
Lovely terbangun dari tidurnya, matanya terbuka lebar. Lovely melihat sekeliling dan terkejut mendapati Andrew sudah pergi dari kamarnya. Lovely turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya.
Lovely membuka pintu kamar dan berjalan mencari Andrew ke kamar Andrew. Lovely mengetuk pintu lalu membuka pintu, Lovely mengintip kedalam kamar. Kamar Andrew kosong dan hanya ada pakaian Andrew yang berserakan di lantai. Lovely masuk dalam kamar, memungut pakaian Andrew di lantai lalu menggulungnya. Lovely kembali mencari Andrew di kamar mandi, Lovely mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil-manggil Andrew.
Tok..
Tok..
Tok..
(Suara pintu di ketuk)
"Andrew.." Lovely mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil Andrew.
Tidak ada jawaban. Lovely membuka pintu kamar mandi dan mengintip kedalam kamar mandi, benar saja kamar mandi kosong. Lovely kembali menutup pintu kamar mandi dan kluar dari kmr Andrew, masih dengan membawa baju kotor Lovely pergi ke teras belakang dekat dapur. Lovely meletakan pakaian Andrew di kerenjang kotor.
Lovely bingung mencari Andrew, saat melewati meja makan Lovely melihat ponsel Andrew yang ada di rak buku tidam jauh dari meja makan.
"Ponselnya ada di rumah. Kemana Andrew pergi?" Guman Lovely.
Lovely terus mencari Andrew di lantai dua rumah tersebut menyusuri seluruh rumah. Hatinya merasa tidak enak.
Sementara itu tidak jauh dari rumah, Andrew masih terus berjalan dengan langkah sempoyongan. Andrew memegangi kepalanya karena kepalanya terasa pusing.
"Aku adalah pembawa sial, aku lebih baik mati. Untuk apa aku hidup jika aku tidak bisa apa-apa seperti ini. Kelebihan? (Tersenyum masam) ini bukan kelebihan melainkan beban! Lebih baik aku tidak tau apa-apa." Batin Andrew dengan terus melangkah.
Andrew melihat rumahnya dan berhenti sejenak menatap sekelilig rumah. Andrew kembali berjalan menuju pintu utama. Andrew membuka pintu dan masuk.
Kleeekk..
(Suara pintu)
Andrew menutup pintu perlahan, berjalan menuju kamarnya. Andrew berdiri di depan kamarnya, hendak membuka pintu. Lovely turun dari lantai dua dan langsung memanggil Andrew.
"Andrew.." panggil Lovely yang berdiri di tangga-tangga.
Andrew terkejut, menutup matanya kilas dan langsung membuka pintu. Tanpa menjawab panggilan Lovely Andrew langsung masuk dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Andrew bersandar pada pintu kamar, Andrew menghindari Lovely. Lovely berlari menuruni anak tangga dan mendekati pintu kamar Andrew. Lovely mengetuk-ngetuk pintu kamar Andrew.
__ADS_1
Tok..
Tok..
Tok..
"Andrew buka.." kata Lovely..
Tok..
Tok..
Tok..
"Andrew, buka.. apa yang kamu sembunyikan dariku. Aku memintamu membuka pintu sekarang." Teriak Lovely.
Andrew masih terdiam, Andrew menutup kedua telinganya dengan dua tangan. Tidak ingin mendenagar suara Lovely. Lovely sudah panik dan terus mengetuk pintu kamar Andrew, Lovely menangis karena Andrew tidak menghiraukannya. Tidam ada jawabanan dari dalam kamar, Lovely takut Andrew akan melakukan sesuatu atau menyembunyikan sesuatu. Lovely terus berteriak dan mengetuk pintu, Lovely sampai histeris dan duduk bersimpuh dilantai. Lovely menangis dan menyandarkan kepalany di lantai.
"Kenapa? Kenapa kamu seperti ini? Jangan menyiksaku seperti ini Andrew. Aku membencimu, aku membencimu." Lovely merasa putus asa.
Didalam kamar Andrew juga duduk bersimpuh di lantai dengan posisi masih bersandar pada pintu. Andrew menutup matanya dan menangis.
Andrew membuka matanya perlahan, di hadapannya muncul Abed dengan tatapan mata yang sedih. Menatap ke arah Andrew, Andrew terkejut seketika berdiri dan berjalan perlahan mendekati Abed.
"Papa.." ucap Andrew lirih.
Abed masih diam, "apa yang kamu lakukan nak?" Kata Abed
"Papa, maafkan Andrew pa.. (Andrew berlutut didepan Abed dan menunduk) maafkan anakmu yang tidak berguna ini. Anakmu ini begitu bodoh! Bodoh sekali hingga tidak a
Sadar jika bahaya mengancam papa. Maaf paaaaaaaa.. (Andrew berteriak histeris)" Andrew meletakan dua tangannya di lantai dan memukul-mukul lantai.
Abed mendekat dan memeluk Andrew, "maafkan papa nak, papa pergi meninggalkanmu. Maafkan papa, jangan seperti ini. Ini bukan kesalahanmu. Ini adalah takdir yang harus kita jalani." Kata Abed.
Andrew melepas pelukan Abed dan menatap Abed. "Takdir? Ini bukan takdir pa, ini adalah kesalahanku. Kecerobohanku, ketidak pekaanku menanggapi petunjuk mimpi itu sehingga aku kehilangan papa. Aku bodoh.. aku bodoh!!" Andrew memukul-mukul kepalanya dengan tangan, Andrew mulai menggila.
"Hentikan Andrew! Hentikan! (Bentak Andrew, Andrew berhenti dan kembali menangis) apa kamu bodoh? Papa tidak pernah ajarkan kamu seperti ini. Kamu sudah bertindak jauh Andrew. Papa kecewa kamu seperti ini." Abed merasa sedih, putra kesayangannya kacau dan berantakan.
__ADS_1
"Aaaaaaaaarrrggghhhhhhhhhh........ aku tidak tahan lagi, aku ingin mati. Aku ingin mati.. ajak aku bersamamu pa.. aku mohon." Andrew memelas membuat Abed semakin sedih.
Abed meneteskan air mata, Andrew yang ada di hadapannya seperti bukan putranya.
"Papa tidak mau mengajakku? Biarkan aku yang menyusul papa." Andrew semakin menjadi-jadi.
"Andrew dengar papa.. (meraba wajah Andrew menatap dalam mata Andrew) masa depanmu masih panjang. Jangan sampai kamu merusak hidupmu sendiri. Apa kamu mengerti? Tanamkan ini dalam pikiranmu. Papa tidak pernah menyalahkanmu untuk kejadian itu. Papa menyayangimu nak, papa mohon padamu jangan seperti ini." Kata Abed.
"Papa.. (suara serak) papa.. aku tidak bisa hidup tanpamu pa.. papa.." Andrew merasa sangat pusing dan lemah. Pandangan matanya gelap dan kabur..
Bruuukkk..
Andrew pingsan dan tersungkur di lantai. Abwd terkejut, Abed tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena dirinya bukan lagi manusia. Dirinya hanya roh yang gentayangan.
Braaaaakkkkkk...
(Suara pintu)
Lovely merusak pintu dengan menggunakan palu dan mendobrak pintu. Lovely terkejut melihat Andrew yang tergeletak di lantai, Lovey mendekati Andrew dan berusaha menyadarkan Andrew. Lovely memeriksa denyut nadi dan nafas Andrew, Lovely berlari kelaur dan memanggil bantuan. Kali ini Lovely memanggil ambulance karena Lovely melihat luka dikepala Andrew terus mengeluarkan darah.
"Ahhh.. aku bisa gila! Bagaimana ini." Lovely cemas dan panik.
Abed manatap Andrew juga menatap lovely. "Apa ini, kenapa semua menjadi kacau seperti ini? Aku hanya bisa menjadi penonton. (Keluh Abed) maafkan papa nak, papa selalu mengharapkan kamu bisa terus melanjutkan hidupmu tanpa beban dan rasa bersalah. (Mengusap-usap kepala Abed) jangan pernah berfikir papa menyalahkanmu. Papa tidak pernah menyalahkanmu, papa selalu menyayangimu dan mencintaimu." Ucap Abed.
Ambulance tiba, tim medis masuk dan membawa Andrew masuk dalam mobil Ambulance. Lovely membawa tasnya dan ikut naik mobil ambulance ke rumah sakit mendampingi Andrew. Abed menatap dari jauh mobil Ambulance yang membawa putranya pergi.
@@@@@..... @@@@@.....
Hallo hallo..
Jangan lupa like,, komen dan vote yaa..
Terimakasih banyak..
Sampai jumpa di episode selanjutnya yaaa..
Bye bye..
__ADS_1
♡Dea Anggie😉♡