Lelaki Bayaran Amelia

Lelaki Bayaran Amelia
S2 - EPISODE 206


__ADS_3

Lovely datang mengunjungi Andrew, Kim Ha Na meminta Lovely menjaga dan merawat Andrew, Lovely mengiyakan permintaan Kim Ha Na.


"Sayang, mama pergi dulu, mama akan menjenguk paman Marco." Ucap Kim Ha Na.


"Baik ma, aku menunggu kabar baik dari mama." Jawab Andrew.


"Love, maaf merepotkan. Tolong jaga Andrew baik-baik, jika dia menyakitimu beti tahu bibi, bibi akan menghukumnya." Kim Ha Na menenatap Lovely lalu tersenyum.


Lovely tersenyum cantik, "tidak akan bibi, Andrew sudah berjanji padaku akan selalu bersikap baik. Bibi hati-hati, Love hanya bisa menitip salam untuk paman Marco dan Julian.


"Oke, bibi pergi ya.. (Kim Ha Na menatap Andrew) bye sayang.." Kim Ha Na pergi berjalan keluar dari ruangan meninggalkan Lovely dan Andrew.


Lovely duduk dan membaca buku novel favoritnya. Lovely menatap sebuah tas di meja di samping Andree, "kamu belum makan?" Tanya Lovely.


Andrew menggeleng, "belum."


Lovely menunjuk tas di meja di samping Andrew, "apa itu? Bibi yang buat?" Tanya Lovely lagi.


"Julian datang, dan mengantar bubur. Seira yang membuatnya." Jawab Andrew.


"Mmh apakah ada yang sakit? Kenapa Seira membuat bubur? Atau memang sengaja memasak untukmu?" Jawab Lovely.


Andrew terkejut, Andrew menatap Lovely. "Maksudmu? Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Seira sayang." Ucap Andrew menyakinkan.


"Hei tenang lah dulu, aku tidak bilang kamu ada hubungan dengan Seira bukan? Kenapa kamu katakan hal seperti itu? Astaga.. kamu pikir apa yang ada dalam kepalaku? Seira akan bersamamu?" Jawab Lovely.


"Ahahaha.. (Andrew tertawa lebar) aku salah paham ternyata, aku mengira kamu curiga padaku, bahkan cemburu." Jawab Andrew.


"Hei hei hei.. yang benar saja. Aku tidak alan cemburu pada Seira, karena aku percaya padamu Andrew." Kata-kata Lovely mengejutkan Andrew.


Andrew diam dan hanya menatap Lovely. Lovely berdiri dan membuka tas, mengeluarkan bubur dalam tas. Lovely membuka bubur dan menghidangkn di hadapan Andrew.


"Makanlah, sudah setengah dingin." Kata Lovely.


"Su.. suapi aku." Suara Andrew malu-malu.


Lovely tersenyum, "apa? Aku tidak dengar kamu bicara apa." Goda Lovely, berpura-pura tidak mendengar.


"Aku ingin kamu menyuapiku, apa sudah jelas?" Andrew bicara jelas, menyakinkan Lovely.


"Baiklah, apa yang aku dapatkan sebagai imbalan?" Tanya Lovely.


Andrew menarik tangan Lovely agar Lovely semakin dekat padanya, wajah Lovely dan Andrew begitu dekat.


Deg..


Deg..


Deg..


Suara detak jantung Andrew dan Lovely sepertinya saling berlomba. Wajah Lovely merah seperti tomat, Andrew tersenyum dan mencium kilas hidung Lovely.


"Apa pun yang kamu mau, aku akan berikan." Jawab Andrew.


Lovely tersenyum, "kamu berjanji?"


Andrew mengangguk, "aku janji sayang. Apa yang kamu inginkan?" Tanya Andrew.


Lovely mencium kilas pipi Andrew, "tidak ingin apa-apa, hanya ingin kamu sembuh dan kembali sehat. Aku ingin kamu selalu baik-baik saja." Jawab Lovely.


Andrew meraba wajah Lovely, Andrew menatap dalam mata Lovely, mata Lovely begitu indah memikat mata Andrew. Tatapan mata yang lembut, meluluhkan kerasnya hati.


"Aku akan sembuh untukmu sayang, terima kasih untuk semuanya." Suara Andew lembut.


Lovely mengangguk lagi, Lovely tersenyum cantik. Lovely melepas tangan Andrew dari wajahnya, Lovely menyuapi Andrew. Andrew makan dengan lahap, matanya terus menatap dan mengagumi wanita pujaan hatinya yang dengan penuh kesabaran.


Lovely terus fokus menyuapi Andrew, tanpa menyadari jika sedari tadi Andrew menatapnya.


Beberapa menit kemudian..


Semua bubur habis bersih tidak tersisa, entah karena Andrew sangat lapar, entah karena rasa dari bubur yang enak, atau karena pesona Lovely. Yang jelas Andrew sangat senang dan merasa puas.


Setelah makan, Lovely menyiapkan obat Andrew untuk di minum, setelah minum obat Lovely mencium kening Andrew.


Muachh..


"Ini adalah hadiah karena kamu makan banyak dan lahap. Cepat sembuh kesayangan ku." Ucap Lovely sembari merapikan rambut Andrew.


Andrew tersenyum dan mengangguk, Lovely berdiri dan merapikan mangkuk dan gelas kotor.


"Kamu sudah menyeka tubuhmu?" Tanya Lovely.


"Sudah, mama yang membantuku." Jawab Andrew.


"Oh, oke.. sekarang apa yang kamu perlukan? Aku akan siapkan," Lovely menatap Andrew.


"Tidak ada, jika lelah kemarilah, duduk disampingku dan bersandar bantal. (Andrew menggeser tubuhnya sedikit dan menapuk bantal di sampingnya) jangan terlalu lelah, aku tidak mau kamu jatuh sakit." Ucap Andrew.


Lovely menuruti kata-kata Andrew, "baiklah-baiklah, kamu memintaku istirahat dan tidak lelah, aku akan lakukan itu. Aku lelah karena aku terbangun pagi-pagi dan tidak bisa tidur lagi. Aku akan tidur sekarang." Kata Lovely.


"Hmm.. kemari dan tidurlah," Andrew merangkul Lovely dan menyandarkan kepala Lovely di dadanya.


Lovely membenahi posisinya sedikit agar terasa lebih nyaman. Lovely benar-benar lelah, matanya perlahan tertutup dan terlelap tidur.


Andrew sibuk membuka email di ponselnya. Membalas beberapa yang penting dan menerima beberapa informasi dari rekan bisnisnya, Andrew juga membaca laporan lainnya Yang berhubungan dengan perusahaan.


Andrew sesekali melirik dan menciumi rambut Lovely. Andrew tersenyum saat melihat wanita yang di cintainya tetidur lelap dalam pelukannya.


"Aku akan memberimu hadiah yang luar biasa setelah aku sembuh nanti Love," Andrew bicara dalam hati.


Andrew menempelkan kepalanya ke kepala Lovely, matanya kembali teralihkan ke email di ponselnya.


♡♡♡♡♡

__ADS_1


Kim Ha Na datang ke rumah Julian, Kim Ha Na di sambut oleh Julian dan Seira.


"Bibi.. aku senang bibi mau datang." Ucap Julian.


"Iya Julian, sama-sama. (Kim Ha Na menatap Seira) hai Seira terima kasih susah membuat bubur dan membaginya dengan Andrew." Kata Kim Ha Na


"Sama-sama bibi, kebetulan saja aku memasak banyak bubur dan menitipkan pada Julian, karena Julian ingin mengunjungi Andrew." Jawab Seira.


Kim Ha Na mengangguk, dan tersenyum. "Julian, apa papamu baik-baik saja?" Tanya Kim Ha Na penasaran.


"Bibi masuk dan lihatlah sendiri, aku dan Seira akam ke kantor bi, tidak bisa menemai bibi disini."ucap Julian.


"Baiklah, kalian pergi lah bekerja. Bibi akan masuk dan melihat papamu, dimana ruangan papamu?" Kim Ha Na melihat sekeliling.


"Bibi Anna.." panggil Julian menatap ke arah dapur.


"Ya tuan muda," pelayan berlari kecil menghampiri Julian.


"Bi, ini adalah teman papa. Tolong tunjukan jalan dan antar ke kamar papa, layani dengan baik bi," kata Julian dengan suara rendah.


"baik tuan, (pelayan manatap Kim Ha Na) mari nyonya saya akan antar anda ke kamar tuan besar." Kata pelayan dengan sopan.


"Iya," jawab Kim Ha Na.


Kim Ha Na menatap Julian, "hati-hati dijalan Julian, Seira."


"Iya bi," jawab Seira.


"Ok mommy," jawab Julian menggoda Kim Ha Na.


Kim Ha Na tersenyum, menggelengkan kepala dan pergi meninggalkan Julian juga Seira. Kim Ha Na berjalan beriringan denga pelayan. Sedangkan Julian dan Seira bergegas perginmeninggalkan rumah karena Julian sudah di tunggu untuk rapat penting.


 


Pelayan dan Kim Ha Na sudah sampai di depan kamar.


"Silahkan nyonya, ini kamar tuan besar." Kata pelayan dengan sopan.


"Bibi, jangan terlalu sopan seperti itu. Apakah tuanmu sudah makan?" Tanya Kim Ha Na.


Pelayan menggeleng, "tuan tidak makan nyonya, saya sudah 2 kali mengganti mangkuk bubur. Saya baru saya mengganti sekitar 10 menit yang lalu, tidak tau apakah tuan memakannya atau tidak." Jawab pelayan.


"Baiklah, bibi kembali bekerja. Biarkan saya yang menangani tuan keras kepala yang ada di dalam." Kim Ha Na tersenyum cantik.


"Baik nyonya, saya peimisi." Pelayan terlihat senang, pergi kembali ke dapur.


Kim Ha Na menghela nafas panjang, mengetuk pintu perlahan.


Tok..


Tok..


Tok..


Kim Ha Na membuka pintu dan masuk, Kim Ha Na kembali menutup pintu. Kakinya melangkah masuk berjalan melihat sekeliling, sebenarnya merasa ragu. Karena ini pertama kalinya Kim Ha Na masuk dalam kamar orang lain selain kamarnya dan kamar anak\-anaknya.


"Ha Na.." suara Marco lirih menyapa.


Kim Ha Na tersenyum, langkahnya semakin dekat dengan Marco. Kim Ha Na berdiri dan melihat ke arah Marco.


"Hai, si keras kepala. Kenapa tidak mau makan? (Kim Ha Na duduk di ranjang, disamping Marco, tangannya menjulur memeriksa dahi Marco) kamu demam, makanlah dan minum obat. Apa terjadi sesuatu?" Banyak pertanyaan dari Kim Ha Na.


"Nyonya, bisakah bertanya satu pertayaan dan aku akan jawab, jangan membunuhku dengan banyak pertanyaan." Jawab Marco.


"Sama saja, jawab salah satu-satu. Aku ingin dengar jawabanmu." Kata Kim Ha Na, meletakan tas dan melepas mantel.


"Aku tidak ingin makan, karena terus merasa mual. Mulutkun juga sangat pahit, tidak terjadi apa-apa. Dokter mengatakan aku hanya kurang tidur dan istirahat saja." Jawab Marco.


"Sekarang makanlah, aku akan suapi." Kata Kim Ha Na.


Kim Ha Na mengambil mangkuk bubur diatas meja, di samping ranjang. Mengaduk-aduk bubur dan menyuapkan ke Marco.


"Makanlah beberapa sendok, lebih bagus jika di habiskaan." Kim Ha Na menatap Marco.


Marco merasa canggung, awlanya ragu untuk membuka mata. Namun sorot mata Kim Ha Na meluluhkan hatinya, Marco membuka mulut dan melahap bubur yang ada di sendok.


Dengan sabar Kim Ha Na menyuapi Marco, mengusap bibir Marco saat ada bubur yang belepotan. Marco senang dan juga terharu, sudah lama setelah kematian istrinya tidak ada yang begitu pedeli padanya. Marco terus menatap Kim Ha Na.


"Kenapa menatapku?" Tanya Kim Ha Na.


"Kenapa? Karena kamu cantik, baik, dan mempesona." Jawab Marco setelah menelan bubur dimulutnya.


"Manis sekali, terima kasih tuan Roobs untuk pujianmu." Jawab Kim Ha Na.


Marco terus melahap bubur hingga suapam terakhir, Kim Ha Na meletakan mangkuk kembali ke tempatnya dan menyiapkan obat Marco. Kim Ha Na membaca baik\-baik dosis obat yang tertera, lalu memberikan sesuai dosis yang tertulis pada Marco.


"Minum obatmu." Kim Ha Na memberikan obat dan air putih pada Marco.


Marco menelan obat dan meminum air putih prmberian Kim Ha Na, "thanks.." kata Marco.


Kim Ha Na mengambil gelas dari tangan Marco dan meletakan di meja.


"Sama\-sama, banyak istirahat Marco, kamu bukan lagi anak muda. Tubuhmu tidak sekuat saat muda." Kata Kim Ha Na.


"Hmm aku mengerti, aku akan dengarkan semua kata\-katamu. Kamu tidak menjaga putramu?" Tanya Marco.


"Tidak, dia dijaga oleh kekasihnya." Jawab Kim Ha Na.


"Anaknya memiliki kekasih, mamanya tidak?" Tanya Marco menggoda Kim Ha Na.


"Mamanya tidak perlu kekasih, karena mamanya bukan anak muda yang ingin bermain\-main cinta." Jawab Kim Ha Na.


"Lalu?" Sambung Marco.

__ADS_1


"Lalu apa Marco?" Kim Ha Na menatap Marco.


"Lalu apakah kamu tidak ingin membuka hatimu kembali? Tidak ingin kembali membangun sebuah bahtera rumah tangga?" Kata Marco penasaran ingin tahu.


"Ada apa? Kenapa pertanyaanmu menjadi seperti itu?" Kim Ha Na merasa sedikit canggung.


"Maaf aku terlalu ingin tau, bukan maksudku seperti itu." Marco juga tiba-tiba merasa canggung.


Suasana hening, Marco dan Kim Ha Na saling diam. Mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing.


"Maaf.. (suara Kim Ha Na lembut) aku tidak bermaksud membuat suasana camggung seperti ini. Aku hanya terkejut, tiba-tiba kamu bertanya hal seperti itu. Soal ini, aku juga ingin mmeberitahumu sesuatu." Kata Kim Ha Na.


"Katakan, apa itu?" Marco semakin penasaran.


"Tadi Julian datang ke rumah sakit, aku terkejut saat dia tiba-tiba memintaku menjadi mamanya. Dan anak-anakku pun sangat ingin kamu jadi papa mereka, ada apa dengan mereka semua." Kim Ha Na menjelaskan.


"Lalu? Kamu jawab apa? Kamu ingin tidak jadi mama Julian?" Marco bertanya dengan serius.


"Lalu? Kamu sendiri ingin jadi papa anak-anakku?" Kim Ha Na berbalik bertanya.


"Jika kamu ijinkan aku tidak keberatan, aku ingin menjaga dan melindungimu, juga anak\-anakmu." Jawab Marco dengan yakin.


Kim Ha Na menghela nafas panjang. "Apakah ini bentuk kesepakatan kita?" Kata Kim Ha Na.


"Maksudmu?" Marco bingung.


"Ayo kita saling melengkapi, entah ini benar atau tidak. Aku tidak ingin anak-anakku kecewa, jika kita berjodoh kita akan bersama hingga akhir." Kata Kim Ha.


"Benarkah? Jadi ini jawabanmu? Artinya ya?" Marco terlihat senang, Marco menatap Kim Ha Na.


Kim Ha Na mengangguk perlahan, Marco memegang tangan Kim Ha Na dan mencium lembut punggung tangan Kim Ha Na secara bergantian.


"Terima kasih Ha Na, kesempatan ink tidak akan aku sia-siakan. Aku akan memberikan seluruh hatiku padamu, dengan kesungguhan dan ketulusan." Ucap Marco.


"Aku berharap banyak padamu Marco. Aku ingin keluarga kita bahagia." Kata Kim Ha Na.


Marco menarik tangan Kim Ha Na dalam pelukannya. Ha Na memeluk Marco, rasa yang asing perlahan-lahan Kim Ha Na harus beradaptasi dengan keadaan. Harus kembali membuka hati dan mulai belajar mencintai Marco. Setidaknya Marco dan Kim Ha Na saling mengenal satu sama lainnya dan juga berteman baik. Mengerti kekurangan dan kelebihan masing-masing.


@@@@@... @@@@@...


Hallo semua..


Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..


Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..


Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..


Jangan lupa berikan vote juga ya..


Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,


•Pelukan Hangat Paman Tampan


(End, jika tidak ada kendala akan saya lanjutkan sekuel dari UMEKO SAKURA LEWI yang akan menjadi season ke tiga dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Pangeran Es Jatuh Cinta


(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Suami Pengganti


•Pangeran Vampir


•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2)


•Vampir "Sang Abadi"


•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar


•Cinta Lama Yang Datang Kembali


•Mommy And Daddy (CLYDK 2)


•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3


•Perfect Father


•Kamu Dan Aku


•Banyak ya.. (hehehe.. maafkan authornya lagi menggila bikin novel kala itu.. jangan khawatir pasti di tamatin semua kok..)


Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..


Terimakasih..


Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..


Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


Bye bye..


Salam hangat,

__ADS_1


"Dea Anggie"


 


__ADS_2