
Terimakasih telah memberiku pengalaman pertama yang tidak akan pernah terlupakan.
Terimakasih telah menjadi laki-laki pertama yang memberi kehangatan dalam kegamangan hati.
Hari berlalu dengan cepat, sudah enam hari Nandita menikmati liburan di kampung halaman nya. Besok adalah hari bersejarah untuknya, sebab mimpi untuk bisa keluar negeri akan segera terwujud.
"Bun,,, aku mau ke rumah kakek ya ..... Mau pamitan sama kakek." Nandita menghampiri sang bunda yang sedang menyelesaikan setrikaan pelanggan.
"Sama siapa mau ke sana?"
"Malikha katanya mau ikut tadi"
"Ya sudah hati-hati ya.... Ingat tahan diri, kakek baru sembuh. Jangan sampai ada masalah lagi di sana" Bunda mengingatkan, sebab ia khawatir Nandita akan bersikap bar-bar pada tante-tantenya.
"Ya Bun,,,, selama ini juga kan kita diam aja, kalau gak mereka duluan yang keterlaluan."
"Ya sudah,, hati-hati. Jangan terlalu sore pulangnya." Nandita melihat wajah bunda berubah sendu saat memberinya ijin ke rumah kakek.
'apa ada masalah dengan bunda?' batin Nandita.
Nandita dan Malikha berangkat dengan berboncengan. Dengan motor sang bunda, keduanya menuju rumah sang kakek.
"Pagi kakek,,,," sapa mereka setelah motor sudah terparkir di halaman rumah yang luas. Kebetulan kakek sedang duduk santai di teras.
Melihat cucu-cucunya datang, kakek tersenyum bahagia.
"Kalian,,, ayo sini."
Panggilnya antusias.
Nandita dan Malikha segera mendekati sang kakek. Duduk di sebelah orang yang sudah membesarkan ayah mereka.
"Tumben kalian ke sini,,." Ucap kakek
"Heee ya kek,,," Sahut mereka canggung. Sebab memang mereka jarang ke mana-mana.
" Sebenarnya Nandita ke sini mau pamit kek, besok rencana nya Dita mau berangkat liburan ke Singapura." Ucap gadis itu malu-malu.
"Oohh hati-hati ya... Jadi kamu sudah mulai mewujudkan mimpimu?" Tanya kakek
"Heee ya kek, kebetulan bos Dita mau liburan juga ke sana, dia yang biayain perjalanan nya." Sang kakek hanya manggut-manggut.
Sementara itu, di balik pintu, Tante Sari dan Tante Dewi menguping pembicaraan ayah dan keponakannya itu.
"Dasar orang-orang licik, pasti sekarang minta duit lagi mereka. Sok-sokan mau ke luar negeri. Ngapain coba?"
"Mba,,, kata Tasya ya, si Dita itu pelakor tau. Yang anterin dia kemari waktu ini, yang katanya bosanya, itu dia udah punya anak dan istri. Dia juga sering dikasi uang sama laki-laki itu." Tante Sari ikut berkomentar.
__ADS_1
"Kalau ayah tau kelakuan cucu nya begitu, pasti akan sangat kecewa. Biarin aja, biar tau rasa ga dikasi jatah bulanan lagi dia. Muak sekali aku melihat tampang sok polosnya dia." Ucap Tante Dewi sambil berlalu meninggalkan tempat menguping nya tadi.
Nandita dan Malikha, kembali setelah waktunya sang kakek untuk istirahat siang. Mereka ngobrol di teras sampai siang, tanpa ada yang membawakan sekadar air putih. Tapi itu bukan masalah, toh bukan itu tujuan mereka ke sana.
Nandita dan sang adik melanjutkan perjalanan, menuju super market dekat rumahnya. Kemarin sang bunda mengingatkan, agar dia menyiapkan beberapa minyak hangat dan obat-obatan. Ia hanya menurut saja, toh sang bunda lebih berpengalaman.
Setelah itu barulah mereka kembali ke rumah.
Deg
Deg
Jantung Nandita berdetak lebih cepat. Saat tiba di halaman rumah, sudah terparkir mobil yang sangat dikenalinya.
"Onty....." Suara dari dalam rumah menambah rasa terkejutnya.
"Mira,,, kamu kok ada di sini?"
"Ya,,, kata Daddy kita berangkatnya dari sini aja, besok."
"Trus udah lama kalian datang nya?"
"Ga,, baru aja."
Anak kelas lima SD itu bergelayut manja pada Nandita. Mereka masuk ke dalam rumah bersama. Malikha langsung ke dalam kamarnya.
"Mas,,," Sapa Nandita saat sudah sampai di ruang tamu.
"Mukanya jangan ditekuk gitu dong,, gak seneng ya liat mas ke sini??" Tanya Gunadh kala mereka duduk berdua di taman belakang rumah.
"Bukannya gak seneng, mas gak bilang-bilang mau kesini sekarang. Aku kan kaget, mana belum selesai siap-siap lagi."
"Mas kangen sama kamu, gak tau kenapa khawatir terus dari kemarin. Makanya sekalian ajak Mira kesini. Biar besok berangkatnya langsung dari sini gak usah mampir lagi."
Gunadh memandang wajah Nandita dengan dalam, entah kenapa ia merasa damai saat dekat dengan gadis di depannya ini.
"Dita,,, kalau aku melamar kamu dalam waktu dekat, kamu mau kan??"
Nandita memundurkan wajahnya agar lebih jelas melihat sang kekasih, ingin mencari tahu ekspresi wajah Gunadh saat ini. Tidak ada kesan bercanda yang ia lihat, namun ia belum yakin dengan perasaannya sendiri.
"Mas,,, kamu tau mimpi aku kan?? Aku ingin menikmati masa muda aku dulu, ingin traveling ke banyak tempat, masih ingin menikmati masa kebebasan aku dulu. Lagian aku baru lulus, kak Byan juga belum menikah. Bahkan mas belum pernah bertemu sama kakak pertamaku. Boleh kita jalani seperti ini dulu mas?? Jangan buat aku terbeban dengan hubungan ini."
Gunadh menelan kekecewaan nya. Rupanya ia belum mampu meyakinkan Nandita untuk segera dimiliki seutuhnya. Namun ia juga harus bisa menerima, Nandita masih muda. Biarlah waktu nanti yang akan memberi jalan untuk mereka berdua bersama.
"Ya udah,, aku bantu siap-siap yuk" Ucapnya mengalihkan topik pembicaraan. Ia melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumah, sementara gadis itu masih duduk sambil menatap punggung laki-laki tinggi nan tampan itu.
'Benarkah dia laki-laki yang akan menjadi jodohku? Menjadi pemimpin dalam langkah ku ke depannya. Aku belum mengenal dia lebih jauh, belum tau baik buruknya lebih dalam.'
__ADS_1
"Hei,,, malah melamun, ayo...." Gunadh rupanya sudah ada di depannya. Laki-laki dengan alis tebal itu kembali setelah menunggu beberapa saat, namun Nandita tak kunjung datang.
"Eeehh, ya ya mas." Nandita kaget hingga tergagap saat menjawab.
Mereka masuk dan mulai berkemas. Dibantu sang bunda juga Malikha sebagai tim pengganggu.
"minyak sanhong, minyak kayu putih, fresh care, gak sekalian GPU nya ayah juga di bawa kak?" Celetuk anak bungsu dari tiga bersaudara itu.
"Diem kamu dek,,,!" Ketus sang kakak
"Yang mau liburan ke luar negeri, sensi amaaaat,,. Jangan lupa bawain oleh-oleh untuk adek yaaaaa!" Malikha terus menggoda sang kakak yang sudah kesal bercampur malu.
Gunadh yang melihat interaksi kakak beradik itu, hanya bisa tersenyum. Dia yang adalah anak tunggal, tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki saudara kandung.
'Pasti sangat seru ada teman berantem, juga teman berbagi kesusahan' ucapnya dalam hati.
Dia tidak tau, di luar sana banyak orang bersaudara, saling tikam dari belakang hanya karena masalah uang. Saling jatuhkan, hanya karena ingin terlihat lebih baik dari yang lain.
🌟🌟🌟
Hari ini hari yang istimewa untuk Nandita. Sebab mimpi masa kecilnya, akan ia wujudkan untuk pertama kalinya, hari ini. Adakah yang punya mimpi yang sama dengan gadis itu?
Bila sebagian orang akan bercita-cita ingin menjadi dokter, pramugari, atau profesi lainnya, dia ingin ke luar negeri.
"Kamu gugup sayang??" Gunadh menggenggam tangan gadis itu saat pesawat sudah lepas landas.
"Hee ini untuk pertama kalinya aku Ke luar negeri. Dulu naik pesawat beberapa kali pas ikut pertandingan silat aja. Pernah sih keluarganya bunda ngajak aku liburan, tapi ga dikasi sama bunda." Terang Nandita
"Aku norak banget ya mas? Tanya gadis itu lagi
"Enggak kok,,,, wajar kalau kamu gugup. Siapapun pasti akan mengalami hal yang sama, saat melakukan sesuatu untuk pertama kalinya."
"Tapi Mira anteng tuh, biasa aja wajahnya."
"Mira dulu sering aku dan mommynya ajak berlibur, sebelum dia main hati sama orang lain." Wajah Gunadh mendadak keruh
" Kalian pasti bahagia banget ya mas dulunya." Nandita tidak melihat perubahan wajah Gunadh, dia malah semakin menanyakan perihal masa lalu duda itu.
"Ta,,, boleh ga usah nanyain tentang itu??" Barulah Nandita sadar, ia sudah mengungkit luka masa lalu Gunadh.
"Maaf mas,, aku ga bermaksud bikin perih luka kamu lagi." Ucapnya tidak enak
"Gak apa, toh semua sudah berlalu. Aku hanya gak mau aja, kamu jadi kepikiran dengan kebersamaan kami dulu." Akhirnya mereka berdua diam.
Perjalanan hampir tiga jam dari bandara i Gusti Ngurah Rai menuju bandara Changi singapura dilalui dengan Nandita sibuk memikirkan kemana saja tujuan wisata yang akan dia datangi.
Sementara Mira, gadis itu sudah mengurai mimpi entah apa saking lelapnya ia saat perjalanan.
__ADS_1
Mira sangat bahagia sebentar lagi akan bertemu sang mommy. Banyak angan yang ingin ia wujudkan bersama mommy dan daddynya nanti.
Kebahagiaan yang mungkin akan membuat orang lain terluka, entahlah. Yang pasti, Mira hanya ingin menikmati liburannya bersama mommy Daddy nya dengan penuh suka cita.