Lelaki Bayaran Amelia

Lelaki Bayaran Amelia
S2 - EPISODE 131


__ADS_3

Selesai makan malam dengan keluarganya, Abed mengajak keluarganya untuk foto keluarga. Setelah semua selesai mereka kembali pulang. Sesampainya di rumah semua masuk dalam kamar masing masing.


Andrew masuk dalam kamarnya, melonggarkan dasi dan membuka kancing kemejanya paling atas. Andrew membuka jas dan melempar ke ranjang, Andrew berjalan ke arah sofa, duduk bersandar di sofa dan menyilangkan kaki diatas meja.


Andrew melihat ponselnya dan melihat ada sekertarisnya yang mengirim pesan. Andrew melihat isi pesan dari sekertarisnya.


(Isi pesan)


"Tuan, saya sudah kirim melauli email daftar kegiatan direktur. Dalam bulan ini beliau mendapatkan beberapa undangan dalam satu bulan ini, dan semua sudah di hadiri oleh tuan Alvin. Hanya tinggal satu undangan acara lelang amal. Yang akan di selenggarakan besok pukul delapan malam."


Andrew menghela nafas, kepalanya masih penuh dengan tanda tanya. Andrew meletakan ponselnya di meja dan mere**s rambutnya. Kepalanya sedikit pusing dan terasa berat. Pandangan Andrew menjadi gelap, lagi lagi melihat hal yang tak ingin dilihat. Kejadian yang sama, suara tertawa dan suara tembakan yang membuat Andrew semakin tidak nyaman. Andrew kembali tersadar, hidungnya mengeluarkan darah. Kepalanya seakan ingin meledak.


Pintu diketuk dan dibuka, Abed masuk dengan membawa segelas susu hangat untuk Andrew. Abed berjalan mendekati Andrew dan duduk di samping Andrew. Abed meletakan gelas berisi susu melihat kearah Andrew. Abed terkejut melihat hidung Andrew yang banyak mengeluarkan darah sampai mengotori kemeja putih yang di kenakan Andrew.


Abed meraba saku celananya dan mengeluarkan sapu tangannya. Segera membantu menghentikan darah yang keluar dari hidung Andrew.


10 menit kemudian..


Darah yang keluar dari hidung Andrew berhasil di hentikan. Abed merasa lega dan mulai tenang. Abed duduk bersandar mengatur nafasnya. Abed kembali melihat kearah Andrew, kembali memastikan jika keadaan putranya baik-baik saja.


"Kamu baik- baik saja nak? Apa yang terjadi? Sampai hidungmu berdarah seperti ini?" Abed bertanya kepada Andrew, Andrew tak langsung menjawab. Andrew menatap papanya dengan mata berkaca kaca. Ingin bicara namun seakan mulutnya terkunci.


"Katakan pada papa, ada apa." Abed meyakinkan Andrew untuk bercerita.


"Pa, aku melihat hal yang sama lagi. Dan itu membuatku penasaran, siapa orang yang aku lihat. Gambaran yang sama dan kejadian yang sama terus terulang." Andrew menjelaskan.


"Tenangkan dirimu, papa tau itu sulit meski papa tidak sepertimu. Kamu harus kuat Andrew, jangan pernah menyerah. Papa akan selalu mendukungmu." Berusaha menenangkan Andrew.

__ADS_1


"Bagaimana ini, anakku sudah mulai khawatir. Padahal aku datang untuk menanyakan sesuatu, aku beberapa kali bermimpi bersama nikita dan juga Naomi. Aku ingin tau apa artinya, tapi sepertinya Andrew sedang banyak pikiran. Aku akan bertanya lain waktu saja." Batin Abed.


Abed mengambil gelas berisi susu hangat di meja lalu meberikannya kepada Andrew. "Minumlah ini, hangatkan tubuhmu. Setelah itu cepat ganti bajumu. Bersihkan bekas noda darahmu juga."


"Iya pa, teriamakasih." Jawab Andrew menerima gelas berisi susu pemberian Abed.


"Tidurlah nak, papa akan melihat Michael dan Mattew. Selamat malam, mimpi indah." Abeb derdiri, mencium kilas kepala Andrew. Tidak lama Abed pergi meninggalkan Andrew.


Andrew, menatap gelas berisi susu yang ada ditangannya. Tiba tiba perasaannya menjadi sedih. Andrew meminum susu di gelas yang dipegangnya sampai tetes terakhir.


"Ini hanya susu, kenapa aku harus sedih? Dadaku sesak, hatiku sakit saat menerima gelas susu ini dari papa." Batin Andrew.


Andrew meletakan gelas susu di meja. Berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. Andrew ingin membersihkan noda bekas darah di tubuh dan kemejanya.


 


Abed mengetuk pintu perlahan dan membuka pintu kamar Michael. Abed masuk dan kembali menutup pintu. Abed berjalan perlahan mendekati Michael yang sedang tidur. Membenahi selimut Michael, Abed membelai lembut rambut Michael dan mencium kening Michael.


Abed pergi meninggalkan kamar tidur Michael. Dan pergi ke kamar tidur Mattew, Abed mengintip dan melihat Mattew masih belum tidur. Mattew masih bermain game di ponselnya.


"Hallo, papa boleh masuk Matt?" Sapa Abed mengejutkan Mattew.


"Hai pa, masuklah." Jawab Mattew.


Abed masuk dan berjalan mendekati Mattew yang sedang duduk manis diatas ranjang bermain game. Abed duduk di tepi ranjang menatap Mattew.


"Mattew belum tidur?" Tanya Abed kepada putra bungsunya.

__ADS_1


"Belum pa, Mattew tidak bisa tidur. Papa belum tidur? Besok papa tidak bekerja?" Tanya Mattew.


"Tentu saja bekerja, jika tidak bekerja bagaimana bisa memenuhi kebutuhan sehari hari kita dan membayar sekolahmu? Akhiri game mu, simpan ponselmu dan tidur. (Mattew menatap Abed, Mattew mengakhiri game nya dan meletakan ponselnya di meja yang ada di sisi ranjangnya lalu berbaring.) Bagus, ayo tidur.. papa akan temani." Brian naik keatas ranjang dan berbaring di samping Mattew.


"Pa, apa aku akan menjadi pria sukses seperti papa? Akan menjadi pandai seperti kak Andrew dan kak Michael?" Tanya Mattew dengan ragu ragu.


"Mattew dengar, jika ingin sukses kamu harus mau berusaha dan bekerja keras. Tidak hanya kak Andrew dan kak Michael, Mattew juga pandai. Semua putra papa pandai." Menjawab pertanyaan Mattew.


Mattew mengangguk mendengar jawaban papanya, rasa kantuk menyerang. Mattew memejamkan mata lalu terlelap tidur. Brian mengusap kepala Mattew dan mencium kening Mattew.


"Kamu adalah cermin masa kecil papa Matt, papa juga sepertimu saat papa masih kecil. Papa adalah pria yang keras kepala dan tidak sabaran. Terlebih lagi papa adalah orang yang jahat, semoga kalian semua baik baik saja. Papa tidak ingi kalian menjadi orang jahat seperti papa. Cukup papa saja, tidak ingin kalian hidup menderita seperti papa. Terlebih kamu Matt, kamu sangat mirip dengan papa. Cara bicaramu dan pemikiranmu juga sana seperti papa." Batin Abed.


Abed bangun dan menarik selimut menutupi tubuh Mattew. Abed tersenyum menatap Mattew, Mattew benar benar mirip sepertinya. Abed turu dari ranjang dan pergi meninggalkan kamar Mattew. Abed menutup pintu kamar Mattew, berjalan mengusap tengkuknya dan merenggangkan otot bahunya. Berjalan menuju kamarnya, dan masuk kedalam kamarnya. Abed melihat Kim Ha Na yang sudah berbaring di ranjang. Abed naik keatas ranjang masuk dalam selimut dan berbaring di samping Kim Ha Na. Abed melihat punggung Kim Ha Na yang ada di depannya, Abed tersenyum manis. Abed mendekat dan memeluk erat Kim Ha Na.


"Aku mencintaimu Ha Na." Ucap lembut Abed ditelinga Kim Ha Na.


@@@@@.... @@@@@.....


Hallooo..


Jangan lupa like,, komen dan vote ya..


Terimakasih..


Sampai jumpa di next episode..


Bye bye..

__ADS_1


♡Dea Anggie😉♡


 


__ADS_2