Lelaki Bayaran Amelia

Lelaki Bayaran Amelia
Lelaki Bayaran Amelia 39


__ADS_3

Mobil Brian berhenti di depan rumah. Brian turun dari mobil, diikuti Amelia. Brian menggandeng tangan Amelia dan masuk kedalam rumah. Brian menghentikan langkahnya, Amelia menatap Brian. Brian tersenyum dan mencium lembut bibir Amelia. Brian menggendong Amelia masuk dalam kamar. Beberapa pelayan yang berkumpul di dapur melihat dan terkejut.


"Ada apa?"


"Bersiaplah, mungkin sebentar lagi nyonya kita akan mengandung anak kedua"


"Beberapa hari ini tuan dan nyonya bekerja keras. Semoga tuan muda kecil hadir dalam keluaraga ini"


"Mereka sedang memadu kasih, kenapa kita jadi bergosip yang bukan bukan. Ayo kembali bekerja"



•Brian


Aku meraba raba sisi ranjangku. Amelia menghilang? Kemana, apa mungkin dia sedang memasak? Aku membuka mata perlahan dan bangun duduk bersandar bantal. Meraih ponselku yang ada di meja. Ada banyak pesab dan panggilan tidak terjawab. Astaga, aku sudah tidur seperti orang yang sedang dibius.



Aku kembali mengingat kejadian tadi. Aku hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala. Aku begitu


rakus pada Amelia, sampai membuatnya menangis dan menjerit. Pintu kamar terbuka, aku meletakan ponselku dan menatap arah pintu. Senyumku mengembang melihat istri dan anakku.



Amelia: nah itu papa.. hallo papa..



Amelia dan Lovely mendekatiku. Aku memangku Lovely dan menciumi Lovely.



Brian: hallo sayang, putri papa yang cantik. \(Menatap Lovely\)



"Paaapaaaapapa"


\(Tertawa menunjukan giginya\)



Aku terkejut, putriku sudah bisa bicara. Aku terharu, memeluk erat Lovely.



Brian: pandainya anak papa. Papa.. pa\-pa, pa.. pa..



Lovely menatapku melihat gerakan bibirku dan terkekeh. Lovely meraba wajahku. Tangan nya yang kecil mungil begitu lembut. Putri kecilku sangat menggemaskan. Aku mendekat dan meminta Lovely menciumku.



Brian: baby Love.. kiss me \(menunjuk pipi\)



Lovely mendekat dan menciumku.


"Emuah... " Lovely meraba raba wajahku dan meciumi hidungku. Lovely menarik gidungku dengan gemas.



Amelia: sayang, \(melepas tangan Love dari hidunh Brian\) tidak boleh. Oke..



"Mmmmmmhhhmmmmhhh"



"Uauaaaaaauuuaaaaaooo"



Brian: kamu pergi sendiri?


__ADS_1


Amelia: tidak, aku pergi dengan supir. Aku tidak kuat menyetir. Badanku sakit semua.



Brian: tidurlah, aku akan jaga Lovely.



Amelia naik ke ranjang dan memberikan botol berisi asi pada Lovely. Aku menyiapka bantal dan menepuk perlahan. Lovely mengerti maksudku, dia berbaring perlahan dan meminum susunya. Amelia memberikan boneka dan dipeluk oleh Oleh Lovely.



Amelia bersandar pada bantal dan menatapku. Aku menatap Amelia dan tersenyum. Aku memegang tangan Amelia dan mencium punggung tangannya.



Brian: i love you Amelia..



Amelia: \(tersenyum cantik\) i love you too Brian..



Aku memegang erat dan mengusap lembut tangan Amelia. Sesekali aku mengintip putriku. Aku melihat Lovely sudah mulai memejamkan mata. Mulutnya masih bergerak meminum susu dalam botol.



Brian: kamu sudah makan?



Amelia: belum, tadi bagun tidur aku langsung pergi ke rumah Abed menjemput Lovely.



Brian: ingin makan apa? Aku akan masak untukmu.



Amelia: tidak perlu repot sayang. Aku beli sup asparagus kesukaanmu di restoran yang biasa kita datangi.




Amelia mengangguk, Amelia mengusap wajahku lembut. Setiap sentuhanya begitu menenangkan. Aku memejamkan mataku merasakan sentuhan hangat istriku. Tanganya menjalar ke kepala, membelai rambutku lembut. Aku merasakan sesuatu yang lain. Amelia mengecup keningku, aku merasa sengatan listrik untuk sesaat. Kecupan yang hangat dan lembut. Amelia ku sungguh bisa membuat hatiku tenang dan nyaman.



Aku Masih terus merasakan sentuhan sentuhan Amelia. Amelia mengecup kwdua kelopak mataku. Nafas hangatnya menerpa dahiku. Amelia menekan nekan hidungku, aku membuka mataku perlahan. Menikamati pemandangan di hadapanku. Mata yang indah, paras wajah yang cantik. Dan senyum yang mempesona. Satu kata untuk Amelia ku,


SEMPURNA.



Amelia: ada apa? Kamu butuh sesuatu.



Brian: terimakasih Amelia. Sekian lama bersama kamu tidak pernah bosan san muak kepadaku. Maafkan aku jika aku belum bisa menjadi suami yang sempurna. Aku masih banyak kekurangan. Tapi aku akan terus berusaha, membuat kamu dan putri kita bahagia.



Amelia: kamu terlalu sempurna untukku Brian, dari awal sampai sekarang aku masih tidak percaya jika kamu adalah suamiku. Menjadi istrimu adalah keberuntungan terbesarku. Aku sangat bahagia Brian. Aku lah yang seharusnya minta maaf padamu. Aku selalu merepotkanmu dan selalu menyusahkanmu. Terus lah bersabar menghadapi tingkahku yang kadang kekanak kanakan. Jangan pernah bosan ya sayang. Jika ada sesuatu yang mengganjal dihatimu, bicaralah. Berkeluh kesahlah, aku akan setia mendengar semua keluh kesahmu.



Brian: kapan aku tidak berkeluh kesah? Bukankah kita setiap hari selalu berbagi cerita? Tidak peduli hal sekecil apapun, kita tidak pernah saling menutupi apapun. Aku senang dari awal kita mengenal kamu mau jujur dan terbuka padaku. Meski itu sulit, namun lebih baik menelan kepahitan dari hasil kejujuran. Daripada kita melan sesuatu yang manis dari hasil kebohongan, namun berakhir dengan saling membenci. Aku tidak mau dibenci olehmu, aku tidak mau kamu berpaling dariku Amelia. Jika kamu kesal padaku marahlah, luapkan kekesalanmu. Jangan dendam dan membenciku. Aku tak akan pernah sanggup di benci oleh seseorang yang sangat aku kasihi.



Amelia: Brian... \(menangis\) kamulah pria terbaik yang selalu setia kepadaku. Thankyou Brian.. hidupku menjadi penuh warna semenjak aku mengenalmu. Kamu menujukan banyak hal baru, kamu menuntunku melalui banyak hal. Membuatku mengerti apa itu ketulusan. Kamu mengajariku banyak hal Brian. Hal hal sederhana yang selama ini aku lupakan. Aku mencintaimu..



Brian: \(menyeka air mata Amelia\) sayangku.. jangan menangis lagi.


__ADS_1


Aku memeluk Amelia, mengusap lembut kepala Amelia. Tanpa sadar air mataku ikut menetes. Dari sekian tahun, inilah pertama kalinya kami bicara panjang lebar dan benar benar saling meluapkan isi hati kami masing masing. Amelia melepas pelukan dan menyeka air matanya sendiri. Amelia mentapku, menyeka air mataku mengecup bibirku lembut.



Amelia: Tolong pindahkan Lovely ke box. Aku akan rapikan selimut.



Brian: oke sayang.



Aku bangun dan melepas botol dari mulut Lovely. Meletakan botol di meja, aku menggedong Lovely dan turun dari ranjang berjalan menuju box. Aku meletakan putri kecilku di dalam box. Aku mengusap tangannya, menciumnya dan menyelimutinya.



Brian: papa menyayangimu sayang. Tumbuhlah menjadi wanita yang baik dan penuh kasih. Wanita yang rendah hati dan tangguh. Doa papa selalu menyertaimu.



Aku kembali kenranjang dan membantu Amelia menata ranjang kami. Aku manata bantal dan Amelia menata selimut. Semua selesai, aku meraih tangan Amelia, menggandengnya keluar kamar. Kami berjalan menuju meja makan. Aku menarik kursi dan menyuruh Amelia duduk. Dia menurut dan duduk.



Brian: tunggu disini, aku akan masak spagetti spesial untukmu. Oke..



Amelia: hmm.. aku akan menunggu \(tersenyum\)



Senyumnya sungguh manis dan menggoda. Aku berjalan kedapur meraih apron dan mengenakannya. Aku membuka lemari pendingin dan sibuk menyiapkan bahan. Aku begulat di dapur dengan bahan bahan. Semua bahan sudah siap, aku menylakan kompor dan mendidihkan air. Menunggu air mendidih aku menyiapkan bahan yang lain.



Aku merebus pasta dalam air mendidih mengaduk aduk agar tidak hancur. Kematangan medium, aku mematikan kompor dan menyaring pasta. Aku menyalakan kompor, menyiapkan penggorengan untuk menumis bumbu. Aku masukan mentega dan bumbu yang sudah aku siapkan. Aku mengaduk aduk bumbu, beberapa menit kemudian aku memasuakan pasta dan meratakannya dengan bumbu. Saat aku fokus pada masakanku, aku merasa sesuatu melingkar di perutku. Aku mematikan kompor dan melihat perutku. Ini adalah tangan istriku. Amelia menempel padaku seperti lem.



Brian: sayang, kamu tidak patuh.



Amelia: aku ingin begini, sebentar saja. Biarkan aku memelukmu seperti ini satu menit saja.



Aku terdiam, mengabulkan permintaan Amelia. Tidak lama Amelia melepas tamganya. Dia berdiri disampingku, dan melihatku. Aku mengambil piring dan mulai plating. Menghias spagetti buatanku semenarik mungkin. Pekerjaan selesai, aku mencuci tangan dan melepas apron. Aku memberikan spagetti buatanku untuk Ameliaku. Amelia sangat senang, dia mencium pipiku sebagai ucapam terimakasih.



Kami duduk bersama di meja makan. Aku makan sup Asparagus, dan Amelia makan spagetti. Amelia sangat lahap, melihatnya aku penasaran seenak apa spagettiku. Aku melihat ada pasta yang menjuntai di bibir Amelia, keberuntungan berpihak, dengan cepat aku mendekat dan memakan pasta yang menjuntai. Amelia terkejut menatapku, Aku hanya tersenyum. Kami saling menstik pasta sampai bibir kami bertemu. Tak ingin melewatakan semepatan, langsung saja aku mencium Amelia. Ciuman rasa Spagetti😘 Hmmmmm... sangat lezat.



Hallo semua..


Terimakasih sudah mau singgah dan membaca karya saya.


Beri dukungan pada saya dengan cara memberi like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.


Memberi tip juga boleh.



\(Untuk para readers yang saya cintai dan sayangi, ranting bintang Lelaki Bayaran Amelia menurun. Mohon bantu dengan memberi 5 ☆☆☆☆☆.. Terimakasih Banyak\)



Bye.. bye..


Sampai jumpa di episode selanjutnya..



Salam hangat,


"Dea Anggie"

__ADS_1


__ADS_2