Lelaki Bayaran Amelia

Lelaki Bayaran Amelia
Lelaki Bayaran Amelia 41


__ADS_3

Jakarta, Indonesia.


Rumah sakit


Brian langsung menuju rumah sakit. Amelia menunggu diluar ruangan. Karena sedang menidurkan Lovely. Brian masuk sendiri kedalam kamar Clara bersama Lely dan Mely. Brian berjalan cepat menghampiri tantenya. Brian melihat tantenya sedang tertidur pulas, Brian memegang erat tangan Clara dan memencium tangan Clara.


Brian: Tante, Brian datang. Tante harus bertahan dan sembuh.


Clara perlahan membuka mata melihat Brian. Clara tersenyum manatap Brian, air mata Clara berlinang. Clara bicara pada Brian dengan suara serak dan terbata bata.


Clara: Brian,maafkan tantemu ini nak. Inilah buah dari apa yang tante dan ommu lakukan padamu. (Terseyum) tolong bantu tante menjaga Lely dan Mely. Hanya kamu keluarga mereka yang tersisa.


Brian: tante jgn bicara lagi. Tante pasti sembuh Brian pasti akan melakukan yang terbaik demi kesembuhan tante.


Clara: Brian.... tante sudah tidak kuat lagi. Terimakasih sayang, kamu sangat baik dan pengertian. Tante menyesal membuat om mu menjadi orang yang jahat. Tante adalah orang yang jahat, tantelah yang jahat. Tante lah yang........................ ber..sa....lah....


Clara seketika lemas, Brian terkejut melihat tantenya yang terdiam.


Brian: tante.. tante.. (menggoyang goyangkan tubuh Clara) dokter.. (Brian berlari keluar memanggil dokter, Brian berteriak mengejutkan Amelia)


Dokter berlari kearah Brian dan langsung masuk kedalam ruangan. Brian mengikuti dokter, Lely dan Mely menangis saling berpelukan. Dokter memeriksa keadaan Clara. Amelia masuk dan mendekati Brian, memegang erat tangan Brian. Brian menatap Amelia, Amelia tersenyum cantik berusahan menegarkan hati suaminya. Dokter berbalik dan menatap Brian, Brian mengerutkan dahinya.


"Maaf Ibu Candra sudah meninggal"


Lely: Mama..... (berteriak)


Mely: Mama.... (terisak)


Brian: tolong urus surat kematian secepatnya dokter, saya akan bawa tante saya ke rumah duka.


Dokter: iya pak. Saya akan segera urus, silahkan bapak ke bagian administrasi mengurus biaya administrasi.


Brian: iya dok.


Dokter pergi meninggalkan ruangan. Brian mendekati Lely dan Mely, mengusap kepala Lely dan Mely. Lely menatap Brian, memeluk Brian. Brian memegang tangan Mely dan memeluk Mely. Lely dan Mely menangis tersedu.


Brian: sabar ya.. kuatkan hati kalian. Aku akan urus administrasi dulu. Kalian tunggu disini, setelah surat kematian keluar kita bisa bawa mama kalian ke rumah duka. Lely, hubungi pihat rumah duka suruh mereka siapkan semuanya.


Lely: iya, aku mengerti.


Brian melepas pelukan dan pergi meninggalkan ruangan bersama Amelia. Mereka menuju bagian adminiatrasi. Brian dan Amelia mengantri di bagian administrasi. Amelia menatap Brian, Brian masih terlihat tenang. Meski berkali kali menghela nafas panjang.


"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?"


Brian: biaya administrasi atas nama Clara Caroline Wijaya.


"Silahkan.. (menyodorkan kertas) mau bayar tunai,debit atau kartu kredit?"


Brian: pakai tunai saja. (Mengeluarkan amplop coklat dari saku mantelnya)


Brian menghitung jumlah uang yang di bayarkan. Proses pembayaran di lakukan. Brian menerima kwitansi pembayaran dan pergi meninggalkan bagian administrasi. Brian dan Amelia berjalan kedalam ruangan, Lely menghampiri Brian.


Lely: mobil dari rumah duka sudah dalam perjalanan. Aku pesankan ruangan mama di sebelah papa.


Brian: hubungi kerabat mamamu, kabari mereka semua.


Lely: sudah, sebagian sudah datang di rumah duka, ditempat papa.


Brian: oke..


15 Menit kemudian..


Mobil dari yayasan rumah duka sudah datang. Surat kematian sudah dikeluarkan. Semua prosedur rumah sakit sudah dilakukan. Clara di bawa masuk kedalam mobil. Lely dan Mely ikut masuk dalam mobil yang membawa Clara. Brian dan Amelia menggunakan mobil pribadi. Mobil dari rumah duka berjalan meningglkan rumah sakit. Brian dan Amelia measuk dalam mobil, supir membawa mereka menuju rumah duka.


Brian sudah mulai gelisah, Amelia memegang erat tangan Brian. Brian menatap Amelia dan tersenyum canggung. Amelia mengusap lembut wajah Brian.


Amelia: sabar ya, turut berduka atas perginya om dan tantemu.

__ADS_1


Brian: terimakasih sayang.


Brian melihat Lovely yang tertidur pulas. Brian mencium kening Lovely dan mencium kening Amelia. Brian merangkul Amelia dan mengusap lembut kepala Amelia.


Brian: maaf, sepertinya beberapa hari kedepan akan menjadi hari yang melelahkan. Jaga kondisimu dan Lovely sayang.


Amelia: kamu juga, jaga kondisi. Kamu bisa menasihatiku, bagaimana denganmu? (Manatap Brian)


Brian: aku pasti akan baik baik saja sayang.


Mobil berhenti, Brian dan Amelia turun dari mobil dan mendekati mobil yang membawa Clara. Pihak rumah duka langsung menangani.


"Siapa walinya?"


Brian: saya yang akan mengurus segala administrasinya. Tolong berikan layanan terbaik.


"Baiklah, saya mengerti. Saya sudah siapkan ruangan di samping ruang pak Candra"


Brian: tolong buka saja pintu pembatasnya. Jajarkan peti mati mereka, kami akan adakan penutupan peti bersama dan segera akan kami makamkan.


"Saya mengerti"


Brian, Melia, Lely, dan Mely berjalan menuju ruangan Jony. Saat pintu ruangan terbuka semua tamu melihat kearah Brian, Amelia, Lely dan Mely. Brian berjalan mendekati peti mati Jony. Brian membuka kain transparan yang menutupi peti. Brian terdiam memandangi Jony yang terbujur kaku dihadapannya.


(Dalam hati Brian)


Hallo om, Brian datang. Maaf baru mengunjungimu, aku harus mengurus tante. Tante Clara tidak bisa hidup tanpa om Jony. Tante pun pergi menyusulmu om. Semoga kalian tenang, aku tidak pernah dendam pada om dan tante. Aku tidak pernah membenci kalian, aku menyayangi kalian. Hanya kalian keluargaku satu satunya yang aku miliki.


Lely: (mendekati Brian) kak, ada tamu yang datang, tamu dari perusahaan.


Brian: ah.. iya.


Brian kembali menutup peti dengan kain. Brian menyambut tamu yang datang. Mengucapkan terimakasih kepada tamu yang akan kembali pulang. Brian berdiri di samping peti mati Jony.


Banyak tamu berdatangan, sesekali terlihat Brian berbincang. Amelia duduk dan memangku Lovely ditemani Mely. Lely mendampingi Brian sebagai wali orangtuanya. Amelia menatap Mely dan mengusap bahu Mely.


Mely: kak Amel.. (menatap amelia) terimakasih sudah mau datang. Aku mengira kakak membenciku karena papa dan mamaku dulunya jahat kepada kak Brian.


Amelia: itu sudah berlalu sayang. Lupakan saja, semua orang bisa berbuat salah. Emosi dan nafsu kadang kala tidak bisa dikendalikan. Aku dan Brian sudah memafkanmu jauh sebelum kalian meminta maaf pada kami. Kamu tau? Brian tidak pernah membenci kalian. Dia selalu menyayangi kalian.


Mely: aku malu, kak Brian adalah sepupu yang baik. Tapi papa dan mamaku dulu tidak mau menampungnya atau mengurusnya, mereka mengusir kak Brian dan menelantarkannya. Tidak peduli pada nasib kakak Brian. Aku ingin membantu, namun aku takut pada papa dan mama. Sekarang disaat orangtuaku tiada kak Brian justru memberi pelayan terbaik.


Amelia: sayang, sudah jangan ungkit masa lalu. Setelah kita urus pemakaman mama dan papamu ikutlah bersama kami ke Amerika, apa kamu mau?


Mely: maaf kak, sepertinya tidak bisa. Aku sudah mempunyai usaha butik. Aku tidak bisa meninggalkan usahaku. Mempunyai butik adalah impianku dari kecil.


Amelia: baiklah jika itu maumu. Aku tidak bisa memaksa, jika kamu bosan main mainlah ke Amerika bersama kakakmu.


Mely: iya kak, kamu sangat baik hati. Tidak heran kak Brian sangat menyukaimu. Semoga selalu bahagia kak, dan juga semoga Lovely mempunyai kebaikan hati seperti papa dan mamanya.


Amelia: thanks Mely. Kamu juga semangat ya. Ini bukan akhir segalanya, ditinggal orang tua memang sangat menyedihkan, namun kita harus bisa berjuang. Kamu tidak ingin kan papa dan mamamu sedih melihatmu.


Mely: (mengangguk) ya.. aku mengerti kak. Semangat.. (tersenyum)


Amelia tersenyum cantik pada Mely, mely menatap Lovely dan menggoda Lovely.


♡♡♡♡♡


Keesokan harinya..


Penutupan peti sudah dilakukan. Hari ini adalah hari pemakanan Jony dan Clara. Peti Jony dan Peti Clara masing masing dibawa oleh mobil yang beebeda. Lely mendampingi Jony, Mely mendampingi Clara. Brian dan Amelia mengikuti dengan mobil Pribadi. Kali ini Brian menyetir sendriri. Beberapa kerabat jauh dan rekan bisnis turut serta menghantar kepergian Jony dan Clara menuju tempat peristirahatan yang terakhir. Rombongan mobil pergi meninggalkan rumah duka menuju pemakanan.


Didalam mobil Brian dan Amelia berbincang, mereka mebicarakan Lely dan Mely. Amelia menceritakan tentang percakapannya dengan Mely. Karena kemarin Brian terlihat sibuk mengurus tamu dan keperluan lainnya, Amelia tidak sempat bicara dengan Brian. Amelia beru bisa menyampaikannya hari ini.


Amelia: jadi kedepannya bagaimana?


Brian: apa lagi? Jika mereka tidak ingin ikut ya sudah. Biarkan Lely yang menjalankan perusahaan. Dia lulusan Management bisnis pasti juga pernah belajar pada papanya. Lely harus berjuang membangun dan mengembangkan usaha papanya. Siap tidak siap dia harus menjalankan.

__ADS_1


Amelia: kamu akan tinggal memantau Lely.


Brian: tidak, aku akan suruh Boby saja yang datang membantu.


Amelia: aku mencium aroma perjodohan.


Brian: hei.. apa maksudmu?


Amelia: kamu mengirim seorang pria lajang pada wanita lajang? Seperti perjodohan.


Brian: sayang, berhentilah bergurau. Tahu dari mana mereka lajang? Aku meminta Boby datang juga untuk memantau kondisi perusahaan papaku. Boby banyak pengalaman dalam bisnis, dia juga siaga. Sangat pas untuk mendampingi Lely.


Amelia: ya ya ya.. semoga Lely menyetujui rencanamu.


Brian: terserah saja, mau setuju atau tidak. Boby akan tetap datang ke Jakarta untuk memantau perusahaanku disini, titik.


Amelia: (melihat kedepan dan sekeliling) apakah kita sudah sampai?


Brian: ya, kita susah sampai dipemakaman. (Memarkir mobil)


Mobil berhenti, Brian dan Amelia turun. Ramai orang berbondong bondong datang ke upacara pemakaman Jony dan Clara. Mereka tiba di lokasi, prosesi pemakaman di mulai. Dimulai dengan doa bersama. Mendoakan Jony dan Clara agar bisa tenang. Proses demi proses terlewati, saat kedua peti dimasukan kedalam tanah dan mulai ditutup tanah Lely menjerit histeris. Tak kuasa menahan kesedihannya. Mely merangkul Lely, berusaha menenangkan Lely.


Tanpa sadar Brian meneteskan air mata. Brian sudah menahan diri, agar tidak menangis. Namun pada akhirnya tangisannya pecah. Brian menutup mata dan menghela nafas.


(Dalam hati Brian)


Selamat jalan om Jony, tante Clara. Semoga tenang dan damai disana. Kami semua menyanyangi kalian.


Brian membuka matanya perlahan, Brian terkejut karena melihat bayangan yang sangat mirip dengan papa dan mamanya, berdiri di samping Nisan Jony dan Clara. Mereka tersenyum ke arah Brian. Brian mengusap matanya perlahan, bayang itu telah hilang. Brian menatap Amelia, dan memegang erat tangan Amelia.


Brian: ayo kunjungi papa dan mamaku juga. Sepertinya mereka juga merindukan kita.


Amelia: ya, kita akan kesana dan mengenalkan lovely kita pada papa dan mama.


Brian: ya, kita kesana setelah semua selesai.


Proses akhir juga sudah di lakukan. Beberapa orang sudah mulai meninggalkan pemakaman. Lely dan mely berlutut di depan Nisan kedua orang tuanya. Brian dan Amelia pergi meninggalkan Lely dan Mely menuju pemakaman orang tuanya.


Sesampainya di depan nisan orangtuany Brian menggendong Lovely dan menunjukan Lovely foto kakek dan neneknya. Lovely tersenyum meraba foto kakek dan neneknya.


Brian: pa.. ma.. terakhir datang aku hanya membawa istriku Amelia. Sekarang aku sudah memiliki anak. Ini Lovely, cucu kalian. Maaf aku terlalu sibuk dan mengabaikan kalian.


Amelia mendekati Brian, Amelia menatap foto papa dan mama mertuanya. Amelia menutup mata dan berdoa. Lovely menatap mamanya yang berdoa, mencium Amelia dan meraba wajah Amelia. Amelia memmbuka mata dan tersenyum pada Lovely. Amelia menggendong Lovely, memberi waktu pada Brian untuk berdoa dan berkeluh kesah pada orang tuanya. Brian menutup matanya dan melipat tangannya, mendoakan papa dan mamanya. Air mata mengalir, membasahi wajah tampan Brian. Amelia mendekat dan mengusap punggung suaminya. Amelia menepuk punggung Brian perlahan, menenangkan Brian. Brian membuka mata dan menyeka air matanya.


Amelia: jangan di tahan, sudah lama tidak menemui papa dan mamamu kan? Kamu pasti merindukan mereka. Sampaikan saja apa yang ingin kamu sampaikan sayang.


Brian: alu sudah sampaikan semuanya Amelia. Sudah semakin sore, lebih baik kita pulang. Kasian Lovely, dia juga pasti sudah lapar.


Amelia: baiklah kalau begitu. (Menatap ke arah foto orangtua Brian) papa.. mama.. kami pulang.. (melambaikan tangan Lovely) bye bye Kakek nenek, Lovely pulang..


Brian: pa.. ma.. selama aku di sini, aku akan mengunjungi papa dan mama setiap hari. Sekarang aku harus pulang.


Brian merangkul Amelia dan berjalan bersama Amelia meninggalkan pemakaman. Hati Brian lega dan tenang, senyumnya mengembang. Brian mengambil alih menggendong Lovely dengan satu tangan dan tangan satunya menggandeng tangan Amelia. Mereka berjalan perlahan menuju parkiran untuk kembali pulang.


Hallo semua..


Terimakasih banyak sudah mau datang berkunjung dan membaca karya saya.


Beri dukungan pads karya saya dengan cara memberi like, ☆ dan isi kolom komentar.


Beri tip juga boleh.


Bye bye..


Sampai jumapa di episode selanjutnya..


Salam hangat,

__ADS_1


"Dea Anggie"


__ADS_2