
Kita tidak akan membahas Cryill dulu, karena dia masih berada didalam pesawat belum sampai diNegara asalnya.
Kita juga tidak membahas Khafita karena dia sedang sibuk menjalani pengobatannya.
Namun kita akan membahas yang bisa dibahas saja, dan kali ini yang kita bahas keDenzel dulu, baru geser kepemain lainnya lagi.
...πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ...
Denzel yang masih berada didalam mobil, tiba-tiba saja mendapatkan telefon lagi, dan kali ini ketika dilihat oleh Denzel siapa yang menelfonnya, ternyata dari Ayah Marson.
Ayah Marson yang tadi sudah sampai didalam kamarnya sendiri, dia langsung saja mencoba menghubungi Denzel.
" Halo Tuan Marson ",, kata Denzel ketika mengangkat sambungan telefon dari Ayah Marson.
" Halo Tuan Denzel, segeralah pulang, karena Tevy terlihat sedikit pucat sekali wajahnya, saya tidak mau terjadi apa-apa dengan anak saya Tuan Denzel, mungkin jika ada anda disisinya, dia mau berbagi cerita apa yang sedang dialaminya ",, kata Ayah Marson kepada Denzel.
Dan Denzel yang mendengar perkataan dari Ayah Marson, terdengar sekali, jika Ayah Marson sangat mengkhawatirkan keadaan dari Tevy.
" Iya Tuan Marson, saya sudah tahu, tadi Tevy baru saja menelfon saya, dan ini saya juga sedang dalam perjalanan pulang menuju kemansion anda ",, jawab Denzel kepada Ayah Marson.
" Baiklah kalau begitu, hati-hati dijalan Tuan Denzel ",, kata Ayah Marson lagi kepada Denzel.
" Oh ya satu hal lagi Tuan Denzel, jika nanti malam saya akan mengadakan acara makan malam bersama untuk merayakan kehadiran Tevy dimansion saya, nanti tolong sampaikan kepada Tevy Tuan Denzel. karena saya tadi tidak sempat mengatakannya sendiri kepada Tevy ",, sambung lagi perkataan dari Ayah Marson kepada Denzel.
" Baik Tuan Marson ",, jawab Denzel kepada Ayah Marson.
" Kalau begitu saya tutup dulu telefonnya Tuan Denzel ",, kata Ayah Marson kepada Denzel.
Dan Ayah Marson langsung saja mematikan sambungan telefonnya ketika sudah mendengar jawaban dari Denzel.
Ketika Denzel ingin memasukkan ponselnya lagi kedalam saku jasnya, tiba-tiba saja ponselnya berdering lagi.
Dan kali ini yang menelfon Denzel adalah Mamah Qiara.
" Halo Mah ",, kata Denzel ketika sudah mengangkat sambungan telefon dari Mamah Qiara.
" Halo Denzel, kamu ada dimana??, bukannya kata kamu, Tevy sudah pulang dari rumah sakit, kenapa dimansion kalian tidak ada, ini Mamah sama Papah sudah sampai dimansion kamu ",, kata Mamah Qiara kepada Denzel.
" Kami sedang berada dimansionnya Tuan Marson Mah, nanti malam Mamah sama Papah datang saja kesana, karena akan ada pengumuman penting yang ingin kami sampaikan disana ",, jawab Denzel kepada Mamah Qiara.
" Baiklah, berikanlah alamatnya keponsel Mamah ",, kata Mamah Qiara kepada Denzel.
" Iya nanti akan Denzel kirimkan lewat pesan saja Mah ",, kata Denzel kepada Mamah Qiara.
__ADS_1
" Terus kalau adik kamu Cryill kemana dia ",, tanya Mamah Qiara lagi kepada Denzel.
" Dia sedang pergi keBarbados Mah ",, jawab Denzel kepada Mamahnya.
" Untuk apa adik kamu pergi keBarbados sana Denzel?? ",, tanya Mamah Qiara lagi kepada Denzel.
" Nanti Mamah bisa tanya sendiri kepada Cryill Mah ",, jawab Denzel kepada Mamah Qiara.
" Baiklah, kalau begitu Mamah tutup dulu telefonnya, Mamah mau istirahat dulu, capek sekali badan Mamah ",, kata Mamah Qiara kepada Denzel.
" Iya Mah ",, jawab Denzel dengan singkat kepada Mamah Qiara.
Dan setelah itu sambungan telefon mereka terputus sudah.
Dan akhirnya juga mobil yang ditumpangi oleh Denzel, sampai juga dimansion Ayah Marson.
Pintu gerbang nan besar dan megah itu langsung saja terbuka dengan sangat lebar sekali, ketika penjaga pintu gerbang masih hafal wajah dari Denzel.
Dan Denzel langsung saja bergegas turun dari dalam mobilnya untuk segera masuk kedalam mansion Ayah Marson, ketika mobil yang dia tumpangi sudah sampai didepan pelataran mansion Ayah Marson.
Ketika Denzel sudah masuk kedalam mansion Ayah Marson, Denzel sedikut kebingungan karena dia tidak tahu dimana Tevy berada.
Setelah berfikir sejenak, Denzel langsung saja berinisiatif untuk menelfon Tevy.
" Mami ada dimana??, Papi sudah sampai dimansion Tuan Marson ",, tanya Denzel kepada Tevy sambil berdiri diruang tamu milik Ayah marson.
" Didalam kamar Papi, kamar Mami ada dilantai dua terus jika sudah sampai dilantai dua Mami tunggu didepan pintu saja ",, jawab Tevy kepada Denzel.
" Iya baiklah, Papi akan mencarinya sendiri ",, kata Denzel kepada Tevy.
Dan Denzel langsung saja mematikan sambungan telefonnya itu, tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Tevy.
Setelahnya Denzel langsung mencari dimana lift yang ada dimansion Ayah Marson berada.
Dan Ayah Marson serta Mamah Jovanka tidak mengetahui jika Denzel sudah datang, karena mereka berdua sedang berada didalam kamar mereka sendiri untuk beristirahat.
Namun fikir Denzel daripada kelamaan mencari dimana liftnya berada, Denzel memilih menaiki tangga saja.
Ketika sudah sampai dilantai dua, Denzel yang dihadapkan dua belokan, kekanan atau kekiri, dia lalu memilih belok kekanan, sebab insting dia mengatakan jika kamar Tevy berada disebelah kanan tangga.
Dan benar saja jalan yang dipilih Denzel, dari jauh Denzel sudah melihat Tevy sedang berdiri didepan pintu.
Begitupun dengan Tevy, dia sudah tersenyum tipis ketika dia melihat Denzel sedang berjalan kearahnya.
__ADS_1
Dengan segera Denzel langsung saja bejalan mendekati Tevy, dan mereka berdua langsung juga masuk kedalam kamar tersebut.
" Maaf sayang, lama ya menunggu Papi datang ",, kata Denzel dengan lembut kepada calon buah hatinya itu sambil mengusap perut buncitnya Tevy.
" Tidak apa-apa ko Papi ",, jawab Tevy kepada Denzel.
" Sebentar, Papi mau kekamar mandi dulu ya Mami ",, kata Denzel kepada Tevy.
Dan Tevy hanya mengangguk saja menanggapi perkataan dari Denzel.
Tevy yang melihat Denzel sudah melepaskan jas, sepatu, dasi, dan juga kemejanya pun dia langsung saja masuk kedalam kamar mandi.
Sedangkan Tevy sendiri, dia langsung saja memilih merebahkan badannya diatas ranjang lagi, sambil menunggu Denzel untuk keluar dari dalam kamar mandi.
" Sekarang ayo tidur yuk baby, Mami sangat capek sekali sayang, itu Papi juga sudah pulang ",, kata Tevy mencoba mengajak berbicara kepada keempat calon anaknya itu.
Dan setelahnya Tevy lalu mencoba memejamkan matanya, sambil mengusap-usap sendiri perut buncitnya itu.
Denzel yang sudah keluar dari dalam kamar mandi, dia melihat Tevy sedang tiduran miring sambil mengusap perut buncitnya, bibir dia langsung saja tersenyum manis.
Denzel langsung melangkahkan kakinya untuk menuju keranjang, dan Tevy yang merasa ranjang disebelahnya bergerak, dia langsung saja membuka matanya.
" Halo my boy, rindu Papi?? ",, kata Denzel sambil mengusap pelan perutnya Tevy.
" Boy??, memangnya mereka laki-laki semua Papi?? ",, tanya Tevy kepada Denzel.
" Tidak tahu, tapi Papi yakin salah satu diantara mereka pasti ada yang berjenis kelamin laki-laki ",, jawab Denzel kepada Tevy sambil terus mengusap perut Tevy.
" Itu artinya apa Papi tidak menyukai anak perempuan?? '',, tanya Tevy lagi kepada Denzel.
" Mami salah, justru anak perempuan nanti, dia yang akan paling Papi manjakan, paling Papi perketat penjagaannya, sebab Papi tidak mau jika dia besar nantinya akan dimanfaatkan oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab ",, jawab Denzel kepada Tevy.
" Sedang anak laki-laki nanti dia akan Papi bimbing untuk menjadi pemimpin yang tangguh dan tentunya bisa meneruskan semua usaha dari Papi maupun Papah sayang ",, lanjut lagi perkataan dari Denzel kepada Tevy.
Tevy langsung saja tersenyum manis sekali kepada Denzel, ketika mendengar perkataan dari Denzel.
Karena dibalik wajah garang nan dingin milik Denzel, tersimpan kasih sayang yang besar untuk calon keempat buah hati mereka.
Dan sepertinya hati Tevy sedikit demi sedikit sudah terbuka untuk Denzel, ketika Tevy semakin mengetahui bagaimana sifat asli dari Denzel.
...π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»...
...***TBC***...
__ADS_1