Nanditha

Nanditha
CURAHAN HATI KIARA


__ADS_3

Gunadh memijit pelipisnya. Kepalanya mendadak sakit karena ulah sang putri.


Ia tidak habis pikir, kenapa putri manisnya itu bisa berubah tidak bisa diatur?


Tok


tok


tok


"Tuan, nona Mira saat ini masih berada di rumah sakit tempat ia melarikan diri tadi sore. Pengawalnya masih mencoba mendekatinya dengan perlahan agar ia tidak menghilang lagi." Takut-takut asisten Arya menjelaskan pada tuannya.


Bukan perkara mudah, menghadapi nona kecil kesayangan tuannya itu. Pasalnya selain cerdik, gadis delapan tahun itu memiliki riwayat kesehatan yang menghawatirkan.


Ia akan mengalami emosi yang tidak stabil bila dipaksa atau mengalami tekanan emosi berlebih. Ia bisa mengamuk, bisa tidak sadarkan diri, atau bisa jadi ia tidak mau bersosialisasi dengan orang di sekitarnya.


Itu sebabnya meskipun para penjaga sudah berhasil menemukannya, tidak serta merta mereka bisa membawa sang nona pulang dengan mudah.


🌟🌟🌟


Sementara itu di taman rumah sakit, gadis berbeda generasi itu sedang asyik berbicara kesana kemari. Terkadang tertawa bersama, tak jarang si gadis kecil memperlihatkan wajah kesal, bibirnya mengerucut lucu atau bola mata mendelik.


Pemandangan itu di awasi oleh beberapa orang dari dua sudut yang berbeda.


Satu sisi para pengawal yang masih mencari cara membawa sang nona pulang, dan di sisi lain seorang gadis SMA dengan mata sembab masih mengumpulkan keberanian untuk mendekat.


"Non Mira,,, hari sudah malam, apa bisa kita pulang sekarang?" Pengawal itu akhirnya mendekat dan berusaha berbicara dengan halus.


Meski dalam hatinya ia mengumpat kesal pada anak majikannya itu.


Mira hendak berlari, tapi tangannya segera digenggam oleh Nandita.


"Nanti dulu,,, kamu belum selesai mendengar ceritaku,,,." Pintanya pada gadis kecil itu.

__ADS_1


Ia ingin menahan Mira agar tidak kabur. Ia yakin pasti anak itu sedang dalam aksi melarikan diri.


"Nanti aja kita ceritanya,, aku harus segera pergi. Aku ga mau pulang sama mereka. Nanti Daddy pasti larang aku ke mana mana lagi. Daddy jahat, suka ingkar janji. Katanya mau anterin aku ketemu mommy, tapi sampe sekarang janjinya ga pernah ditepati"


Nandita iba mendengar curahan hati gadis itu. Ia mengelus lembut kepala Mira, menatap manik mata gadis manis itu.


"Kamu ga boleh gitu, kalau kamu ingin sesuatu sebaiknya kamu bilang sama papa kamu dengan baik. Jangan kabur seperti ini, nanti papa kamu semakin marah dan makin ga mau anterin kamu ketemu sama mama. Lagi pula pasti beliau punya alasan yang kuat, kenapa belum mau mengajak kamu ketemu mama."


"Tapi aku masih marah sama daddy, aku ingin tinggal sama mommy aja!"


"Maka itu kamu harus pulang, bicara sama papa kamu. Siapa tau nanti papamu langsung setuju kalau kamu bicara baik-baik." Nandita masih membujuk gadis kecil itu dengan sabar.


Akhirnya gadis kecil itu menganggukkan kepala, lalu melangkah mendekati pengawalnya.


Ia pasrah diajak pulang, meski wajahnya tidak seceria tadi saat bermain bersama Nandita.


Nandita hendak kembali ke rumah. Hari sudah gelap, waktu menunjukkan pukul 20.25.


"Kak Dita,,,, boleh aku duduk di sini juga?" Kiara ragu-ragu berucap.


Landita bangkit ingin meninggalkan tempat itu segera.


"Tunggu kak,,,, boleh Kia ngobrol sama kak Dita sebentar?"


"Sorry ya ini udah malem, aku mau pulang" Nandita menolak


"Sebentar aja kak,,,, aku mohon,,,." Suara Kiara terdengar sumbang.


Nandita berbalik, dilihatnya Kiara menangis. Kepalanya menunduk, kedua kakinya ditekuk dengan tangan memeluk lutut.


"Aku ga tau harus cerita sama siapa kak,,, aku merasa sendiri di dunia ini. Melihat keadaan kak Andra, aku merasa menjadi adik yang ga berguna, kak Andra didiagnosa mengalami depresi. Selama ini ternyata ia memendam segalanya sendiri. Dia ga punya teman yang bisa menjadi tempat berkeluh. Dia ga punya kebebasan untuk bergaul, karena mama papa, memberi beban tanggung jawab padanya untuk menjaga dan mengawasi aku juga Bima. Selama ini aku kira dia tidak keberatan dengan semua itu. Aku sama Bima sering membuat masalah di sekolah, kami berharap mama papa akan lebih perduli dengan kami. Tapi tiap kali orang tua dipanggil ke sekolah, selalu kak Andra yang hadir sebagai wali. Tanpa kami tahu, setiap kali kami bermasalah, mama papa selalu menyalahkan kak Andra karena dianggap ga becus mengurus adik - adiknya." Nandita mendekat kembali, duduk di samping Kiara yang kini menatap wajahnya dengan sedih.


"Kak Andra bukan anak yang biasa berargumen, ia tidak berani mendebat mama papa. Dan aku sama Bima ga tau soal itu. Bodohnya aku,,, huhuuuuuu" Kiara tidak bisa menahan isaknya. Ia pukul-pukul dadanya, mencoba melepaskan sesak yang menghalangi jalan napasnya.

__ADS_1


Hatinya sakit,, rasa bersalah pada sang kakak menguasai hati dan pikirannya.


Ya,, kalau saja ia tidak sering berbuat ulah, maka sang kakak tidak akan selalu dipersalahkan oleh kedua orang tuanya.


"Aku minta maaf atas nama kak Andra,,. Maafkan dia karena sikap serta ucapannya, pasti membuat kakak merasa terluka. Dari psikolog itu aku tau, apa yang kak Andra lakukan pada kak Dita itu adalah bentuk pelampiasan dari rasa tertekan yang ia pendam. Karena hanya kak Dita orang luar yang dekat dengannya." Kiara menjeda kalimatnya. Menarik nafas, kemudian kembali bercerita.


"Tadinya kak Andra tulus berteman dengan kakak. Ia juga berusaha menekan rasa iri di hatinya, setiap melihat kehangatan keluarga kalian yang ga kami dapatkan dari mama papa kami. Tapi semakin lama, rasa iri dan rasa tersaingi itu semakin tumbuh subur di hatinya. Apalagi ia selalu berada di bawah kak Dita dalam setiap kompetisi. Begitu juga soal kak Satya, kak Andra ternyata sudah memendam perasaan suka dari awal kalian berteman. Dan seperti kak Dita tahu, ternyata kak Satya malah suka sama kak Dita. Dan itu membuat kak Andra putus asa. Kakak tau,, kemarin kak Andra sempat mengamuk, ia memukul kakinya yang patah. Melepas paksa selang infus di tangannya. Dan ternyata, ia sengaja menabrakkan mobilnya ke pohon besar itu, berharap dengan begitu hidupnya akan berakhir."


Nandita membekap mulutnya,, air matanya sedari tadi mengalir deras. Ternyata sedalam itu luka batin yang Candra alami selama ini. Hati yang sempat keras kini kembali melembut mendengar penuturan Kiara.


Ya,, Nandita memang selalu memandang segala sesuatu dari berbagai sudut pandang. Itu sebabnya ia bisa mengendalikan emosi sedari ia remaja. Karenanya ia bisa mengatakan bahwa ia sudah memaafkan sikap Candra selama ini.


Ia beruntung meski kehidupan sulit ia jalani, tapi itu dilajaninya bersama keluarga. Ia tidak pernah merasa sendiri sebab orang tua, kakak serta adiknya adalah tempat terbaiknya berkeluh selama ini.


Meski kata sayang tidak pernah terucap dari bibir mereka masing masing, tapi mereka akan selalu saling merangkul saat salah satu mengalami masalah.


Ini hal baru baginya. Dihadapkan pada kenyataan bahwa dirinya menjadi salah satu pemicu seseorang mengalami tekanan emosi. Bahkan harus menjalani konseling dengan seorang psikolog.


Egonya melarang untuk memperbaiki hubungannya dengan Candra. Tapi sisi nuraninya mengingatkan bahwa tidak ada salahnya untuk melupakan masa lalu dan kembali memperbaiki semuanya.


Ia menepuk pundak Kiara,, dielusnya kepala gadis remaja itu dengan lembut. Ia seperti melihat sosok Malikha pada diri Kiara. Seorang adik yang lemah, masih memerlukan perlindungan dan tuntunan yang benar agar tidak salah melangkah.


Tidak bisa dipungkiri, ia mengakui sosok Candra sebagai kakak yang hebat untuk adik-adiknya. Bahkan ia mampu hingga sejauh ini meski tanpa dukungan moral dari orang tua.


"Kamu yang sabar ya,,,, sekarang tugas kamu menjadi pelindung untuk kakakmu. Jangan pernah berhenti memberinya perhatian dan kasih sayang. Kakak juga minta maaf kalau kata-kata kakak tadi, menyakiti hati kamu juga Candra. Tapi kakak juga manusia biasa yang masih memiliki ego." Ditatapnya gadis yang ada di sampingnya itu.


Tangis Kiara sudah reda, hanya menyisakan mata sembab, dan sesekali sesenggukan.


"Sebaiknya kamu kembali temani Candra, jangan biarkan dia sendirian. Kakak ga janji akan bisa memperbaiki hubungan kami seperti dulu. Tapi kakak sudah memaafkannya. Kalau kamu ingin berbagi cerita, kamu bisa hubungi kakak tanpa sepengetahuannya."


Kembali ia melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.45


"Ini sudah malam, kakak pulang dulu ya. Kamu jangan lupa istirahat juga." Pamitnya pada Kiara dan dibalas anggukan gadis itu.

__ADS_1


Hati Kiara lega setelah berhasil mencurahkan isi hatinya pada Nandita.


Ia bersyukur, Nandita bukan orang yang kaku, sehingga bisa menerima semua yang terjadi dengan ikhlas.


__ADS_2