Nanditha

Nanditha
LAMARAN SETTINGAN??


__ADS_3

"I love you"


Bisik Gunadh tepat di telinga Nandita.


Memeluk tubuh mungil itu dari belakang, degup jantung ke duanya saling bersahutan.


"Kamu bukan yang pertama, tapi kamu satu-satunya.


Kamu memang tak sempurna, tapi di sampingmu aku merasa bahagia.


Terima kasih sudah mau menerima aku yang penuh kekurangan ini. Menjadikan aku orang yang paling beruntung, karena kamu memilih aku."


Menjeda sejenak, kemudian dengan lembut membalikkan tubuh Nandita agar menghadap ke arahnya.


"Di antara bumi dan langit, disaksikan dewa Dewi di tempat ini, dan juga para pengunjung. Aku Gunadhyia Arjava melamar kamu Nandita Mentari, sebagai istriku, ibu dari anak-anakku. Memeluk kala resah dan tenang ku, menemani saat suka dan duka ku. Menikahlah denganku." Gunadh tiba-tiba berlutut dan mengulurkan kotak cincin ke hadapan Nandita.


Gadis itu menutup mulutnya, kaget.


Menggelengkan kepala, tanda tak percaya.


"Mas." Kembali diam, belum tau apa yang harus dilakukan. Sementara mata semua orang tertuju padanya.


Menarik nafas dalam, setelah beberapa saat dipaksa berpikir cepat.


"Kalau tunangan aku mau, tapi menikah tunggu satu atau dua tahun lagi." Ucapnya pada akhirnya.


Gunadh menyematkan cincin di jari manis Nandita.


"Baiklah, kita menikah satu tahun lagi." Putus laki-laki itu.


Tepuk tangan pengunjung membungkam mulut Nandita untuk berkata.


Banyak yang mengabadikan momen romantis itu. Dan mengunggahnya di media sosial masing-masing.


"Habis ini kita mau ke mana mas?" Tanya Nandita sambil mengaduk minuman yang dipesannya.


Saat ini mereka sedang duduk santai di sebuah kafe.


"Kamu maunya ke mana?"


"Pulang aja ya, aku capek. Besok kan harus kerja juga."


"Gak boleh gitu ijin sehari aja? Aku pengen ajak kamu jalan-jalan lagi besok."


Alis Nandita berkerut. Aneh. Gunadh memang sering mengajaknya keluar, tapi kalau sampai bolos kerja, itu tidak pernah.


"Mas, kenapa tiba-tiba melamar aku? Mas kan tahu aku gak mau cepat-cepat menikah. Kalau aku nolak gimana? Apa gak malu?"


Gunadh menghela nafas berat. Memang, terlalu beresiko. Tapi dia tahu, Nandita tidak akan Setega itu mempermalukan dia di depan umum.


Ia sengaja melakukan itu, untuk menunjukkan pada dunia bahwa dia sudah memiliki kekasih. Sudah serius akan menikah. Karena sudah pasti fotonya akan viral di medsos. Sebab beberapa pengunjung yang mengabadikan lamarannya itu, adalah orang-orang bayarannya. Ide Arya memang terkadang gila.


Sebelumny.


Pagi hari, di hari yang sama.


Gunadh sudah mendaratkan pantatnya dengan nyaman di kursi kebesarannya. Arya baru saja kembali ke ruangan sebelah, tempatnya bekerja, setelah memberi laporan mingguan yang biasa ia lakukan pagi hari.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


"Tuan," Arya muncul di depan pintu. Ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


Tiba-tiba tubuh laki-laki lajang itu bergeser terpojok di sudut pintu. Seseorang mendorongnya dengan sedikit kasar dari belakang.


"Mas." Rupanya wanita itu yang datang, mengganggu ketenangan pagi Gunadh.


"Ngapain kamu ke sini?" Ketus Gunadh dengan wajah tak bersahabat.


Safira mendekat. Namun tangan Gunadh menghentikan langkahnya.


"Tetap di sana, bicara dari sana." Titahnya.


Safira mematung. Lalu kemudian melirik Arya yang masih berdiri di ambang pintu.


"Arya tetap di sini. Tidak akan kemana-mana. Kalau kamu mau bicara, bicara saja. Kalau tidak silahkan keluar, saya masih banyak pekerjaan."


Raut tidak suka, sudah tak lagi Gunadh sembunyikan.


Bagaimana tidak, ia merasa marah atas sikap Namira terhadap Nandita. Rupanya perlakuan putrinya itu, akibat hasutan Safira selama ini. Itu ia ketahui ketika memeriksa ponsel sang putri beberapa waktu lalu.


"Mas, aku ingin memiliki waktu lebih dengan anakku. Aku ingin mengganti waktu yang selama ini tidak aku miliki bersamanya."


Wajah Safira memelas. Entah itu tulus atau hanya akting. Gunadh tidak perduli.


"Silahkan, ambil waktu sebanyak yang kamu mau bersamanya. Aku sudah menjaganya seorang diri selama ini. Mungkin Mira ingin merasakan juga bagaimana rasanya hidup denganmu. Tapi ingat! Jaga dengan baik dia. Jangan lakukan kesalahan seperti dulu lagi." Ucapan Gunadh penuh ketegasan. Tidak ada kelembutan yang dulu biasa laki-laki itu berikan padanya, sebanyak apapun kesalahan yang di perbuat.


"Tapi mas, aku perlu tempat tinggal. Tidak mungkin kan aku tinggal selamanya di hotel."


Alis Gunadh berkerut. Masih belum paham maksud Safira.


Sementara Arya, pria itu mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk. Terkejut dengan keberanian mantan nyonya yang dulu sangat dicintai tuannya itu.


Melihat Gunadh yang tak berniat jawab pernyataannya, Safira kembali melanjutkan kalimatnya.


"Aku minta mas carikan aku rumah atau apartemen yang bisa kami tempati. Dan aku gak mau, mas memberi kami fasilitas biasa. Aku mau yang bisa membuat aku dan Namira nyaman." Safira berkata tanpa beban.


Arya yang mendengar ucapan panjang lebar dari mantan istri atasannya, nampak terkejut dengan mata melotot hampir keluar.


Gunadh pun terkejut, namun dengan cepat ia menguasai diri.


Tersenyum sinis sebelum berkata


"Kamu meminta saya membelikan kamu rumah? Kamu sadar apa yang kamu ucapkan? Kita sudah bukan siapa-siapa lagi. Bahkan semua sudah berakhir lebih dari empat tahun lalu." Laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan muka tebal sang mantan istri.


"Saya masih ada rapat sebentar lagi. Kalau tidak ada hal penting, silahkan keluar." Tegasnya.


Arya langsung sigap.


"Silahkan nona." Ucapnya masih dengan sopan. Meski dalam hati ingin tertawa. Menertawakan kelakuan wanita di hadapannya.


"Ini demi kebaikan Namira mas. Jangan membuat ia merasa, kamu adalah ayah dan suami yang kejam karena membuat ia tidak nyaman dengan tidak memberi yang terbaik untuknya."

__ADS_1


Gunadh tidak menjawab, hanya tangannya yang bergerak mengusir.


Wajah Safira merah menahan marah dan malu. Ia kemudian berbalik lalu meninggalkan ruangan Gunadh.


Selepas kepergian Safira, Gunadh mengusap wajahnya kasar.


Sekian tahun ia menikmati saat sulit dalam hidupnya. Berjuang membunuh rasa sakit dan terluka akibat penghianatan wanita itu. Bukan hanya merasa dikhianati, Gunadh juga kecewa karena Safira seolah tidak memiliki penyesalan meninggalkan sang anak yang masih membutuhkan kehadirannya.


"Tuan." Ucap Arya setelah melihat majikannya mulai tenang.


"Apa yang harus saya lakukan Arya? Kenapa semua menjadi begini rumit?"


Gunadh memijit pelipisnya.


"Bagaimana saya menceritakan semua pada Nandita nanti? Dia harus tahu semua ini bukan? Saya tidak mau menutupi apapun padanya. Tidak mau ada salah paham lagi.


"Saya mengerti tuan. Nona Mira adalah gadis yang dewasa. Dia pasti mengerti, dan bisa memberi solusi untuk tuan dalam masalah ini."


"Bagaimana kalau dia marah? Bagaimana kalau dia berpikir yang bukan-bukan? Dia pasti akan meninggalkan saya Arya." Wajah putus asa Gunadh membuat Arya merasa iba.


Baru saja tuannya merasakan kebahagiaan, kenapa harus ada drama lagi.


"Kenapa tidak tuan nikahi saja non Nandita secepatnya? Atau paling tidak kalian bertunangan. Otomatis, orang-orang yang berniat mendekati Anada akan mundur setelah mengetahuinya. Dan itu juga bisa sebagai peringatan bagi nona Safira, bahwa tidak bisa semudah itu ia meminta sesuatu pada anda. Karena posisinya sudah terganti oleh orang lain." Entah dari mana pria lajang itu mendapat ide.


Namun ia merasa senang, ketika senyum tipis terbit di bibir Gunadh.


"Buatkan kejutan untuknya Arya." Ucapnya kemudian. Dan langsung menghubungi sang kekasih meminta bertemu.


🌟🌟🌟


"Mas!" Sentak Nandita yang kesal sebab sedari tadi ia bicara tidak didengar oleh Gunadh.


"Maaf yank, aku kurang fokus. Apa tadi?"


"Kenapa nekat? Gimana kalau aku nolak? Kan mas bisa malu."


Gunadh nampak berpikir. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan semuanya.


"Sebelum aku cerita yang sebenarnya, kamu janji sama aku gak akan marah ya."


Dijawab anggukan oleh Nandita.


Lalu mengalirlah cerita kejadian tadi pagi di kantornya. Nandita menyimak, tanpa menyela sekali pun.


"Tapi aku bahagia, karena dengan ini aku bisa mengikat kamu agar gak berani bermain di belakang aku. Foto kita sekarang pasti sudah viral." Ucap Gunadh tersenyum bangga.


Namun senyum itu perlahan memudar melihat raut sedih di wajah Nandita.


"Yank, aku udah putuskan gak akan memberikan apa yang mommynya Namira minta. Percaya sama aku." Gunadh panik menyangka Nandita marah soal itu.


"Berarti yang tadi itu hanya settingan mas? Kamu gak serius lamar aku?" Ucapnya dengan mata yang berkaca.


Gunadh tidak menyangka Nandita akan salah paham dan menjadi sesedih itu.


"Bukan begitu sayang. Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Tak tahu harus menjelaskan seperti apa.


"Harusnya aku bisa mempersiapkan lamaran yang lebih romantis, lebih mewah, dan penuh kenangan. Tapi karena keadaan, semua serba mendadak." Gunadh tertunduk.

__ADS_1


"Bukan itu maksud ku. Mas sebenarnya gak niat untuk lamar aku, tapi karena orang lain mas memutuskan untuk melakukannya." Nandita menangis.


"Sayang, gak gitu ... Bukankah dari dulu mas ingin kita segera menikah? Gak ada settingan, gak ada keterpaksaan, semua yang mas lakukan atas ingin mas sendiri bukan orang lain. Hanya saja, momennya tepat dan mas memanfaatkan itu. Itu artinya, hubungan kita berjasa untuk mas. Kalau mas gak melamar kamu saat ini, kemungkinan orang luar untuk mengganggu mas sangat besar. Dan bukan hanya mas tapi kita akan terganggu." Gunadh berusaha menjelaskan dengan pelan agar Nandita tidak berlarut dengan kesalah pahamannya.


__ADS_2