semua hal dimasa lalu. Sampai kejadian terakhir yang menipa Nikita. Mely mendengar baik baik cerita dari Brian. Sesekali Mely mengangguk tanda mengerti.


(Dalam hati Mely)


Pria bodoh! Ini hanya salah paham. Disini Owenlah yang salah, bisa saja Owen mencuci otak Felix. Dasar Felix, aku akan jelaskan ini besok. Sekarang aku tau, aku mengerti dan sangat memahami situasi ini. Ini harus segera diluruskan, jika tidak Felix akan salah jalan.


Mely: (menatap Brian) ahh.. begitu ceritanya, baiklah. Aku mengerti sekarang, semua ini sebenarnya hanya salah paham. Bisa saja Owen bercerita yang tidak tidak kepada Felix, sehingga membuat Felix murka dan membenci kalian. Memecah belah persahabatan Felix dengan Abed juga.


Brian: ya, itu mungkin saja. Oh ya Mel, aku hampir lupa.. besok aku sibuk, Amelia sedang tidak sehat. Jika tidak keberatan bisa antar makan siang untuk Abed. Hanya untuk hari ini saja. Aku benar benar tidak bisa meninggalkan pekerjaanku besok.


Mely: oke, besok aku akan akan bawakan makan siang untuk Abed. Sekalian ingin bertanya soal Andrew. (Tersenyum)


Brian: thanks Mely, kamu yang terbaik.


Mely: jangan berlebihan kak, ini hanya bantuan kecil dariku untukmu. Sudah malam, sebaiknya kamu cepat tidur. Aku masuk ke dalam dulu kak, sudah sangat mengantuk.


Brian: ya masuklah dulu, aku masih ingin disini sebentar lagi.


Mely: oke kak, selamat malam, selamat tidur..


Brian: mimpi indah Mel, selamat tidur.


Mely berdiri dan pergi meninggalkan Brian seorang diri. Saat ingin masuk dalam rumah, Mely berpapasan dengan Amelia. Mely tersenyum pada Amelia. Amelia membalas senyuman mely.


Mely: malam kak Amel, aku masuk dulu.


Amelia: malam Mel, selamat tidur.


Amelia berjalan perlahan menuju taman. Amelia tersenyum tipis melihat Brian yang sedang duduk bersandar dan menatap bulan di langit. Amelia mendekat berdiri di belakang Brian, merangkul Brian.


Amelia: bulannya sangat cantik bukan?


Brian: hai, kenapa kesini? (Memegang tangan Amelia) malam ini sangat dingin sayang. Kemarilah, duduk disebelahku.


Amelia duduk di samping Brian, Brian merangkul Amelia dan mencium kening Amelia.

__ADS_1


Amelia: ada apa? Masalah apa lagi yang membuatmu gelisah?


Brian: (menempelkan kepalanya ke kepala Amelia) tidak ada, aku sedih kesehatanmu terus menurun sayang. Jagalah dirimu baik baik, jangan membuatku gelisah dan cemas.


Amelia: (menutup mata memeluk erat Brian) maaf sayang, maaf membuatmu cemas.


Brian menatap bulan di langit, Brian menutup matanya perlahan.


Brian: Amelia..


Amelia: iya, ada apa tuan Candra?


Brian: teruslah bersamaku. Menemaniku sampai tutup usiaku. Aku ingin hidup bahagia bersamamu dan anak anak kita.


Amelia membuka mata dan mencium lembut pipi Brian. Amelia meraba wajah Brian lembut.


Amelia: tentu Brian, sampai akhir kita akan terus bersama. Kamu segalanya untukku. Kamu, Lovely dan janin yang ada dalam kandunganku. Aku mencintai kalian semua, selalu dan selamanya.


Brian: (mencium lembut kening Amelia lama) apapun yang terjadi, tetaplah percaya padaku, aku tidak akan pernah mengecewakanmu sayang.


Amelia: jangan pernah berubah Brian. Teruslah menjadi Brian yang seperti ini. Brian yang baik hati, ramah dan selalu peduli pada orang lain. Sayang kepada keluarga. Aku selalu bangga padamu Brian.


Brian: terimakasih istriku. Kamu selalu setia mendampingiku. Sepanjang perjalanan kita, aku tak akan pernah bosan mengatakan jika aku sangat mencintaimu dan menyayangimu. Meski kelak kamu tidak cantik lagi, wajahmu kulitmu penuh dengan keriput, rambutmu berubah warna. Aku akan tetap mencintaimu. (Mencium lembut kedua punggung tangan Amelia secara bergantian)


Amelia: (meneteskan air mata memeluk Brian) thankyou Brian.. thankyou..


Brian memeluk erat Amelia, mengusap pungung Amelia dengan lembut. Amelia menangis terisak dalam pelukan Brian. Brian melepas pelukan, menyeka air mata Amelia dan mencium kilas kening Amelia. Brian berdiri dan menggendong Amelia, berjalan minggalkan taman.


♡♡♡♡♡


Keesokan harinya..


Mely menghubungi Felix, ingin bertemu dengan Felix. Felix sedang sibuk di kantor dan meminta Mely datang ke kantornya. Mely pun datang ke kantor Felix. Mely menemui bagian resepsionis meminta bertemu dengan Felix. Bukan sambutan baik yang didapatkan, melainkan sambutan buruk. Mely di acuhkan karena dianggap tidak penting. Mely merasa kesal dan akhirnya menghubungi Felix.


 


Felix sedang rapat, ponsel dimejanya bergetar. Felix melihat layar ponsel dan menerima panggilan. Felix memberi isyarat tangan untuk menghentikan rapat sejenak.


(Panggilan terhubung)


Felix: ada apa? Dimana kamu sekarang?


Felix: tunggu aku, aku akan keluar. (Memutuskan panggilan)


Felix berdiri dan meminta rapat di bubarkan. Felix berjalan keluar dari ruang rapat untuk menemui Mely.


 


Mely menghela nafas panjang. Menatap tajam ke arah dua orang resepsionis dihadapannya. Dari jauh Max menatap ke arah Mely, Max terkejut melihat Mely datang ke kantor Felix. Max menghampiri Mely. Dan bertanya..


Max: hai, ada apa ini?


"Hallo tuan Max, nona ini meminta bertemu dengan direktur. Sedangkan kita tau jika direktur sedang rapat dia pasti akan marah jika diganggu"


Max: biarkan dia masuk. Aku mengenalnya, kalian kembalilah bekerja.


"Baik tuan.."


Max menarik tangan Mely menjauh dari meja resepsionis. Mely tekejut tak mengerti dengan sikap Max. Max menghentikan langkahnya dan menatap tajam kearah Mely.


Max: untuk apa kamu kesini?


Mely: apa? Ada apa? Aku tidak perlu melapor padamu bukan?


Max: pulanglah, Felix terlalu berbahaya.


Mely: aku tau, kamu tidak perlu cemas. Dia baik padaku!


Max: Mely, dengarkan aku! Jangan dekati Felix lagi, okey? Aku tidak ingin kamu terluka. Felix pria jahat!


Mely: maaf Max, aku tau Felix jahat. Tapi hatiku mengatakan jika Felix tak akan pernah menyakitiku.


Max: apa maksdumu? Kalian bersama?


Mely: ada apa Max? Ada masalah apa?


Max: tidak ada.. (mengehela nafas) pergilah jika ingin pergi. Aku akan antar kamu menemui Felix. Jaga dirimu Mely.


Mely: (merasa sesuatu yang aneh) thanks Max. Jika ada sesauatu dalam hatimu yang ingin kamu sampaikan, katakan saja. Jangan kamu pendam. (Tersenyum)

__ADS_1


Max tersenyum melihat senyum cantik Mely, Max mengangguk menanggapi kata kata Mely.


Max: ayo, aku antar ke ruangan Felix.


Mely: oh.. oke


Max berjalan diikuti Mely. Mereka berjalan menuju ruangan Felix. Di tengah perjalanan, Max dan Mely bertemu Felix. Felix mendekati Mely dan tersenyum. Felix menatap Max.


Max: tuan, nona ini ingin bertemu anda.


Felix: mmmhh, pergilah! Lakukan pekerjaanmu. (Felix menggandeng Mely dan berjalan masuk kedalam ruangannya)


Mely menatap Max, Max terlihat sedih. Entah mengapa Max menjadi kecewa dan kesal saat melihat Mely dibawa oleh Felix. Max berbalik dan kembali ke ruangannya untuk bekerja.


Didalam ruangan Felix menghubungi sekertarisnya dan meminta memecat dua resepsionisnya. Segera mengganti dengan reseosionis yang baru. Mely terkejut, karena Mely hanya iseng mengadu dan Felix terlihat sangat kesal.


(Dalam hati Mely)


Bagaimana ini, suasana hati Felix sedang tidak bagus karena hal tadi. Tapi bagaimana pun aku harus meluruskan hal ini. Karena Felix sudah melangkah sangat jauh, aku tak ingin Felix dibutakan oleh kebencian dan dendam seumur hidupnya. (Mengehela nafas) ayoo Mely, kamu pasti bisa. Apapun yang akan dilakukan Felix padaku, aku akan menerimanya. Asalkan Felix kembali ke jalan yang benar, dan keluargaku tidak terancam lagi.


Felix: ada hal penting apa?


Mely: aku akan melanjutkan penjelasanku, dan meluruskan sesuatu.


Felix: katakan.. aku akan dengrkan


Mely: sepertinya kamu sudah salah paham pada kakak sepupuku. Kakak sepupuku tidak mungkin jahat kepada saudaramu Owen. (Felix terkejut, mengerutkan dahi) tidak kah kamu berfikir mengenai Owen? Bagaimana jika selama ini Owen memanfaatkan emosimu. Sengaja mengadu domba kamu dan kakakku juga Abed?


Felix melangkah mendekati Mely, Mely melangkah mundur perlahan karena merasa sedikit takut. Mely sudah terpojok, nemempel pada lemari kaca di samping meja kerja Felix. Felix menatap tajam ke arah Mely.


Felix: siapa sepupumu?


Mely: Bri..an (suara gemetar)


Felix: jadi alasanmu mwndekatiku karena Brian?


Mely: ya aku ingin tahu apa hubungan kalian. Itu saja, dan aku akan menghalangimu berniat jahat kepada kakakku (menatap tajam)


Wajah Felix memerah, Felix mengambil nafas panjang menutup mata kilas. Tiba tiba Felix tertawa keras, membuat Mely terkejut. Mely menatap mata Felix, dalam mata Felix terlihat jelas amarah dan kemurkaan Felix. Tetapi mengapa Felix tertawa?


Hallo semua..


Terimkasih sudah mau berkunjung dan mmebaca novel saya..


Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..


Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..


Beri tip juga boleh..


😉😘


Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,


•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)


•Pangeran Es Jatuh Cinta


(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..


Terimakasih..


Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..


Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


Bye bye..


Salam hangat,

__ADS_1


"Dea Anggie"


__ADS_2