
Seperti pasangan mesum yang digrebek warga, itulah yang dirasakan Nandita sat ini.
Ia tidak berani mengangkat wajahnya sedikit pun. Kedua tangannya sibuk saling mer emas, sesekali ia membenarkan rambutnya yang masih tertata cukup rapi.
Entahlah, gadis itu merasa semua gerak tubuhnya salah. Ingin rasanya ia bersembunyi di bawah tanah kala itu, agar tidak melihat tatapan intimidasi dari keluarga besarnya.
"Aku nggak nyangka kamu serakus itu Nan," ucap Aslan tertawa mengejek, membuat Nandita semakin malu.
"Ssstt, udaaah jangan dibahas lagi. Sebaiknya kita kembali, ini sudah larut malam." Onty Eby menyela, tidak ingin putri angkatnya semakin malu karena ulah sang keponakan.
Namun tidak ada satu pun diantara mereka yang menggerakkan tubuhnya, mengikuti perintah wanita itu.
Mereka semua masih betah berdiri, meski angin malam cukup dingin menyentuh kulit.
"Ck Kalian kenapa sih? Sudah ... Jangan liatin mereka kayak gituuu, ingat kita sama-sama pernah muda ...,"
"Aku nggak nyangka aja By, anak tomboi ku ternyata bisa melakukan itu." Celetuk bunda Santi, membuat pipi Nandita semakin memerah. Namun ia memberanikan diri untuk menatap manik wanita yang sudah melahirkannya itu.
Bisa Nandita lihat, tatapan haru dari kedua orang tuanya.
'oohh syukurlah mereka nggak marah karena perbuatanku,' seru Nandita dalam hati.
"Kamu mau menginap di sini atau kembali ke hotelmu nak?" Tanya ayah Darma membuka suara.
Mereka saat ini tengah menunggu pintu lift terbuka.
Rencananya keluarga Nandita akan menginap di hotel malam ini, sebelum besok mereka kembali ke kediaman masing-masing.
"Mmm saya kembali ke hotel saja ayah," ucap pria itu.
"Baiklah, hati-hati di jalan ya nak." Ayah Darma menepuk pundak Gunadh. Disaat bersamaan pintu lift terbuka, di lantai tempat kamar mereka berada.
Gunadh menganggukkan kepala saat mereka semua meninggalkan ruangan kotak bergerak itu. Menyisakan Gunadh serta Nandita tentunya.
"Mmm boleh nggak aku anter mas Gunadh sampe loby?" Gadis itu bertanya dengan ragu.
Mereka semua saling lirik, dengan tatapan sarat makna.
__ADS_1
Nandita sendiri menunggu dengan harap cemas. Bagaimana bila mereka melarangnya untuk mengantar Gunadh.
"Kaa lauu nggak boleh juga nggak pa-pa," dengan wajah pucat, Nandita melangkah melewati pintu lift.
"Siapa yang bilang nggak boleh?" Keluarganya kompak menjawab, membuat gadis itu tersentak.
"Jaadiii boleh?" Tanyanya ragu.
Seketika senyum sumringah terbit di bibir manisnya.
"Jangan lama-lama, ingat besok pagi kita balik ke rumah." Ucap onty Eby.
"Siap onty," Nandita mengangkat tangan memberi hormat seperti seorang anggota militer terhadap atasannya.
🌟🌟🌟
"Aku balik dulu ya ..." Ucap Gunadh menatap mesra kekasih hatinya.
"Iya mas ... Hati-hati ya ... Nanti kabari aku kalau udah tiba." Sahut Nandita membalas tatapan Gunadh.
Aahh bila sudah begini, rasanya waktu begitu cepat berlalu.
Kenapa malam harus tiba tepat waktu, memisahkan hati yang masih terbalut rindu.
"Jangan lupa mimpiin aku,"
"Mas juga jangan lupa mimpiin aku."
Gunadhemgangguk
"Besok mas datang ke rumah onty Eby ya, kita jalan-jalan."
"Iya, aku tunggu"
"Apa mas jemput kamu di sini?"
"Boleh, kita sarapan bareng di sini."
__ADS_1
"Mas jangan begadang ya ...."
"Kamu juga ...."
"Nggak usah balik ke hotel aja sekalian, pegangan terus di sini sampe pagi." Suara seorang pria terdengar dari arah samping hotel.
Keduanya kompak menoleh sembari melepas pegangan tangan.
"Tauuu masih rinduuu, tapi jangan dihabiskan semua saat ini juga ... Sisakan untuk besok," kedua tangan Aslan terlipat di depan dada.
Cukup lama ia menunggu, hingga merasa jengah menatap pasangan yang tengah dimabuk cinta itu.
Niatnya ia ingin mencari angin segar, menerbangkan kegundahan hatinya bersama angin malam.
Namun apa yang dilihatnya membuat ia tergelitik untuk menganggu.
Sudah beberapa menit, pasangan kekasih itu mengucap kata perpisahan, namun tidak ada satu pun yang berniat melepas genggaman satu dengan yang lain.
"Apaan sih kamu, niat banget gangguin orang pacaran." Sungut Nandita merasa kesal.
"Dasar nggak tau malu. Lihat! Kalian jadi tontonan gratis di sini. Pegangan tangan di depan lobby, kamu pikir ini rooftop yang tadi?" Aslan sengaja mengingatkan rooftop, di mana mereka terciduk beberapa saat lalu.
"Ehm, yank ... Mas balik dulu ya ...." Gunadh kembali pada mode kaku, yang sulit ber basa-basi.
Pria itu mengecup kening Nandita, serta mengelus sebentar pipi mulus gadis itu.
"Thanks bro, sampai ketemu besok." Ucap Gunadh menatap Aslan yang datang mendekat.
"Nan, kamu balik ke kamar sana, aku mau nginap di tempat tunangan kamu." Tanpa menunggu persetujuan Gunadh dan Nandita, Aslan masuk ke dalam taksi yang memang sedang menunggu Gunadh.
"Heiii kamu ngapain ...? Jangan bercanda Aslan ...!"
"Udah yank biarkan saja, nggak apa kok. Udah sekarang kamu balik ke kamar ya ...." Bujuk Gunadh.
Nandita hanya bisa mengangguk pasrah, menuruti apa yang tunangannya ucapkan.
Meski ia khawatir dan penasaran, namun ia hanya bisa menyimpannya dalam hati.
__ADS_1