Lelaki Bayaran Amelia

Lelaki Bayaran Amelia
S2 - EPISODE 155


__ADS_3

Andrew duduk bersandar di kursi, di meja makan ada beberapa botol wine dan sebuah gelas. Andrew sudah banyak minum, sepulangnya Andrew dari kantor hingga sore Andrew tidak berhenti mimum. Ponselnya berdering, panggilan dari seseorang di Amerika. Andrew menerima panggilan tersebut.


(Percakapan di telepon)


"Hallo." Andrew menjawab telepon.


"Hallo tuan, saya sudah dapatkan beberapa informasi mengenai tamu-tamu penting dan orang-orang yang berbicara dengan tuan Abed saat di pesta." Kata seseorang di panggilan itu.


"Cepat katakan, jangan basa-basi denganku." Kata Andrew.


Seseorang di ujung telepon diam sejenak, lalu tidak lama bicara. "Tuan Abed selalu berdekatan dan berbincang dengan seorang pria tua bernama Simon Jack. Simon Jack adalah salah satu pengusaha yang beeasal dari Inggris, selain Simon Jack juga beberapa tamu lainnya yang bicara dengan tuan Abed. diantara tamu-tamu yang hadir ada seorang pengusaha besar juga berasal dari Inggris tinggal di kota yang berbeda dengab Simon Jack. Yaitu keluarga Roobs, pengusaha terbesar kota A di Inggris. Dari awal sampai akhir acara lelang tuan besar selalu bersama dengan Simon Jack, saya akan kirim gambar tuan dan Simon Jack. Pakaian yang dikenakan tuan dan Simon Jack pun sama, maksud saya warna yang sama hanya berbeda pada dasi yang di kenakan." Seseorang di telepon menjelaskan dengan detail sampai akhir.


"Kirim gambarnya padaku sekarang." Andrew memutus panggilan dan meletakan ponselnya di meja, Andrew kembali menuang wine dan meneguk wine dengan sekali minum.


Ponsel Andrew berdering, ada pesan masuk. Andrew mengambil ponselnya dari meja. Seseorang di panggilan tadi mengirim gambar. Mata Andrew melebar, pakaian yang dikenakan papanya dan juga Simon Jack terlihat sangat mirip jika dilihat sekilas. Tetapi sebenarnya memiliki motof berbeda jika di lihat dari dekat. Andrew menatap gambar dan berfikir, tangan kirinya memijat lembut pangkal hidungnya.


Andrew kembali memikirnya petunjuk di mimpinya, mengingat setiap kata yang yang dikatakan oleh penculik. Andrew teringat akan kata-kata penculik saat menganiaya papanya, penculik-penculik tersebut mengatakan sesuatau.. (pergi menyusul anak dan istrimu.)


Andrew memukul meja, "sial! Apa ini. Anak dan istri? Bukan kah istri dan anak-anak papaku masih hidup. Kenapa penculik keji itu berkata hal yang membingungkan? Apa jangan-jangan papaku korban salah sasaran? Papaku juga tidak punya musuh. Jangan -jangan yang akan di tangkap sebenarnya adalah Simon Jack?? Ahhh kenapa aku berfikir jauh, astaga.. ini membuatku kesal." Andrew mengacak-acak rambutnya.


Andrew kembali menghubungi seseorang yang memberikan informasi padanya. Pangilan tersambung dan tidak lama terhubung. Andrew langsung memerintahakan seseorang tersebut ke Inggris dan mencari informasi mengenai Simon Jack.


(Percakapan dalam panggilan)


"Tuan, apa saya tidak salah dengar? Informasi detai mengenai Simon Jack?" Tanya seseorang di ujung telepon.


"Ya, aku ingin tau profil dari Simon Jack, semua yang berkaitan dengan Simon Jack." Jawab Andrew.


"Baik tuan, secepatnya saya akan mencari informasi yang anda butuhkan." Menjawab dengan serius.


"Cepatlah, aku butuh informasi itu secepatnya. Jika butuh apa-apa hubungi aku. Aku akan mentransfer uang padamu nanti sebagai uang muka pekerjaanmu ini. Ingat! Jangan sampai mama dan adik-adikku tau, sampai pekerjaanmu ini gagal aku akan langsung membunuhmu dengan tanganku sendiri." Andrew mengancam seseorang di ujung telepon lalu memutus panggilan.


Andrew meletakan ponselnya di meja, menuang wine dan meneguknya lagi. Andrew meletakan gelas di meja dengan keras sampai gelas di tangannya retak. Andrew menatap kedepan dengan tatapan yang kosong, Andrew melamun.


Bayangan saat papanya dipukuli dan di tembak kembali datang membuat Andrew kesal. Andrew mengobrak-abrik meja sehingga botol wine jatuh ke lantai dan pecah, Andrew melempar gelas wine dinding jauh di depannya disaat bersamaan Lovely masuk kedalam rumah. Lovely meminta supir dan sekertaris Andrew kembali pulang, Lovely menutup pintu dan berlari menghampiri ruang tengah yang berdekatan dengan meja makan.

__ADS_1


"Andrew, apa ini? Kamu benar-benar sudah tidak waras." Umpat Lovely.


"Ya, jika aku gila apa kamu akan pergi? Pergilah, tinggalkan aku! Hahahaha.." Jawab Andrew lalu tertawa lebar.


Lovely sedih, Lovely mendekat dan memeluk Andrew. Lovely menangis melihat seseorang yang disayanginya berubah menjadi seperti ini.


"Jangan seperti ini Andrew, jangan membuatku khawatir." Kata Lovely dengan suara lirih.


Andrew melepas pelukan dan pergi. Andrew bahkan menginjak pecahan botol wine dengan kakinya yang tidak memakai alas kaki. Lovely menutup mulutnya dengan dua tangan melihat darah segar mengalir dari kaki Andrew. Andrew mencabut pecahan botol dan kembali berjalan ke kamarnya tanpa menghiraukan rasa sakit di kakinya. Lovely panik, Lovely mengejar Andrew dan meminta Andrew ikut bersamanya ke rumah sakit.


"Andrew, jangan seperti ini. Ayo kita kerumah sakit. Lukamu banyak mengeluarkam darah, kamu akan kehabisan darah jika seperti ini." Lovely bicara dengan suara lantang.


"Aku ingin mati. Aku tidak mau hidup." Jawab Andrew tanpa ekspresi.


Andrew merasakan pusing, kepalanya seperti berputar. Andrew berjalan melewati Lovely dan tiba-tiba saja ambruk. Andrew tersungkur di lantai.


"Andrew.." Teriak Lovely.


Lovely semakin panik melihat Andrew yang seperti ini. Lovely berfikir dan langsung menghubungi sekertaris Andrew. Memberi tau tentang kondisi Andrew, Lovely meminta sekertaris memanggil dokter atau ambulance secepatnya. Karena keadaan Andrew benar-benar darurat.


10 menit kemudian..


Lovely menangis tersedu dengan posisi jongkok di kamar Andrew. Sekertaris Andrew membantu Lovely berdiri dan memapah Lovely agar duduk di sofa.


"Maaf nona, boleh saya tau ada masalah apa?" Tanya sekertaris.


Lovely menatap sekertaris dan menyeka air matanya. "Maaf membuatmu repot dengan membantuku. Dan juga membuatmu melihat aku menangis seperti ini. Aku juga tidak tau apa yang terjadi, dia bukan seperti yang dahulu aku kenal. Semenjak papanya meninggal dia berubah seperti ini. Dia diam dan tidak bicara padaku. Aku harus bagaimana? Kenapa dia tidak mau menceritakan bebannya padaku? Kenapa dia harus melukai dirinya sendiri seperti ini?" Lovely mengungakapkan isi hatinya.


"Tabahkan hati anda nona. Kehilangan oramg yang terdekat kita memang sangat menyakitkan, terlebih saya mendengar jika direktur Williams meninggal dengan cara tidak wajar." Kata sekertaris yang merasa iba melihat keadaan bosnya dan juga keadaan Lovely.


Lovely kembali menyeka air matanya dan tersenyum tipis. "Baiklah, setelah ini kamu bisa kembali pulang. Suami dan anakmu pasti sudah menunggu, maafkan aku jika aku sampai menelponmu tadi. Aku benar- benar panik dan cemas, aku bingung ingin menghubungi siapa. Karena aku tidak mengenal siapapun disini, maafkan aku." Ucap Lovely yang menatap sekertaris Andrew dengan mata berlinang air mata.


Sekertaris Andrew berdiri dari duduknya dan memeluk Lovely, mencoba menenangkan Lovely. Lovely menangis dipelukan sekertaris Andrew.


"Tidak apa nona, saya senang anda menghubungi saya. Jangan bersedih, kuatkan hati anda nona. Jika anda lemah maka anda tidak akan bertahan." Ucap sekertaris Andrew.

__ADS_1


Lovely melepas pelukan dan tersenyum, sekertaris Andrew menyeka air mata Lovely dan tersenyum.


"Terimakasih, ayo kita ke kamarku dan lihat keadaan Andrew." Lovely berdiri dan pergi meninggalkan kamar Andrew di temani oleh sekertaris Andrew.


Saat Lovely dan sekertaris ingin masuk dalam kamar, dokter keluar dari dalam kamar. Mereka bertemu di depan pintu kamar dan berbincang.


"Bagaimana dokter? Bagaimana luka-lukanya?" Tanya Lovely.


"Nona, apa yang terjadi kepada tuan? Sepertinya anda harus membawa tuan ke psikiater untuk pemeriksaa lebih lanjut. Jika tidak maka akan terjadi hal yang lebih buruk dari ini. Untuk saat ini tuan melukai diri sediri, jika tuan mulai menyerang dan meluakai anda atau orang lain bagaimana? Semuanya mungkin saja terjadi nona, sebaiknya anda mengikuti saran saya. Untuk luka-lukanya sudah saya berikan obat dan perawatan yang intensif, anda tidak perlu cemas. Hanya saja perlu rutin mengganti perbannya." Jelas dokter pada Lovely.


"Baik dokter, saya akan dengar apa kata anda. Jika anda ada seorang yang bisa membantu saya menangani Andrew, anda tidak perlu sungkan untuk memberitahu saya." Jawab Lovely.


"Sebenarnya ada, hanya saja jadwalnya sangat padat di laboratorium. Dia juga tinggal di luar kota, usianya masih sangat muda namun kemampuannya dalam hal seperti ini tidak diragukan lagi. Saya akan mencoba menghubunginya untuk anda." Kata dokter.


"Baiklah dok, saya menunggu kabar dari anda. Saya juga akan mencari psikiater yang bagus di beberapa rumah sakit besar yang ada disini. Terimakasih atas bantuan anda." Lovely tersenyum cantik.


"Saya permisi nona, semoga tuan lekas sembuh. Jangan lupa resep obat yang saya berikan." Dokter pergi meninggalkan Lovely.


"Saya akan antar dokter nona, saya juga permisi pulang ke rumah untuk berganti pakaian. Saya akan kembali membara resep tuan Williams." Kata sekertaris.


"Baiklah, (memberikan resep) maaf merepotkanmu lagi." Kata Lovely.


"Tidak masalah nona. Sampai jumpa, saya permisi" kata sekertaris yang juga bergi mengikuti dokter.


Lovely menghela nafas panjang dan masuk dalam kamarnya, menutup kamarnya perlahan berjalam mendekati Andrew yang berbaring di ranjangnya. Lovely duduk di tepi ranjang dan memegang tangan Andrew yang diperban. Lovely mencium tangan Andrew yang diperban dan menempelkan tangan Andrew di wajahnya. Lovely terlihat sedih.


@@@@@..... @@@@@.....


Hallo hallo hallo..


Jangan lupa like,, komen dan vote ya..


Terimakasih..


Sampai jumpa di episode selanjutnya..

__ADS_1


Bye.. bye..


♡Dea Anggie😉♡


__ADS_2