Nanditha

Nanditha
NASI GORENG SEA FOOD (kenangan bersama Nandita)


__ADS_3

Gunadh menemani sang putri berkeliling di salah satu mall terbesar di kotanya.


Membeli banyak pernak-pernik yang Gunadh tidak paham apa gunanya, memasuki beberapa toko kemudian keluar dengan tangan kosong, dan tidak lupa


Mira juga membelikan bi Asih pakaian rumahan, serta pakaian untuk dirinya sendiri.


Gadis itu kini jauh lebih perduli pada orang-orang di sekitar. Lebih bisa menghormati orang lain, tanpa harus dinasehati.


"Kamu mau makan di mana?" Gunadh bertanya ketika ia selesai melakukan pembayaran terakhir.


"Di mana ya dad ...?" Mira bingung sendiri.


"Kalau kita cari warung pinggir jalan, mau nggak? Daddy pengen makan nasi goreng sea food" usul Gunadh sedikit ragu.


Mira tersenyum cerah. Ia juga menginginkan itu, hanya saja ia takut mengungkapkan pada daddy-nya.


"Yang depan toko India itu ya Dad ..." Pinta Mira.


Gunadh mengangguk dengan rona merah di pipinya.


Warung nasi goreng sea food itu adalah tempat makan favorit Nandita. Makanannya yang enak dengan harga ramah di kantong, membuat gadis itu selalu merekomendasikan tempat itu tiap kali ia mengajak Mira ataupun Gunadh makan di luar.


Meski tidak selalu keinginan gadis itu terpenuhi. Sebab dulu, Gunadh sering merasa tidak nyaman ketika makan, banyak pasang mata menatap lapar padanya. Sementara tempat itu tidak pernah sepi pengunjung.


Kini tanpa hadirnya sosok Nandita, Gunadh kembali ke tempat itu, untuk sekadar mengulang memori. Membiarkan rindu mencumbu masa lalu, mengurai kelu di sudut kalbu.

__ADS_1


"Dad ... Mmm Daddy kangen nggak sama onty Dita?" Tanya Mira hati-hati, ketika mereka sudah duduk menunggu pesanan dibuatkan.


Pertanyaan Mira menyadarkan Gunadh dari lamunannya, yang sejak tadi menatap kosong ke arah lalu lalang orang di sekitarnya.


Sekilas menoleh ke arah sang putri, ia mengambil nafas dalam. Cukup lama Gunadh terdiam, sebelum menjawab pertanyaan Mira.


"Kamu nggak usah memikirkan yang lain, cukup fokus saja sama sekolah kamu, iya." Pinta Gunadh tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.


Mira terdiam. Antara takut dan malu untuk berkata jujur, mengakui apa yang ada di dalam hatinya.


Selama ini, hubungan ayah dan anak itu terlihat baik, bahkan jauh lebih baik dari sebelum Namira mengalami kecelakaan. Namun, ada satu bagian cerita masa lalu yang tidak pernah mereka bahas berdua. Bahkan mereka sama-sama menghindari topik yang seakan keramat untuk mereka sentuh.


Gunadh dan Mira kembali tenggelam dalam lamunan masing-masing, hingga pesanan makanan mereka datang.


Wajah yang tadinya nampak ceria itu, kini perlahan memudar berganti sendu.


"Nggak kalah sama masakan chef hotel bintang lima kan?" Celoteh Nandita kembali menggema, namun Gunadh sadar itu hanya kenangan.


Ia tersenyum kecut. Begitu banyak kata andai yang menari di kepalanya.


Andai saja gadis yang ia sebut biji ketumbar itu ada di sini, andai luka yang mereka ciptakan tidak begitu dalam, sosok sederhana yang menyelamatkan Mira dari kejaran preman itu, pasti ada di samping mereka kini. Berceloteh tentang banyak hal, membawa aura positif untuk keduanya. Andai tidak ada kata andai yamg terucap hari ini, mungkin tidak akan ada rasa sesak penuh penyesalan di dada Gunadh kini.


"Bila masih punya kesempatan untuk bertemu, aku akan memohon pada onty Dita untuk nggak pergi ninggalin Daddy." Sebutir air mata tak bisa Mira tahan, lolos dari manik coklatnya.


Rupanya, Mira pun tengah mengingat sosok yang selalu hadir membawa ceria dalam hidup gadis itu.

__ADS_1


Gunadh menghentikan gerakan tangannya. Menatap sang putri yang suaranya bergetar menahan emosi.


"Gara-gara Mira, Daddy harus kesepian lagi. Gara-gara Mira, Daddy nggak bisa menikmati kebersamaan dengan orang yang Daddy sayang ...." Gadis itu menuang segala sesal yang selama ini bergelayut di hatinya, berharap akan ada keajaiban menarik Nandita kembali bersama mereka.


"Mira, cukup. Jangan ingatkan Daddy dengan semua kebodohan yang sudah Daddy lakukan. Semua sudah terjadi, lupakan lah." Tidak kalah, sesak yang laki-laki itu rasakan.


Namun bukan kah memang seperti itu hukumnya? Apa yang kita miliki akan terasa sangat berharga disaat kita telah kehilangan.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


Sedih pasti kan berpisah dan menyesal disaat bersamaan?


Mangkanya jangan sia-siakan orang yang ada di sisi kita, yang dengan tulus menemani saat tersulit dalam hidup kita.


btw emak punya rekomendasi novel gak kalah nyesek lagi nih ... intip yuk ...


***


Pernikahan karena perjodohan antara Nala dan Reigha sedang terkoyak. Hubungan tanpa cinta itu terombang-ambing ketika Reigha kembali bertemu dengan masalalu yang cintanya sempat terhalang restu.


Nala merasa, usahanya selama ini berakhir sia-sia. Reigha sering berbohong dan diam-diam masih menemui Sandra, sesuatu yang harusnya tidak boleh dilakukan oleh Reigha yang sudah menjadi suami dari Nala.


Mampukah Nala membawa kapal rumah tangganya berlayar di dermaga?


Atau justru kapal rumah tangganya harus tenggelam karena kalah dalam berperang?

__ADS_1



__ADS_2