
Seira diantar pulang oleh Julian. Di tengah jalan Seira dan Julian hanya diam, Seira dan Julian larut dalam pemikiran mereka masing-masing.
Seira melihat sekitar, rupanya sudah hampir sampai. Seira menatap Julian, "kamu bisa turunkan aku di sini dan langsung kembali Julian. Aku baik-baik saja."
"Tidak, aku akan mengantarmu sampai depan. Jangan menolak Seira, aku tidak ada niatan jahat padamu." Ucap Julian.
Seira diam, Seira mengikuti apa kata Julian. Mobil Julian masuk ke dalam halaman parkiran dan berhenti. Seira turun dari mobil, Julian juga turun dari mobil.
"Seira, boleh aku mengantarmu masuk? Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Itu jika kamu ininkan, jika tidak tidak masalah bagiku. Aku akan pulang." Kata Julian menenatap Seira.
"Ayo, ikut lah denganku Julian.." jawan Seira.
Seira menutup pintu mobil dan berjalan, Julian tersenyum, menutup pintu mobil dan berjalan mengikuti Seira.
Seira berjalan masuk masuk dalam gedung, Julian berjalan di sampingnya. Penjaga gedung menyapa Seira.
"Selamat malam nona Jack,"
"Hallo, selamat malam." Jawab Seira dengan senyuman cantik.
Seira terus berjalan, kaki indahnya menapaki tangga. Melangkah perlahan-lahan. Julian masih terus mengikuti.
"Bangunan apartemanmu adalah bangunan lama, tetapi bagus. Apakah kamu sudah lama tinggal disini?" Tanya Julian sembari menaiki anak tangga perlahan di belakang Seira.
"Hmm, karena aku tidak ingin tinggal bersama pamanku. Aku memutuskan mencari tempat tinggal sendiri, dan hidup sendiri. Bangunan ini memang lama, tapi tinggal disini membuatku nyaman dan aku juga merasa aman." Jawab Seira.
Seira sampai pada anak tangga terakhir dan berjalan menuju pintu kamarnya. Julian juga sudah sampai, Julian berhenti di belakang Seira. Seira membuka pintu dan berbalik menatap Julian.
"Masuklah, katakan apa yang ingin kamu katakan di dalam." Kata Seira.
"Tunggu, bukan maksudku seperti itu. Aku bisa bicara disini, aku buka pria seperti itu, aku.. aku.." Julian bicara terbata-bata.
Seira tersenyum, "hei, apa yang kamu pikirkan? Aku memintamu masuk bukan untuk seperti itu Julian, aku memintamu masuk agar kita bisa bicara santai. Ayo masuklah, aku akan buatkan minuman hangat untukmu atau makanan mungkin, kamu pasti lapar kan?" Jawab Seira.
Julian masuk, "maaf merepotkanmu," ucap Julian saat masuk.
Seira tersenyum tipis, masuk masuk san menutup pintu apartemennya.
"Duduklah Julian, katakan apa yang ingin kamu makan? Aku belum berbelanja, jadi jika kamu tidak keberatan maka aku akan masak apa yang ada di dalam lemari pendinginku." Kata Seira.
"Ya masak apa pun, aku akan makan semua yang kamu buat." Jawab Julian.
Seira tersenyum, "oke, jika kamu bosan, kamu bisa melihat televisi. Aku akan ganti baju dulu." Seira melangkah mask dalam kamarnya.
Julian duduk di sofa dan melihat sekeliling ruangan, Mata Julian menatap sebuah foto berukuran besar, jika di amati itu adalah sebuah foto keluarga.
Klekkk..
Pintu terbuka, Seira keluar dari kamarnya. Julian menatap Seira. Seira terlihat cantik dengan menggunakan celana pendek dan kaos rumah.
Seira berjalan kedapur, Sesampainya di dapur Seira memakai apron dan membuka lemari pendingin. Tidak ada apa pun dalam lemari pendingin, lemari pendinginnya kosong.
Seira mengeluarkan beberapa sayur yang tersisa, dan beberapa buah untuk di cuci. Dari jauh Julian melihat Seira sibuk, Julian berdiri dari duduk nya dan berjalan menghampiri Seira.
"Seira apa yang bisa aku bantu?" Tanya Julian.
Seira memalingkan wajah, menatap Julian. "Hei, kamu bosan? Bisa menonton televisi, tidak perlu repot membantuku Julian." Jawab Seira dengan senyuman manis.
Julian melepas jasnya dan jam tangannya, meletakan di meja dapur. Julian melepas kancing lengan kemejanya dan menggulungnya sedikit tinggi. Julian mengambil apron dan mengenakannya, Julian berdiri disamping Seira, meraih sayur dan buah yang di cuci Seira.
"Biar aku yang mengerjakan ini." Kata Julian.
Seira menatap Julian, "aku bisa lakukan ini Julian, tidak perlu." Jawab Seira.
"Seira biarkan aku lakukan hal kecil ini, meski ini belum bisa menebus kesalahanku padamu." Ucap Julian dengan suara pelan.
Seira melebarkan mata, "maksudmu?" Seira penasaran.
"Maafkan aku Seira, perlakuanku yang kasar, kata-kataku yang menyakitimu. Aku sungguh menyesal sudah melakukan itu semua, aku bersalah padamu. Maafkan aku, apa pun akan aku lakukan untuk menebus kesalahanku." Julian menunduk, menatap buah apel di tangannya.
Seira terkejut, pria seperti Julian sungguh-sungguh mau meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Seira tersenyum tipis, menyiku perut Julian dengan siku tangannya.
"Tidak perlu lakukan apapun Julian, aku sudah memaafkanmu. Oke?" Seira tertawa.
Julian menatap Seira, melihat Seira tertawa membuat hatinya senang. Ada perasaan lain yang muncul, perasaan aneh yang muncul sejak menatap kedua bola mata indah milik Seira. Kedua bola mata Seira, seakan memikat hati Julian.
Julian mendekat, dan mencium kilas pipi Seira kilas, Julian melanjutkan mencuci buah dan sayur di hadapannya. Seira kaget, memalingkan wajah dan berjalan mendekati kompor. Seira meraba wajahnya, wajahnya memerah..
Suasana menjadi canggung, Seira merebus air dan melamun. Tidak sengaja jarinya menyentuh panci panas di hadapannya.
"Akkh.. sstttthh" rintih Seira mengibas- ibaskan tangannya.
Julian mematikan kran air, dan mendekati Seira, Julian melihat jari telunjuk Seira merah, Julian meniup jari telunjuk tangan Seira.
"Dimana kotak obat? Aku akan oles obat." Ucap Julian.
Seira menunjuk laci lemari, "disana," jawab Seira.
Julian mematikan kompor dan berjalan mendekati Laci, Julian mengoles krim dan meniup-niup pelan.
"Sakit? Semoga saja tidak melepuh. Lain kali hati-hati, di depan pelatan panas kamu melamun seperti ini. Bagaimana jika hal yang buruk lebih dari ini terjadi?" Julian menekankan kata-katanya.
Seira tersenyum, Seira berjinjit dan mencium kilas bibir Julian. "Thanks.." ucap Seira dengan suara lembut.
__ADS_1
Julian terkejut, merasa perhatiannya tidak diabaikan julian akhirnya memberanikan diri. Julian merangkul pinggang seira dan meraih tengkuk Seira, Julian mencium bibir Seira lembut. Seira membalas ciuman Julian, merangkulkan tangannya keleher Julian. Ciuman mereka berlangsung lama, keduanya saling menikamati ciuman masing-masing.
Makan malam sudah dimasak, Seira membuat pasta dan salad sayuran. Julian dan dan Seira duduk berdampingan dan makan bersama.
"Jadi apa rencanamu Seira?" Tanya Julian.
"Apa lagi? Aku harus jalankan bisnis pamanku Julian, bagaimana pun bisnis itu harus tetap berjalan. Aku akan jalani kehidupan lamaku." Jawab Seira.
"Kamu tidak berniat menikah?" Tanya Julian.
"Menikah? Siapa yang mau denganku Julian, semua pasti merendahkanku melihat pekerjaan dan kehidupanku." Seira melahap salad sayurnya.
"Menikahlah denganku jika kamu bersedia, aku akan menjaga dan melindungimu. Mungkin ini terdengar aneh, tapi sungguh aku ingin melindungimu." Pernyataan Julian mengejutkan Seira.
Seira mengunyah salad dalam mulut, dan menelannya. Seira buru-buru minum, "jangan bercanda Julian, kamu baru mengenalku. Kamu tidak tahu seperti apa aku sebenarnya, bagaimana bisa kamu ingin menikah denganku." Kata Seira.
"Anggap saja ini bayaran atas apa yang aku lakukan, tidak.. bukan seperti itu maksudku. Ahh bagaimana aku jelaskan perasaanku Seira, aku begitu ingin menjaga dan melindungimu. Entah apapun keadaanmu, apa pun pekerjaanmu, kehidupanmu di masa lalu itu tidak penting. Karena aku akan menjalani kehidupan masa depan denganmu bukan untuk datang ke masa lalu." Julian menjelaskan.
Seira tertawa, "haha.. Julian.. Julian, kamu sangat lucu. Baiklah, ayo lita jalani ini, jika niatmu baik aku percaya kita akan berakhir baik. Aku percaya pada takdir, takdir kita begitu unik," ucap Seira.
"Ya, takdir kita unik. Kamu juga unik," Julian tersenyum tampan.
"Astaga, tampan sekali. Baru aku sadar Julian sangat tampan. Ahh.. beruntungnya aku memilikinya, semoga kita memiliki akhir yang baik Julian." Batin Seira.
"Ayo.. habiskan makananmu, jangan menggodaku terus." Ucap Seira.
Julian mengangguk, matanya terus menerus manatap Seira yang sedang makan salad sayur.
"Semoga saja aku tidak salah memilihmu Seira, entah mengapa hatiku begitu yakin padamu, perasaan ini sungguh aneh, begitu saja datang dan sulit untuk di kendalikan. Apakaha ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? " batin Julian.
Seira melahap saladnya, sesekali melirik kearah Julian. Julian tersenyum, Julian makan pasta buatan Seira dengan lahap.
Selesai makan, Julian membantu Seira membersihkan meja. Setelah itu membantu Seira mencuci piring,
"Besok aku akan pergi mengunjungi Andrew, kamu mau ikut?" Tanya Julian pada seira di sela-sela kesibukannya mencuci piring.
"Oke," jawab Seira singkat. Seira membersihkan meja dapur
Beberapa saat kemudian, pekerjaan mereka masing-masing selesai. Julian mengambil jas dan mengenakan kembali jam tangannya. Julian melipat asal jasnya dan menggangtungkan di lengannya.
"Sudah sangat larut, aku pulang dulu. Besok aku akan menjemputmu." Kata Julian.
"Mmmh, (Seira mengangguk perlahan) hati-hati dijalan." Jawab Seira.
Julian diam berdiri, Julian ingin mengatakan sesuatu namun ragu. "Seira, aku.. aku.." Julian tiba-tiba diam.
Julian menghela nafas panjang, "boleh aku memelukmu, Seira?" Tanya Julian dengan perasaan yang campur aduk.
Seira tersenyum, Seira mendekat dan memeluk Julian. Julian mendekap tubuh Seira, mengusap lembut punggung Seira dan kepala Seira.
Julian melepas pelukan dan mencium kening Seira, "aku pulang, tidak perlu mengantarku sampai ke bawah. Selamat malam Seira, selamat tidur." Julian membelai wajah Seira.
Julian berbalik dan berjalan, tangan Julian ditahan oleh Seira, langkah Julian terhenti. Julian berbalik dan menatap Seira.
"Ada a.." belum sampai kata- kata Julian selesai diucapkan, Seira mencium bibir Julian.
Julian terkejut, Seira mengakhiri ciumanya dan kembali memeluk Julian.
"Terima kasih Julian," suara Seira lembut.
Julian mendekap erat tubuh Seira, "kenapa kamu begitu manja Seira, jika begini aku tidak ingin pergi. Aku tidak ingin berpisah denganmu." Kata Julian.
Seira melepas pelukan, "kalau begitu tinggal lah disini, temani aku." Kata Seira memelas.
Julian kaget, mengusap -usap kepala Seira. "Jangan seperti ini, aku harus pulang. Aku akan kembali besok, oke? Bye sayang.. i love you," ucap Julian.
"Bye, i love you too.." jawab Seira.
Julian keluar dari pintu, belum sampai pintu tertutup, pintu kembali terbuka. Julian membuka pintu dan menatap Seira dalam.
"Ada apa? Tidak jadi pulang?" Tanya Seira.
"Pakai mantelmu, ikutlah ke rumahku. Setidaknya aku bisa setiap saat melihatmu, aku tidak bisa pergi meninggalkanmu sendirian disini." Kata Julian.
"Eh.. kenapa tiba-tiba, aku baik-baik saja Julian, sungguh. Kamu tidak perlu cemas, pulanglah.." kata Seira dengan senyuman manis.
Julian tiba-tiba masuk dan menutup pintu. Julian masuk dan meletakan jas nya di sofa, melepas jam tangannya. Julian duduk dan berbaring di sofa.
"Aku akan tidur disini, kamu masukalah ke kamarmu dan tidur." Kata Julian.
"Tidurlah di dalam, sofa ini tidak muat menampung panjang tubuhmu Julian." Kata Seira, menatap kaki Julian yang menggantung di tepian sofa.
"Tidak. disini saja," kata Julian.
"Julian, aku percaya padamu. Kamu tidak akan macam-macam padaku. Aku hanya tidak ingin kamu sakit karena posisi tidurmu yang tidak nyaman." Kata Seira.
Julian bangun dari tidurnya, dan duduk bersandar sofa. "Baiklah, kamu yang meminta. Jika ada apa-apa jangan salahlan aku nona Jack." Jawab Julian, menggoda Seira.
"Baiklah-baiklah, lakukan apa yang ingin kamu lakukan." Kata Seira, Seira masuk kedalam kamarnya. Julian mengikuti Seira masuk dalam kamar Seira.
__ADS_1
"Kamar mandi ada di sebelah sana, (Seira menunjuk sebuah pintu) aku tidak punya baju ganti seukuranmu, jadi terpaksa kamu tidur memakai kemejamu." Kata Seira.
Julian membuka dasinya, dan melepas beberepa kancing kemeja sehingga memperlihatkan dada bidangnya. Seira merapikan ranjangnya dan mempersilahkan Julian untuk tidur.
"Tidurlah, aku akan menggosok gigi dan mmebersihkan wajahku dulu." Kata Seira.
Seira berjalam masuk dalam kamar mandi, Julian mengikuti Seira. Sesampainya di kamar mandi Seira kaget saat melihat Julian.
"Kenapa kamu juga masuk?" Tanya Seira.
"Apa lagi, aku ingin menggosok gigi dan mencuci mukaku." Jawab Julian.
Seira melirik ke arah Julian, mengambilkan sikat gigi dan pasta gigi baru untuk Julian. "Pakailah ini," kata Seira.
"Thanks," jawab Julian.
Julian dan Seira menggosok gigi bersama menatap ke arah cermin. Seira sesekali melirik ke arah Julian, begitu juga sebaliknya.
Seira dan Julian berbaring bersama dalam satu ranjang. Seira memeluk boneka kesayangannya dan mengubah posisi tidurnya. Julian memandangi Seira dari belakang, Julian tersenyum, mendekat dan memeluk Seira. Tangannya melingkar di perut Seira.
"Tidurlah sayang, aku akan menjagamu." Bisik Julian di telinga Seira.
Seira gugup, jantungnya berdebar. Seira hanya diam mengangguk. Seira memeluk erat bonekanya. Julian menutup matanya perlahan, mencium kepala Seira. Julian dan Seira terlelap dalam mimpi yang indah.
@@@@@... @@@@@...
Hallo semua..
Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Pelukan Hangat Paman Tampan
(End, jika tidak ada kendala akan saya lanjutkan sekuel dari UMEKO SAKURA LEWI yang akan menjadi season ke tiga dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Pangeran Es Jatuh Cinta
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Suami Pengganti
•Pangeran Vampir
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2)
•Vampir "Sang Abadi"
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
•Cinta Lama Yang Datang Kembali
•Mommy And Daddy (CLYDK2)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3
•Perfect Father
•Kamu Dan Aku
•Banyak ya.. (hehehe.. maafkan authornya lagi menggila bikin novel kala itu.. jangan khawatir pasti di tamatin semua kok..)
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
Salam hangat,
"Dea Anggie"
__ADS_1