
"Mas ..." Ucap gadis itu terkejut ketika melihat sosok tampan yang akhir-akhir ini membuatnya kesal, kini duduk dengan posisi begitu dekat dengannya.
Segera gadis itu bangkit dari posisi berbaring. Duduk di samping Gunadh, yang tatapannya tidak seperti biasa.
"Sampai gak sempat ganti baju. Apa aja yang kamu lakukan sama pacar sahabatmu itu hingga kamu kelelahan begini?" Gunadh tersenyum sinis.
Menatap Nandita dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jujur saja dirinya kecewa. mengingat kembali foto kebersamaan Nandita dengan Satya membuat emosinya kembali naik.
Sementara Nandita yang juga menyimpan kekesalan terpendam pada duda beranak satu itu, merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan Gunadh.
Melakukan apa dia dengan Satya? Hingga dengan lancang Gunadh bicara seolah menuduh dia selingkuh dengan pacar sahabatnya.
"Ngomong apa sih kamu mas? Gak jelas!" Ucap Nandita tak kalah sinis.
Ia hendak berdiri meninggalkan Gunadh, namun tangannya dicekal laki-laki itu.
"Mau kemana kamu? Menghindar, karena merasa bersalah telah bermain di belakang aku? Tapi biasanya peselingkuh tidak akan merasa bersalah sih." Tuduh Gunadh menyulut emosi Nandita.
Cemburu membuat seseorang kehilangan logika untuk berpikir. Dan itu benar. Gunadh contohnya. Laki-laki dewasa, dengan jabatan tinggi itu, menuduh sang kekasih hanya berdasar dari foto yang ia terima. Bahkan ia belum menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.
Mata Nandita melotot tajam. Merasa marah dengan apa yang dikatakan Gunadh.
"Kalau dulu kamu dikhianati, bukan berarti semua orang sama dengan masa lalu kamu. Jangan samakan aku dengan dia, karena aku tidak serendah itu mas." Dengan suara yang tenang namun penuh penekanan, Nandita melanjutkan ucapannya.
"Bukankah seharusnya aku yang marah? Berapa kali kamu mengingkari janji kamu untuk datang? Berapa kali aku harus menelan kecewa saat waktu kamu lebih banyak habis bersama mantan istrimu! Pernah aku marah dan menuduh kamu berselingkuh?" Nandita mencecar Gunadh dengan pertanyaan yang tidak mampu Gunadh jawab.
"Kalau kamu ke mari hanya untuk menambah luka di hatiku, sebaiknya kamu pergi mas. Aku anggap tidak pernah mendengar tuduhan yang kamu lontarkan barusan." Nandita menunjuk pintu keluar mengusir Gunadh.
"Kamu ngusir aku?"
"Terserah mas mau mengartikan seperti apa. Aku sibuk. Masih banyak urusan yang harus aku lakukan."
"Urusan kita belum selesai."
"Gak akan pernah selesai kalau setiap hal kecil selalu kamu besar-besarkan."
"Hal kecil? Pergi tanpa ijin berdua dengan laki-laki lain itu hal kecil? Berpegangan tangan di depan umum itu hal kecil?"
"Apa tidur dengan pria lain juga adalah hal kecil untuk kamu?"
Plak
__ADS_1
"Jaga batasan kamu!" Tanpa sadar Nandita menampar pipi Gunadh dengan keras. Luka hatinya bertambah dalam hingga air mata menetes di pipi gadis itu.
"Sehina itu kamu berpikir tentang aku mas? Bahkan denganmu saja aku tidak pernah melakukan apapun. Kamu pikir kamu siapa? Bisa mengatakan hal kotor itu?" Ucap Nandita penuh kecewa.
"Jangan pernah datang, jangan temui aku lagi. Ucapanmu menyadarkan aku, bahwa ketulusanku tidak akan cukup untuk membawa hubungan ini ke arah lebih baik. Aku tidak mau melewati badai, dimana kapal yang aku tumpangi, nahkodanya tidak bisa membedakan mana buih dan mana ombak." Lanjut gadis itu lagi.
Ia tidak habis pikir, kenapa Gunadh dengan mudah menuduhnya serendah itu.
Ada apa sebenarnya? Namun semua pertanyaannya itu tertelan begitu saja. Tertutup luka hati yang tanpa sengaja Gunadh torehkan karena emosi.
"Tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Aku tidak mungkin menuduh kalau kamu gak berbuat sesuatu yang membuat aku ragu." Gunadh masih saja mempertahankan keyakinannya.
Meski ia sadar, ia bersalah karena telah dengan lancang menuduh Nandita dengan begitu kejam. Itu sebabnya ia diam ketika Nandita menamparnya.
"Kenapa kamu tidak berkabar? Kenapa kamu tidak memberi tahu aku kalau kamu mau pergi dengan laki-laki lain? Kamu menganggap aku ini apa?"
"Kamu bisa bertanya dengan baik tanpa mengutamakan prasangka terlebih dahulu. Tapi kamu tidak melakukan itu. Bahkan sedari tadi aku menghubungimu, tapi tidak sekalipun kamu menerima panggilan dariku. Tapi itu gak penting lagi. Semua sudah selesai. Pulanglah mas. Aku masih ada urusan."
Nandita meninggalkan Gunadh yang masih mematung. Ia berlalu menuju kamar mandi. Hari sudah sore, tidak mungkin ia mengacaukan rencana yang sudah disusun Satya.
Sedangkan Gunadh, laki-laki itu masih gamang. Tuduhannya pada Nandita membuat ia merasa bersalah. Terlebih ketika melihat Nandita menangis tanpa suara. Hatinya pun ikut merasakan sakit. Namun gengsinya yang tinggi membuatnya enggan meminta maaf. Masih ada yang mengganjal di hatinya.
Selama lebih dari satu jam Nandita berdiam diri di kamar mandi. Tujuannya adalah untuk menghindari Gunadh. Bersyukur apa yang diharapkan terwujud. Laki-laki yang dipacarinya selama lebih dari satu tahun itu sudah pergi ketika ia keluar dari kamar mandi.
Nandita lalu mempersiapkan diri untuk menjemput Candra. Menyewa taksi online agar lebih mudah mengajak Candra yang nanti menggunakan gaun.
"Kita mau kemana sih? Ribet banget orang bikin acara, sampai kostum disediain gini." Ucap Candra ketika sudah selesai berdandan.
"Udah ikut aja, nanti juga kamu tahu." Ucap Nandita yang kala itu memakai gaun juga namun desainnya lebih simpel dibanding yang dipakai Candra.
Meski hatinya masih kacau, namun ia harus bisa menutupi kepedihan yang baru saja dilalui.
Acara berjalan dengan lancar. Pancaran kebahagiaan jelas terlihat dari raut wajah Candra dan Satya. Begitupun keluarga yang hadir. Mereka saling menerima satu sama lain, tanpa menciptakan jarak sama sekali. Nandita pun merasa bahagia. Melihat teman-temannya penuh tawa mengurangi sedikit rasa sedihnya.
"Ta, makasih banyak ya kamu udah banyak bantu aku. Kalau bukan karena kamu, mungkin akan banyak kendala dalam acara lamaran ini." Ucap Satya tulus.
"Makasiii Ta, aku bahagia banget bisa sampai dititik ini sama Satya." Candra dengan penuh haru mengucapkan rasa terimakasihnya.
"Apaan sih kalian, udah kaya sama siapa saja. Kita bukan hanya teman, kita udah kaya saudara. Kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan aku juga." Setulus hati Nandita mengatakan itu. Tidak sekalipun ada rasa kesal pada Satya, karena masalah yang kini semakin rumit antara dirinya dan Gunadh juga disebabkan oleh laki-laki di depannya ini.
Mereka bertiga berpelukan.
__ADS_1
"Selamat sudah sampai ditahap ini untuk kalian berdua. Semoga kedepannya hubungan kalian semakin kuat, semakin kokoh. Ingat kepercayaan dan keterbukaan satu sama lain itu sangat penting. Gak ada hubungan yang tanpa masalah, tapi jika kalian sudah saling percaya, sebesar apapun masalah itu akan menemukan jalan keluar. Semoga kalian bahagia."
"Makasii Ta ..." Sekali lagi Satya dan Candra mengucapkan itu.
Candra dan Satya bukan tidak tahu, ada sesuatu yang sahabtnya itu sembunyikan. Namun kini bukanlah saat yang tepat untuk bertanya.
Nandita menolak diantar oleh Satya. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi. Gadis itu memilih pulang menggunakan ojek online.
Sungguh, siapa yang tahu senyum yang ditampilkan gadis itu saat pesta kejutan lamaran Candra, hanyalah topeng untuk menutupi hatinya yang tengah terluka.
🌟🌟🌟
Gunadh kembali ke kediamannya masih dengan rasa marah dan kecewa. Terlebih lagi, Nandita sampai hati mengatakan hubungan mereka berakhir. Namun, bukan Gunadh namanya kalau ia akan terima begitu saja dengan keputusan Nandita itu.
'Sial, gara-gara ponsel ini ketinggalan aku jadi gak bisa membuktikan tuduhan itu pada Nandita' Rutuknya ketika mendapati ponsel yang ia cari ada di atas meja kamarnya.
Segera ia menyalakan ponsel itu. Menghubungi Arya, agar menyelidiki apa yang terjadi sesungguhnya.
"Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa pemilik nomor ponsel yang mengirimkan gambar-gambar itu padaku." Titahnya
"Baik tuan, akan saya kerjakan. Tapi sebelum itu, ada informasi penting yang harus saya sampaikan tuan."
"Katakan."
"Lahan di kota B yang sedianya akan kita jadikan hotel dan tempat wisata bermasalah tuan. Beberapa pihak mempermasalahkan ijin bangunan." Ucap Arya
Gunadh memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut.
"Investor ingin bertemu dengan anda sekaligus meninjau ulang lokasi tersebut." Lanjut asisten tampan itu lagi.
"Kapan?"
"Besok tuan."
"Sial." Gunadh mendengus.
"Tidak bisakah kamu melakukannya sendiri Arya? Masalahku dengan Nandita belum ada titik terang."
"Ini menyangkut nama baik, dan nasib pekerja tuan." Jawaban singkat sang asisten membungkam Gunadh.
"Baiklah, besok pagi jemput aku di rumah." Ucapnya lemah dan pasrah. Tanpa menunggu jawaban dari sang asisten Gunadh menutup sambungan telepon.
__ADS_1