
"Dad ... Hari ini Daddy ada acara?" Tanya Mira saat sedang sarapan bersama Gunadh.
"Gak ada, kenapa?" Sahut Gunadh sembari menyuap nasi goreng seafood buatan bi Asih.
"Mira mau beli kado buat teman, Daddy mau temenin Mira gak?" Tatapan Mira terlihat memohon.
Gunadh diam, kembali memasukkan suapan terakhir nasi di piringnya.
Sebenarnya ia merasa sangat lelah, itu sebabnya ia memutuskan untuk beristirahat di rumah akhir pekan ini.
Namun melihat wajah anaknya, rasanya tidak tega untuk menolak keinginan Mira.
"Kita perginya agak siangan ya, Daddy mau selesaikan kerjaan dulu lagi sedikit. Gak apa-apa kan?"
"Ya Dad ... Gap apa-apa. Makasih Daddy." Suara riang Namira. Kemudian berhambur memeluk tubuh tegap Gunadh.
Gunadh mengusap lembut rambut putrinya. Putri yang amat ia sayangi, yang ingin selalu ia jaga dan lindungi.
Dari kecil Namira kurang mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya, itu sebabnya sebisa mungkin Gunadh ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya.
"Ya sudah, Daddy ke ruang kerja dulu ya. Lanjutkan sarapan mu." Gunadh lalu meninggalkan Namira ke ruang kerjanya.
🌟🌟🌟
"Sayang ... Kamu sebenarnya mau beli apa sih? Daddy capek kamu tarik ke sana kemari dari tadi." Keluh Gunadh akhirnya.
Sudah satu jam ia diajak mengelilingi mall besar tersebut. Masuk dari satu toko, pindah ke toko yang lain. Namira seolah memiliki cadangan tenaga full dalam tubuhnya.
"Heee maaf Dad ... Aku masih bingung mau beliin apa untuk Gayatri. Baju, dia udah punya banyak. Sepatu juga udah. Aku kasih apa ke dia ya?" Namira tampak berpikir.
Gunadh menghela nafas dalam. Mencoba menghempas rasa kesal yang bercokol di hatinya.
Kenapa baru sekarang anak itu berpikir? Kenapa gak dari tadi saja? Satu jam waktunya terbuang percuma.
"Kasih aja apa yang dia suka, meskipun dia udah punya, pasti dia senang kok kalau kamu kasih lagi. Asal jangan aja yang sama persis seperti miliknya." Saran Gunadh.
"Gitu ya dad? Dia sukanya minion sih,"
"Ya sudah kita cari pernik Minion aja kalau gitu." Ajak Gunadh.
Mira kembali menarik tangan Gunadh. Sementara Gunadh hanya bisa pasrah.
Setelah mendapatkan boneka Minion besar, dan beberapa pernak pernik tokoh kartun berwarna kuning tersebut, Gunadh mengajak Mira untuk makan siang.
"Dad habis ini kita beli es krim ya ..." Pinta Mira. Gunadh hanya menganggukkan kepalanya.
"Habis itu kita balik ya, Daddy capek sekali. Kamu juga harus istirahat. Besok sekolah kan?"
"Ya dad ..."
Mereka sibuk dengan makanan masing-masing. Hingga seseorang memanggil nama Gunadh.
" Mas Gunadh ..." Satya menepuk bahu Gunadh pelan.
"Hai ... Mau makan juga? Hayo gabung." Gunadh bangkit menyapa Satya juga Candra yang ada di belakang tubuh kekasihnya.
"Gak usah mas, kita---" Candra tidak melanjutkan kalimatnya lagi, setelah menyadari tidak ada kursi kosong di sekitarnya.
Satya menatap lembut kekasihnya. Meminta agar Candra mau menerima tawaran Gunadh.
__ADS_1
"Maaf ya mas, kami jadi ganggu acara kalian." Ucap Candra
"Gak apa-apa. Santai saja. Kamu kaya sama siapa aja." Sahut Gunadh tersenyum. Sementara raut wajah Mira berubah kesal.
Candra dan Satya akhirnya bergabung di meja milik Gunadh.
Tatapan mata Candra terus memindai ke arah Mira membuat gadis belia itu risih dan semakin kesal.
"Onty kenapa liatin Mira kaya gitu?" Ketus gadis itu. Tatapan mata Mira jelas menyiratkan ketidaksukaan gadis itu pada dua sahabat Nandita tersebut.
Candra yang menyimpan banyak kekesalan pada gadis kecil di depannya, menjawab teguran Mira.
"Gak apa-apa ..." Sahutnya santai sembari menikmati makan siang pesanannya yang baru datang.
"Gak apa-apa kok matanya gitu banget liatinnya." Sungut Mira.
"Saya cuman mastiin aja, kamu rupanya sudah bahagia sekarang ya. Kelihatan dari wajah cerah kamu. Gak sia-sia usaha kamu." Jawabnya santai sambil memasukkan potongan daging ke mulutnya.
"Maksud Onty apa?" Mira marah.
"Kamu tau maksud saya apa. Belum lupa kan sama apa yang kamu lakukan terhadap Nandita?"
Ucapan Candra tentu membuat Gunadh menatap gadis itu tajam.
"Jangan katakan apapun tentang dia di hadapan Mira." Ucap Gunadh
"Kenapa?" Tantang Candra
"Bukankah dia harusnya senang? Gak sia-sia usahanya buat menyingkirkan Nandita dari hidup kalian. Selamat ya misi kamu sama ibu kamu berhasil." Candra sudah tidak berselera lagi menyantap makanan di depannya. Begitu pula Satya, yang merasa tidak enak hati pada Gunadh.
"Yank ..." Satya memberi peringatan pada Candra. Namun gadis itu seolah tidak perduli.
"Gak usah ngomong sembarangan onty. Gak usah sangkut pautkan sama mommy aku. Bukan aku kok yang suruh dia pergi." Kilah gadis itu.
Candra tidak menyangka, anak sekecil Mira sungguh pandai bersilat lidah.
"Yang nyari dia ke sekolah terus sujud di hadapan banyak orang itu siapa? Yang minta menjauhi Daddy kamu siapa?" Mata Mira melotot tajam ke arah Namira.
"Saya ada di sana kalau kamu lupa! Gak cukup itu aja kan yang kamu sama siluman bunglon itu lakukan? Kalian juga datang ke rumah kakeknya Dita terus cerita yang bukan-bukan tentang dia. Sampai kakek Cakra masuk rumah sakit, karena mengira kalau cucunya adalah seorang pelakor."
Wajah Namira pucat, ia lupa Candra tahu saat dirinya mendatangi Nandita ke sekolah.
Gunadh terkejut mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut Candra.
Masih belum puas, Candra kembali berkata
"Kamu bukan hanya menghancurkan perasaan Nandita, membuat ia disalahkan oleh semua orang, menjadikan dia bahan gunjingan, mencapnya sebagai seorang pelakor. Tapi kamu juga membuat dia kehilangan pekerjaan. Hingga ia harus pergi jauh, meninggalkan orang-orang terdekatnya." Candra berkata dengan tubuh bergetar.
"Apa maksudmu?" Meski otak Gunadh sudah bisa menarik garis besarnya, namun hatinya mencoba menyangkal.
"Tanya pada anak kesayangan mas Gunadh. Aku mau tahu, apa dia masih bisa bersikap sok polos, sok lugu sekarang?" Candra masih dikelilingi kabut emosi.
"Mira, bisa jelaskan sama Daddy?" Kini Gunadh beralih menatap anaknya.
Sorot mata tajam Gunadh, merobohkan keangkuhan Mira yang sejak tadi seolah menantang Candra dengan tatapan sinisnya.
Kini gadis itu hanya mampu diam dengan kepala menunduk.
"Jawab Daddy! Apa yang kamu lakukan terhadap onty Dita?" Suara Gunadh begitu berat, menahan agar ia tidak lepas kendali terhadap anaknya.
__ADS_1
"Maafin Mira Dad ... Mommy yang suruuh." Ucap gadis itu terbata, dengan perasaan takut teramat kuat. Hingga tubuhnya menggigil.
"Mas ... Udah, kasihan Mira. Sebaiknya mas tanyakan ketika tiba di rumah nanti." Saran Satya.
"Tidak. Saya harus tau sekarang, di depan kalian. Begitu banyak hal yang ditutupi selama ini, saya tidak tahu apakah dia akan berkata jujur atau tidak nanti." Sahut Gunadh.
"Tolong Candra, bisa kamu ceritakan apa saja yang kamu tahu selama ini?"
Candra mengangguk, dan menceritakan semua yang ia tahu selama ini. Baik yang dia lihat langsung, atau pun yang diceritakan oleh Nandita.
"Sekarang Nandita sudah tidak punya pekerjaan lagi. Tempat silat juga sudah tutup. Bisa mas bayangkan gimana anak itu menghadapi semuanya?"
"Kenapa dia gak bilang sama saya? Apa saya gak ada artinya untuk dia?"
Candra menatap Gunadh sinis.
"Berapa kali dia menghubungi mas Gunadh? Dia juga mengirim pesan, tapi jarang mas meresponnya. Dia ingin menyampaikan berita itu dengan pelan tanpa membuat mas emosi. Tapi kenyataannya mas jarang ada waktu untuk dia. Hingga terakhir dia ke rumah mas, mas membentaknya. Jelaslah dia marah."
"Itu karena kesalahpahaman. Andai saya tahu kejadian sebenarnya ---"
"Salah paham yang di ciptakan oleh siapa?" Potong Candra. Sungguh gadis itu sangat geram.
'Kalau aku punya nak modelan begini, udah aku pites-pites kepalanya. Masih kecil udah pintar drama.' Rutuk gadis itu.
Gunadh tidak bisa menjawab pertanyaan Candra. Dia tidak lagi mencoba membela diri.
"Jadi Nandita udah gak ngajar lagi? Lalu di mana dia sekarang?" Gunadh mengalihkan pertanyaan.
"Dia lagi ikut pelatihan kerja. Katanya sih mau berangkat ke luar negeri." Kini Satya yang menjawab.
Gunadh hanya diam, masih belum bisa mencerna semua berita yang ia terima.
"Yank ... Aku capek, mau pulang." Candra
"Oh ya sayang." Satya
"Mas aku duluan ya." Satya pamit pada Gunadh.
"Duluan mas." Ucap Candra juga.
Gunadh mengangguk, membiarkan sepasang kekasih itu berlalu. Menyisakan ia dan Namira yang masih duduk menunduk sejak tadi.
"Kita pulang." Hanya itu yang Gunadh ucapkan.
Tidak ada lagi obrolan diantara keduanya. Perjalanan mereka kembali ke rumah sungguh jauh berbeda suasananya dibanding ketika berangkat.
Masih tetap diam, Gunadh berlalu meninggalkan Namira ketika mobil sudah terparkir.
"Bik ... Ambil barang-barang yang ada di mobil." Ucapnya memanggil bi Asih, kemudian pergi menuju ruang kerjanya.
Sementara Namira, gadis itu melangkah pelan memasuki rumah dengan perasaan campur aduk.
Apa yang harus dia lakukan kini? Bagaimana ia menghadapi sang Daddy sekarang?
Ia masih takut. Takut akan kemarahan daddynya.
Bahkan ketika dulu ia masih suka kabur, tidak pernah merasakan perasaan seperti saat ini.
"Dad ... Maafin Mira." Ucap gadis itu di depan pintu ruang kerja sang Daddy.
__ADS_1
Tentu Gunadh tidak akan menjawabnya. Sebab Mira hanya berani berbisik di tempat itu.