My Little Dosen

My Little Dosen
CHAPTER 144


__ADS_3

Denzel yang sudah keluar dari dalam kamarnya, dia langsung saja berlalu masuk kedalam kamar Cryill.


Dan ketika Denzel sudah masuk kedalam kamar Cryill, Denzel melihat jika Cryill terlihat seperti sedang terpuruk sekali, sambil menelfon seseorang.


Dan Cryill sendiri yang sedang menelfon, tiba-tiba melihat Kakaknya masuk kedalam kamarnya pun, Cryill langsung saja mengakhiri panggilan telefonnya itu.


" Ada apa Kak?? ",, tanya Cryill dengan suara lemasnya kepada Denzel.


" Apa kamu mau tahu dimana keberadaan dari Khafita Cryill?? ",, kata Denzel kepada Cryill sambil duduk dipinggir ranjang milik Cryill.


Cryill langsung saja terlihat sedikit cerah wajahnya ketika mendengar perkataan dari Denzel itu.


" Apa Kakak mengetahui dimana keberadaan dari Khafita?? ",, tanya Cryill sambil berjalan mendekati Denzel.


Dan Denzel pun hanya mengangguk saja kepada Cryill.


" Bagaimana Kakak bisa tahu, cepat katakan kepada Cryill Kak, dimana Khafita berada?? ",, kata Cryill kepada Denzel sambil duduk diranjang sebelahnya Denzel.


" Dia ada dirumah sakit San Fransiscus Bernardus diNegara Barbados ",, jawab Denzel kepada Cryill.


Cryill sungguh sangat cerah sekali wajah dia ketika sudah mendapatkan informasi dari Denzel.


Sungguh daritadi Cryill sangat frustasi ketika dia menelfon semua teman-temannya untuk mencarikan keberadaan dari Khafita dirumah sakit yang ada diluar Negeri, namun semuanya Cryill tidak ada yang bisa menemukannya.


Wajar saja jika temannya Cryill tidak ada yang mengetahui keberadaan dari Khafita, sebab Cryill sendiri tidak mempunyai teman yang berasal dari Negara Barbados.


" Apa Kakak tidak bercanda kepada Cryill?? ",, tanya Cryill kepada Denzel.


" Untuk apa Kakak bercanda kepadamu Cryill, sudah sana telefon pilot kita untuk mengantarkanmu terbang kesana ",, kata Denzel kepada Cryill sambil tersenyum tipis sekali.


" Terimakasih Kak Denzel, terimakasih ",, kata Cryill sambil memeluk Denzel dan sambil juga mencium tangannya Denzel dengan sangat senang sekali.


Cryill sangat tahu sekali, walau Kakaknya terlihat sangat dingin dan cuek kepadanya, akan tetapi dibalik itu semua Cryill juga tahu jika Kakaknya sangat menyayanginya.


" Iya, sudah sana bersiap-siap, karena perjalanan yang akan kamu tempuh membutuhkan waktu yang cukup lama sekali ",, kata Denzel kepada Cryill.


" Baik Kak ",, jawab Cryill dengan sangat semangat sekali kepada Denzel.


" Kalau begitu Kakak mau istirahat dulu dikamar, dan pastikan sebelum hari pernikahan Kakak dengan Tevy kamu sudah pulang kesini, awas saja jika kamu tidak menghadiri pernikahan dari Kakak ",, kata Denzel kepada Cryill.


" Siap Kak, Cryill pasti akan menghadiri pernikahan Kakak dengan Tevy, dan Cryill akan membawa serta mengajak Khafita pulang kesini ",, jawab Cryill dengan sangat mantap sekali kepada Denzel.

__ADS_1


" Semoga berhasil ",, kata Denzel sambil menepuk pelan pundaknya Cryill.


Dan setelah mendengar jawaban dari Cryill, Denzel langsung saja berlalu lagi menuju kedalam kamarnya sendiri.


Sedangkan Cryill sendiri, setelah kepergian dari Denzel, dia langsung saja menyiapkan barang-barang yang ingin dibawanya untuk mengunjungi Khafita.


Dan Cryill akan menanyakan langsung kepada Khafita apakah dia benar-benar serius dengan perkataannya yang ada disurat ataukah dia cuma karena putus asa saja.


Dan Cryill akan pastikan itu semua nanti ketika dia sudah bertemu dengan Khafita.


Kembali keDenzel.


Denzel yang sudah sampai didalam kamarnya, dia langsung saja melihat Tevy sedang memainkan laptopnya lagi.


" Kamu sedang apa Tevy, apa masih mau menghack situs dari Kerajaan lagi?? ",, tanya Denzel kepada Tevy sambil berjalan mendekati Tevy.


" Dia memanggilku Tevy lagi, biarlah, aku malah lebih nyaman dipanggil itu dulu daripada Mami ",, batin dari Tevy ketika mendengar panggilan dari Denzel tadi.


" Bukan, aku sedang membuka semua email-emailku yang belum aku baca dari kemarin ",, jawab Tevy kepada Denzel.


Denzel pun hanya diam saja dan terus berlalu menuju kearah ranjang.


Dan sesampainya diatas ranjang, Denzel langsung saja ikut melihat apa yang sedang dilihat oleh Tevy didalam laptopnya.


" Hmm, apa Tevy?? ",, jawab Denzel kepada Tevy.


Dan Denzel sendiri pun dia lupa dengan panggilan Mami Papinya.


" Bolehkah aku mengajar lagi, sungguh aku sangat rindu sekali dengan suasana mengajar ",, kata Tevy kepada Denzel.


Wajah dari Denzel langsung saja berubah mimik mukanya ketika dia mendengar perkataan dari Tevy.


" Boleh ya Denzel ",, kata Tevy lagi kepada Denzel yang hanya diam saja.


" No!!!, tidak akan aku ijinkan kamu mengajar lagi Tevy, apa masih kurang apa yang aku berikan kepadamu Tevy?? ",, jawab Denzel kepada Tevy.


" Bukan itu masalahnya, yang aku inginkan adalah bisa merasakan kegiatan mengajar seperti yang dulu aku lakukan sebelum mengenalmu Denzel ",, kata Tevy kepada Denzel.


" Sekali tidak ya tetap tidak Tevy ",, jawab Denzel kepada Tevy tetap kekeh dengan perkataannya.


Dan pastinya Denzel tidak akan membiarkan Tevy untuk mengajar lagi, sebab itu artinya Tevy akan sering bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa cowoknya yang pastinya akan lebih muda darinya.

__ADS_1


Dan Denzel sungguh sangat tidak suka dengan pemandangan itu semua.


" Jika kamu tidak, aku juga tidak mau untuk menikah dengan kamu Denzel, biarlah aku sekarang menelfon Ayah atau Kak Charles dan Kak Christian untuk menjemputku kesini, terus aku akan menyuruh mereka untuk tidak membiarkan kamu bisa menemuiku dengan mudah ",, jawab Tevy kepada Denzel dengan nada mengancam.


" Kamu mengancamku Tevy??!! ",, kata Denzel kepada Tevy dengan nada yang lebih keras lagi dari Tevy.


" Siapa yang mengancam kamu Denzel!!, terserah kamu saja, aku tidak mau juga sama kamu!! ",, kata Tevy kepada Denzel dengan nada yang sangat marah sekali.


Setelah itu Tevy langsung saja beranjak turun dari atas ranjang menuju kebalkon kamarnya itu.


Sedangkan Denzel yang melihat sikapnya Tevy seperti itu, dia langsung saja mengambil nafasnya dengan sangat dalam sekali, dan lalu dia hembuskan dengan cara perlahan-lahan.


Sebab Denzel tidak mau keterusan marah dengan Tevy yang sedang hamil dan tidak boleh mendapatkan tekanan atau stres fikirannya.


Sungguh dari kemarin-kemarin Denzel sudah berdoa semoga Tevy tidak meminta kepadanya untuk mengajar lagi.


Namun ternyata doanya tidak dikabulkan oleh Tuhan.


Dan saat ini Tevy meminta hal yang sangat tidak disukainya itu.


Melihat kepergian dari Tevy, Denzel pun tiba-tiba saja langsung juga beranjak turun dari atas ranjang dan langsung berlalu keluar kamar.


Tevy yang mendengar pintu tertutup dia lalu berjalan masuk kedalam kamar lagi dan Tevy tidak melihat Denzel berada didalam kamar.


" Huh!!, sudah aku duga pasti akan susah membujuk Denzel untuk mengijinkanku mengajar lagi ",, kata Tevy dengan lesu.


" Sungguh aku sangat merindukan kehidupanku yang dulu sebelum bertemu dengan Denzel, bisa mengajar, berbincang-bincang dengan semua para mahasiswi dan mahasiswaku tanpa adanya kekangan dari siapapun ",, kata Tevy lagi sambil duduk dishofa yang ada didekat jendela.


" Padahal rencanaku, jika aku tidak ditemukan oleh Denzel kemarin, aku ingin mengajar lagi dikampus yang berbeda dan tentunya yang dekat dengan panti asuhannya Mamah Orlin, tapi semuanya..............???, ah ya sudahlah ",, kata Tevy lagi dengan perasaan yang sedikit bersedih.


" Apa aku meminta Ayah saja ya untuk membangunkan sekolahan supaya aku bisa mengajar sepuas aku disana?? ",, kata Tevy lagi yang tiba-tiba terlintas ide seperti itu.


" Aaaah tidak jadi ah,............ huft!! ",, kata Tevy lagi dengan masih berbicara sendiri.


Dan ketika Tevy sedang suntuk seperti itu, tiba-tiba saja Denzel masuk lagi kedalam kamar dan langsung saja berjalan mendekati Tevy yang sedang duduk sambil melihat kearah Denzel.


Denzel yang sudah sampai didepannya Tevy, dia langsung saja berdiri didepannya Tevy, namun Tevy dia hanya diam cuek saja tidak memperdulikan Denzel.


Dan Denzel yang melihat sikapnya Tevy seperti itu kepadanya, dia hanya tersenyum tipis sekali.


...🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2