
Hari melelahkan telah terlewati. Seusai makan malam bersama di keluarga sang bunda, Nandita dan yang lain berniat kembali pulang. Namun, sang adik sepupu yang sedari tadi bergelayut manja dengan Malikha, menangis histeris begitu tahu sang kakak sepupu yang jarang ditemuinya itu hendak pergi.
"Menginap di sini saja, kasihan Jihan. Ini juga kan rumah kalian." Rayu om Alan pada Malikha.
"Kak ..." Hanya itu ucapan yang keluar dari mulut si bungsu. Berniat meminta pertolongan pada Nandita.
"Terserah kamu dek, kamu mau gak?"
"Aku sih mau-mau aja kak, tapi gimana sama bunda?" Malikha masih ragu. Ia senang bisa memerankan diri menjadi kakak. Ucapannya didengar, dituruti, dan dianggap dewasa. Berbeda kalau di rumah, ia yang anak bungsu selalu dianggap masih kecil dan diperlakukan layaknya anak kecil.
"Biar om yang telepon bunda kamu." Om Alan memotong keresahan di hati Malikha.
Setelah beberapa saat, panggilan tersambung. Dan sesuai harapan, ayah dan bunda mengijinkan Malikha menginap di sana. Menemani sang adik sepupu yang baru berusia 5tahun.
Sementara Gunadh dan Nandita terpaksa harus kembali, sebab besok pagi-pagi mereka sudah harus kembali ke kota.
"Om, Dita sama mas Gunadh pamit dulu ya. Besok kalau ada libur Dita main ke sini lagi. Tolong besok antarkan Malikha ya, soalnya Dita gak bisa jemput."
"Ya, kalian hati-hati ya. Suruh tidur di sini gak mau." Om Alan menjawab.
"Cape besok bolak baliknya om, ga ada persiapan juga." Ucap Nandita lagi.
Mereka di antar sampai depan pintu utama. Melambaikan tangan saat sudah memasuki mobil dan roda empat itu siap meninggalkan halaman rumah tersebut.
"Haaaah lega ya mas, semua beres." Ucap Nandita ketika mereka baru saja memasuki jalan utama.
Gunadh hanya tersenyum menanggapi ucapan kekasihnya.
Pikirannya masih dilema. Haruskah ia menceritakan permasalahan yang dihadapi dengan sang anak, atau ia menyimpannya sendiri.
Gunadh tidak ingin Nandita merasa bersalah dan bahkan mundur karena sikap Namira. Ia tidak mau kehilangan cintanya lagi. Meski tak dapat dipungkiri, pernyataan Namira membebani pikirannya juga. Anaknya menolak sosok baru hadir dalam hidup mereka.
Haruskah ia mengalah? Atau bolehkah ia bersikap sedikit egois? Selama ini ia fokus dengan kebahagiaan Namira, memberi anak satu-satunya itu hak terbaik yang ia bisa. Bekerja keras agar sang putri tidak kekurangan apapun.
"Mas ... Mas Gunadh!" Nandita menepuk pelan bahunya.
Sedari tadi gadis itu bicara namun tidak mendapat respon. Dan kini malah melihat laki-laki yang tengah mengemudi itu menatap kosong jalan yang dilalui.
"Ah ya yank ... Maaf mas kurang fokus." Ucapnya, menoleh sekilas ke samping kiri. Dimana gadis yang dicintainya menatap penuh telisik.
"Mas lagi nyetir lho, pikirannya jangan ke mana-mana, bahaya tau. Aku gak mau mati muda ya mas." Oceh Nandita.
Diam
tidak ada tanggapan dari Gunadh.
"Mas lagi ada masalah ya? Kenapa kaya gak fokus gitu aku ajak ngobrol?" Nandita bertanya dengan lembut. Takut membuat yang ditanya merasa kurang nyaman.
__ADS_1
Gunadh menarik nafas berat. Sulit untuk mengungkapkan apa yang dirasanya kini.
"Yank bisa gak kita pulangnya agak larut sedikit? Kita muter-muter dulu." Pintanya pada Nandita, tanpa menjawab pertanyaan sang kekasih.
Gadis itu melirik pergelangan tangan kiri dimana penunjuk waktu melingkar manis di sana.
"Boleh mas, aku telepon bunda dulu. Biar gak ditungguin." Ucapnya kemudian mengambil ponsel dari dalam tasnya, setelah melihat waktu masih menunjuk pukul 20.15
Nandita merasa, Gunadh sedang memiliki masalah namun pria itu tidak terbiasa bercerita dengan orang lain. Ia tahu itu, karena ia pun adalah gadis yang tidak terbiasa bercerita pada orang lain. Hanya pada ayah bundanya saja, dan itupun jarang.
"Kita ke pantai yuk, di dekat sini ada pantai yang bagus banget kalau malam hari. Sebab banyak nelayan sekitar yang mulai turun di jam segini"
"Turun?"
"Maksudnya melaut, cari ikan." Jelasnya lagi.
Mulut Gunadh membentuk huruf O tanpa suara.
Gunadh mengikuti kemana Nandita menunjuk arah.
Setelah beberapa saat, mereka menemukan tempat yang dirasa aman untuk parkir.
"Sini mas," Ajaknya setelah ia terlebih dahulu turun dari mobil. Angin laut menerpa wajah dan rambutnya yang dikuncir asal.
Gunadh menyusul, mengambil tangan gadisnya, kemudian mereka melangkah beriringan.
Terlihat beberapa nelayan sudah menyiapkan diri menuju tengah laut. Sementara yang lain membantu mendorong kan perahu.
"Enak ya mas, suasana tenang, udara sejuk, dan deburan ombak membuat pikiran kita rileks." Nandita berucap, saat tubuh mereka berhenti di tepi pantai. Kedua tangannya ia rentangkan, matanya terpejam dan dengan perlahan meraup udara sebanyak yang ia bisa, lalu mengembuskannya juga dengan pelan.
Kembali mereka melangkah, menjauhi perahu-perahu nelayan. Mencari tempat yang lebih sepi namun masih terlihat satu dua orang yang melintas.
Mereka duduk agak menjauh dari kejaran ombak dan air laut.
"Dulu, pertama kali aku suka suasana laut di malam hari, adalah ketika kemah Pramuka waktu SMA. Kebetulan tempat kemahnya dekat pantai. Tiap malam selama empat hari, aku dan yang lain selalu membuat kegiatan di pinggir Pantai. Tapi aku yang tidak terlalu suka keramaian, sering menyelinap pergi sendiri. Menikmati ombak yang saling berkejaran, melihat lampu-lampu perahu nelayan yang timbul tenggelam di tengah gelombang, menciptakan ketenangan dalam hatiku." Nandita mengenang masa SMA.
Gunadh masih diam, menatap sang kekasih yang terlihat lebih cantik karena terpaan cahaya purnama.
"Setelah saat itu, setiap kali aku memiliki beban pikiran yang tidak bisa aku bagi dengan orang lain, aku akan membaginya pada laut. Aku percaya, meski tidak akan mendapat jawaban, tapi kerumitan yang telah kita bagi pada laut, akan memberi ruang kosong pada hati dan pikiran. Sehingga ide baru muncul dan solusi baru tercipta."
Ia kemudian menatap Gunadh, yang duduk di sampingnya dengan kedua tangan bertumpu di atas lutut yang ditekuk.
"Mas perlu waktu untuk curhat sama laut?" Nandita serius bertanya, namun ia selipkan senyum jenaka agar Gunadh tidak merasa tersinggung.
Laki-laki itu tersenyum tipis, tidak banyak orang yang mengerti dirinya. Sejauh ini baru hanya Satya sang asisten dan Nandita yang bisa merasakan kegundahan hatinya. Bahkan dengan kedua orang tuanya dulu pun, Gunadh tidak pernah bicara dari hati ke hati terlalu dalam.
"Makasih ya, kamu selalu mengerti mas tanpa mas harus menjelaskan apa yang mas rasa. Makasih karena mau menerima mas dengan segala kerumitan hidup yang mas lakoni." Gunadh meraih tangan Nandita kembali, memainkan cincin yang melingkar di jari manis gadis itu. Menatap lembut wajah cantik yang terbias cahaya bintang.
__ADS_1
"Bolehkah mas egois sekali saja? Meraih bahagia yang tidak pernah benar-benar mas rasa, tanpa harus memikirkan ada hati yang terluka.
Bolehkah mas menjadi manusia biasa sekali saja? Manusia tidak sempurna yang terkadang bisa membuat orang lain kecewa?" Sorot mata Gunadh memancarkan keletihan jiwa.
Ada kehampaan yang coba ia tutupi, namun ia tetaplah mahluk bernafas ciptaan Tuhan.
Ada kepingan dari hatinya yang memberontak, mendobrak segala dinding yang ia bangun, menunjukkan jati dirinya.
Bahwa dia hanyalah manusia biasa. Yang bisa tangguh tapi juga rapuh. Yang bisa tegak menantang, namun tak jarang ia tumbang. Ia bisa menjadi penopang, tapi ia juga butuh sandaran.
Nandita bersandar di bahu Gunadh. Melingkarkan tangan kanan di lengan pria itu, sementara tangan kirinya mengelus lembut dan berulang otot kekar tersebut.
Ia bisa merasakan apa yang Gunadh rasa. Menutupi luka dengan tawa itu tak mudah. Berdiri tegak Dangan kaki penuh darah itu tak gampang. Menjadi pendengar bagi orang lain, namun menutup telinga untuk diri sendiri itu menyakitkan.
"Kita manusia mas ... Melakukan yang terbaik yang kita bisa, bukan berarti harus sempurna. Memberi tawa untuk orang lain, tapi jangan lupa, kita punya jiwa yang harus bahagia. Karena tidak ada satupun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kita selain diri sendiri."
Nandita mengangkat kepalanya dari bahu Gunadh. Membelai lembut wajah laki-laki itu dengan penuh perasaan.
"Kita sudah melangkah sejauh ini. Jangan lagi merasa sendiri. Aku bersedia menjadi laut untuk mas berbagi."
Tatapan mata yang teduh, memberi rasa nyaman untuk Gunadh.
"Gak perlu menjadi laut. Cukup kamu tetap berdiri disisi mas, tersenyum, tertawa, memberi warna di hidup mas yang abu-abu. Itu saja sudah cukup. Maka hati ini akan meluas, jiwa ini tak akan lagi berontak."
Gunadh tetap tidak ingin Nandita tahu apa yang menjadi beban pikirannya.
Ah kenapa ia jadi selemah ini? Selama bertahun-tahun ia mampu mengendalikan semua dengan baik. Saat orang tuanya meninggal dengan keadaan perusahaan yang hampir bangkrut, ia sanggup.
Padahal saat itu ia hidup dengan seorang Safira yang tidak pernah perduli apakah ia makan atau tidak? Tidur cukup atau tidak? Yang jelas, uang bulanan harus tetap ada, tidak boleh kurang bahkan kalau bisa lebih.
Meski perjuangannya berujung penghianatan oleh Safira, ia masih mampu bertahan, memberi kehidupan yang layak bagi anak semata wayangnya.
Namun kini, hanya perkara Namira tidak setuju pada Nandita, ia resah seperti ini.
"Setangguh ini calon suamiku." Goda Nandita.
" Gak perlu teman curhat katanya." Lanjutnya lagi dengan senyum jenaka. Mencoba mencairkan suasana.
"Mas gak terbiasa menuangkan perasaan lewat kata-kata. Ini aja, semenjak kenal sama kamu rasanya mas jadi banyak bicara."
"Iih kok aku? Bilang aja selama ini mas pake topeng, dan baru sekarang kebuka aslinya."
"Kamu cerewet mas jadi ketularan cerewet. Mas dulunya itu pendiam, kalem, karismatik, ..."
"Sombong, angkuh, kaya pohon pisang punya jantung tapi gak punya hati." Lanjut Nandita membuat mata Gunadh melotot tajam.
"Udah mulai berani kamu ya yank ..." Gunadh menggelitik pinggang Nandita membuat gadis itu meronta dan tertawa.
__ADS_1
Cukup
Kebahagiaan seperti ini saja sudah cukup untuk Gunadh. Tawa riang Nandita mampu menerbangkan kegundahan hati yang Gunadh rasa.