
Di sisi lain, setelah beristirahat selama satu jam setengah, Nandita bangun dengan kondisi yang lebih baik.
Ia tidak menyangka, bahwa dirinya bisa tumbang juga. Memang beberapa hari ini kondisinya kurang fit. Selain karena perubahan cuaca, tugas baru sebagai mahasiswa PPL juga membuat beban pikirannya bertambah.
"Lho kamu kenapa Ta? Kok wajah kamu pucat gitu?" Sang bunda yang sedang duduk di teras rumah, kaget melihat anaknya turun dari mobil sewaan.
Ia menuntun anaknya masuk ke ruang keluarga. Mengajaknya duduk di sofa yang terdapat di ruangan itu.
Setelah beberapa saat, baru ia bertanya lagi
"Tadi kamu pulang pake taksi, trus motor kamu kemana? Kamu kenapa?" Pertanyaan beruntung dari bunda Santi pada anaknya.
"Motor, aku tinggal di sekolah Bun, aku ga sanggup bawa motor pulang. Takut kenapa-kenapa di jalan. Tadi aku sempet pingsan di sekolah, syukur ada Satya yang langsung bawa aku ke UKS. Aku istirahat di sana sebentar terus pulang." Terang Nandita
"Astaga Ditaaa,,, begini nih yang bunda ga suka. Kamu selalu maksain diri untuk melakukan sesuatu. Udah tau kondisi lagi ga bagus, kenapa ga ijin dulu? Istirahat di rumah biar cepat sembuh. Kamu pasti suka begadang lagi ya?" Cecar wanita paruh baya itu pada sang anak.
"Bunda ini kebiasaan deh, anak sakit bukannya disayang malah marah-marah,,,." Nandita bersungut dan merajuk
"Ya habisnya kamu, selalu suka sok kuat jadi orang. Syukur tadi ada Satya yang bantuin, syukur juga tadi masih di sekolah. Coba kalau pas bawa motor kamu kaya begitu kan bahaya Ta..." Raut khawatir jelas tampak, di wajah wanita paruh baya itu.
"Trus sekarang Satyanya mana? Kenapa bukan dia yang anterin kamu pulang?" Sang bunda kembali bertanya.
"Begitu aku bangun, aku udah ga liat Satya di sana Bun. Kata perawatnya, Satya berpesan kalau dia ada urusan mendadak. Ga tau urusan apa" Terang Nandita lagi.
"Ya sudah kamu ke kamar dulu sana, istirahat. Nanti bunda buatkan bubur kesukaan kamu" Titahnya pada sang anak.
"Beneran Bun? Jangan lupa isi kacang tanah ya... Trus agak pedas sedikit. Kalau ada tambahin ikan juga ya Bun" Pintanya manja.
"Ya,,, nanti bunda siapkan. Yuk bunda antar kamu ke kamar."
"Ga usah Bun, kaya orang sakit keras aja kemana-mana mesti dianter" Tolaknya lagi.
🌟🌟🌟
Keesokan harinya, Nandita ijin tidak mengajar. Ia memutuskan untuk istirahat di rumah.
Kemarin bundanya memanggilkan dokter yang praktik dekat rumahnya.
Pak Darma yang memang sangat pendiam hanya bisa menemani anaknya. Beliau menemani Nandita tidur, bersama sang istri.
"Makanya Ta,,, kamu tuh harus dengerin omongan bunda,, minum air yang cukup, istirahat yang cukup, jangan terlalu maksain diri. Kalau sudah waktunya lulus pasti akan lulus kok" Bu Santi melanjutkan ceramahnya saat sudah berada di kamar sang putri.
"Udah dong Bun, anaknya sakit kok malah diomelin terus sih. Biarkan dia istirahat dulu biar cepat pulih" Sang ayah membela
"Ayah sih selalu saja ya ya in mau anaknya. Kemarin pas bunda bilang jangan ke tempat latihan dulu, ayah juga 'bilang kasih aja bunda kasian Dita',, gitu kan!" Bu Santi kini balik menyalahkan sang suami.
Ia memperagakan ucapan laki-laki itu, dengan mulut dimonyongkan.
Nandita yang melihat itu hanya bisa menahan senyumnya.
Siang harinya, Satya datang mengunjungi Nandita dan ingin meminta maaf karena kemarin meninggalkan gadis itu di ruang UKS hanya ditemani perawat saja.
"Kamu udah baikan Ta" Tanya Satya saat mereka sudah duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Ayah dan bunda membiarkan mereka ngobrol berdua.
"Udah kok Sat, cuman bunda masih belom ijinin aku untuk sekolah dulu. Katanya istirahat dulu sehari dua hari di rumah"
"Ya,,, harus pulih dulu Ta, baru kamu ngajar lagi. Sorry ya kemaren aku tinggal kamu di UKS sendiri. Ada keadaan darurat soalnya." Terangnya lagi.
Nandita menatap Satya dengan alis berkerut, tanda tidak mengerti.
"Kemaren aku dihubungi pihak kepolisian, karena ada kecelakaan di pertigaan dekat pasar. Rupanya Candra yang mengalami musibah itu Ta" Lanjut Satya dengan wajah prihatin.
Sontak Nandita terkejut
"Astagaaa,," Ia menutup mulutnya karena kaget.
"Terus sekarang keadaan Candra gimana? Kenapa bisa sampe dia mengalami itu?" Cecarnya pada Satya.
"Kemaren pas aku tinggal sih masih belum sadar. Karena orang tua juga adik-adiknya sudah di sana, aku pamit pulang. Soal kecelakaan itu, kata polisi dia ngebut trus karna ada pengendara motor yang nyebrang mendadak, Candra yang kaget akhirnya banting stir ke kiri. Karena mobil dalam kecepatan tinggi, Candra ga bisa ngendaliinnya akhirnya dia nabrak pohon." Satya menjelaskan
"Ya Tuhan ... Semoga Candra baik-baik saja, dan segera sadar ya. Trus pengendara motor itu bagaimana?" Nandita masih penasaran
"Ya sama,,, masuk rumah sakit juga. Padahal mobilnya Candra ga sempat menyentuh badan motor itu, tapi karena pengendaranya kaget akhirnya dia ikut terjatuh. Yang bawa itu seorang bapak-bapak, karena dari keluarga yang kurang mampu akhirnya orang tuanya Candra menyanggupi untuk membiayai bapak itu. Dan motornya juga diganti sama papanya Candra." Syukurlah kalau orang tuanya Candra mau bantu. Baik juga ia mereka." Nandita menangapi sekenanya. Ia tidak tahu harus bagaimana, karena hubungannya dengan Candra juga sudah tidak seperti dulu. Namun ada sudut hatinya yang mengatakan untuk tetap perduli.
"Besok aku kesana deh nengok dia" Nandita mengutarakan niatnya.
"Aku temani ya" Tawar Satya yang diangguki oleh Nandita.
🌟🌟🌟
Candra yang baru sadar tiba-tiba mengamuk memukul-mukul kakinya yang patah.
Ia merasa hidupnya benar - benar hancur. Hatinya masih sakit mengingat kejadian kemarin, dan kini lebih sakit lagi karena menghadapi kenyataan kalau kakinya patah.
Ia melepas infus yang ada di tangannya dengan kasar. Darah segar mengalir dari pembuluh darah tempat jarum infus dipasang.
Kiara menjerit histeris saat mendapati keadaan sang kakak yang mengenaskan. Darah berceceran, wajah sang kakak sembab, sprei bed rumah sakit yang sudah tidak karuan.
"Kakak.....! Kenapa begini kak? Kakak kenapa?" Kiara panik, memeluk sang kakak dengan erat menghentikan aksi Candra yang masih memukul-mukul kakinya yang patah.
"Pergi dek,,,!! Tinggalin aku sendiri! Biarin aku mati, ga ada lagi yang aku harapkan di dunia ini. Aku lelah dengan semuanya, aku benci semuanya. Kenapa Tuhan ga ambil nyawaku saat tabrakan itu. Kenapa Tuhan biarkan aku kembali sadar!" Ucapnya masih terus memberontak di dalam dekapan sang adik.
"Kakak....." Sang adik ikut menangis.
"Aku sayang sama kakak, aku ga mau kakak kenapa-napa. Siapa yang jagain aku sama Bima kalau kakak pergi? Kita hanya bertiga kak, kalau kakak pergi aku dan Bima hanya berdua saja. Hanya kasih sayang kakak yang bisa membuat aku semangat. Apa kakak ga bersyukur ada aku dan Bima dalam hidup kakak? Maaf kalau ternyata kami jadi beban kakak selama ini, aku janji, aku dan Bima ga akan buat kakak marah lagi, ga akan buat ulah lagi. Kami akan belajar yang rajin, ga akan pergi main dan akan selalu temani kakak di rumah. Tapi aku mohon kak, jauhkan pikiran kakak tentang kematian. Aku takut kak,,,, aku ga mau,,,,, kakak jangan tinggalin kami. Mama sama papa selalu sibuk ga pernah ada waktu untuk kita. Sekarang kakak juga begini... Huuuu,,,, uuuuu,,,," Kiara menangis tersedu.
Ia tak sanggup bila harus kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Di dunia ini orang yang benar-benar perduli padanya hanya sang kakak. Begitu pikirnya.
Di balik pintu ruangan itu, tiga pasang mata menatap adegan itu dengan bercucuran air mata. Mereka adalah Bima, Bu Diah, dan pak Bayu. Kaki mereka seolah tertancap paku, tak mampu bergerak kala mendengar isi hati terdalam dua kakak beradik itu.
Bu Diah dan pak Bayu tidak menyangka, ternyata kesibukan mereka menorehkan luka yang dalam di hati anak-anaknya.
Mereka berpikir dengan mencukupi semua kebutuhan materi mereka, mereka sudah melakukan yang terbaik, tapi ternyata itu salah.
Anak-anak juga perlu sentuhan kasih dari orang tuanya. Mereka ingin merasakan bagaimana rasanya dipeluk, didengarkan keluh kesahnya, dipuji, dilindungi fisik dan mentalnya. Mereka ingin ada yang membela secara nyata saat mendapat gangguan atau hal tidak menyenangkan dari lingkungan sekitar.
__ADS_1
Sekadar ucapan 'kamu hebat' itu sudah menjadi air yang menyejukkan untuk hati yang kering dan tandus.
Orang tua tidak akan kehilangan wibawanya hanya karena ikut bermain bersama sang anak. Pun tidak akan jatuh harga dirinya hanya karena mendengarkan keluh kesah sang anak.
Itu yang mereka tidak sadari. Pak Bayu yang memang berasal dari keluarga tidak mampu, sering mendapat perundungan ketika masih kecil, berjuang keras hingga bisa mencapai titik dimana semua orang menunduk saat melihatnya.
Ia tidak ingin anak-anaknya kelak mengalami apa yang ia alami. Itu sebabnya ia mendidik dengan cara keras, dengan disiplin dan seakan membangun tembok agar tidak tersentuh.
"Maafkan kami nak bila selama ini kalian kehilangan sosok kami dalam hidup kalian,,," Dengan berurai air mata, Bu Diah menatap Bima yang juga menangis.
"Jangan meminta maaf sama aku ma,, tapi sama kak Andra. Dia yang selama ini menggantikan peran kalian dalam hidup kami. Dia yang selalu ada saat kami butuh kalian. Kak Andra yang akan selalu datang ke sekolah saat aku membuat ulah, atau Kiara yang bolos sekolah. Selama ini kami nakal karena ingin mendapat perhatian dari kalian. Tapi kami ga dapet itu, kalian sibuk dengan dunia kalian. Ya,,, kami memang mendapat fasilitas terbaik dalam hidup kami, aku tau kalian berjuang keras untuk itu. Tapi kami juga butuh sosok kalian ma,,, pa,,, kami ingin kalian ada saat kami sakit, kami ingin kalian yang datang mengambil rapot kami, bukan kak Candra." Bima menatap nanar manik mata sang mama.
Perasaan yang selama ini tidak bisa ia ungkapkan, hari ini keluar seperti air bah. Memporak porandakan perasaan dua sosok paruh baya yang terlihat kuat. Tubuh Bu Diah merosot menyentuh lantai dingin rumah sakit. Ia tidak menyangka sedalam itu kecewa yang mereka rasakan. Ia pikir semua baik-baik saja.
"Tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat, karna aku liat emosi kak Andra sedang tidak stabil. Kita tunggu sampai ia tenang dulu." Bima menambahkan lagi dengan suara yang lebih tenang.
Tak berselang lama, seorang dokter dan perawat datang mendekati ruangan. Rupanya Kiara menekan tombol ruangan perawat saat Candra mengamuk tadi.
Setelah memeriksa keadaan pasien, dokter pun keluar dan berbicara dengan kedua orang tua Candra.
"Bisa kita bicara sebentar bapak ibu?" Tanya dokter itu sopan.
Orang tua itu hanya mengangguk, dan berjalan mengikuti langkah kaki sang dokter dari belakang.
Sementara Bima memutuskan untuk masuk ke ruang perawatan sang kakak.
"Bapak ibu mohon maaf sebelumnya, kondisi pasien terlihat tidak baik-baik saja. Dari caranya menatap, sepertinya ia menyimpan perasaan yang kurang baik. Apakah pasien sedang ada masalah? Karena kami harus menangani pasien dengan tepat. Kami harus tahu kondisi pasien agar bisa memberi obat yang tepat. Sepertinya pasien mengalami tekanan mental, dia seolah tidak memiliki gairah hidup saat ini. Sekali lagi maaf, bukan bermaksud tidak sopan. Tapi ini sangat berpengaruh pada proses kesembuhannya. Pasien yang memiliki semangat hidup, dipercaya bisa cepat pulih kondisi fisiknya karena kesehatan psikis membantu dari dalam proses kesembuhan. Mungkin dengan menghadirkan seorang psikolog akan membantu" Papar sang dokter
Sontak saja kedua orang itu terkejut, ia tidak menyangka bahwa anak sulungnya akan mengalami hal seperti ini.
"Tekanan mental??" Bu Diah bergumam, namun masih bisa didengar oleh orang di sekitar nya.
"Apakah itu berarti anak saya gi la dokter" pak Bayu bertanya gugup.
"Tidak pak,,, anak bapak tidak gila, hanya mengalami tekanan yang berat mungkin dalam hidupnya. Jika dibiarkan mungkin akan mengalami depresi ringan bahkan depresi berat. Nah depresi berat itu juga yang orang awam menyebutnya dengan gila." Sang dokter menjelaskan agar mudah dimengerti.
"Kami serahkan proses kesembuhan anak kami pada dokter, silahkan dokter yang menentukan jalan terbaiknya. Kami tidak begitu paham soal itu." Pak Bayu berusaha menguatkan hati.
"Apa sekarang kami sudah boleh menemuinya dok?" Bu Diah bertanya.
"Ooh silahkan, tadi saya sudah menyuntikkan obat penenang dosis sedang. Mungkin saat ini anak ibu sedang terlelap." Dokter dengan kaca mata minus itu berkata
🌟🌟🌟
Hari ini keadaan Candra sudah lebih baik. Kehadiran mama papanya memberi dampak positif untuk suasana hatinya. Meski masih ada rasa canggung, karena setelah kejadian ia berdebat dengan mamanya tempo lalu, sang mama sangat jarang menghubunginya.
Paling saat mentransfer uang, baru mereka berkomunikasi. Ya seperti itulah hubungan mereka dulu. Tapi dengan kejadian ini, Bu Diah berjanji di dalam hati, bahwa ia akan meluangkan waktu lebih banyak untuk anak-anaknya. Ia tidak ingin kejadian serupa terjadi pada anak-anaknya yang lain. Cukup ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya terjadi.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang?" Bu Diah memulai percakapan.
"Aku baik maaa." Dengan lemah Candra berkata. Belum terbiasa dengan perhatian mamanya.
"Mama minta maaf, karena selama ini kurang perhatian sama kamu dan adik-dik kamu, mama benar-benar menyesal, maafkan mama ya,,,." Ucap wanita anggun itu dengan tulus. Namun hati Candra masih ragu untuk percaya.
__ADS_1