Nanditha

Nanditha
GAGAL


__ADS_3

Gunadh sedang berada di puncak gai rah, begitu pun Nandita yang sampai terengah menghadapi kebuasan suaminya.


Mereka bersiap melakukan kegiatan inti, yang sudah mantan duda itu nantikan sejak lama.


"Kamu siap sayang?" tanyanya memastikan istri mungilnya tidak keberatan melakukan ritual malam pertama saat itu.


"Nggak pa-pa tapi kan mas? Besok kegiatan kita full." Nandita mendadak ragu.


"Nggak pa-pa, kamu bisa istirahat sampai siang, sebelum periasnya datang. Mas akan melakukannya dengan pelan." bujuk Gunadh bersiap membuka kain terakhir yang menutupi intinya.


"Nggak sakit kan mas?" Tanya wanita itu lagi, sedikit ragu.


Andai beberapa saat lalu Gunadh tidak menjeda permainan lidahnya, mungkin ia tidak akan sadar. Namun karena Gunadh berhenti dan menanyainya, membuat ia menjadi takut.


Gundah tidak menjawab, namun laki-laki itu kembali membuai Nandita dengan sentuhan lembut yang menghanyutkan.


Tatapan matanya yang sayu, membuat Nandita terlena. Ia pasrah menerima apapun yang diberikan Gunadh saat ini.


"Masss" Nandita hanya bisa memanggil nama itu dengan mata terpejam, saat sesuatu menyentuh titik sensitifnya.


"Mmmmm!" Teriaknya tertahan, saat sesuatu seakan membelah intinya.


"Tahan sayang ...." Gunadh tengah berusaha mencari celah agar miliknya bisa masuk tanpa menyakiti sang istri.


Beberapa kali percobaan gagal, Gunadh tidak tega memaksa lebih keras lagi. Melihat wanita yang biasanya kuat itu meringis, bahkan sampai mengeluarkan air mata, membuat hasratnya perlahan surut.


Gunadh menyerah. Ia memutuskan tidak lagi melanjutkan kegiatan malam mereka.


Dikecupnya kening sang istri sesaat, sebelum ia turun dan bergegas menuju kamar mandi.


Nandita terkejut melihat Gunadh berlalu tanpa kata. Dadanya berdebar, takut telah melakukan kesalahan yang membuat Gunadh marah dan menghentikan kegiatan itu secara sepihak.


Wajahnya pias. Segera ia meraih selimut yang sudah terpojok, untuk menutupi tubuh polosnya. Tatapannya terus menuju arah pintu kamar mandi.


"Mas," reflek ia memanggil sang suami, saat laki-laki itu muncul.


Sembari mengibaskan rambutnya yang basah, Gunadh mendekati istrinya lalu kembali memberikan kecupan lembut di keningnya.

__ADS_1


"Mas marah?" tanya Nandita.


Alis Gunadh mengkerut? Merasa aneh, kenapa sang istri berpikir jika dirinya marah.


"Aku ada salah ya? Apa aku nggak bisa puasin mas?" cecarnya lagi.


"Kenapa berpikir begitu? Mas nggak marah,"


"Trus kenapa tiba-tiba pergi?"


"Oohh, itu?" Gunadh tersenyum. Mas ngga tega liat kamu kesakitan. Mungkin harusnya pelan-pelan kita memulainya." terang Gunadh.


"Benar? Nggak bohong?" Nandita menjadi tidak percaya diri, karena Gunadh yang tiba-tiba berubah pikiran.


"Apa aku nggak bisa puasin mas?" Tanyanya lagi. Hati Nandita tiba-tiba sakit karen prasangka buruknya sendiri.


Gunadh segera merengkuh tubuh yang hanya terbalut selimut itu.


"Sayang ... Kenapa jadi sensitif begini? Dimana istrinya mas yang penuh percaya diri?" Gunadh menatap mata bening yang kini sudah terbungkus kristal.


Nandita tidak mengerti maksud ucapan suaminya. Ia mendongak, menatap dengan bingung wajah yang tepat berada di atas kepalanya.


"Udaah nggak usah dipikirkan, nanti juga kamu akan mengerti." Gunadh membawa kepala Nandita kembali terbenam di dadanya.


🌟🌟🌟


Sejak kemarin, seluruh anggota keluarga Nandita dari ayah dan bundanya sudah berkumpul di hotel tempat resepsi berlangsung.


Dan pagi ini, Nandita pun diminta datang selepas sarapan oleh mereka semua, untuk melakukan gladi resik.


"Kok pake begituan segala sih, kak? Kan mestinya aku tinggal duduk aja di kursi pelaminan, sambil nunggu tamu naik untuk salaman?" Keluhannya pada Nindya, sang kakak sepupu.


"Ck, emang kamu nggak inget dulu pas kakak nikah, kayak gimana prosesnya?" Nindya jengah, pengantin baru yang ia hubungi itu seolah enggan menuruti keinginannya.


"Udah Ta, kesini aja. Kamu nggak kasihan sama kami?" Kali ini suara Bianca yang Nandita dengar.


Mau tidak mau, wanita itu akhirnya meminta ijin pada sang suami agar diantar ke hotelnya.

__ADS_1


"Gladi resik?" tanya Gunadh dengan alis berkerut.


"Iya, kak Dya sama kak Bian bilang memang begitu mestinya. Tapi WOnya nggak ada bilang begitu ke aku. Apa aku telepon orang WO aja kali ya mas untuk mastiin?"


"Mas aja yang tanya ke Arya, sayang." Gunadh bergegas menuju kamarnya, mengambil ponsel.


Namun niat Gunadh untuk menghubungi sang asisten urung ia lakukan, sebab saat menyalakan ponselnya, ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Malikha, yang membuatnya penasaran.


Ia pun menghubungi gadis itu.


"Halo, ada apa Malikha?" tanyanya dengan nada formal seperti biasa.


"Halo, mas. Ini, mmm mas, nanti minta tolong anter kakak ke hotel terlebih dahulu ya ... Mmm mau ada acara gladi resik soalnya." ucap Malikha. Di belakangnya terdengar keributan kecil yang membuat Gunadh curiga.


"Malikha, kamu lupa ya kalau saya sudah pernah menikah?"


"Mmm ma k sudnya?"


Gunadh mencium ada niat terselubung dari para ipar, yang sengaja ingin mengerjainya dan sang istri.


"Gunadh, ini aku Nindya. Tolong ajak Nandita kemari donk. Kami mau ngumpul bareng sebelum acara resepsi nanti." Nindya mengambil alih ponsel di tangan Malikha.


Gunadh mendengus. Ia sudah menduga ini pasti akal-akalan mereka saja.


"Nggak bisa. Kalian nggak malu, ganggu pengantin baru? Saya sama Nandita akan kesana sesuai waktu yang sudah ditentukan. Silahkan nikmati waktu bersantai kalian di sana."


"Eeh tunggu dulu, jangan ditutup. Gunadh jangan lupa ya, saya ini kakak ipar kamu. Jangan gunakan sikap formal kamu sama saya. Boleh aja kamu nggak anter Dita ke sini sekarang. Tapi, jangan salahkan saya, kalau nanti malam, kami menculik istrimu. Silahkan pilih," suara Nindya terdengar menantang.


"Kamu mengancam saya?" Kesal Gunadh. Selama ini tidak ada yang berani membuat masalah terhadapnya. Lalu sekarang, Nindya mengancamnya?


"Oohh tentu tidak, aku hanya menyampaikan fakta. Aku dan yang lain bisa saja membuat drama, yang bikin kalian gagal melewati malam indah pengantin baru. Tinggal pilih saja. Sekarang atau nanti malam?"


Gunadh kehabisan kata. Ia tentu tidak ingin kegagalan kemarin terulang lagi. Bahkan dirinya sudah menyiapkan rencana untuk ritual malam kedua.


Akhirnya dengan terpaksa ia mengantar sang istri ke hotel. Dan karena dia tidak mau jauh-jauh dari Nandita, ia pun memutuskan menemani istrinya di sana.


.

__ADS_1


__ADS_2