Nanditha

Nanditha
AKHIRNYA BERTUNANGAN


__ADS_3

Jantung Nandita hampir terlepas dari tempatnya, ketika Aslan membawa sosok laki-laki ke tempatnya berdiri.


"Pengorbanan cucuku sungguh besar, demi melihatmu tersenyum. Semoga pilihan hatimu adalah yang terbaik. Dia yang ada di hadapanmu, adalah laki-laki yang tepat dan benar menjadi pendampingmu kelak." Ucap Oma, yang berdiri tepat di samping Nandita.


"Oma ...." Nandita tidak dapat lagi melanjutkan kalimatnya. Rasa terkejut dan haru bercampur memenuhi rongga dadanya.


Diliriknya onty Eby, wanita yang menjadi ibu angkatnya selama tinggal di negara itu.


Wanita dengan hijab abu, senada dengan gaun yang dikenakannya itu mengulas senyum lembut, sembari menganggukkan kepala.


Kedua orang tua Nandita pun ikut naik ke tempat dimana sang putri tengah berdiri dengan wajah tegang. Namun mereka memilih posisi di samping Gunadh, mendampingi laki-laki itu.


"Aku pernah berjanji, akan membawa kamu pada kebahagiaan, meski bukan aku yang kamu harapkan. Hari ini, aku membawanya di hadapanmu. Dia, laki-laki yang bertanggung jawab atas murung, atas tangis tersembunyi mu, atas rapatnya pintu hati yang tidak bisa orang lain buka, laki-laki inilah penyebabnya. Dan hari ini, aku membawanya ke hadapanmu. Berharap bisa mengembalikan senyum dan ceria yang selama ini sangat jarang aku lihat di wajahmu." Ucap Aslan, mengalihkan fokus Nandita yang tengah menatap kedua orang tuanya. Hal itu tentu juga membuat tamu yang hadir menjadi tegang.


"Oma," Panggil Aslan memberi kode. Wanita itu mendekat, membawa nampan yang dihias cantik dengan kotak indah di atasnya.


"Jika aku bisa menempati sedikit saja ruang di hati Nandita, tidak akan aku biarkan masa lalunya datang kembali. Namun gadis itu begitu hebat menjaga setianya, hingga meski ia terluka, ia tetap mengunci rapat hatinya dan menjaga namamu di sana. Jaga dia dengan segenap jiwamu, dude." Aslan yang kali ini terlihat begitu dewasa, menepuk pundak Gunadh yang masih terkejut dengan semua yang terjadi.


Gunadh menoleh, ditatapnya kedua orang tua Nandita dan Aslan secara bergantian.

__ADS_1


"Ayo nak ...." Bunda Santi mempersilahkan Gunadh untuk maju mendekati Oma yang sudah berada di tengah-tengah.


Nandita pun di tuntun oleh onty Eby untuk mendekat.


"Nak, setelah kamu memakaikan cincin ini di jari manis cucu Perempuanku, jangan lagi ada drama yang kamu dan masalalumu hadirkan dalam hidupnya. Kami menyayanginya, dan tidak akan memberimu kesempatan kedua untuk melukainya lagi." Ucap Oma menatap Gunadh.


Air mata Nandita meleleh tak tertahan. Rasa haru dan bahagia, mendesak kelenjar lakrimal dalam matanya untuk bekerja lebih keras lagi, menghasilkan cairan bening yang mengalir semakin deras.


Dengan tangan sedikit bergetar, Gunadh mengambil cincin yang ditunjuk Oma, kemudian memasangkannya di jari manis Nandita, menggantikan cincin yang baru beberapa saat lalu gadis itu lepas dan kembalikan padanya.


Hal yang sama juga dilakukan gadis itu, sesuai perintah Oma.


Ia seakan bermimpi dengan semua yang terjadi.


Hari dimana ia memaksa dirinya untuk melepas masa lalu dengan ikhlas, hari itu juga takdir membawa pria itu kembali.


Tatapan semua orang tidak dihiraukannya. Kedua maniknya menatap fokus ke wajah Gunadh, dengan binar rindu yang tak lagi ia sembunyikan.


"Hai ... Pakaikan dulu cincinnya ...." Aslan mengejutkan gadis itu, membuat wajah Nandita merona malu.

__ADS_1


Gunadh mengulurkan tangan, memasrahkan jari manisnya, dipasangkan cincin pengikat. Sudah pasti setelah ini tidak bisa lagi ia abai akan perasaan dan keberadaan Nandita seperti dulu.


Riuh tepuk tangan dari tamu undangan, ucapan selamat yang tak henti mengalir untuk keduanya, serta senyum bahagia dari orang-orang di sekitar, membuat Nandita begitu bersyukur atas apa yang terjadi hari ini.


Setelah acara tukar cincin, pasangan kekasih yang terpisah sudah hampir satu tahun itu, menyapa para tamu dengan tautan tangan yang tidak pernah lepas.


Meski masih merasa aneh, namun baik Nandita maupun Gunadh kompak menyembunyikan rasa janggal yang bergelayut di hati keduanya.


Kenapa semua orang seakan biasa saja dengan pergantian pria yang akan bertunangan hari itu? Tidakkah hal itu menjadi sesuatu yang mengejutkan bagi mereka? Atau semua sudah tahu kalau pasangan Nandita malam itu bukan Aslan melainkan Gunadh?


Setelah cukup menyapa para tamu, Nandita mengajak Gunadh bergabung di meja tempat keluarganya duduk.


"Selamat ya ...." Ucap uncleMurat yang memang sejak tadi belum sempat mengucapkan selamat pada mereka.


"Makasih uncle, makasih juga semuanya." Ucap Nandita.


"Tapi ada yang mau aku tanyakan pada kalian," gadis itu mental satu persatu anggota keluarganya.


"Maaf, apa ini semua memang sudah kalian rencanakan?" Tanya gadis itu hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2