
Lovely terlihat sedih saat membantu papa dan mamanya didapur. Brian mendekati putri kesayangannya dan dan merangkul putri kesayanganya tersebut.
"Putri kesayangan papa, Ada masalah apa?" Tanya Brian.
Lovely menggeleng dan cemberut. Lovely memeluk papanya erat. "Aku sedih pa, aku sedih." Kata Lovely dengan suara serak.
"Papa tau, semua juga sedih atas kepergian pamanmu. Jangan manangis sayang." Brian mengusap kepala Lovely.
"Bukan hanya sedih karena harus kehilangan paman Abed pa, tetapi Lovely sedih karena Andrew menjadi aneh. Andrew sudah berubah." Batin Lovely.
Brian melepas pelukan, merapikan rambut Lovely kebelakang telinga. Brian tersenyum memegang wajah Lovely.
"Semua orang yang kehilangan pasti akan sedih. Papa juga sedih saat kehilangan orangtua papa. Namun yang pasti harus kita lakukan adalah bangkit dan berdiri. Jangan biarkan rasa sedih menghentikanmu utuk melangkah. Papa, mama juga sedih. Paman Abed adalah keluarga kita, orang terdekat kita. Lebih baik kita berdoa agar pamanmu tenang sayang." Kata Brian pada Lovely.
"Iya pa." Jawab Lovely.
"Ayo bantu papa cuci piring." Ajak Brian.
Lovely tersenyum manis kepada Brian dan mengangguk. Lovely dan Brian mencuci piring, sesekali Brian menggoda Lovely. Brian berusaha menghibur Lovely dan Amelia.
Semua duduk di meja makan. Lovely dan Andrew duduk berdampingan. Andrew memakai pakaian berlengan panjang, Andrew meletakan tangannya yang terluka di pahanya. Tidak ingin siapapun melihat luka yang membekas di punggung tangannya. Lovely hanya diam menatap tangan Andrew yang disembunyikan.
Andrew makan beberapa suap dan berdiri, Andrew menyudahi makan malamnya. Brian melihat dan menegur Andrew.
"Hanya makan beberapa suap saja. Tidak dihabiskan Andrew?" Tanya Brian.
"Aku sedang tidak nafsu makan paman. Aku juga sudah kenyang minum susu sore tadi." Jawab Andrew.
"Aahh baiklah. Istirahatlah nak, hari ini pasti sangat melelahkan." Brian tersenyum kearah Andrew.
"Terimakasih paman, selamat malam semua. Selamat malam mama." Andrew menatap Kim Ha Na, Kim Ha Na mengangguk dan tersenyum tipis.
Andrew melirik ke arah Lovely, Lovely langsung membuang pandangan ke arah lain. Andrew pergi, melangkahkan kaki menuju kamarnya meninggalkan meja makan. Amelia menatap Brian, Brian menatap Amelia, merek saling memandang Brian menggeleng dan mengangkat kedua bahunya. Kim Ha Na menutup mata kilas dan menghela nafas.
__ADS_1
"Maaf, aku harus kembali ke kamar. Kak Brian, kak Amelia terimakasih sudah mau repot memasak untuk kami. Maafkan aku menyusahkanmu kak." Ucap Kim Ha Na lirih.
"Tidak merepotkan Ha Na, ayo aku akan antar ke kamarmu." Jawab Amelia.
"Tidak kak, makanlah. Aku bisa pergi sendiri ke kamar." Kim Ha Na menolak bantuan Amelia.
Kim Ha Na berdiri, mendekati Michael dam Mattew. Kim Ha Na merangkul kedua anaknya mencium pipi michael dan Mattew secara bergantian.
"Selamat malam anak-anak mama. Selamat tidur dan bermimpi indah, mama sayang kalian." Ucap Kim Ha Na dengan suara lembut.
"Selamat malam ma, jaga kesehatan mama." Jawab Michael.
"Selamat tidur mama sayang." Jawab Mattew.
Kim Ha Na tersenyum, mengusap rambut Micahel dan Mattew bersamaan. Kim Ha Na tersenyum ke arah Brian dan Amelia lalu berjalan menuju kamarnya. Amelia memegang tangan Brian erat di bawah meja. Brian menatap Amelia mengerti maksud Amelia.
"Meski tersenyum manis, aku bisa merasakan sesaknya dadamu Ha Na. Kehilangan seseorang yang kita sayang, jika itu aku maka aku tidak akan yakin akan bisa bertahan dan tersenyum sepertimu. Senyumu yang manis sungguh menyayat hati Kim Ha Na." Batin Amelia.
Amelia berdiri dan meringkas piring dan gelas kotor, Brian membantu Amelia. Lovely masih makan dengan terus mimikirkan Andrew yang bertingkah Aneh. Michael dan Mattew juga masih menikmati makanan mereka masing-masing.
"Aku merindukanmu." Ucap Kim Ha Na.
"Apa kamu dengar sayang, aku merindukanmu. Sangat rindu.." Kim Ha Na menutup mata perlahan, membiarkan air matanya berlinang.
"Bisakah aku bertahan tanpamu? Aku sudah mulai goyah, rasanya aku juga ingin mati dan menyusulmu. Jika aku mati bagimana dengan anak-anak kita? Ini sungguh menyiksaku, aku bisa gila karena terus memikirkanmu. Aku tidak ingin kamu pergi Abed! Aku tidak mau seperti ini. Tidak ingin berpisah denganmu." Kim Ha Na merosot turun sampai ke lantai. Kepalanya masih bersandar di foto, kedua tangan Kim Ha Na menutupi wajah Kim Ha Na.
Kim Ha Na terisak, sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi. Kim Ha Na merasa seseorang memeluknya dari belakang, dan ada yang berbisik di telinganya.
"Maafkan aku sayang, jangan menangis." Suara yang didengar Kim Ha Na.
Kim Ha Na terkejut, "Abed" panggil Kim Ha Na.
Kim Ha Na memalingakan wajahnya mencari suara namun tidak ada siapa-siapa. Kim Ha Na menyeka air matanya dan Berdiri perlahan.
__ADS_1
"Hahaha.. apa aku sudah gila? Bisa-bisanya aku mendengar suaramu. Karena aku terlalu merindukanmu aku menjadi gila seperti ini." Kata Kim Ha Na berjalan perlahan menuju ranjangnya.
Kim Ha Na naik keranjang dan berbaring, Kim Ha Na melihat samping ranjangnya. Tangan Kim Ha Na meraba bantal dan ranjang yang ada di sampingnya.
"Mulai saat ini dan seterusnya aku akan tidur seorang diri. Tidak ada lagi yang memelukku, menciumku dan tidak ada lagi tempat untukku berkeluh kesah. Ini tidak adil, apa salahku sehingga orang yang aku sayangi harus direnggut? Ini menyakitkan, hatiku sudah menjadi satu dengan suamiku. Jika suamiku tiada maka hatiku juga ikut mati bersamanya." Kim Ha Na terus meracau.
Kim Ha Na menatap dengan pandangan kosong kearah samping ranjangnya. Tempat dimana Abed tidur, Kim Ha Na memejamkan mata dan tertidur. Air matanya terkuras habis, matanya sudah lelah untuk terbuka.
Andrew duduk dilantai bersandar di ranjangnya. Andrew merebahkan kepalanya di ranjang menatap langit\-langit kamarnya yang gelap. Saat lampu kamar mati, langit\-langit kamar Andrew berkilau karena Abed memasang bintang bintang kecil di langit\-langit kamar Andrew. Abed ingin Andrew tidak merasa kesepian dan takut lagi dikamar, disaat gelap.
Andrew menutup mata mengingat kata\-kata papanya saat itu. "Lihat nak, jika lampu kamarmu mati dan kamarmu menjadi gelap, maka dalam sekejap kamarmu akan kembali terang karena bintang\-bintang itu. \(Abed menunjuk langit\-langit kamar, Andrew dan Abed berbaring di ranjang dan menatap langit\-langit kamar\) jangan takut lagi, jadilah laki\-laki yang berani. Papa tau Andrew adalah laki\-laki yang kuat dan berani. Apa kamu suka dekorasi yang papa buat?" Abed bertanya kepada Andrew.
"Waah ini luar biasa pa. Papa hebat." Ucap Andrew kagum.
Abed memeluk Andrew, saat itu Andrew masih seorang anak yang polos. Andrew sangat menyukai bintang\-bintang nya dan tidak takut lagi tidur dalam kegelapan. Sampai akhirnya Andrew tumbuh dewasa bintang\-bintang itu tetap bersinar menerangi kamarnya. Andrew tidak mau merubah dekorasi kamarnya baginya dekorasi papanya sudah sangat luar biasa. Andrew hanya akan mengganti warna dinding kamarny saja, tidak boleh akan seorangpun yang berani menyentuh bintang bintangnya.
Air mata keluar perlahan dan berlinang membasahi wajah Andrew. Andrew membuka mata lerlahan dan memanggil papanya. "Papa, aku merindukanmu pa.." Ucap Andrew.
Andrew meres rambutnya dan merasa kesal jika mengingat kejadian itu. Andrew seakan berubah menjadi sosok lain, Andrew tidak bisa menagan emosinya. Andrew marah dan sangat kesal, Andrew mulai membenci dirinya sendiri. Merasa jika dirinya tidak berguna, tidak berguna karena tidak bisa menolong papanya. Tidak berguna karena harus menyakiti keluarganya atas kepergian papanya. Andrew kesal pada dirinya saat melihat mamanya ada ke dua adiknya, merasakan jika dirinya adalah anak paling sial!
@@@@@..... @@@@@.....
Hallo..
Maaf ya hari ini telat update,, tiba tiba tadi pagi saya demam..
Jangan lupa like,, komen dan vote ya..
Sampai bertemu di episode selanjutnya..
Bye bye..
♡Dea Anggie😉♡
__ADS_1