
Gunadh hanya bisa menarik nafas berat, saat semua perhatian Nandita tercurah pada Mira, yang terlihat begitu manja.
Ia merasa kesal, namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Kalau boleh jujur, dirinya juga tengah memendam rindu pada calon istrinya itu, namun kini ia hanya bisa menatap dengan cemburu interaksi keduanya.
Sesekali Nandita mencuri pandang ke arahnya, memberi senyum manis yang justru semakin membuat Gunadh uring-uringan.
Suasana rumah Nandita terasa sepi sebab ayah Darma baru saja menerima panggilan telepon dari karyawan di peternakan. Sehingga pria paruh baya itu harus meninggalkan calon menantunya seorang diri di ruang tengah.
"Maaf ya Nak Gunadh, ayah harus ke peternakan dulu. Ada kiriman bibit, yang harus ayah cek sebentar lagi." Pamitnya setelah menemani Gunadh berbincang beberapa saat di ruang tengah.
"Iya Yah ... Apa perlu bantuan? Biar saya ikut ke kandang "
"Nggak usah ... Kamu pasti lelah, lebih baik istirahat saja di rumah. Ayah nggak lama kok, paling dua jam sudah balik ke rumah lagi."
"Gitu ya, baiklah. Hati-hati Yah," ucapnya.
Setelah kepergian ayah Darma, Bunda Santi yang tadinya duduk di samping sang suami, juga ikut meninggalkan dirinya karena harus melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Jadilah di dalam rumah itu hanya ada dirinya, bersama Nandita dan Mira yang sibuk di ruang tv.
Baru saja ia ingin mendekati dua perempuan kesayangannya itu, dering ponselnya menghentikan niatnya.
Gunadh menarik nafas, dan kembali menyimpan benda pipih itu ke saku celananya, tanpa berniat menerima panggilan yang ia yakini ada hubungannya dengan kabar Safira. Gunadh yakin itu pasti orang-orang yang bermaksud mencari Namira.
Ia mengurungkan niatnya mendekat ke arah ruang tv. Laki-laki itu memilih kembali mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Tiba-tiba pusing kembali menyerang kepalanya.
Untuk apa lagi mantan istrinya itu mengganggu hidup dia dan sang putri? Tidakkah cukup semua masalah yang dihadirkan wanita itu untuk mereka?
Ia kembali berdecak kesal, saat lagi-lagi ponselnya bergetar. Kali ini sebuah pesan masuk dari nomor yang sama.
💌 : "Selamat siang pak Gunadh, mohon maaf sudah mengganggu Anda. Kami hanya berniat menyampaikan pesan dari Ibu Safira yang saat ini sedang menjalani perawatan intensif pasca operasi. Beliau berharap Anda bersedia mempertemukan yang bersangkutan dengan putrinya yang bernama Namira Arjava. Saya juga secara pribadi meminta anda agar bersedia memenuhi permintaan, yang kemungkinan ini adalah permintaan terakhir beliau. Terimakasih."
__ADS_1
Pesan itu sedikit banyak mengejutkan Gunadh, yang selama ini sama sekali tidak pernah mengetahui kabar mantan istrinya itu.
Ia beranjak keluar, menuju teras rumah Nandita.
Dengan sedikit berdebar, ia menghubungi nomor yang beberapa waktu lalu ia abaikan.
"Halo selamat siang,"
Sapanya saat panggilan itu diterima oleh pihak di seberang.
Lama ia berbincang dengan seseorang, yang mengaku sebagai perawat Safira di salah satu rumah sakit.
🌟🌟🌟
Di sisi lain, Namira yang baru pertama kali bertemu dengan Nandita, setelah hampir satu tahun tidak berjumpa, melupakan begitu saja Daddy-nya.
Begitu melihat Nandita di depan gerbang, gadis belia itu seketika berlari dan memeluk calon ibu sambungnya dengan erat. Bahkan tangannya tidak pernah lepas dari lengan Nandita, mengikuti kemanapun wanita itu pergi.
Bertanya banyak hal pada calon ibu sambungnya itu, mengungkapkan rasa terimakasih dan permintaan maaf atas semua kesalahan yang telah ia lakukan.
"Makasih onty ... Mira sayaaaang banget sama onty." Ucapnya dibalas senyum lembut oleh Nandita.
Kecerewetannya yang pernah hilang, kini kembali muncul.
Nandita bahkan kewalahan menjawab semua pertanyaan yang gadis belia itu lontarkan.
"Oh ya, onty punya sesuatu untuk kamu, tunggu sebentar di sini ya ... Onty ambilkan dulu." Ucap Nandita, setelah mereka bercerita banyak hal tentang kota Istanbul.
Namira mengangguk, membiarkan wanita yang ia rindukan itu berlalu menuju kamarnya.
Setelah Nandita menghilang, barulah gadis belia itu teringat akan keberadaan Daddy-nya.
Ia menolehkan kepalanya mencari sosok yang sejak tadi ia lupakan.
__ADS_1
"Daddy mana ya?" Ucapnya, yang tentu tidak mendapat jawaban dari siapapun.
Merasa tidak melihat sosok yang di cari, Namira beranjak keluar untuk mencarinya.
Tubuh gadis itu membeku di ambang pintu, saat telinganya dengan jelas mendengar obrolan Gunadh bersama Arya sang asisten, melalui sambungan telepon.
"Kamu tolong urus semua kebutuhan Safira, pastikan dia mendapat penanganan terbaik di rumah sakit itu." Ucap Gunadh, dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Untuk hari ini kamu fokus dengan urusan rumah sakit saja, masalah kantor kita bereskan besok."
Setelah beberapa saat Gunadh berkomunikasi dengan asistennya, ia memutus sambungan telepon dan berniat kembali ke dalam rumah.
Alangkah terkejutnya dia, mendapati Namira berdiri di ambang pintu, menatap dirinya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kenapa Daddy masih berhubungan dengan wanita itu?" Tanyanya saat Gunadh mencoba meraih tubuh mungilnya.
Ia menepis tangan sang Daddy, menolak sentuhan laki-laki itu.
"Mira, kamu salah mengerti. Daddy jelasin dulu sama kamu ya ... Saat ini mommy kamu ...."
"Dia bukan mommy aku! Mommy aku udah mati. Aku udah nggak punya mommy!" Teriak Mira mengejutkan Gunadh.
"Mira ...."
"Nggak Dad ... Aku nggak mau mengulang kesalahan yang sama. Aku mohon, jangan berhubungan lagi dengan wanita itu. Dia bakal hancurin kita, dia bakal pisahkan aku sama onty Dita lagi ... Aku nggak mau Dad ...."
Namira menangis. Gadis itu terlihat tertekan saat ini.
"Onty Dita, aku nggak mau dia pergi lagi." Gumamnya lalu pergi meninggalkan Gunadh, melangkah terburu menuju kamar wanita itu."
Gunadh terpaku beberapa saat. Ia tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti itu dari Namira.
"Apakah trauma anak itu belum seratus persen hilang?"
__ADS_1
^_________^^_________^^________