
'Ini sepatu siapa sih? Ukurannya beda lagi. Berarti ada dua orang ini.' Namira bicara sendiri.
Tak berselang lama ia bangkit dan terburu-buru menaiki tangga menuju kamar mommynya.
"Hahahaaa kamu lucu bangeet sih, jadi makin gemes aku." Suara tawa wanita yang dikhawatirkannya menghentikan langkah Namira di ujung tangga. Dengan nafas yang masih terengah ia melangkah pelan. Bermaksud menyapa mommy dan teman-temannya.
"Kamu yakin kita main bertiga di sini? Nggak ke hotel gitu?" Seorang laki-laki terdengar bertanya.
"Di sini aja. Aku takut nanti anakku telepon lagi, terus minta video call. Kan nggak lucu kalau dia curiga." Sahut Safira.
"Yang tadi itu bagus banget sayang, kamu bisa langsung berubah sendu begitu pas dapat telepon." Itu suara laki-laki berbeda yang Mira dengar.
"Kan aku harus meyakinkan anakku kalau aku sudah berubah, biar dia semakin merasa bersalah dan semakin benci sama daddynya. Hahahaha. Lagian anakku itu masih polos, masih lugu, mudah ditipu." Safira tertawa.
"Sayang gelas kamu sudah kosong, mau diisi lagi?"
"Boleh ... Setelah ini kita pesta yang lain ya ..." Pinta Safira manja.
"Nggak masalah ... Yang penting besok kamu jadi beliin aku kamera yang aku mau."
"Gampaaang ... Besok si botak mau ke sini, aku akan minta apa yang kalian mau dari aku. Asal sekarang kalian puaskan aku dulu." Tanpa malu Safira mengatakan itu pada dua pria di depannya.
"Tapi minumannya belum habis"
"Kelamaan."
Dari celah pintu Namira melihat obrolan tiga manusia dewasa di kamar mommynya.
Tubuh gadis belia itu sudah bergetar sejak saat Safira mengatakan dia berakting.
Ingin berlari, namun kakinya seakan terrantai di tempat itu. Rasa penasaran juga menguasai hatinya hingga ia masih betah melihat adegan demi adegan yang terjadi di depan matanya.
Tubuh sang mommy direbut dua pria dewasa. Satu berada tepat di depan wajah, dengan mulut yang saling bertaut dan tangan yang bebas bergerak kemanapun, di atas tubuh polos seperti bayi itu. Sementara pria satunya lagi di bawah. Tepat di sel*ngk**gan wanita beranak satu itu. Jerit ken*km***n Safira menggema menusuk gendang telinga Namira.
Tubuh gadis itu menggigil. Ingin mendobrak pintu dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Cepat masukkan Ferdiiii ..." Erangan Safira kembali menghentikan gerak tangannya.
Mira masih lugu, tapi tahu apa yang terjadi.
Kemudian pria yang tengah membungkuk diantara ke dua p aha Safira, bangkit dan melepas satu-satunya kain penutup yang masih melekat di tubuh pria itu. Tubuh Safira dibalik, dan dengan yakin pria itu mengarahkan miliknya ke milik Safira.
"Aaahh" Hanya sebentar Safira mengerang, sebab mulutnya langsung di sumpal dengan benda yang sama yang memasuki tubuh bawahnya. Hanya saja itu dilakukan oleh laki-laki satunya lagi.
Mira merasakan mual teramat sangat, ia berlari sekuat tenaga meninggalkan apartemen sang mommy. Keringat bercucuran, bercampur air mata yang mengalir tiada henti.
Ia menyesal telah datang, dan lebih menyesal lagi menyadari dirinya terlahir dari seorang wanita seperti Safira.
Meski Namira masih belia, namun ia sangat tahu apa yang dilakukan mommynya sangatlah hina.
__ADS_1
Mira seperti orang linglung saat keluar dari gedung apartemen. Melangkah gontai, dengan tatapan kosong.
Kilasan kejadian menari silih berganti di kepalanya. Bagaimana ia yang dengan bodoh mau mengikuti kemauan mommynya, yang ternyata tidak pernah mencintainya. Bagaimana ia membuat sang daddy kecewa, dan harus kehilangan onty Dita, gadis baik hati yang selama ini begitu perhatian terhadapnya.
Tubuh gadis itu bergetar. Berbagai macam rasa bermunculan mengusik hati dan pikirannya. Rasa sedih, marah, benci, kecewa, tak berdaya menyatu menggulung gadis itu menuju keputusasaan.
Tiba-tiba hal nekat muncul di dalam pikirannya. Dengan mata terpejam ia melangkah dan berdiri di tengah jalan. Tak ayal, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi yang datang dari arah belakang, menerjang tubuh gadis itu.
Mira terpental ke trotoar. Pengawal yang mengikutinya terlambat meraih tubuh gadis yang harusnya ia jaga.
Pria bertubuh besar itu meraih tubuh Mira yang penuh luka. Seorang wanita menawarkan untuk membawa gadis malang itu ke rumah sakit. Dan tanpa banyak tanya lagi, pengawal itu menyetujuinya.
Mira tidak sadarkan diri, dengan banyaknya luka lecet di siku, kaki, dan wajahnya. Dengan gemetar, pengawal itu menghubungi majikannya.
Sialnya lagi, Gunadh begitu lama menerima panggilan teleponnya. Hingga panggilan ke tiga, barulah duda satu anak itu menerimanya.
Flashback off.
🌟🌟🌟
Baru saja Gunadh hendak melajukan mobilnya keluar gerbang, sang asisten muncul menghalangi jalan.
"Si*l!" Geram Gunadh.
"Hey apa yang kau lakukan! Cepat menyingkir!" Teriak Gunadh.
Bukannya menyingkir, Arya justru keluar dari dalam mobil lalu menghampiri Gunadh. Tidak perduli dengan umpatan Gunadh yang ingin menabraknya.
Tanpa banyak bicara, Gunadh masuk ke dalam mobil si asisten. Arya melajukan kuda besinya dengan kecepatan tinggi.
"Lebih cepat lagi Arya!" Titah Gunadh.
"Ya tuan." Sahut pria itu, namun kecepatan mobilnya tidak bertambah.
"Sial! Apa sih yang dilakukan pengawal itu? Kenapa ia bisa lalai menjaga putriku?"
Arya diam tidak menanggapi umpatan pria di sampingnya.
"Arya, apa kau tuli? Aku suruh injak gasnya!"
"Tuan, non Mira sudah ditangani dokter. Semua pasti baik-baik saja. Jangan sampai karena panik, kita membahayakan diri sendiri. Non Mira membutuhkan anda yang sehat untuk menjaganya." Dengan tenang Arya berkata.
Gunadh menarik nafas panjang. Benar apa yang dikatakan Arya. Ia tidak boleh membahayakan dirinya sendiri, sebab Mira sedang membutuhkannya.
Pria itu mengusap wajahnya kasar. Memejamkan mata, sembari memijit kening yang tiba-tiba terasa pening.
Mereka tiba di rumah sakit, dan langsung menuju IGD dimana Mira masih mendapat pertolongan medis.
Pengawal yang sejak tadi menunggu, hanya bisa menunduk takut kala tatapan mata Gunadh menghunus. Pria dengan tubuh besar itu harus bersiap mendapat amukan dari sang majikan.
__ADS_1
"Keluar," titah Gunadh singkat.
"Tu-an mma-af ssa- ---" Tubuh pengawal itu ditarik keluar oleh Arya, sebelum ia benar-benar menyelesaikan ucapannya.
"Apakah Anda ayahnya?" Dokter yang baru saja menyelesaikan jahitan di dahi Mira menatap Gunadh yang berada di depan ranjang, dan menggenggam tangan anaknya.
"Bagian mana saja anak saya terluka dok?"
"Dahinya mengalami benturan sehingga mengakibatkan luka sobek yang cukup lebar. Kami sudah menjahitnya. Bersyukur benturan itu tidak mengakibatkan sesuatu yang fatal di organ dalamnya. Lalu siku dan lutut terdapat luka lecet. Dan tulang kering kaki kanan patah sehingga harus dioperasi."
Gunadh memejamkan mata mendengar penjelasan dokter.
"Kapan akan dilakukan tindakan dokter?"
"Secepatnya, setelah anda menandatangani surat persetujuan. Nanti dokter yang bertugas akan menjelaskan lebih detail mengenai kondisi pasien."
"Baik dok, saya mohon berikan yang terbaik untuk putri saya. Oh ya sebelum itu, bisa pindahkan dulu anak saya ke ruang perawatan?
"Ooh baik pak."
Setelah berjabat tangan, dokter pun pamit untuk memeriksa pasien lain.
Gunadh memandang wajah Mira dengan sendu. Putrinya kembali harus berbaring di rumah sakit untuk ke dua kalinya dalam satu tahun.
Merasa Mira masih belum sadar, Gunadh keluar dari ruangan tersebut.
Ia harus menyelesaikan urusannya dengan pengawal putrinya terlebih dahulu.
^_________^^_________^^_________^
Jujur degdegan nulis yang agak ekstrim, tapi ...
eeehh manteman aku masih ada novel lain yang bisa kalian coba untuk buka dan baca ya ... siapa tahu suka. karya temanku yang aku recomend untuk kalian.
***
Saat di dunia nyata mereka saling membenci, tetapi di dunia maya mereka saling menyukai. Mungkinkah cinta akan bersemi dengan subur di hati keduanya?
Shelomita Praditya harus merasakan ditalak setelah akad karena fitnah dari laki-laki yang menyebalkan dalam hidupnya,. Sampai akhirnya dia dipaksa menikah dengan laki-laki itu-itu.
Sementara Jupiter Kiandra tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menggagalkan pernikahan gadis yang paling dibencinya. Dia menyetujui usulan para orang tua untuk menikahi Shelo karena sudah banyak rencana di otaknya untuk mengerjai gadis itu.
Bagaimana pernikahan mereka akan berjalan, sementara hanya ada kebencian di hati keduanya?
Mungkinkah cinta akan hadir seiring berjalannya waktu kebersamaan mereka?
Jangan lewatkan kekonyolan mereka dengan mengikuti terus kisahnya!
__ADS_1
Follow Ig @Thatya0316